Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 37 Di mana adiknya berada?


__ADS_3

Alam hanya bisa menatap nanar ponselnya ketika Amira memberi tahu dia tak bisa makan siang bareng Alam.


Amira juga sudah menjelaskan kalau dia akan makan siang dengan Moreo.


Yang tadi sudah semangat 45 bersiap keluar seketika menjadi bunga layu karena rencana mereka gagal.


Bahkan Alam cemberut kesal apalagi ketika Amira mengirim Poto di mana ia makan.


Ingin sekali tadi Alam melarang, namun Alam faham bagaimana posisi Amira. Alam tak mau mempersulit Amira karena keegoisannya.


Alam dengan pasrah mengizinkan toh Alam pikir masih ada hari esok.


Hingga pada akhirnya Alam makan siang di kantor di temani Dom saja.


Namun, ketika Alam sedang bersantai karena baru selesai makan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Alam tersenyum sendiri ketika melihat Poto di layar ponselnya.


Bagaimana Alam tak tersenyum jika anak buahnya mengirim kan Poto jika Amira tak jadi makan siang berdua dengan Moreo tapi jadi bertiga dengan Chris.


Alam tak cemburu Amira di dekati Chris, karena Alam sudah tahu siapa saja orang-orang yang dulu waktu di London berusaha mendekati Amira. Namun, yang tak membuat Alam cemburu karena Alam sudah percaya bahwa hati Amira hanya untuknya seorang.


Bahkan yang tadinya tersenyum Alam malah jadi tertawa ketika anak buahnya mengirim lagi pesan sebuah Vidio. Dimana Moreo dan Chris bukannya makan malah saling bersitegang. Yang membuat Alam tertawa melihat tingkah Amira yang dengan santai makan lahap sendiri tanpa peduli perdebatan dua laki-laki di depannya.


Dom yang melihat sahabatnya tertawa ikut tersenyum. Entah sudah sangat lama kapan Alam bisa tertawa selepas itu.


Dom berharap Alam akan terus bahagia walau Dom tahu entah sampai kapan kebahagiaan itu bertahan.


"Lihatlah Dom, Amira ku begitu menggelikan!"


Ucap Alam tak kuat menahan tawanya, Dom karena penasaran melihat Vidio yang Alam perlihatkan. Seketika Dom juga ikut tertawa, sungguh Dom tak pernah menemukan gadis unik seperti Amira di dunia ini.


Bagaimana bisa gadis itu makan dengan lahap sedang di depannya dua laki-laki sedang bersitegang bahkan sampai menghancurkan makanannya sendiri.


"Lam, kau menemukan di mana gadis semacam itu!"


Ucap Dom juga merasa sakit perut akibat terus tertawa. Sungguh wajah cuek Amira itu membuat Dom benar-benar geli.


"Dia gadis berbeda, gadis unik dan penuh kejutan!"


Ujar Alam sambil tersenyum geli Jika mengingat tingkah manja Amira. Alam langsung menghentikan video nya karena tak mau terus tertawa, perutnya sudah sangat sakit.

__ADS_1


Entahlah, jika kalian berada di posisi itu apa akan tertawa atau biasa saja melihat kelakuan Amira. Bahkan yang lebih parahnya Amira meninggalkan dua laki-laki sekaligus.


Tanpa peduli mau mereka berantem, adu jotos dan semacamnya.


Amira terlalu santai, apapun dia akan selalu anggap santai. Karena bagi Amira hidup itu untuk di jalani bukan di ratapi.


"Aku gak bisa membayangkan, bagaimana kesalnya Moreo. Yang ujung-ujungnya dia di tinggalkan!"


"Gadismu memang aneh!"


"Itulah dia, yang apa adanya!"


Balas Alam santai, ah .. kenapa bisa Alam jatuh cinta pada gadis semacam itu.


Sungguh cinta memang tak pernah memandang siapa orangnya. Karena cinta menurut Pak Ridwan Kamil, seorang gubernur Jawa barat.


Cinta itu bukan kata sipat


Tapi, Cinta itu kata kerja


Cinta itu kata kerja yang harus di kerjakan.


Tifani merasa heran mendengar gelak tawa dari ruangan bosnya. Apalagi karena memang pintu ruangan Alam terbuka. Entah apa yang membuat Alam dan Dom tertawa membuat Tifani penasaran. Karena baru kali ini Tifani mendengar Alam tertawa seperti itu. Seolah tawa itu suatu keajaiban yang nyata. Namun, sialnya Tifani tak bisa mendekat ke ruang Alam. Karena di depan pintu ruang Alam terdapat cctv. Jika dia mengintip di sana maka dia akan ketahuan.


"Dom carilah pasangan, jangan menyendiri terus!"


Ujar Alam tiba-tiba sambil menghentikan tawanya. Kini wajah Alam berubah serius.


"Aku tahu masih ada dia di hatimu. Tapi mau sampai kapan kamu akan sendiri. Aku yakin, Mona juga menginginkan kamu bahagia!"


Ucap Alam lagi cepat ketika Dom akan protes.


"Aku sudah berjanji, akan menemukan orang tua Mona dulu dan adiknya. Karena diriku keluarga mereka kehilangan harapannya!"


Lilir Dom, entah harus bagaimana mana. Sudah lama Dom mencari keberadaan ibu dan adik dari kekasihnya. Ini sudah enam tahun masa pencarian. Namun, Dom belum menemukan di mana mereka berada. Entah masih ada atau bagaimana. Dan, sialnya Dom juga tak terlalu dekat dengan adik Mona karena Mona juga jarang pulang. Apalagi memang waktu itu Mona bisa kuliah karena dapat beasiswa. Sambil bekerja, dan uang gajih nya akan Mona kirim pada ibunya.


Dulu Dom sering sekali meminta Mona pulang karena Dom ingin mengenal keluarga mereka. Namun, Mona entah kenapa selalu saja menolak dan tak mau mempertemukan dirinya dan ibu nya.


Hingga sampai saat ini Dom benar-benar tak tahu keberadaan mereka di mana. Dom hanya minta maaf karena dirinya Mona meninggal.


"Jika kamu sudah menemukan mereka, apa yang akan kamu lakukan?"

__ADS_1


"Minta maaf, dan dan menjaga mereka. Karena terakhir sempat aku dengar, ibunya sakit parah dan adiknya masih sekolah!"


Alam tersenyum tipis mendengar jawaban Dom.


"Berjanjilah, kamu akan menjaga mereka!"


Ucap Alam sambil memberikan sebuah map coklat pada Dom. Dom awalnya hanya mengerutkan kedua alisnya bingung. Namun, ketika Alam membuka map coklat itu. Seketika mata Dom membulat sempurna.


"Me-mereka!"


Lilir Dom gemetar melihat Poto kekasihnya bersama seorang ibu dan gadis berseragam smp. Bisa Dom tebak, jika wanita itu ibu Mona dan gadis di sebelahnya lagi adiknya.


Dom menatap tak percaya pada Poto dan data-data yang Dom pegang. Dom menatap Alam seolah meminta penjelasan. Bagaimana mungkin Alam mendapatkan ini semua. Dan, baru memberi tahunya.


"Sejak kapan?"


"Satu tahun lalu!"


"Bagaimana bisa!"


Cetus Dom tak percaya sahabatnya menyembunyikan semuanya darinya. Satu tahun, sudah sangat lama dan sahabatnya baru memberi tahu sekarang.


"Gadis itu selalu bersembunyi, dia tak bisa berekspresi bebas. Dia selalu menghindar dari orang-orang yang mengucilkannya!"


"Bagaimana dengan ibunya?"


"Dia aman, walau aku tak tahu sampai kapan ibunya bertahan dengan kanker yang beliau derita!"


Tangan Dom mengepal erat mendengar penjelasan dari Alam. Bagaimana bisa dia membiarkan ibu kekasihnya menderita seperti itu. Yang paling menyakitkan, semenjak Mona meninggal ibunya tak biasa melakukan pengobatan lagi karena tak ada uang. Apalagi adiknya masih sekolah SMP. Walaupun ada sisa uang, uang itu di pergunakan ibunya untuk biaya adik Mona sampai lulus SMA.


Sungguh miris bukan, karena menyelamatkan nyawanya Mona meninggalkan dua nyawa yang membutuhkan dirinya. Dan sialnya Dom tak bisa membantu karena waktu itu Dom belum punya apa-apa karena semua harta warisan yang dia miliki di rampas oleh pamannya sendiri.


"Dimana adiknya berada?"


Bukannya menjawab Alam malah tersenyum tipis.


Bersambung ...


Jangan lupa, Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_1


__ADS_2