He Is Mine

He Is Mine
Eps 74


__ADS_3

Diandra menghela nafas, saat baru saja sampai di depan pintu apartemen Rayna.


Walaupun enggan untuk bertemu kembali dengan Rayna, namun Diandra harus melakukan nya sampai masalah ini beres dan menemukan jalan keluar nya.


Diandra menekan bell, tidak lama pintu terbuka.


"Selamat datang kembali di rumah sayang." Ucap Rayna tersenyum manis.


Diandra memutar bola mata nya, dengan tingkah laku Rayna.


"Sudah lah, tidak usah basa basi aku kesini hanya untuk membicarakan masalah kita." Kata Diandra datar.


Bukan nya marah, mendengar dan melihat ekspresi dari Diandra yang seperti ini malah membuat Rayna bertingkah manja padanya.


"Sayang jangan seperti itu dong, kamu tahu aku rindu padamu." Rayna mengalungkan tangan nya pada leher Diandra.


Diandra hanya diam saja, sambil membuang pandangan ke sembarang arah.


Tidak ingin bertatapan dengan Rayna dalam jarak sedekat sekarang ini.


"Kenapa diam sayang, apa kamu tidak merindukan ku?" Bisik Rayna manja.


Diandra kembali menghela nafas nya.


"Rayna, tolong jangan seperti ini." Ucap nya.


Rayna tersenyum mendengar nama nya di sebut, tidak seperti biasa nya Diandra memanggil nama nya.


"Mari kita bersenang senang seperti dulu." Ajak Rayna.


Rayna melepaskan pelukan nya, lalu berjalan menuju pintu, sebelum sampai depan pintu Rayna tersenyum menoleh Diandra sebentar lalu kembali berjalan dan mengunci pintu.


"Apa yang kamu lakukan?" Diandra berjalan mendekati Rayna.


Dengan tenang Rayna hanya tersenyum saja, melihat Diandra menghampiri nya.


Diandra mencoba mengambil kunci pintu yang di pegang oleh Rayna.


"Berikan kunci nya." Ucap Diandra.


Rayna kembali tersenyum, dan terlihat sangat tenang sekali.


Sambil menggelengkan kepala nya, Rayna mengatakan tidak akan membuka pintu sebelum Diandra mau menuruti keinginan nya terlebih dahulu.


"Kenapa sangat terburu buru sayang, santai saja." Goda Rayna.


Diandra menutup matanya.


"Tolong jangan seperti ini, kita bisa membicarakan hal ini secara baik baik." Ujar Diandra.


"Iya, tentu saja sayang. Tapi sebenarnya tidak ada yang perlu di bicarakan lagi." Jawab Rayna.

__ADS_1


"Kita tinggal menikah saja, sudah semua nya selesai." Lanjut Rayna.


Diandra berbalik, dan berjalan menuju sofa.


"Aku sudah mengatakan itu sebelum nya bukan?" Tanya Diandra.


"Iya, benar." Rayna berjalan menghampiri Diandra.


Diandra mau menikahi Rayna, karna hanya itu lah jalan satu satu nya dari masalah ini.


Namun Diandra yang mengajak Rayna menikah secara agama di tolak mentah mentah oleh Rayna, yang menginginkan pernikahan resmi secara agama dan negara juga.


"Bukan menikah secara agama saja yang aku inginkan." Kata Rayna.


Diandra menatap Rayna.


"Tapi hanya itu saja yang bisa aku lakukan saat ini. Memang nya apa yang salah dengan menikah secara agama? Itu sah juga." Jelas Diandra.


Rayna mengangguk menyetujui penjelasan Diandra, namun tetap saja Rayna tidak menginginkan pernikahan semacam itu.


Rayna ingin pernikahan yang sebenarnya, dengan mengundang semua keluarga dan teman teman nya. Dan tentu saja dengan sebuah acara pesta pernikahan.


"Aku tidak ingin kamu menyembunyikan aku." Ujar Rayna.


Diandra menutup mata nya.


"Rayna, kamu tahu kan aku sudah jujur padamu bahwa aku sudah menikah dan mempunyai seorang istri. Jadi tidak mungkin kita bisa menikah seperti orang lain, yang mengadakan acara pesta pernikahan secara besar besaran, itu tidak mungkin akan terjadi." Lirih Diandra.


Keisya tersenyum sinis.


Karna dia tidak ingin stres, mengingat bayi yang sedang di kandung nya saat ini.


Rayna berdiri, dan berjalan kembali mendekati pintu.


Diandra memperhatikan Rayna yang membuka kunci pintu.


"Kemari.." Panggil Rayna pelan.


Diandra berdiri menghampiri Rayna.


Rayna menutup mata, sambil menghembuskan nafas nya Rayna berkata pada Diandra bahwa dia boleh pulang saat ini.


Tanpa bertanya apa apa, mendengar penuturan Rayna Diandra langsung melangkah kan kaki nya.


"Tunggu dulu!" Panggil Rayna pelan.


Diandra yang sudah di luar menoleh kembali.


Tiba tiba Rayna menghampiri nya, berdiri menatap nya lalu melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras.


Diandra reflek memegangi pipinya, dan menatap Rayna dengan penuh emosi.

__ADS_1


"Sebelum kamu marah atas tamparan yang aku berikan, kamu pikirkan kembali perlakuan mu saat ini padaku. Rasa sakit ku saat ini yang telah kamu permainkan tidak sebanding dengan hanya satu tamparan di pipi mu saja." Jelas Rayna.


Diandra terdiam dan tidak tahu harus berkata apa, dia benar benar di buat mati kutu oleh ucapan Rayna barusan.


"Ini terakhir kali nya aku memberi kamu kesempatan untuk berfikir kembali, untuk menikahi ku atau tidak. Fikirkan itu secara baik baik, aku hanya akan memberi kamu waktu selama dua hari saja. Aku tidak bisa memberi mu banyak waktu karna kandungan ku akan terus membesar seiring berjalan nya waktu." Jelas Rayna.


***


Diandra menundukan kepala nya pada setir mobil nya.


Semua ucapan dari Rayna membayangi pikiran nya saat ini, semua perkataan Rayna benar adanya namun tetap saja bagi dirinya sendiri tidak mungkin Diandra menikahi Rayna dengan membuat pesta secara besar besaran.


Andai saja Rayna dapat menerima ajakan darinya untuk menikah secara agama saja, mungkin masalah ini kini telah selesai.


"Ya allah, hamba rela di beri hukuman apa saja, asalkan jangan seperti ini. Hamba tahu hamba bersalah dan sangat sangat bersalah saat ini, namun hamba memohon ampunan dari mu ya allah." Diandra menitikan air matanya.


Entah kenapa rasanya hati nya terasa begitu sakit saat ini, Diandra memegangi dada nya yang terasa sesak.


20 menit telah berlalu, Diandra masih terdiam di dalam mobil nya yang masih berada di parkiran apartemen.


Air mata beberapa kali jatuh dari matanya.


"Baru kali ini aku merasakan rasa sakit seperti ini, sakit sekali." Gumam nya.


Diandra mengambil ponsel nya, lalu membuka galeri dan membuka foto foto istri nya.


"Sayang, maafkan aku." Ucap nya sambil melihat satu persatu foto Keisya.


Cukup lama Diandra menatap layar ponsel nya, Diandra kembali menyimpan ponsel nya di dashboard mobil.


Diandra mulai memacu mobil nya, keluar dari parkiran apartemen.


Ibu. Itulah satu satu nya nama yang terbesit di benak nya saat ini, Diandra harus menemui Ibu dan meminta solusi untuk hal ini.


Peringatan terakhir dari Rayna benar benar membuatnya merasa tertekan.


Beberapa saat kemudian.


Diandra telah tiba di halaman rumah Ibu.


Diandra menarik nafas sebentar sebelum keluar dari mobil, Diandra tahu dirinya tidak akan bisa langsung meminta solusi mengingat Rayna yang telah bercerita pada Ayah. Diandra harus siap menghadapi kemarahan Ayah saat ini.


Diandra membuka pintu rumah sambil mengucapkan salam.


"Andra.." Terlihat Ibu menghampiri nya.


Entah kenapa, melihat Ibu membuat nya tiba tiba saja ingin menangis kembali.


"Ibu.." Ucap Diandra pelan.


Ibu menautkan alis nya ketika sampai di hadapan putra nya tersebut.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Ibu cemas melihat mata Diandra yang sembab dan keadaan yang cukup kacau.


Diandra langsung memeluk Ibu, lalu tiba tiba saja menangis dengan tersedu sedu.


__ADS_2