Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 87 Galaksi dan Mentari


__ADS_3

Alam dan Amira benar-benar menghabiskan bulan madu ya di Pengalengan, Bandung.


Dua hari Amira tak bisa keluar, bukan karena Alam mengurungnya. Namun, Alam merasa kasihan jalan sang istri belum terlalu normal. Hingga hari ketiga Amira baru bisa berjalan normal.


Dan, hari ini Alam mengajak Amira ke kawah putih menikmati pemandangan indah di sana. Di tambah udara sejuk yang begitu menenangkan walau sedikit dingin karena sedang musim penghujan.


Namun, Alam selalu siap siaga dengan keadaan apapun. Bahkan sebelum berangkat pun Alam dan Amira sudah mengenakan baju hangat, sarung tangan, kupluk dan payung. Jaga-jaga takut nanti hujan. Dan, tentu semua perlengkapan sang bodyguard yang membawanya.


Ciptaan tuhan yang mana yang kau dustakan. Alam ini begitu indah di pandang mata, menentramkan jiwa yang di landa. Sama seperti nama Alam, yang selalu memanjakan mata Amira ketika Amira memandangnya.


Mereka menikmati momen indah ini, setiap detik yang mereka lalui maka Alam akan merekam dengan jelas momen itu di memorinya.


Alam berharap masih ada waktu untuk terus membahagiakan Amira. Bahkan sampai mereka mempunyai anak, merasakan hidup sempurna.


Jika seperti itu, maka Alam tak akan meminta apa-apa lagi pada Tuhan. Walau ia tak bisa melihat kebahagiaan itu datang.


Namun, Alam akan selalu menceritakannya lewat tulisan-tulisan yang ia buat. Bahwa Alam tak akan pernah meninggalkan mereka walau sudah tak ada. Alam akan selalu ada di setiap hembusan mereka.


Jangan sekarang!


Jerit Alam membatin ketika kepalanya mulai merasa sakit. Apalagi cuaca dingin itu sebenarnya tak bangus untuk kesehatan Alam juga.


"Dear, apa ada yang kamu rasakan. Jika sudah merasa tak nyaman kita kembali ya!"


Ucap Amira khawatir melihat wajah sang suami yang mulai pucat bahkan matanya sedikit memerah seolah sedang menahan rasa sakit.


"Maafkan aku ya!"


Sesal Alam karena sudah merusak momen indah mereka.


"Tak apa, toh kita sudah seharian ini jalan-jalan dan menikmati pemandangan indah ini. Apalagi ini juga sudah mau gelap,"


Ucap Amira tersenyum berharap Alam akan tenang tak bersedih akibat merasa bersalah.


Alam juga ikut tersenyum, tanpa membahas lebih lanjut lagi karena Alam tahu Amira sedang mencoba untuk baik-baik saja.


Pada akhirnya mereka memutuskan balik ke penginapan.


Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Membuat sang bodyguard berhati-hati dalam mengendarai.


Karena mereka sedang membawa dua orang yang begitu berharga.


Amira merasa tangan Alam begitu dingin, seperti nya Alam butuh kehangatan.


Amira menggenggam erat tangan Alam dan membawanya ke depan mulutnya. Amira memberikan uap agar Alam merasa lebih nyaman.


Alam menarik sang istri kedalam pelukannya. Alam memeluk erat tubuh sang istri.


Hingga mereka sampai di penginapan, walau Alam dan Amira harus berjalan dulu beberapa meter ke penginapan mereka karena memang mobil tak bisa masuk.


Untung saja hujannya baru rintik-rintik sampai Amira dan Alam sampai di penginapan baru hujan mulai deras turunnya.


Amira dan Alam membuka jaket mereka lalu menggantungnya.


"Cuci muka dulu Dear,"

__ADS_1


Ucap Amira mengingatkan, Alam mengangguk saja. Amira mengambil baju ganti begitu dengan baju ganti dirinya. Lalu Amira masuk ke dalam kamar mandi.


"Ganti bajunya, Dear!"


Alam hanya mengangguk saja, lalu mengganti baju dengan baju tidur yang Amira bawa. Di bantu Amira juga memakaikannya.


"Sudah, aku tunggu di luar ya!"


Ucap Alam tersenyum manis ketika keadaannya mulai membaik.


Grep ...


Amira memeluk Alam dari belakang membuat Alam mematung.


Lalu Alam tersenyum sambil membalikan badannya.


"Kenapa, Hm?"


"Jangan sekarang ya!"


Pinta Amira Lilir membuat Alam tersenyum faham apa yang istrinya maksud.


"Tidak sayang, aku baik-baik saja. Mungkin tadi udaranya cukup dingin!"


"Aku mulai takut, karena aku belum siap!"


Lilir Amira bergetar, Amira belum siap jika harus secepat itu. Karena mereka baru saja menjalani indahnya rumah tangga.


Jika boleh Amira memohon, Amira ingin kuat dulu sebelum dia berada di titik terendah.


Cup ..


Dengan cepat Alam mengecup bibir sang istri begitu dalam bahkan Alam sedikit menyesapnya berharap sang istri akan tenang. Namun, bukannya tenang Amira malah mengeluarkan air mata membuat Alam mencium kembali bibir Amira. Bahkan kali ini semakin dalam berharap Amira akan tenang.


"Sayang,,"


Bisik Alam di telinga Amira lembut dengan nafas sedikit memburu.


"Jangan takut ya, aku baik-baik saja!"


Ucap Alam menatap intens sang istri yang mulai tenang.


Alam terus mengunci mata Amira dengan tatapannya.


Grep ...


Alam menggendong Amira perlahan membuat Amira langsung mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Alam.


"Sayang, kamu percayakan sama aku!"


Amira hanya mengangguk saja sebagai jawabannya. Membuat Alam tersenyum seolah sedang mendapatkan kekuatannya kembali.


Cup ...


Alam kembali mencium bibir Amira sambil tetap menggendong Amira. Bahkan Alam berjalan keluar kamar mandi menuju ranjang.

__ADS_1


Alam merebahkan Amira di atas ranjang dengan sangat hati-hati takut membuat sang istri tak nyaman.


Tatapan penuh cinta terlihat jelas dari keduanya.


Seolah dunia mereka sedang teralihkan oleh kobaran cinta yang terus menyala.


Di luar hujan semakin deras membuat suasana nampak memihak pada mereka. Jika hujan membuat orang lain merasa dingin tapi tidak dengan Alam dan Amira. Mereka saling menghangatkan satu sama lain.


Berbagi cinta dan kasih sayang yang tak bisa di jabarkan. Begitu indah dan romantisnya yang mereka ciptakan.


Mereka saling membutuhkan hingga menghasilkan sebuah kisah yang begitu istimewa.


Alam berharap sesuatu, jangan dulu terjadi sebelum ia bisa membuat Amira kuat.


Tak ada keinginan untuk Alam pergi dari sisi Amira. Namun, keadaan yang membuat Alam lemah. Alam takut Amira akan terluka oleh semua nya.


Keputusan yang sudah mereka buat adalah sebuah kesepakatan bersama. Alam berharap ada malaikat kecil hadir di antara mereka. Melengkapi setiap perjalanan Alam dan Amira.


"Terimakasih, sayang!"


Ucap Alam memeluk erat tubuh sang istri. Amira hanya bisa berdehem saja karena terlalu lemas untuk berkata.


Setiap sentuhan yang Alam lakukan terekam jelas di ingatan Amira. Begitu lembut dan penuh ke hati-hati an. Seolah Alam takut menyakitinya.


"Sayang,"


"Ya,"


"Jika kita punya anak, kamu mau anak laki-laki atau perempuan?"


Amira terdiam mendengar keinginan Alam. Padahal Amira sendiri sedikit ragu untuk menjawabnya.


"Sayang,"


"Laki-laki atau perempuan tak masalah bagiku. Yang terpenting kita sama-sama membesarkan dan mendidiknya!"


"Jika anak kita laki-laki aku ingin memberi nama Galaksi. Kalau perempuan aku ingin memberi nama Mentari,"


Ucap Alam sambil tersenyum menatap jauh dengan khayalan nya.


"Kenapa, Harus Galaksi dan Mentari?"


"Jika laki-laki aku ingin kelak dia menjadi laki-laki kuat, pelindung, penyayang dengan sebuah cinta yang tulus. Halnya sebuah galaksi yang terbentuk di alam ini dengan lingkup semua yang ada di langit. Sedangkan mentari, aku ingin ia seperti mentari yang selalu tersenyum memancarkan cahaya ketenangan ke setiap penjuru bumi. Di manapun ia berada ia tetap tersenyum walau berada di dunia yang keras. Karena galaksi atau mentari dua nama yang berada di alam ini. Muncul di dunia yang kita ciptakan!"


"Maukah sayang berjanji untuk menamai anak kita dengan nama itu?"


"Iya, ak-aku berjanji!"


Ucap Amira bergetar, bahkan Amira sampai mengigit bibir bawahnya dengan tangan yang semakin memeluk Alam. Seolah perkataan Alam dia tak akan pernah melihat anak mereka.


Bersambung ..


Jangan lupa Like,Hadiah Komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_1


__ADS_2