
Merasa di acuhkan. Tidak butuh waktu yang lama Rayna keluar dari ruangan calon suami nya tersebut dengan hati yang terasa panas.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu?" Tanya Keisya pada Anya.
"Keisya, kamu memang lebih berhak daripada perempuan itu untuk Diandra." Jelas Anya.
Ada sedikit rasa kesal dalam hati Anya, karna Keisya hanya bisa menundukan kepala nya saja. Tidak berbuat apapun untuk menunjukan pada Rayna bahwa dia lah yang lebih berhak atas Diandra dalam hal apapun.
"Kamu tenang aja. Aku akan membuat dia menyesal telah merusak rumah tangga mu." Anya melemparkan senyuman pada Keisya, sedangkan Diandra hanya diam saja.
Diandra tahu, Anya bisa menjadi perempuan yang sangat nekat sekali dalam berbuat suatu hal.
Itulah yang membuat Diandra sempat meminta Anya untuk tidak mencelakai Rayna dulu.
"Aku harus ke kamar mandi sebentar." Anya berjalan keluar dari ruangan, menyisakan Keisya dan Diandra berdua.
"Sayang.." Panggil Diandra pelan.
"Iya?" Keisya menatap suami nya.
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Diandra cemas melihat Keisya hanya terdiam saja.
Keisya tersenyum menatap suami nya.
Diandra menghela nafas, lalu tiba tiba saja menceritakan bagaimana seorang Anya kepada Keisya.
Sosok perempuan kuat, yang tidak ingin merasa kalah dalam berbagai hal. Apapun itu, Anya akan berusaha menjadi pemenang nya.
Selain itu Anya adalah perempuan yang keras kepala. Dan cenderung memiliki emosi yang tidak stabil.
Sikap yang Anya tunjukan pada Rayna tadi adalah sikap Anya yang dia kenal. Dia akan menunjukan rasa tidak suka nya kepada seseorang secara spontan, tanpa melihat tempat dan siapa orang itu.
"Kenapa Anya tidak menyukai Rayna?" Tanya Keisya penasaran.
"Anya memang terkadang seperti itu, tapi sikap nya itu hanya dia tunjukan pada orang yang tidak dia sukai saja." Jawab Diandra.
"Selain itu, hal yang membuat Anya tidak menyukai Rayna karna Rayna lah yang secara tidak langsung telah merubah sikap ku dulu." Diandra kembali mengingat bagaimana sakit hati nya ketika di tinggalkan oleh Anya tanpa sepatah kata pun.
Rasa penyesalan timbul kembali.
Keisya hanya terdiam saja, menyimak setiap cerita yang di bicarakan oleh suami nya tersebut.
Banyak hal yang tidak Keisya ketahui tentang masalalu suami nya itu, dan kini sedikit demi
__ADS_1
sedikit Keisya telah mengetahui nya.
"Oh iya, Ibu kemana sayang?" Tanya Diandra.
"Ibu, Ibu keluar sebentar menjemput Ayah." Jawab Keisya.
Sebelum Keisya berangkat sarapan bersama dengan Anya, Ibu memang telah menitipkan pesan pada nya. Bahwa Ibu akan menjemput Ayah terlebih dahulu ke rumah setelah dirinya kembali dari kantin. Karna mobil Ayah dalam perawatan bulanan di bengkel.
"Selama aku disini, apa Nenek dan Kakek mengetahui nya?" Tanya Diandra.
"Nenek sama Kakek tahu, mereka meminta maaf karna tidak bisa kesini. Selain jarak, keterbatasan ongkos juga jadi penyebab nya." Jelas Keisya.
Keluarga Keisya yang sederhana dan tidak memiliki kendaraan membuat nya cukup kesusahan jika harus berpergian dalam jarak yang jauh, seperti saat ini.
Walaupun ada keluarga Zia yang selalu siap membantu, namun keluarga Keisya tidak ingin terlalu merepotkan mereka dengan menggantungkan banyak hal.
Pintu kembali terbuka, Diandra dan Keisya menoleh bersamaan.
Terlihat Rayna berdiri dengan pipi yang tampak merah.
"Kita harus bicara." Rayna menggengam pergelangan tangan Keisya.
Keisya menatap suami nya.
"Sayang. Kamu diam! Aku harus berbicara dengan perempuan ini." Rayna menunjuk Keisya.
"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan. Lepaskan tangan ku." Jawab Keisya dengan tenang.
"Ikut aku!" Rayna membawa Keisya keluar dari ruangan.
Sampai nya di luar ruangan, Rayna menatap Keisya dengan penuh kebencian.
"Lepaskan tanganku, itu sakit." Ucap Keisya kembali.
Rayna menghempaskan tangan Keisya.
"Kamu. Perempuan dari kampung yang tidak pantas bersama dengan Diandra! Seharusnya kamu tidak ada disini, dan seharusnya aku yang merawatnya saat ini. Aku lah yang pantas menikah dengan nya. Bukan kamu, perempuan kampung." Ucap Rayna dengan penuh emosi.
Keisya mengedipkan mata nya berkali kali, dia tidak percaya Rayna yang di lihat nya perempuan anggun dan cantik dapat berkata demikian.
"Kamu ingin merawat mas Andra? Silahkan! Padahal tanpa harus penuh emosi seperti ini pun kamu bisa meminta nya secara baik baik, dengan senang hati aku tidak akan melarang mu." Jelas Keisya dengan tenang nya.
"Tidak!" Tiba tiba ucap seseorang.
__ADS_1
Rayna dan Keisya menoleh bersamaan pada arah suara.
Terlihat Anya kini telah berdiri di belakang Rayna.
Anya berjalan pelan, dengan tatapan penuh kebencian pada Rayna.
"Harus nya kamu merasa malu karna telah merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain." Cetus Anya.
Tidak sampai disitu saja. Anya juga mengatakan pada Rayna bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki hak apapun untuk merawat dan berada di samping Diandra. Yang pantas untuk itu semua tetaplah Keisya, istri sah nya.
"Sejak saat aku pertama kali mengenal Diandra dan Diandra menceritakan semua hal tentang mu, aku langsung merasa tidak suka dengan sosok kamu."
Anya menceritakan kembali bagaimana dulu Diandra pertama kali masuk kedalam lingkup dunia malam. Dimana di malam itu Diandra minum dalam jumlah yang banyak sekali.
Walaupun sama sama dalam keadaan di pengaruhi oleh alkohol, entah kenapa pada saat itu Anya merasa ada banyak sekali kesedihan dibalik senyum palsu Diandra.
Hingga Anya memberanikan diri untuk bertanya tentang ada masalah apa pada dirinya hingga menjadi seperti itu.
Dalam keadaan terpengaruh alkohol, Diandra meracau. Menceritakan segala hal tentang Rayna, dari awal hubungan nya hingga Rayna yang tiba tiba pergi dari nya.
Mendengar itu semua membuat Anya dapat menarik kesimpulan. Diandra datang ke tempat malam ini hanya untuk melupakan kesedihan dan sakit hati nya saja.
"Anya sudah." Keisya memegang tangan Anya.
Anya melirik Keisya dan tersenyum padanya.
"Tidak apa apa, perempuan ini memang harus di kasih tahu. Supaya dia sadar diri." Ucap Anya.
"Kamu ingin merawat Diandra? Silahkan, masuk lah kedalam dan layani semua kebutuhan nya. Kebetulan sekali sahabat ku ini memang harus berisitirahat sebentar." Jelas Anya sambil merangkul Keisya.
"Masuklah kedalam, aku dan Keisya akan keluar sebentar untuk istirahat. Hari ini, urusan Diandra aku serahkan padamu." Anya mengajak Keisya untuk pergi dari ruamh sakit.
Meninggalkan Rayna yang diam mematung, tanpa kesempatan membalas semua perkataan dari Anya untuk nya.
"Kita mau kemana?" Tanya Keisya.
Anya menghentikan langkah nya.
"Ayo, kita ke kantor ku. Kamu istirahat disana." Jawab Anya.
"Bagaimana dengan mas Andra?" Tanya Keisya.
Anya mengatakan kepada Keisya untuk tidak mengkhawatirkan Diandra, apalagi Rayna baru saja mengucapkan seharus nya dia yang merawat Diandra. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan, dan biarlah untuk hari ini Keisya beristirahat.
__ADS_1