Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 57 Perjuangkan jika layak di perjuangkan


__ADS_3

Amira dan Alam duduk di atas shopa sambil berpegangan tangan. Seolah mereka takut di pisahkan.


Bahkan kepala mereka berdua menunduk karena merasa takut akan tatapan tajam dari Queen dan Farhan.


Ya, Farhan dan Queen menyusul Alam ke Pelabuhanratu ketika salah satu anak buah Farhan berhasil menemukan Alam dan Amira.


Tanpa pikir panjang Farhan dan Queen berangkat. Tanpa memberitahu Fandi, Dinda, Jek dan Melati terlebih dahulu. Queen hanya ingin mengintrogasi dulu oleh dirinya kenapa adiknya bisa nekad seperti ini.


Queen dari tadi bulak balik berjalan sambil memikirkan sesuatu. Apa yang harus Queen katakan terlebih dahulu. Sedang Farhan hanya duduk saja menunggu keputusan sang istri. Karena sang istri berkuasa penuh atas Alam.


Queen menghentikan langkahnya lalu duduk di samping sang suami.


Amira semakin mengeratkan pegangannya karena takut pada aunty dan pamannya yang sendari tadi menatap dia tajam seolah ingin mengulitinya.


Namun, Alam sebisa mungkin menenangkan Amira. Seolah mengisyaratkan jangan takut ada aku di sini.


Queen menghela nafas berat melihat betapa besarnya cinta mereka berdua. Bahkan Queen bisa merasakannya.


Entahlah, Queen harus bicara apa pada adik dan keponakan itu. Kenapa cinta mereka serumit ini.


"Dek,"


Panggil Queen pada Alam, sungguh Queen tak menyalahkan adiknya yang sudah menyukai keponakannya sendiri. Queen tahu, cinta tak bisa di paksakan. Seolah memang itu sudah takdir mereka.


Alam mengangkat kepalanya guna melihat sang kakak. Seperti biasa Alam akan terlihat tenang dalam situasi apapun. Berbeda dengan Amira yang merasa ketakutan. Takut, Queen juga akan marah dan menentang hubungan mereka sama seperti kedua orang tuanya.


"Dek, sudah kakak peringatkan. Kenapa jadi begini!"


Entahlah, Queen harus bicara apa lagi pada adik satu-satunya nya ini.


Sedang Amira hanya menautkan kedua alisnya bingung. Peringatan, maksudnya apa Amira belum bisa mencerna maksud ucapan Queen.


Peringatan apa, dan apa yang di peringatkan!


"Maafkan adek kak, adek gak bisa menahan perasaan ini. Adek sangat mencintai Amira!"


Deg ...


Amira langsung mengangkat kepalanya menatap Alam lalu menatap Queen dan kembali menatap Alam lagi.


Kini Amira mengerti apa yang mereka bahas. Jadi, selama ini Queen tahu perasaan Alam dan tahu tentang hubungan mereka.


Queen hanya menghela nafas berat bingung harus berada di pihak mana. Di satu sisi Queen faham perasaan sang mama di satu sisi lagi Queen tak tega jika harus menyakiti perasaan adiknya.


Sungguh, Queen berada di situasi yang sangat rumit. Belum lagi mungkin lambat laun sang putra akan menuntut suatu penjelasan.


"Kakak tahu, tapi hubungan kalian di tentang oleh kedua orang tua kalian. Bahkan mama sama Daddy terus mencari keberadaan kalian. Dan kak Jek dan kak Melati juga sama. Bahkan mama dan kak Melati tak mau makan sebelum kalian kembali!"


Deg ...


Alam dan Amira saling tatap dan semakin mengeratkan pegangannya.


Kini mereka bingung harus berbuat apa, antara memperjuangkan atau saling melepas.


"Kakak tahu adek sangat mencintai Amira dan mungkin Amira juga sama. Kakak tak melarang siapapun yang adek cintai, tapi kenapa harus Amira!"


"Kakak!"

__ADS_1


Potong Alam tak suka, kenapa harus Amira. Apa yang salah mereka saling mencintai.


"Maafkan adek, Kak. Adek tak bermaksud membentak!"


Sesal Alam merasa bersalah apalagi Queen langsung diam.


"Kakak tidak apa, Kakak faham sayang!"


Ucap Queen lembut, Queen beranjak mendekati sang adik. Queen hanya masih tak menyangka sang adik kini telah tumbuh dewasa.


Queen mengelus rambut Alam seolah Alam adalah anak kecil. Lalu Queen mengelus pipi Alam yang dulu Alam selalu suka sekali menghapus air matanya.


"Lakukanlah apa yang ingin adek lakukan. Kakak tak akan melarang ataupun mendukung. Kakak percaya adek mengerti dengan apa yang kakak maksud!"


"Terimakasih kak,"


Ucap Alam tulus memeluk Queen dengan satu tangannya. Sedang tangan satu lagi tak lepas terus menggenggam Amira.


Mata Amira berkaca-kaca, Amira pikir Queen akan marah dan menentang hubungan mereka juga. Nyatanya semua dugaan Amira salah. Queen menerima saja dan tak mempermasalahkan nya.


"Sayang, apa kamu benar-benar mencintai Alam?"


Tanya Queen pada Amira, Queen hanya ingin memastikan perasaan keponakannya itu. Apalagi Queen tahu, sikap tempramen nya Amira yang jarang keluar. Karena jika sudah keluar Amira akan marah melebihi amarah Jek. Queen hanya ingin bersiap, apa yang harus ia lakukan jika ada sesuatu yang terjadi nanti.


"Om, segala-galanya bagi Rara, Aunty. Sama seperti om Farhan segalanya bagi Aunty!"


Queen tersenyum, mengerti kemana arah pembicaraan Amira. Cinta mereka begitu besar dan kuat sampai mereka sejauh ini.


"Perjuangkan jika layak di perjuangkan. Aunty hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian!"


Ucap Alam menatap sang kakak tak percaya. Alam pikir sang kakak akan menghakimi mereka. Nyatanya Queen memberikan restu pada mereka. Queen dari dulu selalu jadi kakak terbaik bagi Alam.


"Pulanglah besok, dan bicara baik-baik pada mama. Apapun yang terjadi, jangan pernah saling melepaskan!"


Ucap Queen tegas membuat Alam terharu, sungguh Alam begitu menyayangi Queen.


Jika begini, ada rasa penyesalan di hati Alam. Kenapa ia tak berjuang dari dulu. Namun, bukankah nasi sudah menjadi bubur. Yang sudah terjadi tak bisa di ulang lagi.


Ada secercah harapan bagi Alam untuk bernafas. Menghabiskan waktu bersama Amira.


"Kakak harus segera kembali, ingat! besok kalian sudah harus ada di Jakarta!"


Amira dan Alam mengangguk patuh, apalagi memang itu rencana mereka. Tapi, siapa sangka Queen dan Farhan menemukan mereka.


Alam dan Amira mengantar kepergian Queen dan Farhan sampai loby hotel lalu mereka kembali ke kamar.


Alam dan Amira saling tatap lalu mereka tersenyum bahagia. Setidaknya masih ada yang mendukung mereka.


"Dear, apa selama ini kamu selalu bercerita pada Aunty Queen?"


"Iya, tapi aku tak pernah sekalipun mengatakan siapa orang yang aku cintai. Namun, kak Queen terlalu peka untuk sekedar di jelaskan!"


"Sejak kapan!"


"Ketika kamu pergi ke London!"


"Selama itu!"

__ADS_1


"Bahkan aku hampir sekarat!"


"Benarkah!"


"Gak percaya!"


"Gak tuh, soalnya om terlihat meragukan!"


"Nantang cerita nya!"


"Gak!"


Teriak Amira berlari Alam langsung mengejarnya. Hingga mereka terlibat kejar-kejar an. Sampai Amira masuk ke kamarnya dan Alam terus mengejar.


Tidak sampai di situ, Amira terus berlari mengelilingi shopa karena Alam terus mengejarnya.


"Om udah udah, Rara penyerah. Rara percaya!"


Ucap Amira terengah-engah ketika Alam berhasil menangkapnya. Begitu pun dengan Alam nafasnya memburu karena lelah dari tadi mengejar Amira. Sampai Alam merasa pusing dan oleng.


"Eh ... eh .. om kenapa?"


Ucap Amira terkejut ketika Alam akan terjatuh. Untung saja dengan sigap Amira menahan tubuh Alam.


"Om, om kenapa?"


Tanya Amira mulai panik karena tubuh Alam semakin lemas bahkan Amira tak sanggup menahan berat tubuh Alam hingga ..


Bruk ....


Amira oleng sampai terjatuh ke atas shopa dengan Alam di atasnya.


"Om bangun, jangan buat Rara takut!"


Ucap Amira mulai gemetar berusaha mengangkat tubuh Alam di atasnya.


Perlahan Alam bergerak dan mengangkat tubuhnya hingga mereka ada sedikit jarak.


Alam menatap wajah Amira di bawahnya dengan tatapan sayu.


"Om kenapa?"


Tanya Amira takut kenapa tiba-tiba Alam begini.


Alam memegang tangan Amira yang menangkup pipinya. Posisi mereka masih sama. Amira berada dalam kungkungan Alam.


"Amira Putri Jacob Prayoga, aku mencintaimu!"


Cup ...


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ..


.


__ADS_1


__ADS_2