Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 44 Kekesalan Amira


__ADS_3

Amira kembali melakukan aktivitas ketika merasa Vina sudah lebih baik lagi. Apalagi Vina memutuskan untuk masuk setelah dua hari tidak masuk kerja.


Dan, Amira pun sudah bisa melepas Vina tinggal sendiri dengan kesepiannya.


Amira percaya Vina gadis yang kuat untuk menghadapi semuanya. Bahkan lebih dari itu, Amira percaya itu.


Hari ini urusan pekerjaan Amira tidak terlalu sibuk. Walau begitu, Amira akan tetap menjadi dingin jika ia masih di jam kerja.


Bahkan Chris selalu menyempatkan waktu untuk ingin berbincang atau sekedar makan siang. Namun, sampai saat ini tak satupun ajakan Chris Amira setujui kecuali kalau Rijal ikut.


Amira hanya tidak mau membahas hal lain dengan Chris selain pekerjaan. Karena Amira merasa tak nyaman.


Walau begitu, jika bersama Moreo Amira akan bersikap biasa saja. Bukan Amira membedakan atau memiliki rasa lebih terhadap Moreo.


Namun, Moreo sudah Amira kenal dan percaya jika Moreo tak akan berani berbuat macam-macam dengannya.


Halnya seperti yang sekarang Amira lakukan. Makan siang bersama Moreo, tak ada yang istimewa karena mereka sudah bisa menerima keadaan masing-masing.


Menjalin persahabatan yang baik seperti dulu. Kecuali jika Moreo sudah keluar jalur maka Amira akan pergi begitu saja tanpa mau membalasnya. Karena Amira tahu itu akan semakin menyakiti Moreo jika dia menjawabnya.


"Seperti nya hari mu semakin baik?"


"Ya begitulah, bukankah kita hidup untuk mencari ketenangan!"


"Kamu benar, bahkan aku kabur dari kantor karena pusing di Omel mulu sama pak tua!"


"Kau ini selalu saja bilang pak tua, dia kakek kamu loh!"


Ucap Amira tak suka jika Moreo tak sopan pada kakek nya sendiri.


"Tapi dia itu menjengkelkan!"


"Tapi, dia sayang!"


Moreo terdiam, jika berdebat dengan Amira memang Moreo akan merasa kalah dan tak akan pernah menang sampai kapanpun.


Mereka kembali fokus makan tak mau berdebat lagi. Sampai mereka selesai makan dan kini tinggal menyantap menu penutup.


"Ngomong-ngomong kapan Om Alam balik?"


Amira menghentikan suapan nya ketika Moreo bertanya tentang Alam. Ini bahasan yang selalu Amira hindari. Amira tak suka membahas hubungannya karena takut menyakiti Moreo. Tapi, kenapa Moreo seolah ingin sekali memancing dirinya bicara.


"Kenapa, salah ya aku bertanya!"


"Kenapa sih, kamu itu selalu bertanya perkara yang akan menyakiti hati kamu!"


Bingung Amira dengan jalan pikiran Moreo. Amira masih mau di ajak jalan oleh Moreo karena tak mau sampai mereka itu menjadi musuh.

__ADS_1


Karena Amira selalu terbiasa mengendalikan sesuatu pada tempatnya.


"Aku cuma ingin tahu, kalau kamu baik-baik saja dan akan selalu tetap bahagia!"


Huh ...


Amira membuang nafas kasar, entah apa yang harus Amira lakukan. Jika sebuah jawaban akan membuat Moreo puas maka Amira akan menjawabnya. Namun, jangan salahkan Amira jika jawabannya malah menyakiti Moreo karena ini yang Moreo inginkan.


"Aku dan om Alam baik-baik saja, hubungan kami sangat baik. Aku bahagia bersamanya, dan mungkin om Alam besok jadwal kembalinya,"


"Sudah aku jawab, apa kamu sudah menemukan jawaban kamu sendiri?"


Moreo mengepalkan tangannya kuat, ternyata Moreo belum cukup bisa melepas. Nyatanya hatinya masih sakit. Namun, benar kata Amira. Dia selalu memancing perkara yang akan membuat dia sakit sendiri tanpa ada yang mengobati.


Namun, Moreo harus berusaha tegar agar Amira tidak kecewa. Ini pilihan dia yang masuk dalam lubang kesakitan.


Ya, ini salah Moreo sejak awal. Karena Amira sudah memperingatinya. Namun, dengan percaya dirinya Moreo bisa membuat Amira jatuh cinta. Tapi, nyatanya itu hanya omong kosong belakang.


Dan, Moreo semakin tenggelam dalam rasa sakit itu sendirian tanpa tak tahu harus bagaimana cara mengobatinya.


"Sudah!"


"Aku akan selalu bahagia jika kamu bahagia, kesakitan mu adalah kesakitanmu. Aku sadar, aku tak bisa memaksa kamu. Aku tahu, karena cintaku belum mampu menyebrangi dasar hatimu. Namun, satu yang harus kamu tahu. Aku Moreo, akan selalu jadi Moreo yang selalu mencintaimu. Maka, izinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Aku tak akan lagi meminta kamu untuk membalasnya. Cukup izinkan saja, maka aku akan menanganinya dengan caraku sendiri!"


"Moreo!"


"Aku tak mengizinkannya Moreo, kamu akan semakin terluka!"


"Dan, biarkan luka ini yang akan menjadi obatnya sendiri. Aku tak akan menuntut apapun, cukup tetap izinkan aku mencintaimu. Please!!"


Amira terdiam menatap tak percaya pada Moreo. Bagaimana bisa Moreo segila ini, Amira tak mungkin membiarkan Moreo terus tenggelam dalam rasa sakit.


Walau bagaimanapun Amira menyayangi Moreo, sebagai sahabat.


Dan, Amira tak akan pernah membiarkan sahabatnya tersakiti.


"Jangan temui aku, jika hatimu masih sama. Maka, kamu perlahan sama saja membunuhku!"


Deg ...


Moreo terkejut dengan apa yang Amira katakan. Kenapa jadi seperti ini, Moreo hanya ingin Amira tahu kalau dia benar-benar tulus mencintainya.


Namun, apa yang Moreo lakukan malah menekan Amira dalam situasi yang rumit. Di mana hatinya sudah terbelenggu oleh orang lain.


Amira tak suka di paksa, untuk melakukan hal yang tak ia sukai. Karena itu sama saja membuat Amira mati secara perlahan.


Amira pergi begitu saja tanpa mau melihat Moreo lagi. Bahkan Amira tak peduli sekeras apa Moreo memanggil.

__ADS_1


Amira hanya ingin menenangkan hatinya, Amira tak mau akan semakin membenci Moreo jika terus berada di sana.


Entah kemana tujuan Amira saat ini. Yang pasti Amira ingin menenangkan hatinya.


"Pak, tolong ke hotel xxx!"


Pada akhirnya Amira memilih pergi ke apartemen Alam untuk menenangkan hatinya. Tak mungkin bagi Amira pulang ke rumah dalam keadaan hatinya benar-benar buruk.


Amira saat ini terlalu sulit untuk mengendalikan emosinya. Jangan sampai emosinya meluap ke yang lain.


"Kembaliannya buat bapak saja!"


Ucap Amira langsung turun dari mobil, Amira bergegas menuju di mana unit apartemen Alam berada. Karena Amira memegang kartu akses nya membuat Amira dengan mudah keluar masuk dari sana.


Bagi Amira, apartemen Alam adalah tempat terbaik saat ini dia menenangkan pikiran dan hatinya. Toh, Alam dia pulang besok, jadi Amira tak terlalu takut.


Amira masuk ke dalam kamar Alam, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Seperti nya apartemen Alam akan menjadikan pelarian bagi Amira butuh ketenangan. Apalagi wangi tubuh Alam masih menempel di sana membuat Amira sedikit tenang.


Amira menangis sejadi-jadinya di sana, meluapkan segala rasa yang sendari tadi ia tahan. Kenapa semuanya jadi seperti ini.


Kenapa Moreo kembali menekannya, Amira tak mau. Kenapa Moreo tak mengerti itu.


Amira ingin Moreo bahagia tapi bukan untuk menyakiti dirinya sendiri. Kenapa Moreo tak faham itu.


Kalau Amira tak bisa dan tak akan pernah bisa membalas perasaan Moreo.


Moreo tak lebih dari sahabat, tak lebih dari teman cowok.


"Jangan buat aku membencimu Moreo hiks ...,"


Sungguh Amira benar-benar berada di titik rapuh. Kenapa ia harus berada di situasi yang sangat sulit Amira lakukan.


"Kenapa kamu tak mengerti!"


Amira terus saja menangis meluapkan segala emosinya.


Berharap dia tak berada dalam cinta segitiga. Cinta yang rumit, harus rela salah satunya tersakiti dan menyakiti.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


.


__ADS_1


__ADS_2