Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 11 Perseturuan


__ADS_3

Seperti biasa Amira akan membersihkan dulu ruangan Alam sebelum Alam datang. Namun, kali ini Amira tak menemukan Nota dirinya di tong sampah.


Amira jadi tersenyum sendiri, seperti Alam benar-benar telah membacanya.


Dengan cepat Amira membersihkan ruang Alam karena Amira yakin Alam sebentar lagi datang.


Merasa sudah bersih, Amira buru-buru keluar guna menyiapkan secangkir teh untuk Alam.


Dan benar saja Alam memasuki ruangannya ketika beberapa menit lalu Amira keluar guna membuatkan teh untuk Alam.


Senyuman Amira mengembang ketika teh buatannya sudah jadi. Amira kembali menuju ruang Alam dengan semangat 45.


Tok ... tok ...


Seperti biasa Amira akan mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk!"


Mendengar perintah masuk Amira langsung membuka pintu. Amira menautkan kedua alisnya ketika tak mendapati Alam di kursi kerjanya.


Amira celingak-celinguk mencari dimana keberadaan Alam, namun tak menemukannya.


Padahal, orang yang Amira cari berada tepat di belakangnya.


Alam menyilangkan kedua tangannya di dada menatap tajam punggung Amira.


"Keluar!"


Akhhh ...


Brak ...


Amira menjerit karena terkejut mendengar suara Alam di belakangnya. Hingga Refleks Amira berbalik sambil mengayunkan nampan yang ia pegang hingga mengenai pelipis Alam bahkan sampai mengeluarkan darah. Karena nampan yang Amira pegang, nampan terbuat dari kayu.


Alam memegang pelipisnya yang terasa sakit akibat ulah Amira. Bahkan tangannya merasa basah.


Alam menatap tajam Amira yang sudah melukai dirinya. Sedangkan Amira hanya bisa menganga dengan kepanikannya.


"Ya ampun om, Ra-Rara gak sengaja!"


Panik Amira mendekat, ingin mengobati luka Alam.


"Pergi!"


"Tapi om, pelipis om berdarah!"


"Stop, jaga batasan kamu!"


Bentak Alam tepat di wajah Amira membuat Amira langsung diam karena terkejut akan bentakan keras Alam.


"Ngapain masih diam, keluar!!!"


Teriak Alam benar-benar sangat marah hingga membuat tubuh Amira bergetar.


Bayangan kejadian kemaren ketika Amira berpelukan dengan Moreo membuat darah Alam kembali mendidih di tambah Amira melakukan kesalahan.


Hingga pikiran Alam jadi kacau, tak sadar dengan apa yang Alam lakukan.


Akhh ...

__ADS_1


Prang ...


Jerit Alam sambil membanting cangkir teh hingga pecah.


Sungguh Alam tak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa ia bisa semarah itu. Padahal Alam orang yang selalu diam jika mempunyai masalah apapun.


Tapi, kenapa Alam terlihat marah bahkan sampai membentak Amira, bahkan Amira terlihat ketakutan.


Ada apa dengan dirinya kenapa bisa seperti ini.


Sedangkan Amira masih diam terpaku dengan apa yang barusan terjadi.


Tak pernah sekalipun Amira melihat Alam semarah itu bahkan sampai berteriak di depan mukanya. Apa salahnya hingga membuat Alam seperti itu.


Apa dirinya melakukan kesalahan hingga Alam sangat marah.


Amira terus saja diam sambil menerka-nerka apa yang terjadi. Hingga langkah Amira terhenti ketika mengingat sesuatu.


Amira membalikan tubuh nya kembali sambil menatap jalan menuju ruang Alam. Tanpa berpikir panjang Amira berlari kembali keruang Alam. Amira hanya takut terjadi sesuatu dengan omnya. Karena biasanya orang yang sedang marah terkadang sering melukai dirinya sendiri.


Amira terus mempercepat langkahnya karena tak mau terjadi sesuatu pada Alam.


Brak ...


Amira membuka pintu Alam dengan kencang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Amira tidak peduli apa Alam akan marah atau tidak.


Amira begitu terkejut melihat pecahan gelas berserakan. Dan, yang lebih terkejut lagi melihat keadaan Alam yang sangat kacau bahkan matanya menangis.


Amira mendekat, tak peduli akan omnya yang akan marah atau tidak. Yang jelas Amira hanya khawatir akan keadaan omnya yang terlihat kacau.


"Om kenapa seperti ini!"


Pikiran Alam sudah kacau, Alam tak mau karena emosinya yang tak terkendali malah melukai Amira.


Amira menarik Alam agar menjauh dari pecahan gelas. Amira mendudukkan Alam di atas shopa. Tak lupa Amira mengunci ruangan Alam karena takut akan ada yang melihat apa yang terjadi dan mencurigai dirinya.


"Om itu kalau punya masalah bilang, jangan marah-marah tak jelas. Bahkan membentak Rara!"


"Rara takut tahu, bahkan Rara tadi sampai sulit bernapas!"


"Apa masalah kantor! serumit itu ya!"


"Atau ada masalah lain, tak biasanya om seperti ini!"


Amira terus saja bicara sambil mengobati luka di pelipis Alam yang darah nya mulai mengering.


Lalu Amira juga mengobati luka di punggung tangan Alam. Amira yakin tangan ini pasti Alam gunakan untuk meninju tembok sampai memerah seperti itu.


Sesudah mengobati luka Alam Amira membereskan kekacauan yang Alam buat.


Dengan hati-hati Amira menyapu pecahan gelas tersebut tak lupa mengepel kembali. Hingga ruangan yang sempat berantakan kembali rapi.


Karena sudah selesai dengan pekerjaannya Amira berniat pergi. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar Alam berbicara.


"Apa yang sedang kamu rencanakan?"


Amira berbalik menatap Alam sambil tersenyum tipis. Sudah satu Minggu lebih Amira bekerja namun baru kali ini Alam bicara baik.


Inilah yang Amira inginkan, Alam membuka percakapan antara mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mendekati om!"


"Cih,"


Alam berdecak kesal mendengar jawaban memuakkan itu. Mendekatinya, tapi malah bermesraan dengan orang lain. Sungguh Alam tak habis pikir dengan jalan pikiran Amira.


"Kamu itu punya pacar, kenapa masih mengejar saya!"


"Karena Rara mencintai om!"


Ha ... ha ...


Alam tertawa sinis membuat Amira menautkan kedua alisnya bingung.


"Apa ini yang kau pelajari di London, punya kekasih tapi malah mengejar orang lain! atau ..,"


"Apa yang om maksud!"


"Kamu tidak bodoh bagaimana pergaulan di sana!"


Deg ...


Amira terkejut dengan apa yang Alam ucapkan. Tanpa sengaja Alam sudah melukainya dengan mengatakan kalau dia wanita bebas.


Kenapa Alam bisa sekejam itu berpikir tentang dirinya yang tidak-tidak. Tidak tahukah Alam, Amira begitu tersiksa berada di sana.


"Rara tak serendah itu om!"


"Tapi kamu sudah merendahkan dirimu sendiri!"


"Apa rasa itu sudah hilang di hati om?"


"Dari dulu rasa itu sudah pergi, jadi tolong jaga sikap kamu. Kita itu om dan ke ponakan, dan di sini saya atasan dan kamu bawahan saya!"


Amira tersenyum kecut mendengar hal yang menyakitkan itu. Ternyata omnya masih sama dengan empat tahun lalu. Selalu menampik akan perasaannya namun dia selalu peduli.


"Dari dulu om satu-satunya yang Rara cintai, dulu, sekarang dan nanti. Rara akan buktikan kalau om juga sama!"


"Jangan pernah melewati batas!"


"Kita lihat saja nanti!"


Ucap Amira dingin sambil berlalu pergi dari ruangan Alam dengan perasaan campur aduk.


Marah, kesal, sedih berkumpul menjadi satu. Kenapa omnya semakin sulit Amira jangkau.


Amira keluar dengan amarah yang menggebu, bahkan Amira tidak sadar jika ia melewati Dom yang akan masuk ke ruang Alam.


Dom menatap punggung Amira yang menjauh dengan kening mengerut.


"Lihat saja om, akan Rara buktikan kalau om memang mencintai Rara!"


Gerutu Amira dengan tekad penuh semangat yang menggebu.


Amira tak akan peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Amira hanya ingin melakukan apa yang menurut ia benar.


Tapi, jika Alam menganggapnya wanita murahan. Maka Amira akan tunjukan seperti apa dirinya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2