
Masih teringat jelas apa yang telah di katakan oleh Anya padanya tadi, rasanya semakin rumit saja permasalahan nya.
"Mas minum obat dulu." Keisya menyerahkan beberapa butir obat.
Diandra menelan satu persatu obat nya.
"Kamu istirahat sayang, ini sudah malam." Ujar Diandra.
"Iya mas, sebentar lagi." Jawab Keisya.
Keisya duduk di sebelah suami nya, Diandra memperhatikan perut istri nya.
Terukir sebuah senyuman di wajah Diandra.
"Sayang, kamu harus cek kondisi kandungan kamu." Usul Diandra.
Keisya menundukan kepala nya, ikut menatap perut nya.
"Iya mas, besok aku cek." Jawab Keisya.
Kandungan Keisya memang seharus nya sudah di cek kembali, setelah cukup lama terakhir kali dia melakukan cek kandungan. Sampai saat ini Keisya belum memeriksa nya kembali.
Kondisi Keisya yang kemarin sempat mengalami penurunan yang derastis membuatnya harus mengkonsumsi banyak obat obatan, walaupun tidak sembarang obat. Tetap saja kandungan nya itu harus mendapatkan pemeriksaan kembali.
"Apa.. Kamu membenci ku?" Diandra memberi sedikit jeda pada pertanyaan nya.
Keisya tersenyum.
"Bagaimana mungkin aku membenci orang yang menjadi cinta pertama ku, selain Ayah dan Kakek." Jawab Keisya.
Diandra terdiam.
"Apa mungkin pernikahan kita dapat di selamatkan." Tanya Diandra kembali.
Terlihat dari raut wajah nya, Keisya merasa sedih dengan pertanyaan dari suami nya tersebut.
Bagaimana pun juga perempuan mana yang ingin rumah tangga hancur berantakan. Semua perempuan tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Sudah lah mas. Sebaik nya tidak membahas itu, untuk saat ini mas harua fokus pada kesembuhan mas." Jawab Keisya pelan.
Keisya berdiri dari duduk nya, berpamitan untuk ke kamar mandi sebentar.
Dalam kamar mandi, Keisya menumpahkan air mata nya. Dirinya tidak sanggup untuk tetap berpura pura kuat.
Keisya hanyalah perempuan biasa, yang sama seperti perempuan lain nya. Memiliki perasaan dan dapat tersakiti.
"Astagfirullah, ya allah tolong saya. Segera kan lah jalan keluar bagi permasalahan yang sedang saya hadapi saat ini." Keisya menutup mulut nya, mencoba menyamarkan suara tangis nya.
Keisya akan berusaha tetap tegar, dan menjalani hari hari nya dengan sabar. Jikalau jalan keluar dari permasalahan ini adalah perpisahan nya dengan Diandra.
Tidak ingin menjadi orang yang egois, Keisya tidak ingin mementingkan diri nya sendiri. Dan akan mengalah untuk Rayna, meskipun itu akan sangat berat dia lakukan.
__ADS_1
15 menit berlalu, Keisya merasa dirinya sudah terlalu lama di dalam kamar mandi.
Sebelum keluar, Keisya membasuh wajah nya terlebih dahulu. Menghapus sisa sisa air mata di wajah nya.
"Kenapa lama?" Tanya Diandra.
Keisya tersenyum.
"Kamu tidak apa apa kan sayang?" Tanya Diandra kembali. Merasa cemas.
"Tidak mas. Ini sudah malam, sebaiknya mas segera tidur." Keisya menyelimuti tubuh suami nya.
Dengan rasa sakit di hati nya, Keisya kencoba menekan rasa sakit itu kedalam. Tidak ingin sampai suami nya itu mengetahui nya.
Seutas senyuman dia paksakan di wajah nya.
"Kamu tidur juga ya.." Pinta Diandra.
"Iya mas." Keisya mengangguk.
Setelah suami nya menutup mata, Keisya berjalan menuju sofa untuk membaringkan tubuh nya.
***
Pagi tiba. Di pagi hari seperti biasa nya, Ibu dan Ayah akan datang membawa makanan untuk Keisya dan melihat kondisi putra nya.
"Ayah, Ibu." Keisya mencium tangan kedua mertua nya bergantian.
Sedangkan Ibu duduk di sofa bersama dengan Keisya.
"Kamu kenapa menangis nak?" Tanya Ibu.
Keisya tersentak, Ibu mertua nya itu ternyata menyadari dirinya yang telah menangis.
"Apa Diandra menyakiti mu lagi?" Tanya Ibu dengan lirih.
"Tidak Ibu, Kei hanya rindu sama Mamah dan Ayah saja." Keisya mengelak.
Ibu menghela nafas, Ibu tahu bahwa menantu nya tersebut kini tengah berbohong.
"Ayo nak, sarapan dulu." Ibu memberikan beberapa potong buah buahan.
Keisya memakan nya dengan pelan, setiap pagi dirinya memang selalu makan berbagai jenis buah buahan sebagai makanan pembuka nya. Setelah itu, menunggu 30 menit untuk bisa makan nasi.
Diandra yang sedang mengobrol dengan Ayah memperhatikan Keisya. Semalam dirinya tidak langsung tidur saat Keisya telah menyelimuti nya.
Dengan sengaja Diandra menutup mata dan berpura pura tidur agar Keisya dapat waktu untuk beristirahat.
Namun apa yang di lihat nya semalam membuat hati nya terasa hancur. Meskipun hanya melihat punggung nya saja, Diandra dapat mengetahui bahwa istri nya itu semalaman menangis.
"Permasalahan ini belum kunjung selesai juga, entah sampai kapan aku akan menyakiti perasaan nya terus." Batin Diandra.
__ADS_1
"Andra, Ayah akan menemui dokter dulu. Siapa tahu kamu dapat di rawat di rumah saja." Jelas Ayah.
Ayah dan Ibu memang telah sepakat untuk membawa Diandra pulang hari ini, jika mendapatkan izin dari dokter.
Karna selain dapat memberi perhatian penuh, di rumah juga Ayah dan Ibu dapat memantau dan menjaga kesehatan Keisya dengan lebih leluasa.
Karna tidak akan hanya Keisya yang merawat Diandra di rumah, ada bi Lala juga.
Ayah keluar dari ruangan, kini tinggal mereka bertiga saja.
Ibu menghampiri Diandra.
"Bagaimana keadaan kamu nak?" Tanya Ibu lembut.
"Semakin hari semakin membaik bu, walaupun terkadang ada rasa ngilu di kepala." Jelas Diandra.
Ibu menghela nafas.
"Kamu yang sabar ya sayang, kamu akan pulih sepenuh nya." Ibu mencoba memberi semangat pada putra nya.
"Oh iya Ibu, sudah lama Keisya tidak melakukan cek kandungan. Bisakah Ibu menemani nya hari ini mengecek kondisi kandungan nya?" Tanya Diandra.
Ibu nampak kaget dengan penuturan Diandra, benar juga apa yang di katakan putra nya barusan.
Karna terlalu panik dengan kondisi Diandra, Ibu hampir saja lupa untuk melakukan pemeriksaan kandungan untuk menantu nya.
"Ya allah, hampir saja Ibu lupa. Untung kamu mengingatkan. Nanti pukul 8 Ibu akan menemani Keisya ke poli kandungan." Jelas Ibu.
Ibu kembali berjalan ke sofa.
"Sayang, kamu mandi dulu ya. Nanti pukul 8 kita periksa kandungan kamu." Ucap Ibu lembut.
Keisya mengangguk, dengan pakaian ganti di tangan nya. Keisya memasuki kamar mandi.
"Andra, apa yang terjadi?" Tanya Ibu setelah Keisya masuk kedalam kamar mandi.
"Maksud Ibu?" Tanya Diandra tidak mengerti.
"Ibu melihat mata Keisya sembab, seperti nya semalaman dia habis menangis. Apa kalian bertengkar?" Tanya Ibu.
Diandra terdiam, dugaan nya benar. Semalaman Keisya telah menangis.
Diandra mengatakan pada Ibu, bahwa semalam Keisya memang seperti menangis di balik tidur nya.
Namun Diandra tidak dapat memastikan apa hal apa yang membuat istri nya itu menangis.
"Apa ada sesuatu yang kamu katakan padanya?" Tanya Ibu.
Diandra berfikir sejenak, lalu mendapatkan sebuah jawaban.
"Apa mungkin Keisya menangis akibat pertanyaan ku kemarin?" Batin Diandra.
__ADS_1