
Hari kedua, Diandra kembali mendapatkan kiriman bunga bucket yang lumayan banyak ke kantor nya.
Jika terus menerus seperti ini, Diandra akan menjadi jengah sendiri.
Namun saat ini dia belum tahu, tindakan apa yang harus dia lakukan.
"Buang saja." Diandra memerikan bunga yang di pegang nya pada Desi.
Diandra berjalan masuk kedalam ruangan nya.
"Astagfirullah, apa yang harus ku lakukan." Diandra memijat pelan kening nya.
Tiba tiba, pintu ruangan nya terbuka dan terbanting hingga cukup keras.
Diandra menoleh pada arah pintu dan terlihat Rayna masuk dengan tatapan tajam padanya.
"Apa maksud kamu!" Teriak Rayna.
Diandra berdiri dan langsung menutup pintu terlebih dahulu.
"Ada apa?" Tanya Diandra tenang.
"Ini! Apa maksud kamu membuang semua bunga yang sengaja aku berikan padamu?" Tanya Rayna kembali dengan emosi meluap luap.
Diandra memegang tangan Rayna, namun Rayna menepis nya hingga berkali kali.
"Sayang, jangan seperti ini." Ucap Diandra masih sabar.
"Kamu bener bener ya!" Rayna mulai meneteskan air mata nya.
"Maksud aku tidak seperti itu." Elak Diandra.
"Lalu itu yang di bawah apa? Hah!" Ucap Rayna.
Diandra mencoba untuk menenangkan kekasih nya tersebut, selain terdengar gaduh dia juga takut akan ada gosip setelah ini di kalangan karyawan tentang diri nya, sedangkan semua karyawan disini
mengetahui bahwa bos nya itu telah ber istri.
Rayna duduk di sofa sambil menungkup wajah nya dan menangis tersedu sedu.
"Kamu bener bener berubah." Rayna terisak.
Rayna yang tidak mengetahui bahwa pacar nya itu telah ber istri merasa bahwa dirinya kini hanya di manfaatkan saja oleh Diandra.
Dia tidak menyangka bahwa diri nya hanya di anggap sebagai mainan saja, yang habis manis sepah di buang oleh nya.
"Aku kira kamu benar benar sayang sama aku, setelah apa yang kita lalui bersama kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan mu sendiri." Ucap Rayna.
Diandra terdiam, tidak tahu harus berkata apa karna apa yang di katakan oleh Rayna benar. Kini dirnya seperti berusaha untuk membuang Rayna dari hidup nya.
Walaupun rasanya tidak mungkin, karna sebuah alasan anak yang di kandung oleh kekasih nya itu.
"Jika sampai tiga hari ke depan kamu tidak mengambil keputusan untuk menikahi ku, lihat saja! Aku akan datang ke rumah mu." Ancam Rayna lalu berdiri dan pergi sambil membanting pintu.
Diandra menyandarkan tubuh nya di sofa.
"Ya allah, bagaimana ini." Gumam nya.
Sudah terbayang dalam benak nya, jika sampai Rayna datang ke rumah nya reaksi seperti apa yang akan di perlihatkan oleh kedua orangtua nya.
Terlebih lagi ayah, yang sudah pasti selain merasa kecewa beliau akan marah besar padanya.
__ADS_1
"Pak.." Desi masuk.
Diandra menoleh ke arah pintu.
"Maaf pak, saya sudah lancang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu." Ucap Desi.
"Tidak apa apa Desi, lagian pintu nya memang terbuka kan.." Jawab Diandra, Desi tersenyum mendengar itu.
"Maaf pak, saya dan security tadi kecolongan. Tidak sempat menahan perempuan itu untuk tidak masuk ke dalam kantor." Jelas Desi.
Bukan salah Desi, dan juga security.
Ini semua memang kesalahan dari diri nya sendiri, dan sekarang Diandra harus cepat cepat menyelesaikan permasalahan nya ini.
Mengingat ancaman yang Rayna berikan tadi.
***
"Beneran dia sampai bilang begitu?" Tanya Anya.
Diandra meneguk kopi yang di suguh kan oleh sahabat nya itu.
"Iya, aku bingung sekarang harus bagaimana dia hanya memberi ku waktu selama tiga hari." Jelas nya pelan.
Diandra saat ini tengah berada di kantor Anya, setelah perbincangan singkat dengan Desi dia memutuskan untuk mengosongkan jadwal hari ini, dan mempercayakan sisa nya pada Desi.
Diandra harus cepat cepat mencari jalan keluar untuk permasalahan yang semakin rumit ini, sebelum semua nya terlambat.
"Aku sih ada kenalan.." Ucap Anya.
Diandra menatap Anya.
Diandra tersenyum sinis lalu menggelengkan kepala nya, walaupun dia ingin masalah ini cepat selesai tapi Diandra tidak akan berbuat hal kejam yang tidak pernah terbesit dalam benak nya.
"Lalu, kamu ingin aku bagaimana?" Tanya Anya.
"Entahlah." Jawab nya.
Waktu menjelang siang.
Diandra masih duduk termenung di sofa ruangan kerja Anya.
Dia tidak ingin kembali ke kantor saat ini, karna Desi telah memberitahu diri nya bahwa beberapa karyawan yang mendengar kegaduhan pagi tadi kini mulai bergosip dari mulut ke mulut.
Apa yang di takut kan oleh diri nya terjadi juga.
"Mau makan apa?" Tawar Anya.
"Ga tau, aku gak nafsu makan." Jawab Diandra.
Anya menghampiri dirinya, lalu tersenyum.
"Jika sampai kamu tidak makan, yang ada masalah ini akan semakin rumit, kenapa? Karna kamu sendiri tidak akan bisa berfikir jernih dan karna itu tidak akan pernah ada jalan keluarnya." Jelas Anya.
Diandra menatap Anya dan membenarkan apa yang telah di katakan oleh sahabat nya.
"Spaghetti aja." Akhirnya jawab Diandra.
Anya tersenyum.
"Baiklah tunggu sebentar." Anya berlalu keluar dari ruangan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Anya kembali masuk kedalam ruangan, bersama dengan seorang ob yang membawa nampan berisikan makan siang mereka berdua.
"Lama ya?" Tanya Anya.
"Gapapa." Jawab Diandra.
Kedua nya berlanjut dengan makanan nya masing masing.
Selama makan, ponsel nya terus terusan berbunyi namun Diandra tidak ingin melihat dan menjawab telpon tersebut.
"Kenapa ga di angkat?" Tanya Anya.
"Paling Rayna." Jawab Diandra cepat.
"Aku punya sebuah ide." Ucap Anya.
Diandra menghentikan aktivitas nya sejenak.
"Apa?" Tanya Diandra.
Anya memperlihatkan sebuah senyuman yang dirinya sendiri tidak dapat artikan.
***
"Asalamualaikum." Diandra membuka pintu rumah.
"Waalaikumsalam.." Jawab Keisya.
Diandra menoleh ke belakang setelah mendengar suara dari istri nya itu yang ada di belakang diri nya.
"Eh sayang? Darimana?" Tanya Diandra.
"Beli ini.." Keisya memperlihatkan rujak yang baru di beli nya di depan.
"Ya ampun sayang, kamu jalan kedepan? Kan jarak nya lumayan jauh sayang, kenapa tidak bilang padahal kan aku bisa belikan sambil pulang." Diandra terlihat sangat cemas.
Keisya memang baru saja pergi ke depan, namun tidak sampai keluar dari komplek perumahan nya.
Karna dia hanya mengejar tukang rujak yang telah berlalu melewati rumah dirinya saja.
"Mas mau?" Tawar nya.
Diandra menggelengkan kepala nya.
Kedua nya masuk kedalam, tanpa melepas sepatu terlebih dahulu Diandra langsung menjatuhkan badan nya di sofa.
Tidak lama, Keisya yang tadi sempat pergi ke belakang untuk membuatkan teh telah kembali.
"Mas tumben pulang siang." Ucap Keisya.
Diandra mengangkat kepala nya, menatap Keisya.
"Aku kangen." Jawab nya tersenyum.
Keisya menggeser duduk nya, dan mengelus pelan kepala suami nya tersebut.
"Kangen ya, sama aku juga kangen. Kangen banget." Bisik Keisya dengan suara menggoda.
Diandra merubah posisi nya setelah mendapatkan perkataan yang terdengar seperti sebuah kode tersebut.
__ADS_1