
Hari-hari sudah Amira lalui bekerja di Q.B grup menjadi seorang office girl.
Selama seminggu bekerja ini Amira tak pernah satu kali pun bicara pada Alam. Amira hanya akan mengingatkan dan bicara pada Alam lewat nota yang ia tempelkan di cangkir teh atau kopi.
Amira tak akan pernah bosan melakukan itu walau nota nya berujung tersimpan di tempat sampah.
Jika dulu Amira tak akan pernah lelah mengirim sebuah pesan alay, namun kali ini Amira akan selalu mengatakan perasaannya lewat nota.
Tak ada kata menyerah di hidup Amira, jika Amira sudah keras kepala akan hal itu.
Hari ini waktu istirahat bagi Amira, Amira merentangkan kedua kakinya yang terasa pegal. Karena pekerjaan hari ini cukup menguras tenaga.
Apalagi Amira harus mengambil alih pekerjaan Vina, karena hari ini Vina tidak masuk kerja. Walau di bantu Andri dan yang lain tetap saja Amira merasa lelah.
Ting ...
Sebuah pesan masuk membuat Amira mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
Aku ada di depan kantor, aku tunggu atau aku yang masuk!
Amira menghela nafas berat membaca pesan dari Moreo. Sudah satu Minggu dari kejadian di taman waktu itu.
Amira dan Moreo memang tak saling bicara atau pun bertemu. Dan sekarang Moreo mengajak Amira bertemu.
"Wait!"
Hanya itu balasan Amira, Amira langsung bergegas keluar sebelum Moreo memaksa masuk.
"Mau kemana?"
Tanya Andri yang berpapasan dengan Amira yang terlihat buru-buru.
"Keluar, ada urusan sebentar!"
Jawab singkat Amira melanjutkan langkahnya lagi.
Andri mengangkat tangannya yang sedang menjinjing sebuah keresek. Padahal Andri ingin memberikan nasi goreng pada Amira. Niatnya ingin makan berdua tanpa gangguan dari Vina, nyatanya gagal total.
Sepertinya keberuntungan tak berpihak padanya.
Karena penasaran, Andri malah mengikuti Amira keluar dari kantor.
Moreo tersenyum ketika melihat Amira keluar dari kantor. Namun, senyuman Moreo lenyap ketika melihat baju yang Amira pakai. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menghantam dada Moreo. Sebegitu cintanya Amira pada Alam hingga sampai melakukan hal besar seperti ini.
Apakah memang sudah tak ada harapan bagi Moreo memenangkan hati Amira.
"Ada apa, aku gak bisa lama-lama,"
Moreo tersenyum kecut mendengar ucapan Amira yang begitu dingin. Apa Amira memang benar-benar tak bisa membuka hatinya untuk dirinya. Kenapa sesakit ini.
"Katakan!"
"Apa om dan Tante tahu kamu bekerja sebagai Office Girl di sini. Bukankah Tante mengatakan kamu bekerja di bagian marketing!"
"Jangan ikut campur, katakan apa yang ingin di katakan!"
__ADS_1
Ketus Amira tak ingin berbelit-belit, Amira hanya tak ingin Moreo terus berharap padanya.
Moreo berhak bahagia bukan hanya terus menghabiskan waktu menunggu harapan palsu yang tak akan pernah jadi nyata.
"Apa sudah tak ada harapan lagi!"
Lilir Moreo ingin sekali lagi memastikan perasaan Amira.
"Jawabanku tetap sama!"
Moreo mengepalkan kedua tangannya erat. Moreo ingin marah, namun marah pada siapa. Bukankah Moreo sudah tahu resikonya, jika ia bertahan.
Amira memang dulu tak pernah melarangnya, namun Amira selalu memperingatinya.
Karena sampai kapanpun Amira tak akan pernah bisa menganggapnya ada di hati Amira.
"Besok aku akan kembali ke London!"
"Titip salam buat keponakanku!"
"Apa kamu tak mencegahku!"
"Please! bisakah kita menjadi sahabat seperti dulu!"
"Aku tak mau terus menyakitimu Moreo hiks ..,"
Moreo menarik Amira kedalam pelukannya, kenapa mereka harus saling menyakiti satu sama lain. Ini tidak adil untuk mereka.
Andri yang melihat gebetannya di peluk oleh orang lain langsung lemas. Bahkan kantung keresek yang sendari ia pegang terjatuh.
Pupus sudah harapan dia mempunyai pacar cantik. Bahkan sebelum berjuang pun dia sudah jatuh duluan. Bahkan ini sangat sakit sekali.
Karena tak mau matanya terlalu sakit Andri pergi begitu saja tanpa peduli dengan nasi gorengnya.
Namun, Andri kembali lagi karena sayang jika nasi goreng nya tak di makan.
"Aku tahu, ini salahku yang terlalu memaksa mu!"
Ucap Moreo melerai pelukannya, Moreo menghapus air mata Amira. Moreo tak sanggup jika harus melihat Amira menangis.
"Maaf maafkan aku!"
"Aku memaafkan mu, tapi jangan paksa hatiku baik-baik saja!"
"Maaf!"
Amira semakin merasa bersalah pada Moreo, Amira tak ingin kisah persahabatan nya hancur karena sebuah perasaan yang tak bisa Amira berikan.
Dulu Amira menerima Moreo karena terpaksa, tapi kini Amira ingin melepaskan Moreo. Moreo berhak bahagia bukan dengan dirinya. Karena cinta Amira hanya untuk Laskar Sky Mangku Alam.
"Akan ku coba menerima keputusan mu, tapi, maukah kamu berjanji padaku!"
Amira menatap Moreo sendu, sambil mengangguk yakin.
"Berjanjilah kamu akan bahagia dengan keputusan mu itu!"
__ADS_1
Amira mengangguk saja walau sejujurnya Amira ragu akan hal itu.
"Jika kamu lelah terus berjuang, kembalilah kedalam pelukanku!"
Kini Amira terdiam menatap dalam kedalam bola mata Moreo yang selalu menatapnya penuh cinta. Tapi, bagi Amira Moreo tak lekas dari sahabatnya sama seperti yang lain.
"Aku pergi!"
"Berjanjilah untuk menemukan wanita yang lebih baik dari pada aku!"
Moreo kembali memeluk Amira, seolah itu adalah pelukan terakhir baginya. Amira membalas pelukan Moreo berharap dengan pelukan itu Moreo benar-benar bisa melepaskan dirinya.
Jika Moreo menganggap pelukan ini adalah pelukan terakhir baginya tapi tidak dengan sepasang mata yang menatap Moreo dan Amira tajam.
Bahkan tangannya mengepal dengan rahang mengeras menahan amarah.
Seolah apa yang dia lihat adalah pelukan sepasang kekasih yang sedang melepas rindu.
"Sial!"
Brak ...
Alam menutup pintu mobil dengan kencang membuat Amira dan Moreo terkejut hingga pelukan mereka terlepas.
Dom langsung masuk kedalam mobil takut sahabatnya akan semakin mengamuk.
Moreo ingin mendekat namun tangannya di cekal oleh Amira.
"Jalan!"
Ucap Alam dingin membuat Dom langsung melajukan mobilnya melewati Amira dan Moreo.
Mata Alam benar-benar ternoda, kenapa juga Amira dan Moreo bermesraan di depan kantornya.
Cih ...
Alam berdecak kesal melihat pemandangan yang sangat menjijikan di depannya itu.
Satu Minggu ini Alam terus berpikir dan mempertimbangkan ucapan Dom untuk memperjuangkannya. Tapi, apa sekarang yang Alam lihat.
Pemandangan yang benar-benar membuat Alam kesal, marah bercampur jadi satu.
Apanya yang harus di perjuangkan jika Amira sendiri menyerah. Bahkan berani bermesraan di depan kantornya.
"Cemburu!"
"Diam, Dom!"
Bentak Alam tak mau bercanda, pikirannya benar-benar kacau sekarang.
Dom hanya tersenyum tipis saja melihat api cemburu mulai berkobar di mata Alam.
Sepertinya ide gila muncul di otak cerdas Dominic.
Entah apa yang sedang Dom rencanakan untuk sahabat nya itu. Sepertinya Dom akan memberikan sedikit pelajaran untuk bis sok tak peduli sok dingin itu.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....