
Hari ini Amira sedikit nampak tak semangat karena tadi malam Alam meneleponnya. Memberi kabar jika ia harus pergi keluar kota selama satu Minggu.
Ingin rasanya Amira ikut, namun dia juga tak bisa ikut. Andai saja kemaren Amira makan siang bersama Alam mungkin Amira tak akan merasa sekesal ini. Dan kenapa juga harus mendadak memberi tahunya. Andai saja memberi tahunya sore. Amira tentu akan berpamitan dulu sekedar berpelukan. Namun, ini Alam memberi tahunya malam, dan tentu Amira tak bisa keluar.
Kesal kesal dan kesal itulah yang Amira rasakan.
Mood Amira semakin buruk apalagi hari ini dia ada pertemuan kembali dengan Chris membahas kelanjutan kontrak kerja sama mereka.
Yang awalnya di janjikan Amira akan memberi jawaban selama tiga hari ini malah melebihi batas itu. Karena Farhan menyuruh Amira mempelajari lebih detail isi kontrak kerja mereka dan bagaimana perusahan Chris jangan sampai perusahaan mereka di rugikan.
Cukup berat rasanya hari Amira tanpa sang ke kasih. Namun, Amira harus bisa bersikap biasa saja seperti biasanya. Agar terlihat normal dan tak mencolok.
Kini Amira sudah berhadapan dengan Chris begitu pun Rijal dan asisten Chris.
Nampaknya suasana sedikit tegang tak sesantai biasanya.
"Silahkan di lihat, kami sudah merevisi isi kontrak kerja samanya?"
Ucap Chris sambil menyodorkan sebuah map di hadapan Amira.
Amira langsung mengambilnya, lalu membuka dan meneliti setiap perjanjian yang tercantum. Lama Amira meneliti, lalu Amira menyerahkan berkas itu pada Rijal agar Rijal juga meneliti supaya tidak ada kesalahan.
Rijal pun nampak serius mengamati dan membaca setiap poin yang tertulis di sana.
Chris hanya diam saja, Chris tak menyangka ternyata Amira sangat teliti sekali dan sialnya asisten nya juga sama. Pantas saja sang ayah ingin Chris mendapatkan tanda tangan kontrak kerja itu.
Seperti nya Chris harus hati-hati dalam bertindak karena seperti nya saingannya sekarang jauh lebih tangguh dari yang di bayangkan.
Terlihat Rijal sedang membisikan sesuatu pada Amira membuat Amira mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah Amira faham betul apa yang Rijal sampaikan.
"Baiklah, seperti nya menarik!"
Chris dan asisten nya tersenyum lebar mendengar jawaban Amira. Jawaban yang harusnya tiga hari jadi satu bulan.
Ternyata Chris benar-benar tak bisa meremehkan Amira.
"Namun, ingat! jika ada kecurangan perusahaan kami tak akan bisa menoleransi nya. Apalagi sampai ketahuan berkhianat!"
Cetus Amira tegas membuat Chris tersenyum simpul. Seperti nya Chris semakin di buat terpesona oleh Amira. Terlihat jelas bahwa Amira adalah wanita berkelas.
Pantas saja dulu waktu kuliah di London, Amira menjadi idola di sana. Bahkan sudah banyak laki-laki yang patah hati karena di tolak oleh Amira.
Hati Amira tak pernah goyah sedikitpun. Bahkan Amira selalu hati-hati juga dalam bergaul.
Dan, salah satu laki-laki yang patah hati adalah Chris sendiri. Dia sudah patah hati sebelum berjuang. Karena Amira tak akan pernah memberikan celah sedikitpun bagi siapapun yang mendekatinya.
Dan, salah satu alasan kenapa Amira bisa jadian dengan Moreo karena supaya Amira tak di kejar-kejar lagi. Dan, Moreo akan selalu menjadi lindung buat Amira.
Namun, bukan Amira yang menawarkan kesepakatan itu. Moreo sendiri yang melakukannya. Dia lera terjun walau Amira sudah memperingati, karena Amira merasa di bisa mengatasi dirinya sendiri. Tak perlu Moreo jadi pacarnya untuk menghindar dari para laki-laki.
__ADS_1
Namun, waktu itu Moreo memaksa dan dia berjanji akan baik-baik saja. Walau Moreo tahu konsekuensi nya bagaimana.
"Selamat atas kerja samanya!"
Ucap Chris tulus sambil mengulurkan tangannya. Dengan senang hati Amira menjabat tangan Chris pertanda bahwa mereka sudah sepakat melakukan kerja sama.
"Emmz, bisakah kita lanjut makan siang. Agar suasana tidak terlalu tegang?"
Ucap Chris cepat seolah mencegah Amira untuk kembali.
Amira dan Rijal saling tatap satu sama lain.
Lalu Amira mengangguk saja, apalagi memang perut mereka sudah merasa lapar.
Chris tersenyum cerah ketika Amira menerima ajakannya.
"Boleh bergabung?"
Seketika senyuman cerah Chris lenyap begitu saja ketika tiba-tiba Moreo muncul entah dari mana.
Sekarang Chris yang ingin proses namun tertahan oleh asisten. Seolah mengisyaratkan jangan membuat hal kegaduhan apalagi di depan Amira. Bisa-bisa citra Chris malah luntur.
Rijal hanya mengulum senyum saja melihat tuan Chris dan Moreo bersitegang. Seolah mereka mempunyai dendam di masa lalu.
Amira sendiri seperti biasan dia akan bersikap cuek bebek.
Chris semakin mengepalkan kedua tangannya ketika Moreo malah duduk di samping Amira.
Tanya Moreo lembut membuat Rijal semakin mengulum senyum melihat wajah tuan Chris yang seperti kebakar jenggot.
Moreo melirik sekilas pada Chris dengan senyum mengejek apalagi Moreo memasang muka sombong. Membuat Chris benar-benar di buat kesal. Andai saja tak ada Amira mungkin dari tadi sudah ribut seperti kejadian beberapa hari lalu.
Rasain, emang enak di ganggu!
Batin Moreo meledek Chris, karena masih terlalu kesal dengan Chris. Gara-gara Chris acara makan siang dirinya dan Amira jadi kacau.
"Mari makan!"
Ucap Amira ketika semua menu yang mereka pesan sudah datang.
Seperti biasa dengan santai Amira langsung melahap makanannya. Begitupun dengan Rijal.
Moreo pun ikut makan juga dengan senyum kemenangan. Sedang Chris benar-benar menahan nafas sambil dengan kasar mengambil garpu.
Bahkan Chris dengan kasar juga melahap makanannya.
Amira di bawa santai saja menyadari ketegangan sendari tadi. Karena bagi Amir itu urusan mereka bukan dirinya.
"Saya sudah selesai!"
__ADS_1
Ucap Amira lalu melirik Rijal yang ternyata memang sudah menyelesaikan makanannya satu menit lebih dulu dari Amira.
"Maaf, seperti nya kami harus kembali dengan cepat. Masih ada pekerjaan yang harus kami selesaikan!"
Ucap Rijal memohon izin pamit terlebih dahulu.
Moreo yang ingin bicara tertahan oleh tatapan tajam Amira. Amira tak suka ada yang mengganggunya di waktu sudah masuk jam kerja.
Dengan pasrah Moreo diam dan membiarkan Amira pergi dengan Rijal. Sedang Chris tak biasa mencegah karena sendari tadi sang asisten sudah memperingatinya.
"Menyebalkan!"
Kesal Amira menutup pintu mobil dengan kencang.
"Mereka selalu saja bersitegang, sungguh benar-benar sangat menjengkelkan!"
Gerutu Amira benar-benar di buat kesal oleh mereka bahkan mood nya jadi buruk.
Rijal hanya diam saja mendengarkan gerutuan Amira. Amira memang seperti itu, selalu bisa menahan segala emosinya. Namun, jika sudah menjauh Amira akan mengeluarkan emosinya yang dia tahan.
"Stop, Jal!!!"
Pekik Amira ketika melihat bayangan seseorang yang Amira kenal.
"Ada apa?"
" Ikuti taxi itu!"
Perintah Amira sambil menunjuk sebuah taxi yang melaju.
Kenapa dengan Vina, dia terlihat terburu-buru!
Batin Amira penasaran namun juga bercampur cemas. Melihat Vina yang terlihat gelisah dan panik membuat Amira yakin. Pasti ada sesuatu yang terjadi dan yang terjadi itu pasti sesuatu yang besar.
"Rumah sakit!"
Gumam Amira mengerutkan kedua alisnya. Amira langsung bergegas masuk ke dalam di ikuti Rijal. Amira mencari kesana kemari, kemana perginya Vina.
"Ra!"
Ucap Rijal menarik lengan Amira menuju sebuah ruangan pasien.
Deg ....
Amira membekam mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Bahkan rasanya Amira tak bisa melangkah lagi.
Amira terlalu Shok untuk melihat pemandangan pilu di depannya. Bahkan rasanya Amira seolah dejavu.
"Vi-vina!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah,komen dan Vote Terimakasih ...