
Amira dan Amelia duduk di kursi taman tak jauh dari rumah sakit. Mereka mengobrol tentang kabar dan kehidupan selama empat tahun terakhir.
Dengan mata Amelia yang fokus mengawasi putri cantiknya.
"Apa baik-baik saja?"
"Ya, aku merasa jauh lebih baik. Apalagi pak Anwar merawat ku dengan baik,"
"Selama empat tahun ini kamu tinggal dengan pak Anwar?"
"Tidak, satu tahun sesudah aku melahirkan aku pindah ke Jogja. Menempuh hidup baru dan tentu mencari suasana baru dengan pekerjaan untuk menghidupi Starla. Pak Anwar satu bulan sekali dia akan menjenguk ke sana!"
"Bagaimana tentang kedua orang tua mu, apa ada yang berubah!"
"Tidak! mereka tetap sama. Baik jika ada maunya. Entah kenapa aku tak seberuntung mempunyai kedua orang tua seperti kamu!"
Amira terdiam dan hanya menanggapinya dengan senyum tipis saja. Amelia tidak tahu, jika kedua orang tua Amira juga sama. Tak jauh berbeda namun bedanya mereka secara diam-diam mengatur kehidupannya.
"Tapi, aku bangga padamu. Kamu tak seperti mereka. Kamu mama yang baik untuk Starla. Bunga dan Shofi pasti bangga jika bertemu dengan kamu!"
Kini Amelia yang tersenyum menanggapi ucapan Amira. Sungguh, Amelia tak akan pernah melupakan mereka bertiga yang dulu adalah musuhnya namun lihatlah sekarang mereka bahkan walau sudah empat tahun berpisah masih mengingatnya dengan baik.
"Ngomong-ngomong bagaimana kabar mereka berdua?"
"Bunga baik, dia menetap sementara di London. Bunga juga sudah melahirkan putri cantik. Namanya Sekar, usianya baru dua tahun!"
"Starla pasti senang jika punya teman, bagaimana dengan Shofi?"
Amira memasang wajah muram, karena tentang Shofi Amira tidak tahu sama sekali bahkan sampai detik ini.
"Kenapa, apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak! aku kehilangan jejaknya empat tahun terakhir ini. Entah di mana dia sekarang aku juga tak tahu!"
Ucap Amira sendu, karena satu sahabatnya tak tahu bagaimana kabarnya. Apa ia baik-baik saja atau tidak. Dimana dia berada, Amira juga tidak tahu.
Amelia hanya diam saja karena bingung harus bereaksi apa. Pasalnya mereka tak sedekat itu dulu. Walau Amelia juga ada rasa simpati kemana Shofi pergi dan dimana dia berada.
Amira matanya terpaku pada bocah kecil yang asik dengan mainannya sendiri.
Alis tebal, hidung mungil sedikit mancung dengan bibir seksi. Garis wajahnya semuanya seperti seseorang yang sampai saat ini Amira benci. Entah bagaimana Amelia menjalani kehidupannya. Jika jadi Amelia, Amira mungkin gak akan sanggup. Apalagi harus setiap hari menatap wajah yang sama dengan orang yang sudah menghancurkan hidup kita.
"Terus, sekarang akan yang kamu lakukan?"
"Aku berencana akan melanjutkan studi ku di UI,"
"Starla?!"
"Ada pengasuhnya yang akan menjaga ketika aku kuliah dan bekerja!"
"Wow, you are indeed a great mother!"
__ADS_1
"Tidak seperti itu, aku hanya sedang berusaha memberikan kasih sayang yang dulu tak aku dapatkan!"
"Seperti nya aku harus pamit, temanku ada yang sakit. Sudah terlalu lama aku meninggalkannya sendiri!"
"Baiklah, cepat sembuh saja dia!"
"Terimakasih, kalau butuh bantuan hubungi aku. Kita masih teman kan!"
Ucap Amira sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Amelia. Amelia hanya tersenyum saja, ternyata tak ada banyak yang berubah dari Amira. Dia tetap membuka tangan pada siapa saja yang tulus ingin berteman dengannya.
"Gadis manis, aunty pergi dulu ya. Jaga mama baik-baik!"
"Siap aunty!"
Cup ...
Amira memberi kecupan pada Starla sebelum benar-benar pergi. Amira hanya merasa gemas dengan wajah imut Starla. Walau garis wajahnya hampir semuanya ke laki-laki brengsek itu. Tapi, tatapan mata dan hidungnya sama persis seperti Amelia.
Entah rencana apa yang Tuhan takdirkan di balik tatapan itu.
Amelia melihat kartu nama Amira lalu memasukannya ke dalam tas.
"Sayang, ayo pulang. Nanti kakek nyariin!"
Bujuk Amelia lembut pada Starla. Amelia benar-benar sudah berhasil menjadi ibu yang baik. Bahkan sekarang Amelia berubah menjadi wanita elegan dengan penuh kesopanan. Dan, yang di maksud kakek oleh Amelia adalah pak Anwar.
Jika yang sudah baca novel Filosofi Alin, pasti tahu ya bagaimana perjalanan hidup Amelia.
.
Kemudian Amira membenarkan letak selimut supaya Vina nyaman dalam tidurnya.
Lalu Amira duduk di shopa yang ada di dalam ruangan tersebut. Karena memang Vina berada di ruang VIP.
Ting ..
Suara pesan masuk ke dalam ponsel Amira.
Save nomor Aku, Amelia!
Amira tersenyum ternyata Amelia yang mengirimnya pesan.
Sungguh Amira tak menyangka jika ia akan bertemu teman lamanya lagi. Dan, Amelia terlihat jauh lebih baik dari terakhir yang Amira lihat.
Bahkan penampilannya juga terlihat sopan tidak seksi seperti dulu. Dan, tata cara bahasanya juga sama.
Sungguh empat tahun terakhir ini ternyata sudah banyak merubah semuanya.
Dret ...
Tak lama ponsel Amira kembali berdering. Kini panggilan masuk dari Bunga.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Ra, kamu pasti tak akan percaya dengan apa yang aku lihat. Shofi .., Shofi aku melihat Shofi berada di London!"
Deg ...
Amira terkejut mendengar kabar dari Bunga, jadi selama ini sahabatnya berada di London. Tidak, jika Shofi selama ini tinggal di London kenapa selama itu tak menemui dirinya.
"Jangan bercanda Bunga, mana mungkin dia berada di London. Jika berada di London selama ini. Kenapa dia tak menemui kita!"
"Aku tidak tahu Ra, tapi aku melihat kini Shofi banyak yang berbeda. Bahkan terlihat dingin!"
"Apa kamu menyapanya?"
"Tidak, aku tidak sempat, waktu aku sedang makan di luar bersama Raja. Aku melihat Shofi keluar dari restoran yang sama bersama pria berjas. Dan nampaknya mereka seperti segan dengan Shofi. Ketika aku ingin mengejar, namun sayang Shofi ke buru masuk mobil di jaga oleh beberapa bodyguard!"
Amira terdiam mendengar penjelasan Bunga, mendengar dari setiap penjelasan Bunga membuat Amira berkesimpulan. Jika hidup Shofi masih dalam bahaya.
Apa ini alasan Shofi tak memberi kabar dan tak menemui mereka karena Shofi masih bersembunyi seperti dulu. Sungguh sulit Amira fahami. Bagaimana kehidupan Shofi mengenal orang-orang seperti mereka.
"Apa kamu sudah mengecek semua cctv, di mana saja Shofi terlihat!"
"Sudah, namun anehnya tak ada yang memperlihatkan Shofi. Bahkan cctv di lestoran aku melihat Shofi di sana juga tidak ada. Sepertinya Shofi sudah menghapus cctv yang menangkap dirinya!"
Hening ...
Keduanya terdiam dengan pikiran dan asumsi masing-masing. Menerka-nerka apa yang terjadi pada Shofi. Apa Shofi sudah baik-baik saja atau tidak.
"Bunga, kerahkan anak buah Raja untuk mencari Shofi. Shofi hanya satu-satunya orang yang bisa mengembalikan ingatan Fatih!"
"Kamu tenang saja, suamiku sudah bergerak. Nanti jika ada kabar baik aku kasih tahu kamu!"
"Ok!"
"Ya sudah, aku tutup dulu!"
Amira menghela nafas mencoba berpikir keras apa yang terjadi dengan Shofi.
Pantas saja selama ini Alam belum memberi kabar tentang Shofi. Jika Bunga saja yang baru ketemu tak menemukan jejak sama sekali.
Bisa di pastikan kemanapun Shofi pergi dia pasti akan langsung menghilangkan jejak. Atau bisa jadi cctv yang akan Shofi lewati sudah dia sabotase.
Sungguh, harapan Amira hanya Shofi, untuk mengembalikan ingatan Fatih.
Amira hanya berharap di manapun mereka berada Shofi dan Fatih bisa kembali bertemu.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
.
__ADS_1