Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 26 Kecurigaan Amira


__ADS_3

"Tapi, Rara gak mau jauh dari om!"


"Ini demi kebaikan kita sayang!"


Tegas Alam ketika memutuskan lebih baik Amira bekerja di perusahaan induk saja. Itu lebih baik dari pada Amira harus bekerja dengannya dan besar kemungkinan kedua orang tua mereka akan terus merencanakan untuk memisahkan mereka.


"Om hanya berpesan, hati-hati jika kita ingin bertemu. Sekarang dunia sudah tahu, pasti mereka akan selalu mengejar berita di setiap kemanapun kita melangkah!"


"Itu paling menyebalkan om, kenapa jadi seperti ini sih!"


Kesal Amira hubungan mereka jadi terbatas karena kelakuan sang ayah. Dan, benar kata Alam, dia juga menjalankan aktivitas nya tak akan sesantai seperti dulu.


"Itu ujian sayang, sabar ya!"


Hibur Alam, bagaimana pun Alam tak mau membebani Amira. Jika kedua orang tua mereka memang sudah tahu.


Karena Alam tahu, Amira paling tak bisa menghadapi situas sulit seperti ini. Harus menentang kedua orang tuanya itu tak mungkin. Apalagi Alam tahu, hubungan Amira dan Jek belum juga baik. Alam tak mau membuat Amira berpikir terlalu keras, karena Amira tak suka hidupnya di kekang.


Amira selalu suka kebebasan mengekpresikan apa yang ia mau. Bukan di tuntut akan suatu hal yang tak Amira sukai.


"Terus kapan akan pindahnya?"


"Rara gak tahu, tapi Rara ingin lihat-lihat saja dulu!"


"Ya sudah kalau begitu, Om yakin kamu pasti menyukai pekerjaan di sana!"


"He'em!"


Cup ...


"Kalau begitu, om harus keluar. Ada pertemuan sekitar setengah jam lagi!"


Ucap Alam sambil mengecup pelipis Amira. Alam membereskan berkas-berkas yang ia bawa.


"Ya sudah, Rara mau ajak Vina dan Andri makan boleh ya?"


Alam menghentikan aktivitas nya lalu menoleh sekilas pada Amira.


"Bawa saja Vina, Andri tak boleh ikut!"


"Loh kok gitu sih!"


Proses Amira karena Amira ingin kedua temannya ikut. Karena mereka lah yang dengan tulus mau berteman dengannya.


Alam menghela nafas, apa Amira tidak tahu jika selama ini Andri tertarik padanya.


Bahkan selama ini Alam selalu memerhatikan gerak-gerik Andri. Alam faham tatapan seorang laki-laki jika sedang menyukai seseorang.


Mungkin bagi perempuan itu biasa tapi bagi kaum laki-laki mereka tahu.


"Sayang, apa kamu tak sadar, selama ini Andri selalu memerhatikan kamu!"


"Maksudnya!"


"Andri itu suka sama kamu, masa gak faham sih. Bahkan Andri terlihat kecewa ketika dia melihat kamu berpelukan dengan Moreo waktu di parkiran!"


Ketus Alam sedikit kesal jika melihat kejadian waktu itu. Di mana Moreo memeluk Amira dengan sayang. Alam bisa melihat begitu besar cinta Moreo pada Amira.


"Kenapa tersenyum, senang ya di sukai Andri!"


Kesal Alam karena Amira malah tersenyum, seolah bangga di sukai Andri.

__ADS_1


"Om tuh lucu kalau cemburu, menggemaskan!"


Goda Amira benar-benar sangat lucu, melihat wajah tampan kekasihnya cemberut begitu.


"Om tuh sayang sama kamu, bahkan rasanya sangat sakit memendam rindu ini. Kamu satu-satunya gadis yang berhasil menggelitik hati om dari dulu!"


"Benarkah!"


"Ya, percayalah tak ada wanita yang om cintai selain kamu!"


"Terus kenapa selama ini om selalu menghindar bahkan jahat pada Rara!"


"Karena om sudah berjanji sam--"


Alam menghentikan ucapannya ketika dia hampir saja keceplosan. Tidak! Amira tak boleh tahu. Alam tak mau hubungan antara anak dan kedua orang tuanya hancur gara-gara dirinya.


"Kenapa diam, janji sama siapa?"


"Sama diri Om sendiri. Sudah, om harus segera pergi. Ingat! om tak mengizinkan Andri ikut, cukup Vina saja!"


Cup ...


Alam segera keluar dari ruangannya di mana Dom sudah menunggu di dekat pintu lift.


Amira merasa kesal karena Alam malah menghindar. Amira semakin yakin, jika ada sesuatu yang omnya sembunyikan dari dia.


Seperti nya Amira harus cari tahu sendiri. Apa ini ada hubungannya dengan kedua orang tuanya atau tidak.


Karena sejujurnya, Amira juga merasa aneh akan tingkah kedua orang tuanya akhir-akhir ini.


Amira gak mau berpikir buruk, seperti nya Amira benar-benar harus mencari tahu sendiri. Karena Amira yakin, Alam tak akan pernah memberi tahu pada dirinya.


Amira duduk di kursi kebesaran Alam lalu dia memutar-mutar kursinya sambil berpikir keras.


Mata Amira terpaku pada laci meja kerja Alam. Karena Amira merasa aneh, tak ada satupun Poto yang terpasang di ruangan ini.


Srek ...


Deg ..


Amira terkejut ketika melihat selembar Poto di laci ini.


Yang lebih terkejutnya lagi, itu Poto dirinya bersama Alam waktu kecil.


Di mana Poto itu terlihat Amira kecil memeluk Alam namun Alam kecil terlihat cuek bahkan terkesan risih.


Amira tersenyum melihat Poto tersebut. Seperti nya apa yang Alam ucapkan memang benar. Kalau dirinya adalah wanita satu-satunya yang Alam cintai.


Tunggu!


Amira terdiam, jika memang sendari dulu Alam mempunyai rasa yang sama kenapa selama ini Alam terkesan cuek bahkan menghindar. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Alam bisa bersikap seperti itu.


Amira sungguh pusing memikirkan itu semua.


Alasan!


Kenapa?


Berbagai pertanyaan berputar di otak cerdas Amira. Namun, tak ada satupun yang terjawab.


Amira kembali menyimpan Poto itu di tempat semula.

__ADS_1


Karena tak mau berpikir terlalu keras, Amira memutuskan untuk pergi saja mengajak Vina keluar karena Alam sudah mengizinkan. Toh, sebentar lagi juga sudah memasuki jam istirahat.


"Hay, Ndri!"


Sapa Amira sambil melambaikan tangan melihat Andri sedang membawa peralatan pel.


Andri yang namanya di panggil langsung menghentikan langkahnya. Andri terdiam, entah harus bersikap bagaimana.


Sungguh Andri jadi merasa malu karena sudah mengajak Amira pulang bareng. Walau itupun tidak sampai rumah karena Amira keburu ketakutan.


"Kenapa! apa kamu juga gak mau berteman denganku, setelah tahu siapa aku!"


Dam ...


Andri gak bisa menjawab karena sejujurnya dia sangat malu bertemu Amira. Apalagi setelah tahu siapa Amira membuat Andri benar-benar sulit berkata.


Melihat Andri yang hanya diam membuat Amira menghela nafas. Amira faham apa yang Andri rasakan.


"Ya sudah aku pergi dulu, aku harap kita masih teman!"


Ucap Amira berlalu pergi karena tak mau membuat Andri semakin merasa tak enak hati.


Amira memilih mencari Vina saja karena dia sudah janji mau mengajak Vina makan siang.


"Mau kemana?"


Kesal Amira ketika Vina juga mau menghindar dari dirinya.


"Ak-aku ma .. ma ..,"


"Ikut aku!"


Kesal Amira menyeret Vina ikut dengannya. Amira menyuruh Vina masuk ke dalam mobilnya.


Karena bersikeras ya Amira membuat Vina pasrah saja ia masuk kedalam mobil Amira.


"Kita mau kemana, aku kan masih kerja Ra!"


Ucap Vina memberanikan diri bertanya karena merasa tak enak. Apalagi Vina takut nanti dia di marahin oleh kepala staf.


"Makan siang, sesuai ucapanku tadi pagi!"


"Sudah jangan proses, duduk manis saja!"


Vina bungkam tak bisa berkata apa-apa lagi. Karena bicara pun percuma. Amira pasti akan memaksanya.


Amira menghentikan mobilnya di sebuah lestoran.


Bahkan Amira memilih ruang VIP agar Vina merasa nyaman makannya. Apalagi Amira faham, Vina pasti merasa kecil apalagi dia masih memakai baju office girl.


"Pesan apapun yang kamu suka, jika tak mau memesan aku pastikan kamu di pecat!"


Ancam Amira membuat Vina melotot tak percaya.


Dari pada Vina harus kehilangan pekerjaan lebih baik Vina menerima tawaran Amira. Toh, makan gratis kenapa menolak.


Bersambung ....


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_1


__ADS_2