
Entah ada apa dengan Alam kenapa Alam bisa marah-marah bahkan Dom pun tak tahu kenapa bosnya itu seperti itu.
Alam marah-marah ketika dia baru pulang dari pertemuan. Dom juga tidak tahu bos nya itu bertemu dengan siapa karen Dom tidak ikut.
Pikiran Alam sungguh sangat kacau dan butuh ketenangan. Dan satu-satunya orang yang bisa membuat Alam tenang hanya sang mama.
Seperti nya Alam hari ini harus pulang cepat. Agar otak cerdasnya tidak terlalu pusing.
.
Amira berjalan tanpa arah, setelah perdebatan sengit dengan Moreo membuat Amira benar-benar kacau.
Apa yang sudah ia putuskan benar atau tidak. Yang Amira tahu, ini lebih baik dari pada harus di teruskan.
Amira tak mau membohongi dirinya sendiri terutama harus menyakiti Moreo terlalu dalam lagi.
Amira tak bisa lakukan itu, ini sangat menyakitkan.
Kenapa rasa itu masih sama. Ini sudah empat tahun namun nama itu belum bisa tergantikan.
Jika begini Amira harus apa, bahkan Amira sendiri tidak tahu.
Namun, Amira sudah tekad, dia akan berjuang demi cintanya. Amira sudah memutuskan dan ia sudah berjalan maka pantang bagi Amira untuk mundur.
Amira meremas dadanya kuat rasa itu begitu menyesakan. Bahkan sangat sakit, kenapa?
Kenapa?
Hanya dia yang merasakan rasa sakit itu. Kenapa bukan orang lain.
Amira terus berjalan tanpa arah tujuan dengan pandangan kosong. Hatinya terlalu sakit dan sesak.
Tid ...
Brak ...
"Oh ya ampun dad, kita menabrak seseorang!"
Pekik Dinda terkejut sambil menatap suaminya.
"Daddy akan melihatnya keluar, kamu tetap di sini!"
Ucap Fandi pada istrinya yang panik bahkan Fandi juga sedikit panik karena orang itu menyebrang jalan tiba-tiba sambil menunduk.
Bukannya diam, Dinda malah ikut keluar mengikuti sang suami guna melihat keadaan yang sebenarnya nya.
Fandi menerobos masuk kerumunan guna melihat apa orang yang ia tabrak baik-baik saja atau tidak.
"Kamu tidak apa Dhe?"
Tanya salah satu bapak-bapak yang membantu Amira berdiri.
"Tidak apa-apa pak, saya hanya terkejut saja!"
Balas Amira ramah, dia memang tidak apa-apa. Amira terjatuh bukan karena tertabrak melainkan karena terkejut oleh suara klakson mobil hingga Amira menjatuhkan diri.
"Syukurlah!"
"Permisi, nak saya minta maa--"
Deg ...
Fandi terdiam tak bisa melanjutkan ucapannya ketika tahu siapa orang yang hampir ia tabrak.
"Kakek, Nenek!"
Ucap Amira melihat Fandi dan Dinda membuat orang-orang mengerutkan kening bingung. Pasalnya mereka ingin memarahi si pengendara, karena Amira memanggilnya Kakek membuat orang-orang tak jadi memarahi malah mereka pada bubar.
"Oh ya ampun sayang, kamu baik-baik saja?"
Pekik Dinda terkejut ketika mengetahui cucunya sendiri yang hampir Fandi tabrak.
"Kita masuk mobil ya!"
__ADS_1
Amira mengangguk saja karena kepalanya teras pusing.
Di sepanjang jalan Amira hanya diam saja tidak banyak bicara bahkan terlihat murung membuat Dinda dan Fandi bingung ada apa yang sebenarnya terjadi pada Amira kenapa terdiam.
"Sayang, kamu kenapa, apa ada yang sakit?"
"Maafkan kakek ya, kakek gak sengaja,"
Amira tetap diam saja dengan tatapan kosongnya. Seolah Amira sedang memikirkan sesuatu.
"Sayang, kamu sakit?"
"Nek,"
"Iya, ada apa?"
"Bolehkah Rara tidur di pundak nenek?"
"Silahkan sayang!"
Amira menyandarkan kepalanya di pundak Dinda. Amira merasa lelah dengan semuanya, biarkan Amira istirahat sejenak.
"Kenapa di sini sakit nek!"
Lilir Amira meremas dadanya kuat. Dinda hanya diam saja tak tahu harus menanggapi apa.
"Kenapa sakit mencintai namun tak dapat balasan hiks ..,"
Dinda tertegun mendengar lilir an Amira. Bahkan gadis ini sampai menangis walau sudah tidur.
Dinda menatap suaminya begitupun Fandi.
"Seperti Amira butuh tempat nyaman!"
"Apa gak sebaiknya kita anterin dia pulang saja!"
"Tidak dad, gak mungkin kita membawa Amira dalam keadaan seperti ini. Nanti Melati pasti bertanya ada apa dengan Amira. Kita kan tidak tahu permasalahan apa yang anak ini alami. Seperti Amira sedang patah hati!"
"Terus, kita harus gimana?"
Fandi hanya pasrah saja menurut apa kata istri.
Mereka memutuskan membawa Amira ke rumahnya. Apalagi mereka juga kangen dengan Amira.
Sesudah sampai memasuki pekarangan rumah kini Dinda tak tega membangunkan. Amira. Apalagi Amira tertidur sambil menangis.
Mau tak mau Fandi yang harus menggendong Amira. Karena memang di rumah tak ada siapa-siapa.
Dengan susah payah Fandi menggendong Amira walau pinggangnya terasa sakit. Dengan hati-hati Amira di baringkan di ranjang kamar tamu.
Dinda menyelimuti tubuh Amira dengan penuh kasih sayang.
"Apa dia sedang patah hati?"
"Mungkin, tapi sepertinya lebih dari itu!"
Ucap Dinda yang melihat keadaan Amira yang terlihat menahan rasa sakit. Bahkan dalam tidurnya nya pun nafasnya tak teratur.
"Mama ... Mama!!!"
Dinda dan Fandi terkejut mendengar teriakan Alam. Dengan cepat Dinda keluar takut Amira terbangun.
"Mama ...,"
"Ada apa?"
Ketus Dinda membuat Alam langsung berbalik melihat sang mama keluar dari kamar tamu.
"Ma--"
"Jangan berisik, nanti Amira bangun!"
Deg ...
__ADS_1
Alam terkejut mendengar nama Amira, namun Alam sebisa mungkin tak menunjukan keterkejutan apapun.
"Kangen mama!"
Ucap Alam manja memeluk Dinda. Dinda hanya tersenyum saja sambil membalas pelukan Alam. Dinda tahu, jika Alam bersikap seperti ini pasti ada sesuatu yang terjadi apalagi sampai pulang lebih awal.
"Kenapa, apa ada sesuatu yang terjadi?"
Tanya Dinda membuat Alam mengangguk lemah.
"Katakan,"
"Lepas, jangan peluk-peluk istriku!"
Ucap Fandi tiba-tiba menarik sang istri ke sampingnya. Alam mendengus kesal karena sang Daddy selalu saja begitu.
"Dad, dia mama ku!"
"Tapi dia istri ku, jangan peluk-peluk!"
Sengit Fandi menatap tajam putranya. Dinda hanya tersenyum saja melihat tingkah sang suami yang cemburunya minta ampun padahal sama anak sendiri.
"Dia mamaku, aku berhak dad!"
"No, makannya cari istri biar dapat pelukan!"
Alam mendengus kesal dengan tingkah sang Daddy yang selalu posesif.
"Mama ..,"
Rengek Alam membuat Dinda langsung menatap tajam suaminya.
"Sayang, aku juga butuh kamu. Lihat pinggangku juga sakit!"
"Nanti sama Daddy, sekarang ke kamar dulu sendiri nanti nyusul!"
Alam tersenyum kemenangan ketika sang Daddy pergi.
"Ada apa?"
"Alam hanya sedikit pusing, masalah kantor sedikit rumit!"
"Semangat, mama percaya kamu bisa!"
"Tap--"
"Jangan ngeluh, putra mama selalu kuat. Mama percaya Alam bisa!"
"Sekarang mama harus menyusul Daddy dulu, sebelum dia mengamuk!"
Alam hanya mengangguk pasrah saja sambil tersenyum manis. Namun, senyuman itu hilang seketika ketika Alam melihat pintu kamar tamu.
Entah ada dorongan dari mana Alam masuk ke sana. Di lihatnya Amira sedang berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya sampai dada.
Alam mendekat lalu duduk di bibir ranjang. Alam menautkan kedua alisnya ketika melihat tidur Amira seperti tidak tenang. Terlihat dari dahi Amira yang mengerut dengan air mata yang keluar dari mata terpejam ya.
"Apa kamu mimpi buruk!"
Gumam Alam mengepalkan kedua tangannya mengingat Amira berpelukan dengan Moreo ketika Alam tak sengaja pas waktu pulang dari pertemuan melihat mereka.
Alam menghapus air mata Amira dengan sangat hati-hati takut Amira terbangun.
"Apa se menyakitkan itu!"
Gumam Alam lagi tak kuat melihat keadaan Amira seperti ini. Ingin sekali Alam memeluknya, menenangkan kegundahan hatinya. Namun, Alam tak bisa melakukan itu semua.
"Tenanglah, om di sini!"
Ucap Alam sambil mengelus rambut Amira berharap Amira akan tenang dalam mimpi buruknya.
Dan benar saja, usapan Alam membuat Amira terlihat damai dalam tidurnya. Bahkan nafasnya juga mulai teratur.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah,, komen dan Vote Terimakasih ...