He Is Mine

He Is Mine
Eps 79


__ADS_3

Dalam sebuah mobil, Keisya tidak henti nya menangis kembali.


Sakit di hati nya benar benar tidak bisa di sembunyikan.


"Aku tidak menyangka bahwa suami mu seperti itu." Ujar Zia.


Saat ini Keisya tengah dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman nya.


Setelah melaksanakan ibadah shalat isya tadi, Keisya melakukan panggilan pada Zia dan meminta diri nya datang kerumah untuk menjemput nya.


Tanpa banyak bertanya tentang apa yang sedang terjadi, Zia langsung meminta tolong kepada Ayah nya untuk menjemput Keisya.


"Entah kenapa rasanya sakit sekali." Gumam Keisya.


"Zia, om. Maaf Keisya merepotkan kalian malam malam begini." Ujar Keisya.


Ayah Zia yang sedang menyetir melirik sebentar kebelakang.


"Tidak sayang, jangan berbicara seperti itu." Ujar Ayah Zia.


Perjalanan kembali berlanjut dengan keheningan, Keisya saat ini sudah lebih


tenang.


Dalam perjalan, tidak henti nya Zia mengusap punggung sahabat nya tersebut untuk memberikan sebuah ketenangan.


"Apa kamu sudah makan?" Tanya Zia.


Keisya menganggukan kepala nya.


"Jangan terlalu stres, kasihan kandungan mu." Ujar Zia.


Keisya memegangi perut nya, dia baru mengingat kandungan nya.


Keisya kembali menangis, sambil mengusap usap perut nya Keisya bergumam meminta maaf pada bayi yang ada di dalam kandungan nya tersebut.


Cukup lama perjalanan, akhirnya Keisya telah tiba di kampung halaman nya.


"Boleh aku menginap di rumah mu?" Tanya Keisya.


"Iya, sebaiknya kamu di rumah ku saja dan tidak memberikan kabar ini pada Kakek dan Nenek terlebih dahulu." Jawab Zia.


Akhirnya Keisya menuju ke rumah Zia.


Saat sampai di halaman rumah nya, terlihat Ibu Zia telah menunggu kedatangan mereka di teras rumah.


Ibu yang memang telah mengetahui kabar perselingkuhan suami Keisya dari Zia lewat sebuah pesan yang sengaja Zia kirimkan pada Ibu terlihat berkaca baca.


Keisya dan Zia turun dari mobil.


Ibu langsung berlari memeluk Keisya.


"Ya allah nak, kamu yang sabar ya." Ucap Ibu.


Keisya mengangguk pelan.

__ADS_1


Ketiga nya masuk terlebih dahulu kedalam rumah, sementara Ayah Zia mengambil koper Keisya terlebih dahulu yang masih berada di dalam mobil.


Dalam rumah, tidak banyak pertanyaan atau obrolan dari kedua orangtua Zia.


Mereka berdua mengerti bahwa saat ini Keisya sedang merasa sedih dan pasti nya sangat sakit hati.


Ibu dan Ayah Zia membiarkan Keisya untuk langsung masuk ke kamar bersama dengan Zia, untuk berisitrahat karna hari telah larut malam.


Dalam kamar, Keisya melamun sambil menatap layar ponsel nya yang sedari tadi terus menerus berbunyi memperlihatkan sebuah panggilan masuk dari suami nya.


Berpuluh puluh pesan telah masuk kedalam ponsel nya, begitupun dengan panggilan tidak terjawab di ponsel nya yang juga mencapai puluhan hanya dalam kurun waktu dua jam setelah dia meninggalkan rumah.


"Kei.." Zia menghampiri Keisya.


"Iya?" Tanya Keisya pelan.


Zia menatap layar ponsel sahabat nya tersebut.


"Boleh aku pinjam ponsel nya sebentar?" Tanya Zia.


Tanpa bertanya, Keisya memberikan ponsel nya tersebut pada Zia.


Zia menolak panggilan dari Diandra, dan menonaktifkan ponsel milik sahabat nya tersebut.


***


Pagi tiba, semalaman Keisya dan Zia tidak bisa tidur.


Keisya yang semalaman kembali menangis tidak mungkin Zia membiarkan nya menangis sendirian, dan karna itu Zia semalaman tidak tidur mencoba untuk menenangkan sahabat nya.


"Zia tidur lah, semalam kamu tidak tidur sama sekali." Pinta Keisya.


Keisya menundukan kepala nya.


"Iya kamu benar." Terlihat perut nya sudah sedikit membesar.


Akhirnya kedua nya memutuskan untuk tidur, walaupun sebenarnya Keisya sendiru tidak merasa mengantuk.


Namun Keisya memaksakan diri untuk tidur, karna mengingat kandungan nya dan kesehatan nya.


Sebelum tidur kedua nya sempat sarapan terlebih dahulu, sedikit demi sedikit Keisya memaksa menelan sarapan nya yang terasa sangat susah di telan dan cenderung mual dan muntah saat mencoba menelan nya.


Waktu menjelang siang.


Keisya telah kembali bangun, dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan badan nya.


"Keisya.." Panggil Ibu Zia.


"Bibi.." Sahut Keisya.


"Mau kemana sayang?" Tanya Ibu Zia.


Keisya mengatakan bahwa dirinya ingin mandi, sekalian mengambil air wudhu untuk melaksanakan ibadah shalat dzuhur yang sebentar lagi akan tiba.


Selesai mandi dan mengambil air wudhu Keisya duduk di depan meja rias milik sahabat nya tersebut.

__ADS_1


Terlihat sekali wajah nya begitu pucat saat ini.


Pikiran nya melayang layang terbayang dengan pembicaraan nya dengan sang suami kemarin sore, yang menjadi awal hancur nya hati dirinya sendiri.


Baru saja di siang hari kemarian dirinya masih bermanja manja pada sang suami, siang ini semua nya berubah total.


Keisya kembali menangis mengingat semua kenangan bersama dengan suami nya.


"Astagfirullah." Keisya menutup mata nya sambil beristighfar.


Terdengar suara adzan dzuhur berkumandang.


Keisya menyeka air matanya, lalu mengenakan mukena untuk melaksanakan ibadah terlebih dahulu.


Dalam suasana hati yang begitu kacau, Keisya mengadukan semua keluh kesah dan rasa sakit nya kepada sang pencipta.


***


Di rumah. Tidak henti nya sedari semalam Diandra terus saja menangis di kamar nya sambil menatap layar ponsel nya yang sedang memperlihat sebuah foto istri nya.


Ingin rasanya dia pergi menyusul istri nya tersebut ke kampung halaman nya, dan membawa nya kembali pulang ke rumah.


Namun Ibu melarang nya, dengan alasan membiarkan Keisya untuk menenangkan diri nya sejenak.


"Aku menyesal, aku menyesal." Gumam nya.


Diandra kembali teringat dengan ucapan istri nya yang menyuruh nya untuk meminta maaf kepada allah, karna dirinya telah berzina.


Diandra berdiri dan berjalan dengan lunglai menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Dengan bersungguh sungguh Diandra memohon ampunan dari sang pencipta, dan menyesali segala perbuatan yang telah ia lakukan bersama dengan Rayna.


"Nak.." Ibu membuka pintu kamar.


"Bu, bawa Keisya pulang bu, aku rindu padanya." Diandra kembali menangis.


Melihat putra nya menangis, Ibu ikut menangis merasakan kesedihan yang dirasakan oleh putra nya tersebut.


Ibu memeluk Diandra.


"Sabar sayang, Ayah dan Ibu akan membawa Keisya kembali pulang kesini." Ucap Ibu.


Diandra melepaskan pelukan nya.


"Ayo bu, ayo kita pergi ke sana kita jemput Keisya." Pinta Diandra.


"Tidak hari ini sayang." Jawab Ibu sambil menggelengkan kepala nya.


"Kenapa bu?" Tanya Diandra.


Ibu lalu kembali mengingatkan anak nya tentang apa yang harus dia lakukan.


Mendengar itu tiba tiba saja Diandra mengingat Rayna.


"Rayna, semua ini gara gara dia!" Gumam Diandra.

__ADS_1


"Tidak nak, ini bukan salah Rayna. Ini semua salah kamu yang sedari awal tidak bisa bersyukur dan menerima kehadiran Keisya di hidup kamu. Kamu telat menyadari semua nya dan ini lah akibat nya." Jelas Ibu.


Diandra terdiam, semua ini memang salah dirinya. Yang bahkan tidak mendengar Ibu yang berkali kali berusaha mengingatkan adanya Keisya di hidup nya dulu saat awal kembali menjalin hubungan dengan Rayna.


__ADS_2