
Keisya tidak henti henti nya tersenyum, sambil merapihkan mukena nya dia terus terus melirik suami nya.
"Kamu kenapa?" Tanya Diandra.
"Daritadi aku perhatikan kamu tersenyum senyum sendiri" Lanjutnya.
Keisya menggelengkan kepala nya.
Keisya sangat bahagia sekali, melihat suami nya dengan koko yang di pakai nya.
Namun, ada satu hal yang tidak Keisya ketahui.
"Mas ayo makan" Ajak Keisya.
Diandra menangguk sambil mengganti
pakaian nya.
"Oh iya mas, rasanya aku tidak asing dengan koko yang mas pakai" Ucap Keisya.
Diandra terkekeh.
Wajar saja jika istri nya itu tidak asing dengan pakaian nya. Karna Diandra memang memakai pakaian muslim yang di belikan oleh istri nya saat awal menikah.
Saat akan berangkat kemarin, diam diam Diandra membawa baju koko dan sarung nya.
Dan menyimpan nya di dalam mobil tanpa sepengetahuan Keisya.
Diandra memegang tangan istri nya itu.
"Terus lah bersabar, hingga nanti aku bisa menjadi imam yang baik buatmu, dan keluarga kecil kita nanti" Ucap Diandra.
Mata Keisya berbinar mendengar itu.
Keisya menangguk cepat, dan memeluk suami nya itu.
"Alhamdulillah" Ucap Keisya.
Beberapa saat kemudian, Diandra dan Keisya pergi menuju dapur untuk makan malam.
Keisya menghentikan langkah nya sebelum masuk dalam dapur.
"Kenapa?" Tanya Diandra heran.
"Mas, tadi saat aku mau shalat aku belum sempat masak. Ya allah, bagaimana kita makan" Keisya baru mengingat dia meninggalkan bahan makanan di dapur dan
belum sempat memasak nya.
Keisya terlalu terbuay dengan penampilan sang suami, hingga lupa untuk melanjutkan aktivitas masak nya, ketika pulang dari mesjid.
"Benarkah?" Tanya Diandra.
Keisya menangguk cepat.
Cepat cepat Keisya masuk kedalam dapur, dan ternyata semua bahan bahan tadi sudah berubah menjadi beberapa hidangan makanan malam yang sudah tersedia di atas meja makan.
Keisya tahu, pasti nenek memasak semua ini sendirian.
Dia merasa tidak enak dengan nenek.
"Ini, ada?" Ucap Diandra.
"Iya mas, pasti nenek masak ini sendirian. Aku jadi ngga enak" Ujar nya pelan.
"Sudah ayo kita makan, tidak usah bilang begitu" Tiba tiba terdengar suara nenek, memasuki dapur.
Reflek Keisya dan Diandra menoleh bersamaan.
Kakek dan nenek tersenyum bersamaan.
"Nek, maaf ya. Kei lupa beneran" Keisya tetap merasa bersalah.
Nenek menghampiri Keisya.
"Ayo makan, kamu pasti rindu masakan nenek kan? Jadi sengaja nenek memasak ini tanpa menunggu kamu tadi." Jelas nenek.
Keisya tersenyum, lalu menganggukan kepala nya.
__ADS_1
Dia memang selalu merindukan cita rasa masakan dari nenek.
Baginya, tidak ada rasa yang dapat mengalahkan rasa masakan buatan sang nenek.
Sekalipun itu masakan dia sendiri.
Akhirnya semua duduk di meja makan, sebelum memulai menyantap nya semua berdo'a terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian.
Makan malam telah selesai, Keisya membereskan dan mencuci piring.
Diandra keluar dari rumah, dan duduk di halaman depan.
"Boleh kakek duduk?"
Diandra menoleh, dan sudah ada kakek berdiri di samping nya.
Diandra dengan cepat menggeser duduk nya.
"Ayo kek" Diandra tersenyum.
Kakek duduk, dan selama beberapa menit keadaan begitu hening.
"Keisya itu, tipe perempuan yang lembut dan sabar." Tiba tiba saja ucap kakek.
Diandra tersenyum membenarkan perkataan kakek.
"Dia selalu bisa berdiri sendiri, tanpa menghiraukan bantuan dari orang orang di sekitar nya. Cucu pertama, dan satu satu nya." Kakek hanyut dalam sedih, teringat kedua orangtua Keisya.
Diandra mengehela nafas.
"Kakek tau, saya sangat bahagia dan merasa beruntung bisa mendapatkan istri sebaik dan sesabar Keisya." Ujar Diandra jujur.
Kakek tersenyum mendengar penuturan Diandra.
"Alhamdulilah jika kamu bahagia."
"Iya kek, kakek sama nenek tidak perlu hawatir. Saya akan menjaga Keisya sebaik mungkin, sebagaimana kakek dan nenek menjaga nya." Tutur Diandra.
Kakek memang tidak perlu menghawatirkan tentang rumah tangga cucu nya itu.
Suasana kembali hening.
Hingga terdengar suara adzan isya berkumandang.
Kakek dan Diandra masuk kedalam rumah, bergantian memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Diandra memasuki kamar, sudah ada Keisya yang telah mengenakan mukena tengah duduk di tepian ranjang.
Keisya tersenyum melihat suami nya.
Diandra mengganti pakaian nya kembali, dan mengenakan sarung.
"Ayo mas." Keisya berdiri.
"Kita shalat disini, boleh?" Tanya Diandra.
Bukan hanya boleh saja, tentu saja hal ini membuat Keisya merasa sangat bahagia.
Untuk pertama kali nya, dia shalat di dalam kamar dengan sang suami sebagai imam.
Beberapa saat kemudian.
Kedua nya baru selesai mengucap salam.
Diandra membalik badan dan menatap istri nya.
Keisya tersenyum, sambil mengulurkan tangan nya.
Keisya mencium tangan suami nya.
Baru saja mengangkat kepala, Diandra semakin mendekatkan kepala nya dengan sang istri.
Lalu, cuppp.
Diandra mengecup kening Keisya selama beberapa saat.
__ADS_1
Keisya menutup matanya, menikmati setiap momen indah ini.
Diandra keluar kembali, duduk di halaman depan rumah nya.
"Ini mas." Keisya datang membawa segelas kopi.
"Terimakasih." Ucap nya.
Diandra mengambil bungkus rokok nya, dan saat membuka nya dia baru sadar ternyata rokok nya habis.
"Apa masih ada warung buka jam segini?" Tanya Diandra.
"Ada.." Jawab Keisya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Keisya.
Diandra memperlihatkan bungkus rokok nya yang telah kosong.
Keisya mengangguk, dia tahu suami nya itu ingin membeli rokok.
"Aku yang belikan, tunggu sebentar." Keisya beranjak.
Namun Diandra menahan tangan nya.
Keisya menoleh.
"Mana mungkin aku membiarkan kamu ke warung sendirian malam malam begini" Ujar Diandra.
"Memang nya kenapa? Aku berani ko" Jawab Keisya.
Diandra terkekeh, dan mengungkit kembali kejadian saat mereka menonton film horror.
Dan mengingatkan Keisya bahwa malam hari seperti ini jalanan gelap.
"Ungkit aja terus!" Keisya merasa kesal.
Diandra tertawa, lalu menautkan tangan nya dengan Keisya.
"Ayo sayang, sebelah mana warung nya. Kamu mau jajan ga?" Tawar Diandra.
Seketika Keisya yang barusan merasa kesal dan cemberut itu langsung antusias ketika mendengar kata jajan.
Dengan cepat dia mengangguk anggukan kepala nya.
"Mau mau.. Ayo mas" Keisya mendahului suami nya.
"Pelan pelan saja sayang" Ucap Diandra yang sedikit kewalahan mengimbangi langkah istri nya.
Keisya memperlambat langkah nya.
Beberapa saat kemudian.
Keisya dan Diandra telah sampai di sebuah warung.
Diandra langsung meminta rokok pada penjaga warung.
Sedangkan Keisya melirik kesana kemari, melihat lihat makanan ringan yang tergantung.
"Mau beli apa sayang?" Tanya Diandra.
"Sebentar mas" Keisya masih mencari cari apa yang dia mau.
"Itu mas" Keisya sedikit berjingjit menunjuk sebuah snack.
Diandra mengambil apa yang istri nya itu mau.
"Berapa?" Tanya Diandra.
"Emm, dua deh." Jawab nya.
"Sama apa lagi?" Tanya Diandra.
Beberapa menit berlalu, kini kedua nya telah sampai kembali di rumah.
"Darimana?" Tanya nenek.
"Beli rokok nek, sama ini jajan Keisya" Ucap Diandra.
__ADS_1
Keisya mengangkat tangan nya dan memperlihatkan cukup banyak makanan ringan yang dia beli pada nenek nya.
Nenek tersenyum sambil menggelengkan kepala nya, melihat tingkat cucu nya itu yang seperti anak kecil.