
Diandra duduk termenung di balkon kamar nya, hasil pertemuan dengan kedua orangtua Rayna benar benar di luar dugaan nya.
Memang tidak ada yang salah dengan apa yang di katakan oleh kedua orangtua Rayna, yang meminta putri nya untuk segera di nikahi oleh Diandra karna perut Rayna pun kini telah sedikit terlihat membuncit.
Dirinya benar benar merasa sangat tertekan saat ini, apalagi kedua orangtua Rayna mengancam akan mempublikasikan masalah ini jika Diandra tidak cepat cepat menikahi putri nya tersebut.
Dan jika sampai itu terjadi tentu saja akan berpengaruh besar kepada bisnis kedua orangtua nya yang telah di rintis dari nol.
"Andra.." Panggil Ibu memasuki kamar.
"Ada apa bu?" Tanya Diandra lemas.
"Ada seseorang yang menelpon Ibu dan memberitahu bahwa istri mu sekarang berada di rumah sakit." Jelas Ibu.
Mendengar itu, Diandra langsung merasa cemas dan khawatir akan keadaan Keisya.
"Siapa bu ya telpon? Di rumah sakit mana Keisya di rawat, aku harus menemani nya." Ucap Diandra panik.
Ibu berusaha untuk menenangkan putra nya tersebut, dan mengatakan bahwa telpon yang dia terima itu belum tentu benar adanya.
Karna Ibu sendiri tidak mengetahui siapa penelpon itu, dan saat Ibu mencoba menelpon nomor itu kembali, nomor itu telah tidak aktif.
"Ibu juga cemas dan khawatir, tapi Ibu tidak ingin langsung percaya dengan apa yang Ibu dengan dari orang yang entah siapa itu. Bisa saja si penelpon hanya ingin membuat kita panik dan cemas dengan kabar palsu dari nya, terlebih lagi ini sudah tengah malam." Jelas Ibu.
Diandra tidak tinggal diam saja, dirinya harus memastikan sendiri kabar yang baru saja di terima oleh Ibunda nya itu benar atau bohong.
Diandra masuk kedalam kamar nya, mengambil ponsel dan mencoba menelpon nomor istri nya.
Beberapa kali Diandra mencoba menghubungi nomor Keisya, namun nomor ponsel milik istri nya tersebut masih tidak aktif sampai saat ini.
"Ya allah, bagaimana ini." Diandra terus menerus mencoba.
"Nak, tenang lah." Ibu mengusap punggung putra nya tersebut.
Diandra terdiam, dan perlahan lahan menyimpan ponsel nya di atas tempat tidur.
Mungkin apa yang telah di katakan oleh Ibu memang benar, dan telpon itu hanya sebuah telpon iseng saja yang ingin mencoba memperkeruh suasana saat ini.
Malam berlalu, dan pagi kini tiba.
Semalaman Diandra tidak bisa tidur kembali seperti malam malam sebelum nya, semalaman juga Diandra terus mengecek ponsel nya untuk melihat nomor istri nya yang masih belum aktif juga.
"Den, sarapan." Panggil bi Lala dari luar sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
Diandra beranjak dari tempat tidur.
"Aku tidak lapar bi, bilang sama Ibu dan Ayah untuk sarapan duluan saja." Ujar Diandra pada bi Lala.
Diandra kembali menaiki tempat tidur, dan menyelimuti dirinya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar nya terbuka.
"Andra.." Terdengar suara Ibu memanggilnya.
Diandra kembali membuka mata nya.
"Ada apa bu?" Tanya Diandra.
Ibu duduk di tepian tempat tidur, dengan ucapan yang lembut dan halus Ibu mencoba mengajak Diandra untuk turun dan sarapan bersama sama.
Beberapa kali Diandra mengatakan bahwa dirinya tidak merasa lapar, namun Ibu tidak menyerah dan tetap mencoba mengajak Diandra turun.
"Ayo sini, lihatlah dirimu dari cermin." Ucap Ibu.
Diandra beranjak, dan menuruti kemauan Ibu untuk berdiri di depan cermin.
"Lihat nak, kamu pucat sekali. Apa kamu ingin sakit? Sayangi badan mu sendiri nak, kalau kamu sakit nanti kamu tidak akan bisa bertemu dengan istri mu." Jelas Ibu.
Dengan mengehela nafas panjang akhirnya Diandra akan ikut turun bersama dengan Ibu, untuk sarapan bersama.
Beberapa saat kemudian.
"Kamu jangan pergi kemana mana hari ini, kita akan menemui orangtua Rayna di rumah nya." Ujar Ayah setelah selesai sarapan.
Dengan adanya masalah ini, bukan hanya dirinya saja. Bahkan Ayah sampai meninggalkan semua pekerjaan dan perjalanan bisnis nya.
"Kita harus segera mencapai kesepakatan dengan mereka nak, jika di biarkan lebih lama lagi bukan hanya kamu saja. Istri mu juga akan lebih menderita." Lanjut Ayah.
"Untuk saat ini pun aku telah membuatnya menderita Ayah." Timpal Diandra menundukan kepala nya, merasa bersalah.
Dalam keadaan hening, tiba tiba ponsel Diandra berdering.
Tertera nama istri nya di layar.
Dengan merasa tidak percaya Diandra buru buru menjawab panggilan tersebut.
"Hallo sayang.." Sapa Diandra.
__ADS_1
"Hallo, asalamualaikum ini saya Zia. Saya ingin mengabarkan bahwa Keisya saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Keadaan nya semakin memburuk, demam nya tidak kunjung turun sejak semalam." Jelas Zia.
Diandra terdiam mendengarkan setiap kata yang di sampaikan oleh sahabat istri nya itu, kini Diandra tahu bahwa kabar dari Ibu semalam adalah kenyataan.
"Dimana Keisya di rawat?" Tanya Diandra dengan suara bergetar.
Beberapa saat kemudian, sambungan telpon telah terputus. Kini Diandra sedang menunggu lokasi dimana istri nya itu di rawat.
"Ada apa nak, Keisya kenapa?" Tanya Ibu cemas.
"Ibu, kabar yang Ibu dengar semalam itu seperti nya benar. Barusan Zia memberi kabar bahwa Keisya sedang di rawat di rumah sakit dan keadaan nya semakin memburuk." Jawab Diandra lemas.
Ibu menutup mulut nya dan beristighfar, dengan apa yang terjadi pada menantu nya saat ini, Ibu jelas merasa bersalah.
"Ayah, lebih baik kita pergi dahulu ke rumah sakit untuk melihat keadaan Keisya. Batalkan pertemuan dengan kedua orangtua Rayna, Keisya lebih penting." Ucap Ibu dengan berderai air mata.
"Iya bu, sebaiknya seperti itu." Jawab Ayah.
Tidak lama, sebuah alamat rumah sakit di kirimkan dari nomor istri nya.
Diandra berlari menuju kamar untuk mengambil kunci mobil nya, dan memakai jaket.
"Bu, Ibu sama Ayah pakai supir saja ya. Aku duluan." Diandra berlari keluar rumah.
Dalam perjalanan, Diandra tidak henti memikirkan kemungkinan terburuk dengan kondisi istri nya saat ini.
Walaupun tidak menginginkan kondisi buruk pada sang istri, namun dari nada bicara Zia saat di telpon tadi membuat nya yakin bahwa keadaan Keisya sedang sangat tidak baik saat ini.
Setelah cukup lama berkendara, akhirnya Diandra telah sampai pada alamat yang tuju.
"Suster, dimana pasien bernama Keisya di rawat?" Tanya Diandra.
"Bang Andra!" Panggil seseorang.
Diandra menoleh, terlihat Zia melambaikan tangan nya.
"Zia, dimana ruangan Keisya?" Tanya Diandra.
"Saat ini Keisya sedang dalam penangan dokter di ruang ICU." Jawab Zia.
"Astagfirullah, bagaimana kondisi nya saat ini?" Tanya Diandra kembali.
Zia menatap Diandra tengan tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
"Untuk bagaimana kondisi Keisya saat ini, mungkin tanpa aku beri tahu bang Andra sudah mengerti kenapa sampai Keisya masuk ruang ICU!" Ucap Zia datar sambil berjalan meninggalkan Diandra yang mematung.