He Is Mine

He Is Mine
Eps 111


__ADS_3

"Kamu, bikin kita hawatir aja!" Anya dan Zia kini sudah di perbolehkan masuk kedalam ruangan Keisya.


Keisya tersenyum dan meminta maaf.


Tadi, saat Anya mengikuti dokter kedalam ruangan, dokter mengatakan bahwa Keisya mengalami sedikit pendarahan. Dan penyebab dari itu semua bisa berbagai hal, seperti kelelahan, ataupun stress.


"Kei, kamu kecapean kerja ya?" Tanya Anya.


"Engga, seperti nya bukan hal itu yang membuatku pendarahan." Keisya nampak murung.


Puluhan pesan dan panggilan dari Diandra lah yang membuat merasa stress dan banyak pikiran, baru saja dia merasa nyaman dengan kehidupan baru nya dan kini karna hal itu Keisya menjadi kepikiran suami nya itu lagi.


Dalam hati nya Keisya beratanya tanya, ada apa suami nya itu sampai menghubungi nya kembali.


"Aku.." Keisya menceritakan apa yang menjadi beban pikiran nya pada Anya dan Zia.


Anya menarik nafas setelah mendengar cerita dari Keisya, bagaimana pun juga Keisya tetaplah istri sah Diandra. Dan wajar saja bagi Anya jika Diandra saat ini mencoba untuk terus menguhubungi nya.


"Zia, kamu tunggu sebentar ya.." Anya berjalan keluar ruangan, meninggalkan Keisya dan Zia.


Sebetulnya Keisya sudah di perbolehkan untuk pulang, tapi karna badan nya yang tiba tiba melemah Keisya memutuskan untuk beristirahat dulu.


***


Diandra kembali gusar menunggu sebuah jawaban dari pesan dan panggilan yang terus dia coba lakukan pada nomor Keisya.


Padahal baru semalam dia bisa kembali lagi mendengar suara istri nya itu, dan sampai hari yang menjelang siang ini. Diandra tidak mendapatkan balasan apapun lagi dari Keisya.


Diandra yang sedang duduk di halaman depan melihat sebuah mobil memasuki rumah nya, dia memicingkan mata nya dan melihat mobil siapa yang masuk itu.


Saat mobil itu telah di parkirkan, terlihat Anya keluar dari mobil.


Diandra melemparkan senyuman kepada Anya yang berjalan menghampirinya.


"Tumben.." Ucap Diandra.


Anya belum menjawab, dia menatap Diandra dengan tatapan yang tajam dan wajah yang terlihat memerah menahan amarah.


Diandra merasa heran kenapa Anya seperti ini.


"Ada apa?" Tanya Diandra.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu!" Jawab Anya dengan nada sedikit meninggi.

__ADS_1


Diandra semakin di buat heran dengan Anya yang terlihat sangat marah padanya.


"Kenapa kamu terlihat begitu marah padaku?" Tanya Diandra.


"Kenapa kamu menghubungi Keisya lagi! Bukan kah sebentar lagi kamu akan menikah dengan Rayna!" Jawab Anya masih dengan penuh emosi.


Diandra tersentak kaget mendengar Anya mengetahui dirinya yang selalu mencoba menghubungi Keisya.


Diandra dapat mengambil kesimpulan, Anya saat ini mengetahui dimana keberadaan Keisya.


"Dimana Keisya?" Tanya Diandra.


"Kamu tidak usah tahu!" Cetus Anya.


Karna Anya yang terlihat sangat marah kepadanya, ahirnya Diandra mengajak Anya untuk masuk dan membicarakan semua nya di dalam rumah.


Dengan tatapan yang masih tajam Anya mengikuti Diandra masuk kedalam.


Saat sampai di ruang tamu, Diandra langsung melontarkan kepada Anya. Bertanya tentang dimana keberadaan Keisya saat ini.


Dan tentu saja jawaban dari Anya masih sama seperti sebelum nya, dia mengatakan kepada Diandra untuk tidak usah tahu dimana Keisya saat ini.


"Lebih baik kamu urus saja pernikahan mu." Ucap Anya.


"Itulah yang belum kamu ketahui.." Diandra menceritakan perihal dia dengan Rian, dan pertemuan nya dengan keluarga Rayna kemarin bersama dengan lelaki bernama Rian itu.


Mendengar cerita dari Diandra, Anya perlahan melemah, emosi nya menghilang dan kini dia terlihat sedikit tenang.


"Apa benar?" Tanya Anya.


"Iya, itulah kenyataan nya. Sekarang aku tidak mempunyai tekanan untuk menikahi Rayna lagi, karna kedua orangtua nya pun sudah meminta maaf pada aku dan orangtua ku, Rayna akan melanjutkan kembali pertunangan nya dengan Rian dan mereka akan segera menikah." Jelas Diandra.


"Dimana Keisya? Aku ingin membawa nya kembali pulang. Aku ingin meminta maaf atas semua nya, dan aku ingin mengulang lagi bersama dengan nya dari awal.." Tanya Diandra.


Anya menatap Diandra, tidak mungkin Diandra bisa berjalan saat ini karna kondisi nya masih belum pulih.


Ahirnya Anya berpamitan kepada Diandra, dan mengatakan kepada Diandra untuk menunggu, karna dia akan membawa Keisya kemari.


Anya kembali lagi ke rumah sakit, setelah membayar semua biaya nya Anya langsung mengajak Keisya untuk pulang.


"Kita ga ke kantor?" Tanya Keisya.


"Dalam keadaan seperti ini kamu masih ingin pergi bekerja?" Tanya Anya heran.

__ADS_1


Keisya tersenyum dan mengatakan bahwa lemah tubuh nya tidak akan menjadi penghalang baginya untuk bisa bekerja. Dia akan melakukan apapun untuk si jabang bayi.


"Kamu tidak perlu melakukan itu lagi sekarang." Anya memegang tangan Keisya dan tersenyum lembut.


Keisya merasa bingung dengan apa yang di katakan oleh Anya, dan pada saat dia ingin bertanya tentang apa maksud nya, Anya tidak menjawab dan menyuruh Keisya dan Zia masuk kedalam mobil karna mereka akan pulang.


***


Di rumah Diandra memberitahu kabar baik ini kepada ibu dan ayah nya, dia memberitahu bahwa Keisya saat ini sedang di jemput oleh Anya dan akan datang sebentar lagi.


Semua nya terlihat begitu bahagia menunggu kedatangan Keisya, hingga terlihat mobil Anya memasuki rumah lagi.


"Itu bu.."


Ibu mendorong kursi roda Diandra menuju depan.


Terlihat Anya keluar dari mobil, dengan Zia.


"Kei, turun.." Ajak Anya.


Keisya merasa ragu saat ini, haruskah dia bertemu lagi dengan suami nya itu. Luka yang di rasakan nya sangat dalam, apalagi mengingat hari pernikahan suami nya yang tinggal sebentar lagi, rasanya Keisya tidak sanggup untuk bertemu dengan Diandra lagi.


Karna Keisya tidak kunjung turun, ahirnya ayah dan ibu menghampiri mobil Anya. Jantung Keisya berdetak cepat melihat ayah dan ibu kini menghampiri nya.


"Keisya.." Panggil ibu lembut.


Keisya membuka pintu, dan tersenyum pada ibu.


Kini semua nya telah berkumpul di ruang keluarga, Keisya sedari tadi duduk di sebelah Anya dengan menundukan kepala nya.


"Begini, ada yang ingin aku ceritain sama kamu.." Ujar Diandra.


Diandra kembali menceritakan semua nya, dengan di bantu ayah ibu dan Aya yang tadi sudah mendengar lebih dulu cerita itu.


Mendengar cerita itu Keisya terdiam, kali ini dia berani untuk menatap wajah suami nya lagi.


"Benar mas?" Tanya Keisya dengan mata yang telah berkaca kaca.


"Aku ingin meminta maaf atas semua nya, aku ingin kita bersama lagi. Aku berjanji aku menjadi suami dan ayah yang baij bagi anak kita." Ucap Diandra lirih.


Kini Keisya sudah tidak sanggup menahan air matanya lagi, dia menangis dan menghampiri suami nya. Keisya dan Diandra menangis dalam pelukan.


Saling mencurahkan perasaan nya masing masing yang selama hampir dua bulan ini tersandung masalah.

__ADS_1


__ADS_2