Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 41 Asisten kurang ajar


__ADS_3

Alam yang baru selesai meeting langsung kembali ke ruangannya di ikuti Dom.


Alam duduk di kursi kebesarannya, lalu menyalakan kembali ponselnya.


Tak lama sebuah pesan masuk bertubi-tubi dan panggilan telepon masuk.


Alam membuka pesan dari Amira, seketika bibir Alam tersenyum lebar.


Dom yang melihat Alam tersenyum sendiri hanya bisa menautkan kedua alisnya bingung bercampur bergidik ngeri.


Padahal Alam pikir Amira marah padanya, ternyata Alam salah besar. Amira tak marah padanya, bahkan di dalam pesan juga Amira menjelaskan.


Ah, rasanya Alam ingin menarik Amira ke dalam pelukannya. Padahal mereka berpisah baru dua hari namun sara rindu itu seperti dua tahun.


Alam ingin sekali menelepon Amira, namun, ini sudah sore berarti Amira ada di rumah. Alam berarti harus menunggu malam jika ingin bicara.


"I Love You to😘!"


"Jika ada waktu, beri tahu?"


Hanya itu yang Alam balas, lalu Alam menyimpan ponselnya di atas meja.


Deg ...


Alam terperanjat ketika Dom ada di hadapannya. Entah sejak kapan Dom berada tepat di hadapannya.


Plak ...


Awwss ...


Alam langsung memukul kening Dom dengan berkas. Karena kesal dengan tingkah asisten yang kurang ajar itu.


Mana ada asisten mengintip chat bos nya kalau bukan asisten kurang ajar.


"Sakit tahu!"


"Siapa suruh ngintip privasi orang, namanya tak sopan!"


Ketus Alam menatap tajam Dom yang terkadang ngeselin minta ampun.


"Habis kau kaya orang gila, senyum-senyum sendiri,"


Ucap Dom tak kalah ketus membuat Alam langsung melotot tak percaya. Beraninya asisten mengatai dia gila. Benar-benar Dom itu asisten kurang ajar.


"H-A-M Hak Asasi Manusia, Dom!!!"


Geram Alam sampai mengeja dan menekan kalimatnya.


"Emang chat apaan sih, sampai senyum-senyum begitu!"


Kepo Dom membuat Alam benar-benar geram pada asisten kurang ajarnya. Untung saja, Alam sulit di pancing.


Dari pada bahas itu yang tak akan ada habisnya lebih baik Alam mengganti topik.


"Ngomong-ngomong gimana kemaren?"


Tanya Alam mulai menghindar, Dom yang tadinya ikut kesal jadi terdiam mendengar pertanyaan Alam.


Entah apa yang Dom rasakan kenapa berubah jadi murung seperti itu. Dan, pertanyaan apa yang Alam maksud.

__ADS_1


"Aku terlambat!"


Ucap Dom pelan membuat Alam terdiam, Alam tak menyangka ternyata harus secepat ini.


"Maaf!"


"Ini bukan salah mu,"


Ucap Dom sedih, Dom tak menyalahkan Alam atas kepergian ibunya Mona. Ataupun menyalahkan kenapa telat memberi tahu.


Karena Dom tahu, itu sudah waktunya. Apalagi melihat rekap medis yang memang sangat minim untuk selamat.


"Terus apa rencana kamu?"


"Aku akan menjaga adiknya semampu yang aku bisa. Untuk menebus kematian Mona!"


"Apa kamu yakin?"


"Iya, aku tak akan bisa membiarkan dia kesulitan!"


"Lakukan lah apa yang ingin kamu lakukan, aku akan mendukungmu!"


"Namun aku sedikit takut!"


Lilir Dom menunduk membuat Alam terdiam. Alam faham betul akan apa yang Dom rasakan. Pasti tidak mudah berada di posisi Dom saat ini.


"Aku yakin, Vina gadis yang baik. Dia pasti tak akan menyalahkan kamu atas kematian kakak nya!"


Ucap Alam berusaha menyakinkan Dom kalau semua akan baik-baik saja. Dom hanya diam saja tak menyahut karena Dom sendiri bingung harus memulai nya bagaimana.


Bagaimana cara mendekati Vina, dan berusaha minta maaf. Dom tahu ini sangat terlambat, namun masih adakah pintu maaf untuknya.


Ya, Vina adalah adik dari Mona kekasih Dom. Kenapa Dom sebodoh ini tak menyadari jika Vina adalah adik mendiang Mona.


Wajar saja Dom tak mengenali karena mereka dulu memang jarang bertemu. Apalagi Vina selama bekerja dia selalu menghindar dari orang-orang penting di perusahaan.


Sungguh, dunia ini begitu sempit saking sempitnya Dom tak sadar jika orang yang selama ini dia cari ada di depan matanya sendiri.


"Berjuanglah, kamu masih ada kesempatan banyak. Dia ada di depan mata kamu!"


"Aku tak akan menyerah!"


Alam hanya tersenyum saja melihat semangat Dom kembali bangkit. Alam merasa akan ada sesuatu besar yang terjadi antara Vina dan Dom.


Alam cuma berharap, mereka akan baik-baik saja.


"Terus kenapa kamu kembali, bukan menjaga Vina?"


"Aku rasa tak perlu, karena sudah ada yang menjaganya!"


Jawab Dom enteng, Dom memang belum memberi tahu jika Vina sekarang sedang berada di rumah Amira. Dom merasa aman jika Vina berada di sana dari pada harus di rumah sendiri. Apalagi Vina masih dalam keadaan bersedih. Gadis itu pasti benar-benar butuh pendamping.


"Siapa?"


"Amira, saat ini Vina berada di rumah Amira!"


Deg ...


Alam melotot tak percaya dengan apa yang barusan Dom sampaikan.

__ADS_1


"Kenap tak memberi tahuku, sialan!"


Kesal Alam benar-benar jengkel dengan kelakuan Dom.


"Sorry, aku pikir itu tak penting harus tahu kah. Itu tentang Vina bukan Amira!"


Jawab Dom enteng membuat Alam benar-benar di buat kesal oleh asisten kurang ajarnya.


Pantas saja dalam chat Amira bilang dia ketiduran. Apa jangan-jangan Amira gak ngangkat teleponnya itu bukan di kantor tadi di rumahnya.


Alam terus menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi kenapa Amira bisa ketiduran seperti itu. Tak biasanya Amira seperti itu, Alam tahu seperti apa Amira.


Alam yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi. Kenapa Alam jadi merasa cemas.


Dom yang melihat perubahan wajah Alam menjadi aneh sendiri. Kenapa Alam jadi terlihat cemas. Emang apa pesan yang Amira kirim membuat Dom jadi penasaran.


Padahal tadi Alam tersenyum-senyum sendiri kenapa sekarang jadi malah terlihat cemas membuat Dom benar-benar aneh dengan sahabatnya nya itu.


"Hey, kau kenapa!"


"Gak!"


"Aneh,"


"Dom, tinggalkan ku sendiri!"


Duarr ...


Dom membulatkan kedua matanya karena Alam malah mengusirnya. Sungguh dasar bos ngeselin.


"Tidak!"


"Dom!!!"


Geram Alam menatap tajam, Dom hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal.


Dom langsung keluar ruangan Alam dengan perasaan kesal. Ujung-ujungnya dia malah di usir.


Kini tinggal Alam sendiri sambil terus berpikir. Apa Amira baik-baik saja atau tidak. Bagaimana kalau Amira sakit, sungguh Alam jadi tidak bisa berpikir dengan jernih.


Alam turus melihat ponselnya apa ia harus menelepon Amira sekarang juga atau bagaimana.


Alam jadi pusing sendiri, antara telepon atau tidak.


Tapi, jika di telepon sekarang takutnya Amira sedang bersama kedua orang tuanya. Kalau tidak Alam malah berpikir tidak-tidak.


Apalagi Amira juga belum membaca pesan dari dia berarti Artinya Amira belum memegang ponsel. Dan, percuma Alam menelepon juga karena pasti ponsel Amira tak aktif.


"Sayang kamu baik-baik saja kan!"


Gumam Alam sambil menatap poto Amira yang sedang tersenyum.


"Kangen!"


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


.

__ADS_1



__ADS_2