
Malam hari ini dengan sangat terpaksa Diandra harus pergi sebentar dari rumah sakit, dirinya dan kedua orangtua nya harus pergi sekarang juga menuju rumah Rayna.
Walaupun di pagi hari Ayah telah meminta sedikit pengertian dengan mengatakan bahwa mereka tidak bisa datang hari ini karna istri Diandra sakit dan di rawat di rumah sakit, namun kedua orangtua Rayna tidak mau menerima alasan apapun dan menekan kedua orangtua Diandra untuk datang hari ini juga.
"Kamu tahu hal apa yang akan terjadi nanti bukan?" Tanya Ayah.
Diandra menghela nafas nya.
"Iya Ayah, aku akan menerima apapun konsekuensi nya." Ucap Diandra.
Beberapa saat kemudian.
Diandra sekeluarga telah tiba di rumah orangtua Rayna.
Kedatangan mereka di sambut dengan hangat oleh kedua orangtua Rayna, namun ada hal yang aneh di rumah ini.
Selain Rayna dan kedua orangtua nya, ada beberapa orang juga di rumah ini yang merupakan anggota keluarga besar Rayna.
"Baiklah, sebaiknya kita langsung mulai saja pembicaraan nya karna kami tidak bisa berlama lama disini, dan harus kembali ke rumah sakit." Ujar Ayah.
Mendengar itu Ayah Rayna tertawa dengan renyah.
"Tenang saja pak, hal ini tidak akan lama dan tidak akan ada pembahasan apapun malam ini selain menentukan tanggal pernikahan anak kita berdua." Ujar nya.
Mendengar hal itu sontak saja membuat Diandra dan kedua orangtua nya tersentak kaget.
"Mohon maaf, bagaimana maksud nya?" Tanya Ibu.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi karna semua nya telah jelas, mereka berdua harus segera di nikahkan untuk memperjelas status keponakan kami juga disini yang kini tengah mengandung buah hati dari anak anda." Timpal salah satu keluarga Rayna.
Ibu dan Ayah saling melempar tatapan, sementara Diandra tertunduk lesu mendengar semua nya.
"Kami juga tidak keberatan untuk menikah kan putra kami dengan Rayna, namun ada satu permitaan dari kami." Sambung Ayah.
"Ah, jika permintaan yang anda maksud kan dengan menyembunyikan status Rayna kami merasa keberatan dengan itu." Jawab Ayah Rayna cepat.
Semua kembali terdiam untuk beberapa saat.
Tentu saja semua anggota keluarga Rayna juga telah membicarakan perihal permasalahan yang kini menimpa Rayna, dan semua anggota keluarga besar Rayna telah setuju bahwa jalan satu satu nya adalah menikah kan mereka berdua.
__ADS_1
Dan seperti yang telah di ketahui oleh Ayah dan Ibu Rayna, mereka juga tidak ingin status pernikahan anak nya itu di sembunyikan.
"Pak, kami mohon maaf sebelum nya. Tapi situasi nya benar benar tidak memungkinkan untuk mempublikasi kan pernikahan Diandra dan Rayna." Ucap Ayah masih mencoba memberi pengertian.
Ayah Rayna tersenyum kecut mendengar penuturan tersebut.
Kini keluarga Diandra dinilai egois dan tidak memiliki perasaan, dengan menyembunyikan Rayna mereka semua di nilai tega mengorban kan orang lain yang jelas jelas status nya sekarang sudah menjadi korban.
Kedua keluarga itu terus saja berdebat, memperdebatkan jalan keluar.
Hingga Diandra berdiri dari tempat duduk nya, dan semua mata tertuju pada nya.
"Diam lah, masalah tidak akan selesai jika cara kalian semua seperti ini." Ucap Diandra.
Rayna ikut berdiri.
"Jalan keluar nya sudah ada, keluarga kamu saja yang tidak mengerti dengan posisi ku!" Ucap Rayna.
"Tidak mungkin aku menikah dengan mu! Aku mempunyai seorang istri!" Ucap Diandra dengan nada yang meninggi, emosi nya benar benar telah terpancing.
Dengan cepat Ibu ikut berdiri, dan mencoba menenangkan putra nya tersebut.
Diandra tersentak mendengar hal tersebut, dirinya tidak menyangka bahwa Rayna akan berkata demikian.
Semua keluarga Rayna mendukung apa yang Rayna katakan dan menyetujui nya.
"Apa salah nya jika menikah tanpa mengadakan acara pernikahan?" Tanya Ayah.
"Tentu saja itu menjadi sebuah masalah bagi kami, bapak jangan egois lihat keadaan putri kami sekarang." Timpal Ayah Rayna.
"Sudah lah, berhenti berdebat! Aku akan menikahi Rayna." Kata Diandra tiba tiba.
Ayah dan Ibu nya tersentak dan reflek memandangi dirinya.
Tidak ada jalan lain lagi selain menikah dan menuruti keinginan Rayna saat ini, dirinya benar benar ingin cepat pergi dari rumah ini dan kembali ke rumah sakit.
"Untuk hari pernikahan, kita bicarakan di lain hari saya tidak bisa berlama lama. Saya pamit. Permisi." Diandra berjalan meninggalkan rumah Rayna, di susul oleh kedua orangtua nya.
***
__ADS_1
Diandra baru saja sampai kembali di rumah sakit, di waktu yang sudah hampir memasuki tengah malam ini Diandra berjalan pelan memasuki ruangan Keisya.
"Sudah selesai?" Tanya Zia.
Diandra mengangguk pelan, walaupun dirinya tidak tahu hal apa yang di tanyakan oleh Zia.
"Kalau begitu, kapan kamu akan menceraikan sahabat ku?" Tanya Zia.
Diandra dengan reflek menatap Zia.
"Apa maksud mu? Aku tidak akan menceraikan istri ku!" Ucap Diandra.
Zia menatap balik Diandra dengan tatapan tajam nya, dan mengatakan bahwa dirinya mengetahui dari mana Diandra barusan karna tadi sempat mendengar pembicaraan Ayah nya di telpon.
Selain itu dengan tidak mencerai kan Keisya, Diandra sama saja seperti menyiksa batin nya.
Diandra terdiam mendengar penuturan Zia, dirinya tidak menyangka bahwa Zia mengetahui darimana dirinya barusan.
"Aku sudah memperingatkan kamu, dan aku tidak main main." Zia tersenyum sinis dan meninggalkan ruangan Keisya.
Diandra duduk di sebelah istri nya, sambil mengusap pelan punggung tangan Keisya Diandra mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Keisya.
"Rasanya tidak pernah terbayangkan jika aku harus berpisah dengan mu, itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Diandra pelan sambil mencium tangan Keisya.
Beberapa lama waktu berlalu.
Keisya membuka mata nya dan menatap suami nya yang kini tengah tertidur dalam posisi duduk sambil memegangi tangan nya yang sedari tadi tidak lepas.
"Bagaimana mungkin aku akan sanggup hidup tanpa mu, aku juga tidak ingin berpisah dengan mu." Batin Keisya.
Keisya menitikan air mata nya, semua yang di bicarakan Diandra dengan Zia tadi Keisya mengetahui nya, sebenarnya diri nya tersadar waktu itu, namun enggan membuka mata dan ingin menyimak dengan terus berpura pura tidur.
Dalam hati terdalam nya, tentu saja Keisya sangat mencintai suami nya tersebut. Namun di sisi lain Keisya tahu diri, suami nya itu juga harus tetap bertanggung jawab atas perbuatan nya sendiri.
Sakit di dalam hati nya sedikit terkikis dengan melihat suami nya, bersamaan dengan itu Keisya mengingat kembali pengkhianatan sang suami.
"Kamu adalah yang pertama dalam banyak hal bagiku, aku mencintai mu, sangat sangat mencintai mu. Walaupun kamu menyakiti ku sekarang."
Keisya mengusap air mata nya, dan menutup mata nya kembali.
__ADS_1