
Tatapan kerinduan terpancar jelas di mata Amira. Tangannya mengepal erat dengan mata yang mulai memerah. Dadanya terasa sesak dan sakit melihat Alam yang berbaring lemah di atas brankar.
Mata yang selalu memandangnya penuh cinta kini tertutup. Mulut yang selalu mengeluarkan kata-kata manis kini tertutup. Tangan yang selalu menariknya kedalam kenyamanan kini terlentang kaku tak berdaya. Bahkan selang infus menancap di punggung tangannya tak membuat Alam kesakitan.
Dengan susah payah Amira berusaha bangkit dari kursi roda.
Bibir Amira mulai gemetar, berjalan perlahan mendekati sang kekasih. Kerinduan yang membuncah kini terobati walau tak terbalaskan.
"Dear!"
Lilir Amira menggenggam tangan Alam yang tak bisa membalas genggamannya.
Berkali-kali Amira mencium punggung tangan Alam dengan Isak tangis yang mulai keluar. Sendari tadi Amira menahannya karena masih ada kedua orang tuanya.Tapi, kini hanya Amira seorang diri di dalam.
"Sejak kapan?"
Isak Amira tertahan, dadanya terasa sesak. Sejak kapan Alam mempunyai penyakit yang sangat mematikan.
Baru saja Amira mendapat restu, Amira tak ingin Alam pergi dari sisinya. Alam sudah berjanji akan memperjuangkannya. Dan, kini perjuangannya telah usai namun kenapa Alam harus berbaring seperti ini.
"Bangun Dear, apa kamu tak merindukan aku!"
Amira menggigit bibir bawahnya merasa tak sanggup melihat Alam yang hanya diam tak merespon segala ucapannya.
Amira mendekat memeluk Alam, namun lagi-lagi tak ada balasan dari Alam. Alam hanya diam saja bak mayat hidup.
Hanya suara monitor saja yang seolah menjawab ucapan Amira.
Suasana kembali hening, ketika Amira sudah lelah menangis.
Bukan waktunya Amira terus menangisi keadaan Alam. Amira harus bangkit, harus kuat demi Alam. Apapun akan Amira lakukan supaya Alam bangun dari tidur panjangnya.
Amira tak akan membiarkan Alam terlalu lama tertidur tanpa mengajaknya. Alam harus mengajaknya jika ia ingin tidur. Alam harus bangun, untuk menunaikan janjinya.
Amira bukan orang yang mudah larut dalam kesedihan. Amira kuat, Amira yakin Alam pasti bangun akan panggilannya.
"Dear!"
Bisik Amira gemetar di telinga Alam. Berkali-kali Amira menahan nafas agar tak menangis lagi.
"Aku mencintaimu!"
"Apa kamu mendengar aku, bangunlah ..,"
"Jangan siksa aku seperti ini, aku tak sanggup!"
"Tolong, bangun. Jangan buat aku takut!"
Bisik Amira membekam mulutnya, bahkan Amira sampai mengigit tangannya agar tangisannya tidak pecah.
__ADS_1
Sungguh, Amira tak sekuat itu untuk tetap tegar. Amira lemah, bagaimana bisa Amira kuat jika kekuatannya berbaring tak berdaya.
Saking sesaknya tanpa Amira sadari ia melukai tangannya sendiri. Menahan tangis supaya tak keluar membuat Amira sampai mengigit tangannya hingga berdarah.
Amira menjatuhkan dirinya ke lantai karena tak sanggup terus berpura-pura kuat.
Bangun ... bangun ... bangun Dear. Jangan buat aku marah, tolong bangun!!!"
Jerit batin Amira, karena sudah tak sanggup lagi mengucap. Bahkan Amira sampai memukul-mukul dadanya kuat berharap rasa sesak itu hilang.
Namun, bukannya menghilang rasa sesak itu semakin menjadi. Hingga membuat Amira sulit untuk bernafas.
"Dear!"
Panggil Amira rasanya tak cukup kuat untuk menahan kesadarannya.
Bruk ...
Amira tak sadarkan diri tepat di bawah brankar Alam.
.
Ini sudah dua jam lamanya Amira berada di dalam. Namun, belum ada tanda-tanda Amira keluar. Melati merasa gelisah dengan keadaan putrinya. Apalagi Amira baru sembuh. Karena tak mau terjadi apa-apa dengan Amira Melati memutuskan menyusul saja.
"Sayang mau kemana?"
Cegah Jek ketika istrinya tiba-tiba beranjak membuat semua orang langsung menoleh.
Cemas Melati tak bisa menyembunyikan kecemasannya lagi. Semua orang langsung berdiri. Di sini juga pasti Amira sangat sangat terpukul akan keadaan Alam.
"Kita masuk!"
Ucap Dinda cepat memotong Jek yang akan bicara lagi. Melati mengangguk lalu menerobos masuk ke dalam.
Deg ...
Melati membulatkan kedua matanya melihat putrinya tergeletak di bawah brankar Alam.
"Amira!!"
Pekik semuanya tak sadar sudah membuat keributan di ruangan Alam.
Jek langsung berlari menggendong sang putri lalu menidurkannya di shopa. Karena tidak mungkin bagi Jek membawanya ke ruang lain. Karena lantai ini khusus ruang VIP doang.
Fandi berlari memanggil dokter, keributan yang mereka lakukan tanpa sadar mengabaikan keadaan Alam. Mereka terlalu fokus akan keadaan Amira tanpa melihat keadaan Alam.
Tanpa mereka sadari, keributan yang mereka ciptakan mampu terdengar oleh Alam di bawah alam sadarnya. Bahkan tanpa mereka sadari Alam mengeluarkan air mata walau mata itu masih terpejam. Seolah Alam mendengar jelas apa yang terjadi pada kekasihnya. Namun, Alam tak cukup kuat untuk bangun dan berkata jangan sedih.
Matanya terlalu rapat untuk sekedar membuka. Tangannya terlalu kamu untuk sekedar bergerak. Mulutnya terkunci untuk sekedar di buka.
__ADS_1
Sulit bagi Alam untuk bangun, seolah Alam terlalu lama terbelenggu di ruang kesakitannya. Hingga Alam memilih menyerah, namun mendengar suara Amira memanggil-manggil namanya membuat Alam seolah tersadar dari rasa sakitnya bahwa masih ada wanita yang harus Alam perjuangkan.
"Bagaimana keadaannya dok?"
Tanya Melati ketika dokter Raftha baru selesai memeriksa Amira.
"Pasien shok akibat keadaan ini, di tambah memang tubuhnya belum cukup kuat mengalami hal-hal berat sehingga pasien melampiaskannya dengan menggigit tangannya sendiri. Hal ini jangan sampai berlanjut, karena takut berakibat patal untuk mentalnya sendiri. Bisa jadi pasien bisa melukai dirinya sendiri lebih dari ini!"
Semua orang terdiam mendengar penjelasan dokter. Mereka semua menahan nafas ketika mendengar bagaimana keadaan Amira. Sungguh, mereka merasa bersalah atas apa yang menimpa Amira. Andai saja mereka tak menentang keadaan Amira pasti baik-baik saja. Amira tak akan mengalami hal semacam ini.
Orang tua macam apa mereka, kenapa bisa membiarkan anaknya seperti ini.
"Dan satu lagi, maaf jika saya lancang. Seperti pasien mengalami gangguan kecemasan berlebih akibat sering mengalami tekanan batin dan pisiknya. Pasien tak bisa menerima terlalu berat sesuatu yang pasien tak sukai!"
Bruk ...
Melati hampir saja terjatuh jika tak ada Jek yang menahan bobot badannya. Melati tak bisa bicara-bicara lagi. Sungguh, pakta ini sangat mengejutkan baginya.
Bagaimana mungkin keadaan putrinya bisa separah ini. Dan mereka sebagai orang tua tak tahu apa-apa tentang Amira.
Kenapa dokter Raftha bicara seperti ini, bukankah beberapa hari lalu Amira sempat pingsan namun dokter yang memeriksa Amira tak berkata mengenai ini.
"Nak!"
Lilir Melati memegang tangan putrinya yang lemah.
Dokter Raftha terdiam bingung harus menjelaskan apa lagi. Melihat situasi yang tak baik membuat dokter Raftha memilih menyudahi saja penjelasannya. Dokter Raftha tak mau keadaan ini malah menggangu pasien lain.
Dokter Raftha memilih berjalan ke arah brankar Alam karena dokter Raftha melihat ada sesuatu yang aneh.
"Ada ikatan apa antara pasien Alam dan pasien Amira?"
Tanya dokter Raftha membuat Dinda dan Fandi langsung menghampiri dokter Raftha. Jek dan Melati melihat saja tanpa mau beranjak dari sisi Amira.
"Ada apa dok, apa ada sesuatu yang terjadi?"
Bukannya menjawab Dinda malah balik bertanya karena rasa paniknya takut terjadi sesuatu juga pada keadaan putranya.
"Pasien menangis!"
Duarr ..
Dinda membulatkan kedua matanya dengan Fandi yang sigap menahan tubuh sang istri agar tak jatuh.
"Seperti nya ada ikatan kuat antara pasien Alam dan pasien Amira. Terbukti pasien Amira berhasil menarik pasien Alam dari alam bawah sadarnya. Mungkin, tangisan ini bisa tangisan kerinduan atau tangisan rasa sakit!"
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih
__ADS_1
.