Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 67 Amira, harta yang berharga.


__ADS_3

"Tidak, saya tak terima!"


Bentak pak Broto tak terima jika Jek membatalkan perjodohan itu.


Bagaimana mungkin, perjodohan yang sudah di lakukan sejak lama tiba-tiba Jek datang dan membatalkannya.


Pak Broto tak terima, ia seolah sedang di permainkan oleh keluarga Prayoga. Apalagi pak Broto tahu cucunya sangat mencintai Amira. Bahkan pak Broto hampir gila melihat setiap hari kelakuan Moreo yang tak terkendali.


"Bukankah perjodohan ini dulu ayah saya dan anda yang menyepakati!"


"Tapi, anda juga menyetujuinya, ingat itu!"


"Ya, saya akui saya dulu menyetujuinya karena saya pikir Putri saya mencintai cucu anda. Tapi, kini saya tahu, bahwa cucu anda bukan pemilik hati putri saya!"


"Tidak bisa seperti itu, kalian mempermainkan saya dan cucu saya!"


"Sekali lagi saya minta maaf, keputusan saya sudah bulat!"


"Anda tahu konsekwensinya pak Jek, jika Anda membatalkan perjodohan ini!"


Ancam pak Broto tersenyum seringai. Jek langsung menghentikan langkahnya mendengar ancaman pak Broto. Sudah Jek duga, pasti ada niat terselebung dari pak Broto dulu melakukan perjodohan itu.


Jek berbalik, sambil tersenyum tenang. Bagi Jek sekarang kebahagiaan putrinya adalah prioritas utama.


"Saya tahu, dan anda tak perlu mengingatkan itu. Asisten saya yang akan mengurusnya!"


Ucap Jek langsung pergi dari ruangan pak Broto. Jek mengepalkan kedua tangannya erat dengan rahang mengeras.


Ini sudah keputusan dia, bagi Jek ini yang terbaik.


"Maafkan Jek, Yah. Tak bisa mempertahankan perusahaan yang sudah ayah bangun. Jek tak berdaya,"


Gumam Jek memejamkan kedua matanya. Jek harus merelakan perusahaan yang dulu di bangun oleh sang ayah jatuh ke tangan orang lain. Itu semua karena kesalahan dirinya yang tak bisa mengurus perusahaan.


Walaupun Jek harus kehilangan semuanya, hati Jek sedikit terasa tenang. Setidaknya beban yang dia emban sedikit berkurang.


Jek janji akan membangun kembali apa yang sang ayah bangun. Tapi, jika Jek kehilangan Amira makan Jek tak bisa menggantikannya dengan yang lain.


"Sial sial!!!!!"


Bentak pak Broto mengepalkan kedua tangannya erat. Bagaimana bisa jadi seperti ini. Jika perjodohan itu batal, maka rencana yang sudah lama ia susun akan berantakan. Ini tak bisa di biarin, perjodohan ini harus tetap terjadi bagaimana pun caranya.


Sungguh pikiran picik apa yang sedang pak Broto rencanakan. Hanya ia dan Tuhan yang tahu.


Seperti nya pak Broto harus menyuruh Moreo terus mendekati Amira. Mereka harus menikah, karena hanya Amira jalan satu-satunya yang bisa membuat keinginannya tercapai.


.


Sesudah urusannya dengan pak Broto, Jek langsung pulang. Jek ingin segera memberikan kabar ini pada sang istri. Jek bersyukur, di dalam keadaan seperti ini sang istri terus mendukungnya. Bahkan sang istri tak takut tak punya apa-apa lagi.


Satu beban Jek berkurang, walau Jek harus mengemban beban lain lagi. Jek tak akan membiarkan perusahaan yang sendari dulu sang ayah bangun jatuh ke tangan orang yang salah. Jek baru menyadari ini semua. Kenapa dulu Jek bisa bodoh seperti ini.


Apapun akan Jek lakukan demi mempertahankannya. Jek tak akan menyerah begitu saja.


Sekarang, Jek tak sabar bertemu istri dan anaknya.


Jek langsung memarkirkan mobilnya di parkiran ruang bawah tanah. Jek mengerutkan kening ketika mendengar suara isakan di dalam kamarnya.

__ADS_1


Dengan cepat Jek berlari masuk kedalam kamar takut terjadi sesuatu pada sang istri.


"Sayang!"


Panggil Jek dengan nafas memburu, Jek terpaku melihat sang istri menangis.


Melati langsung bangkit dan berhambur kedalam pelukan sang suami. Tangisan Melati semakin kencang membuat Jek cemas takut ada sesuatu yang terjadi.


"Sayang kenapa, apa ada sesuatu yang terjadi?"


Melati menggeleng kuat membuat Jek semakin di buat kebingungan. Jika tak ada sesuatu yang terjadi, kenapa sang istri malah menangis.


"Terus kenapa, Hm!"


"Putri kita Honey, putri kita sudah mau makan. Dia, dia bicara padaku. Dia memanggilku mama!"


Isak Melati membuat Jek terenyuh. Jadi ini yang membuat sang istri menangis. Jek pikir ada apa, namun, tanpa Jek sadari dia juga ikut menangis.


Jek sekarang semakin yakin dengan keputusannya. Yang terpenting putri mereka kembali.


Entah harus bahagia atau sedih, bagi Jek ini sebuah kebahagiaan yang tak ternilai.


"Aku ingin melihatnya!"


Ucap Jek, melerai pelukan sang istri. Melati hanya mengangguk saja.


Jek segera bergegas menuju lantai atas Jek ingin melihat putrinya.


Cklek ...


Perlahan Jek membuka pintu kamar Amira di lihatnya Amira ternyata sedang tidur siang.


"Maafkan ayah nak, ayah belum bisa jadi ayah yang baik buat kamu. Ayah terlalu egois,"


"Sekarang ayah sadar, bahwa kebahagiaan kamu nomor satu. Cepat sembuh dan raih kebahagiaan kamu. Kini ayah dan mama tak akan menghalanginya lagi!"


Gumam Jek sambil mengelus kepala Amira dengan penuh kasih sayang.


Tes ...


Setetes air mata jatuh membasahi pipi Jek. Dengan cepat Jek menghapusnya. Kenapa sekarang Jek terlihat lemah.


Jek sadar, selama ini dia selalu memaksa kehendak dirinya. Tanpa bertanya terlebih dahulu apa Amira senang atau tidak.


Melihat Amira seperti ini membuat Jek hancur, sehancur hancurnya. Jek belum bisa jadi anak yang baik dan Jek juga belum bisa jadi ayah yang baik untuk Amira. Putri satu-satunya yang sudah Jek sakiti.


Harusnya Jek jadi pelindung Amira, namun Jek malah menjadi penghancur hati Amira.


Sungguh, Ayah macam apa Jek ini, bagaimana bisa Jek menyakiti Amira sedemikian rupa.


"Tersenyum lah kembali sayang, ayah merindukan itu!"


Cup ...


Jek mengecup puncak kepala Amira, tanpa Jek sadari air matanya menetes tepat di mata Amira.


Amira yang sedang tertidur merasa tak nyaman ketika matanya terasa dingin.

__ADS_1


Perlahan Amira membuka kedua matanya.


"Ayah!"


Panggil Amira lemah, membuat Jek diam mematung.


Jek tak salah dengar kan, putrinya memanggil dia. Rasanya Jek seakan mimpi, namun, nyata ketika Amira menahan tangannya.


"Ayah!"


Jatuh sudah air mata Jek ketika Amira memanggil dirinya untuk kedua kalinya. Ini nyata, dan Jek merasakan itu.


"Sayang!"


Lilir Jek berbalik menghadap Amira yang tersenyum tipis.


Jek kembali duduk sambil menggenggam tangan Amira. Lalu Jek menciumnya dengan rasa bahagia yang membuncah.


"Ayah nangis?"


"Tidak sayang, ayah tidak nangis hiks ..,"


Elak Jek namun, ucapan dan matanya bertolak belakang.


Amira hanya tersenyum tipis saja terlalu lemah untuk sekedar tertawa.


"Kangen!"


Ucap Amira lemah menarik tangan sang ayah lalu menciumnya.


"Rara pengen tidur lagi!"


"Ya sudah, tidur!"


Ucap Jek sambil menyelimuti Amira kembali. Namun, Amira malah menggeleng membuat Jek bingung.


"Pengen tidur di peluk ayah sama mama!"


Pinta Amira penuh permohonan, membuat Jek tersenyum cerah. Putri manjanya telah kembali.


"Dengan senang hati tuan putri!"


"Ayah mau manggil mama dulu,"


"Tidak usaha!"


Ucap Melati tiba-tiba masuk, Melati sendari tadi memang sudah ada di ambang pintu melihat interaksi antara suami dan anaknya yang sudah baikan.


"Mama di sini sayang,"


Ucap Melati merangkak naik keatas ranjang Amira yang besar. Begitupun dengan Jek. Amira di himpit oleh Jek dan Melati bak anak kecil.


"Kami sudah di sini, ayo istirahat lagi, biar cepat sembuh!"


"Terimakasih ayah, mama!"


Lilir Amira sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2