Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 14 Hati Amira


__ADS_3

Amira menatap langit-langit kamarnya. Ini sudah empat tahun membuat semuanya berubah.


Amira memandang bingkai Poto yang terpasang di dinding kamar nya. Dimana Poto dirinya waktu SMA.


Ada Bunga Dan Shofi yang sedang tersenyum menghadap kamera dengan dirinya sendiri berada di tengah-tengah antara kedua temannya.


Entah bagaimana kabar sahabat Amira yang satu itu. Amira tidak tahu, kemana Shofi pergi karena Shofi tak pernah memberi tahu kemana dia pergi.


Rasanya Amira kangen masa-masa Sma mereka yang begitu penuh warna.


Tapi, seperti nya empat tahun ini begitu banyak merubah semuanya. Bahkan sampai saat ini belum ada kabar dari Shofi. Apakah Shofi memang benar-benar melupakan mereka atau bagaimana.


Ini sudah empat tahun, bahkan Shofi seakan tak peduli lagi pada Fatih.


Bahkan, pesan empat tahun lalu darinya belum Shofi balas juga.


Apa Shofi sesibuk itu hingga dia melupakan Amira.


"Kamu di mana, ini sudah empat tahun loh. Bahkan kamu tak pernah satu kali pun berkunjung!"


Monolog Amira mengelus Poto Shofi, sahabat yang belum lama ia kenal namun mampu merubah semua warna di hidupnya.


Banyak kisah yang telah Shofi lewatkan bersama mereka bahkan Bunga sudah mempunyai seorang putri yang sangat cantik.


Teringat Fatih, membuat Amira jadi memikirkan Shofi. Bagaimana kisah mereka selanjutnya. Sedang salah satu di antara mereka sedang lupa akan hatinya.


"Perjuangkan selagi kamu mampu, dan bisa menahan setiap kekecewaan yang ada. Jika kamu merasa lelah, beristirahat lah sejenak. Jangan paksa hatimu terus terluka. Karena takut, kamu lupa akan kata bangkit!"


Amira masih teringat akan kata yang pernah Shofi ucapkan ketika mereka camping di Kampoeng Awan.


Shofi seakan orang yang selalu memahami tanpa bicara. Padahal Amira tahu, ia tak pernah cerita sedikitpun tentang hatinya bahkan pada Bunga sekalipun. Namun, setiap kata yang Shofi ucapkan seakan menjadi kekuatan tersendiri bagi Amira.


"Jika suatu saat nanti kita bertemu, lihatlah aku akan menghukum mu!"


Gumam Amira sambil tersenyum menatap Poto tersebut.


Amira meletakan kembali Poto tersebut di tempat semula.


Hari ini begitu melelahkan bagi Amira, apalagi Amira harus berurusan dengan nenek lampir. Sepertinya Amira butuh istirahat untuk mengistirahatkan hati, pikiran dan tubuhnya. Karena Amira tidak tahu, suasana besok seperti apa.


Tapi, yang pasti Amira tak akan membiarkan Vina dan Andri sampai di keluarkan dari kantor.


Tanpa Amira sadari, kejadian kemaren menjadi trending topik di seluruh karyawan.


Ada yang memuji-muji Amira karena keberaniannya melawan Tifani. Ada juga yang sinis karena aksi Amira malah menjadi buah bibir karyawan laki-laki.


Amira belum tahu itu, padahal beritanya sudah tersebar luas bahkan sampai terdengar ke telinga Alam.


Dengan santai Amira berjalan memasuki kantor. Banyak para karyawan tersenyum ramah dan meminta berkenalan. Padahal awal Amira masuk mereka pada cuek bebek.


Tapi, sekarang begitu ramah menyapa dirinya.


Karena tak mau ambil pusing Amira masa bodo saja. Toh, dia merasa tidak melakukan kesalahan ataupun melakukan hal yang di banggakan.


"Ra, thank you so much!"

__ADS_1


Girang Vina memeluk Amira yang baru datang. Bahkan sampai Amira terkejut.


"Aku gak di pecat, aku gak di pecat. Aku seneng banget!"


Girang Vina berjingkrak-jingkrak sambil sesekali memeluk Amira kembali.


"Bahkan tadi bis kesini bersama nenek lampir itu, meminta maaf pada aku dan Andri!"


Vina kegirangan benar-benar senang karena dia tak di pecat.


Amira ikut senang mendengarnya, melihat Vina bahagia saja sudah cukup bagi Amira.


"Nanti istirahat aku traktir makan!"


Karena saking senangnya Vina terus saja memeluk Amira hingga sampai Amira lupa kalau dia harus segera mengantar teh untuk Alam.


Sedangkan Andri hanya diam saja tak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena tak mungkin bagi Andri memeluk Amira juga seperti yang Vina lakukan.


"Ra, bukankah kamu harus segera mengantar teh ke ruang bos!"


"Oh, ya ampun!!!"


Pekik Amira terkejut sampai melepaskan pelukan Vina.


"Kenapa gak ingetin aku!"


Kesal Amira pada dirinya sendiri kenapa bisa sampai lupa. Dengan cepat Amira mempersiapkan nya.


Sudah selesai, Amira bergegas menuju ruang Alam.


Amira benar-benar merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisa dirinya benar-benar kena marah oleh omnya.


Tifani menatap tajam office girl di hadapannya yang begitu lancang menatap dirinya tajam. Bahkan kemaren sampai mempermalukan dirinya. Yang lebih parahnya lagi Alam malah memarahi dirinya bukan Amira.


"Mau apa?"


"Mau membalas, gak takut tuh!"


Cetus Amira sambil menatap keatas di mana ada cctv di sana. Tifani hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat. Tifani seperti nya harus sabar membalaskan dendam ya. Bisa-bisa malah dia benar-benar di kirim ke kantor lain.


"Minggir!"


Ketus Amira sedikit menyenggol bahu Tifani membuat Tifani benar-benar muak. Sepertinya Tifani tak bisa semena-mena lagi karena sekarang ada yang melawannya.


Amira langsung masuk saja ketika Alam sudah mengizinkannya.


Seperti biasa Amira akan meletakan secangkir teh di tempat biasa.


"Kamu tahu apa kesalahan mu!"


Ketus Alam menatap tajam Amira yang selalu saja memasang wajah tenang nan datar.


"Apa om akan menghukum Rara!"


Ucap Amira memelas bahkan memasang wajah menyedihkan.

__ADS_1


"Jaga sikap mu Amira, ini kantor!"


Kesal Alam karena seperti nya Amira sengaja selalu saja memancing amarahnya.


"Om itu kenapa sih, selalu saja marah-marah. Apa gak kangen sama Rara!"


Krek ...


Alam menggertakkan gigi-giginya kesal karena Amira benar-benar tak menghiraukan peringatannya.


"Keluar!"


"Om mengusir Rara!"


Alam memejamkan kedua matanya, benar-benar habis kesabarannya. Melihat Amira bertingkah seperti kantornya sendiri. Bahkan dengan santai nya Amira malah duduk manis di sopa.


"Jangan buat saya marah Amira!"


"Ini kantor, cepat keluar!"


Usir Alam, kenapa sekarang jadi malah Alam yang merasa ketakutan ketahuan oleh orang lain.


Karena kesal Alam menarik lengan Amira kasar.


Deg ...


Alam terdiam ketika Amira malah memeluknya erat. Bahkan Amira menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alam.


Tak lama suara tangisan terdengar. Ya, Amira menangis di pelukan Alam.


"Kenapa om jahat sekali hiks ..,"


"Empat tahun Rara mencoba melupakan om, seperti yang om minta. Tapi tak bisa, ini sulit hiks ...,"


Amira mengeluarkan unek-unek yang selama ini ia pendam. Bahkan itu hanya sebagian hal kecil yang Amira ucapkan.


"Hati Amira sakit om, dada Amira sesak. Kenapa om selalu memaksa Rara membenci om. Rara gak bisa, sampai kapanpun gak bisa hiks ...,"


Alam hanya diam saja mendengar keluh kesah Amira. Dia gadis ceria namun hatinya sudah benar-benar rapuh.


Alam hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat. Harus bagaimana Alam bicara lagi, kalau mereka tak bisa bersama.


"Rara mencintai om, yang Rara inginkan om bukan Moreo,"


Lilir Amira menengadahkan kepalanya guna menatap wajah omnya sekaligus orang yang Amira cintai.


Bahkan tatapan itu begitu penuh kesakitan, kerinduan dan cinta yang begitu besar.


"Apa om tahu, kemaren ayah mengajak Rara ke perusahaan F.B grup. Ayah memperkenalkan Rara pada rekan-rekan bisnisnya. Tapi apa om tahu!"


Amira kembali mengeluarkan air matanya, bahkan air mata itu seperti kesakitan yang tak bisa Amira tahan lagi.


"Kakek Moreo ingin menjodohkan Moreo sama Rara!"


Deg ...

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2