Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 83 Kebahagiaan sederhana


__ADS_3

"Emmz ..,"


Gumaman terdengar di bibir Amira. Perlahan kedua mata Amira terbuka.


Hal pertama yang Amira lihat dada bidang sang suami. Perlahan Amira sedikit mundur guna melihat wajah tampan sang suami yang masih tertidur.


Bibir Amira tertarik kesamping membentuk sebuah senyuman yang sangat manis. Kini Amira sadar bahwa ia sudah menjadi istri Alam, omnya sendiri.


Amira masih ingat jelas bagaimana tadi pagi Alam melakukan ijab kobul. Walau tak ada pesta namun Amira bahagia.


Bagi Amira bersama Alam itu sudah cukup, tak mau lebih.


Amira melihat jam di ponselnya ternyata sudah sore. Entah berapa jam mereka tidur. Amira bukannya bangun ia malah memilih kembali memandangi wajah tampan Alam yang begitu dekat dengannya. Apalagi hidung mancungnya ini, membuat Maira gemas.


Cup ...


Amira mengecup hidung mancung Alam dengan hati-hati takut membuat Alam terbangun.


Sesudah itu Amira berusaha pelan-pelan beranjak guna membersihkan diri apalagi Amira sudah sangat tak nyaman dengan gaun pengantinnya.


Grep ...


"Mau kemana?"


Tahan Alam menarik pinggang Amira hingga Amira kembali jatuh kedalam pelukannya.


"Dear!"


Kesal Amira memukul pelan dada bidang Alam karena terkejut. Sejak kapan Alam bangun.


"Mau kemana?"


Tanya Alam mengulang lagi pertanyaannya sambil membuka kedua matanya perlahan.


"Mau ganti baju, terus mandi. Gerah tahu,"


Cetus Amira membuat Alam terkekeh, sudah menikah pun sikap Amira tetap sama. Alam pikir Amira akan malu-malu terhadap dirinya.


"Lepas Dear, baju ini terlalu sesak, aku mau ganti baju dan turun ke bawah,"


"Sebentar!"


Pinta Alam mengeratkan pelukannya hingga wajah Amira semakin mendekat. Bahkan hidung mancung mereka bersentuhan.


"Berikan aku ciuman makan aku akan membiarkan kamu mandi!"


Amira membulatkan kedua matanya mendengar permintaan sang suami. Dasar konyol kenapa harus minta segala, biasanya Alam suka nyosor duluan. Apalagi sekarang mereka sudah halal.


"Baiklah, tapi janji nanti lepasin!"


"Heem,"


Cup ...


Amira memberikan kecupan di dagu Alam membuat Alam ingin protes namun terhenti ketika sesuatu yang kenyal membungkam bibirnya. Sangat lembut yang Alam rasakan, bahkan sepertinya Amira sudah lihai memainkannya.


Alam menikmati setiap sentuhan yang Amira berikan, rasanya memabukkan sekali. Ciuman ini sedikit berbeda dengan rasa yang jauh lebih berbunga-bunga.


"Sudah ya!"


"Dear, aku mau mandi!"


Ucap Amira memelas ketika Alam meminta lagi dengan isyarat telunjuknya.


"Baiklah,"


Pasrah Alam langsung bangkit dari tidurnya.


"Sini aku bantu buka resleting nya, biasanya suka susah!"


Ucap Alam lagi membuat Amira mengangguk lalu berbalik membelakangi Alam. Perlahan Alam membuka resleting baju pengantin yang Amira kenakan. Sangat berat sekali, pantas saja Amira kelelahan.


"Sudah!"


Kata Alam ketika sudah menurunkan resleting nya. Kemudian Amira bangkit karena merasa lega dan tak sesak lagi. Seolah Amira sudah bisa menghirup udara bebas.

__ADS_1


"Handuknya dimana Dear?"


"Menggantung tuh!"


Tunjuk Alam pada tempat penyimpanan handuk.


Deg ...


Mata Alam melotot tak percaya melihat apa yang Amira lakukan. Bahkan Alam langsung menahan nafas melihat tingkah Amira yang tiba-tiba menurunkan baju pengantin tepat di hadapan Alam.


Amira berjalan santai menuju kamar mandi tanpa memperdulikan Alam yang melongo. Bagaimana Alam tak menahan nafas jika Amira menyisakan pakaian da**m saja.


Baru kali ini Alam melihat semua lekuk tubuh Amira yang sangat seksi yang selalu Amira sembunyikan di balik bajunya.


Huh ...


Alam membuang nafas kasar ketika Amira dengan sengaja menutup pintu sedikit kasar.


"Sabar Lam, sabar. Ini masih sore, masih banyak orang yang berkeliaran!"


Gumam Alam mengelus dadanya sambil menggelengkan kepala dengan tingkah Amira yang berani.


Gadis itu selalu berani dalam hal apapun jika menyangkut diri ya.


Karena tak mau menunggu Amira mandi Alam beranjak dari tidurnya memilih mengambil makan saja. Apalagi Alam tahu mereka belum makan siang. Dan, tentu Amira pasti sesudah mandi akan merasa lapar.


Dinda, Fandi, Jek dan Melati tersenyum melihat pengantin baru yang baru turun tangga.


Keluarga Farhan sudah balik sendari siang, begitupun yang lainnya. Hanya menyisakan mereka saja.


"Rara di mana sayang?"


Tanya Dinda pada putranya yang terlihat seperti bangun tidur.


"Lagi mandi, ini Alam mau ambil makan, takutnya Amira lapar. Kami belum makan siang,"


"Ya sudah, mau mama anget in?"


"Biar Alam saja mah,"


"Seperti kami harus pulang, bersiap untuk makan malam!"


Ucap Jek tiba-tiba meminta izin pulang, apalagi ini sudah sore.


"Ya sudah, hati-hati di jalan!"


Jek dan Melati pulang tanpa berpamitan pada Amira dulu. Toh, nanti juga mereka bertemu di mansion Al-biru karena di sana mereka akan makan malam sebagai perayaan kecil atas kebahagiaan Alam dan Amira.


"Ayah sama mama kemana?"


Tanya Alam ketika akan kembali ke kamar tak mendapati ke dua mertuanya.


"Pulang, jangan lupa nak, nanti malam kita makan malam di rumah kakak!"


"Iya mah, terimakasih udah ngingetin!"


"Ya udah, Alam ke atas dulu!"


Dinda mengangguk saja sambil tersenyum bahagia melihat putranya terlihat cerah.


Alam menaiki satu persatu anak tangga menuju di mana kamarnya berada.


Cklek ...


Alam membuka pintu bertepatan dengan Amira juga baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya.


"Baru selesai sayang,"


"Rara keramas, habis kepala Rara pusing!"


"Ya sudah, ganti baju cepat, nanti kita makan!"


Amira hanya mengangguk saja lalu mengambil baju santai di lemari yang sudah Alam simpan di sana tadi siang ketika Amira tidur.


Amira mengeringkan rambutnya terlebih dahulu sebelum benar-benar mereka makan.

__ADS_1


"Sini biar ku bantu!"


Alam mengambil alih hair dryer di tangan Amira. Lalu dengan lembut Alam membantu mengeringkan rambut Amira.


Cup ...


Alam memberikan kecupan singkat di puncak kepala Amira ketika sudah selesai mengeringkan rambut Amira. Alam menghirup dalam-dalam udara sampo yang Amira pakai. Terasa berbeda padahal shampo yang Amira pakai punya Alam sendiri.


"Ayo makan!"


Ajak Alam menarik lembut tangan Amira muju shopa. Alam mendudukkan Amira di shopa baru dia duduk sendiri.


Aaa ...


Dengan senang hati Amira menerima suapan dari Alam. Sesekali Alam menyuapi dirinya sendiri.


"Enak?"


"Heem,"


"Syukurlah, kata mama nanti malam kita ke rumah kak Queen,"


"Mau apa?"


"Makan malam katanya, nanti sayang tinggal bersiap saja!"


"Baiklah,"


Balas Amira tak jelas karena sambil mengunyah makanan. Alam mengelus puncak kepala Amira gemes.


Sungguh Alam masih merasa mimpi kalau ini nyata. Amira kini menjadi miliknya seutuhnya, Alam tak takut lagi mengenai apapun.


"Sayang, apa kamu bahagia?"


Tanya Alam ketika mereka sudah selesai makan.


"Sangat, Dear. Terimakasih sudah berjuang sejauh ini!"


"Terimakasih kamu mau menerima orang pesakitan seperti aku!"


"Apaan sih Dear, kamu gak sakit, kamu pasti sembuh!"


Ucap Amira tegas gak suka jika Alam pesimis dengan keadaannya.


"Sini!"


Ucap Alam menyuruh Amira duduk di atas pangkuannya. Dengan senang hati Amira melakukannya.


Cup ...


"Rara sayang om!"


Gemas Amira mencium pipi kiri Alam ketika sudah duduk di pangkuan Alam.


"Om lebih dari itu!"


Ucap Alam tersenyum manis, sambil menyelipkan rambut Amira kebelakang telinganya.


"Kenapa kamu begitu menggemaskan sayang,"


"Baru sadar!"


"Sombong!"


"Kenyataan!"


Suami istri itu terus bercanda satu sama lain, Sesekali terkekeh dengan tingkah mereka. Sungguh mereka selalu saja bisa menciptakan kebahagiaan walau sederhana. Saling mengerti dan memahami.


Cup ...


Alam mengecup dalam bibir Amira karena merasa gemas melihat bibir merah alami ini terus mengoceh.


"Manis!"


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih


__ADS_2