Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 47 Kecelakaan


__ADS_3

Sepasang kekasih sendari tadi sudah bangun sebelum mentari mengintip mereka.


Mereka saling tatap satu sama lain sambil berbaring menyamping.


Kobaran cinta terlihat jelas di kedua mata mereka. Alam mengelus-elus pipi Amira, begitupun dengan Amira mengelus rahang tegas Alam.


"Dear, jangan tinggalin aku ya?"


Ucap Amira menatap dalam ke bola mata Alam yang terlihat berbeda.


Alam hanya mengangguk saja sambil tersenyum.


"Entah bagaimana hidup Rara jika Om meninggalkan Rara. Rasanya pasti aneh dan tak enak!"


"Maukah om berjanji, untuk selalu bersama Rara?"


Lagi-lagi Alam tersenyum lalu Alam mengecup sekilas bibir Amira yang nampak bawel.


"Kenapa bawel sih, om gak akan ke mana-mana. Karena mata ini akan selalu melihat om!"


Ucap Alam sambil menunjuk mata Amira. Seolah di pandangan Amira Alam tak akan pernah pergi kemanapun. Dia ada di pandangannya sampai kapanpun.


"Ya, mata Rara akan selalu melihat om bukan yang lain!"


"Pintar!"


Kekeh Alam sambil bangun dari pembaringan. Begitupun Amira ikut bangun.


Alam berjalan menuju jas yang di pakai kemaren pulang dari Bali. Alam mengambil sesuatu dari balik saku dalam jasnya.


"Harusnya ini menjadi kejutan nanti, tapi karena kamu ada di sini. Maka ini buat kamu!"


Ucap Alam memberikan kotak berukuran sedang pada Amira. Alam duduk di bibir ranjang.


Amira tersenyum menerima pemberian Alam. Perlahan Amira membuka kotak itu.


Amira tersenyum melihat sebuah gelang yang sangat cantik. Bahkan di dalamnya terukir nama dia dan Alam.


"Apa kamu suka?"


"Suka, terimakasih dear!"


Ucap Amira tulus sambil memeluk Alam. Gelangnya sangat cantik benar-benar cantik.


"Sama-sama, sekarang mandi gih, aku mau siapkan sarapan!"


Amira hanya mengangguk saja, lalu ia melompat dari ranjang. Amira terpaksa harus menggunakan baju yang kemaren lagi. Untung saja hari ini dia tak masuk kerja. Amira tersenyum-senyum sendiri sambil mandi membayangkan momen indah tadi malam. Sungguh, Amira tak menyangka jika dia akan tidur satu ranjang dengan Alam bahkan di pelukan Alam Amira tidur. Walau mereka hanya sebatas tidur bareng tak melakukan hal lebih.


Sudah selesai dengan ritual mandinya, Amira terpaksa harus memakai pakaian kemaren. Walau terasa tak nyaman namun, Amira tetap memakai nya.


Amira keluar kamar, di lihatlah Alam sedang menata sarapan mereka di atas meja makan.


"Sudah selesai!"


Ucap Alam ketika Amira melingkarkan tangannya di pinggang.


"He'em!"


Gumam Amira sambil terus mengikuti kemana langkah Alam berjalan.


"Sudah, ayo sarapan!"


Ucap Alam sambil menarik kursi untuk Amira duduk.


Mereka sarapan bersama sambil bercanda tawa dan sesekali saling menyuapi.


"Dear, seperti nya aku harus ke rumah Vina,"


"Aku antar ya!"


"Jangan, gimana kalau ada yang melihat!"


"Ya sudah, tapi hati-hati ya!"

__ADS_1


Amira hanya mengangguk sambil tersenyum.


Kemaren memang Amira meminta izin menginap di rumah Vina lagi. Agar sang mama tidak cemas.


Tidak mungkin bagi Amira memberi tahu di mana dia berada sebenarnya.


"Ya sudah, aku berangkat ya!"


Cup ...


Amira memberi kecupan selamat tinggal di pipi Alam.


Alam tersenyum saja sambil mengantar Amira sampai ke depan pintu. Setelah Amira benar-benar pergi Alam kembali menutup pintu.


Tes ..


Darah segar kembali keluar dari hidung Alam membuat Alam dengan cepat berlari ke arah wastafel guna membersihkan darah yang keluar lagi dari hidungnya.


Jangan sekarang!


Jerit batin Alam mengepalkan kedua tangannya kuat.


Kepalanya terasa semakin berdenyut-denyut membuat Alam nampak blur melihat ke sekeliling.


Dengan sekuat tenaga Alam meraba-raba menuju kamarnya guna mencari obat dirinya.


Aku mohon jangan sekarang!


Sesak Alam dengan gemetar meminum obatnya berharap rasa sakit itu menghilang.


Alam menyandarkan punggungnya di samping ranjang. Alam memejamkan kedua matanya mencoba menahan rasa sakit yang begitu menyiksanya.


Alam harus kuat, dia tak boleh lemah. Perjalanan masih panjang untuk mengakhiri nya sekarang.


Alam mencoba menelepon Dom untuk memintanya datang ke apartemen.


.


Sepanjang jalan Amira terus tersenyum-senyum saja sambil mengingat momen yang ia habiskan dengan Alam.


Terlalu indah untuk di lupakan, dan mungkin memori itu tak akan pernah hilang di ingatan Amira.


Hingga tanpa sadar, Amira sudah sampai di rumah Vina.


Tok ...


Tok ...


Amira mengetuk pintu Vina namun tak ada sahutan. Sekali lagi Amira mengetuk pintu namun tetap saja masih tak ada sahutan.


Amira langsung menelepon Vina, karena merasa cemas jangan sampai Vina melakukan hal yang tak di inginkan.


Tak lama telepon nya langsung terangkat oleh Vina.


"Kamu di mana, aku di depan rumah!"


Deg ...


Amira membulatkan kedua matanya terkejut mendengar ucapan Vina di sebrang sana.


Entah apa yang terjadi, Amira langsung berlari ke arah mobilnya dan langsung meninggalkan pekarangan rumah Vina.


Rasa cemas kini menghantui Amira, takut terjadi sesuatu pada Vina.


Sial!


Tak biasanya Amira menggerutu seperti itu, karena kemacetan.


Kecuali hati Amira benar-benar dalam ke adaan tak baik-baik saja.


Bagaimana Amira tak cemas jika Vina sedang berada di rumah sakit akibat ketabrak mobil. Walau mereka baru kenal sebentar namun Amira sudah menganggap Vina bagai adik nya sendiri.


Amira bernafas lega ketika dia berhasil keluar dari kemacetan. Hingga Amira sampai di rumah sakit Bunda Husna.

__ADS_1


"Maaf, pasien atas nama Vina Anggraini?"


"Oh sebentar mba,"


Sang resepsionis langsung melihat data nama pasien yang Amira sebutkan.


"Berada di lantai dua, ruang dia!"


"Terimakasih!"


Sesudah mengucapkan kata terimakasih Amira langsung bergegas menuju lantai dua.


Dret ... dret ...


Ponsel Amira berdering membuat Amira menghentikan langkahnya sejenak. Mengangkat terlebih dahulu telepon dari sang mama.


"Iya mah?"


"Sayang, kenapa belum pulang?"


"Maaf mah, seperti nya Rara akan telat pulang. Rara lagi di rumah sakit Vina mengalami kecelakaan!"


"Ya ampun, di rumah sakit mana sayang. Mama kesana?"


"Bunda Hasna!"


Amira langsung mematikan teleponnya ketika sudah memberi tahu sang mama. Amira kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang di mana Vina di rawat.


"Ruang dua!"


Gumam Amira mencari di mana ruang dua berada.


"Ini dia!"


Amira langsung masuk ketika sudah menemukan ruangan Vina.


Amira tertegun melihat kondisi Vina yang tak baik-baik saja. Kepalanya di perban, begitu juga dengan kakinya. Bagaimana bisa Vina mengalami kecelakaan.


"Bagaimana kondisi kamu?"


"Aku baik-baik saja kok,"


"Siapa yang menabrak kamu, apa orangnya bertanggung jawab?"


Vina terdiam ragu antara memberi tahu atau tidak.


"Hey, kenapa diam. Siapa yang menabrak kamu?"


"It-itu, asisten bos!"


Deg ...


Vina terkejut mendengar jawaban Vina. Asisten bos, berarti yang Vina maksud


"Dominic!"


Vina hanya mengangguk saja, mungkin malam tadi adalah malam sialnya. Bagaimana mungkin orang Segede dia Dom tabrak. Bahkan jika mengingat Dom membuat Vina ingin sekali mengacak-acak wajah datarnya itu.


"Sudah jangan marah kak, pak asisten sudah tanggung jawab kok. Bahkan dia menjaga Vina semalaman."


"Terus sekarang dia kemana?"


"Gak tahu, tiba-tiba saja pergi ketika ada yang menelepon nya. Entah siapa yang menelepon nya. Namun, di lihat dari wajahnya terlihat panik dan cemas!"


"Cemas!"


"Iya, bahkan dia sampai menjatuhkan buah tuh!"


Amira langsung melirik lantai yang Vina tunjuk. Sebuah parsel buah yang sudah kotak.


Amira berpikir keras apa yang terjadi, siapa yang Dom cemaskan. Apa jangan-jangan


Deg ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ..


__ADS_2