Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 46 Hampir khilaf


__ADS_3

Perlahan bulu mata lentik Amira mengerjap. Amira merasa terganggu dalam tidurnya. Ketika wajahnya seolah sedang di belai oleh seseorang.


"Dear!"


Gumam Amira pelan ketika dia melihat wajah tampan Alam ada di hadapannya. Namun, Amira merasa ini hanya mimpi.


"Kapan pulang, aku kangen!"


Gumam Amira lagi seolah Amira sedang berbicara di alam mimpinya. Namun, tak lama kemudian mata Amira berkaca-kaca. Amira menangis kembali karena merasa rindu akan pelukan Alam. Namun, apa yang ia lihat hanya mimpi, Bagaimana ada Alam jika Alam saja masih berada di Bali.


"Dear, aku di sini!"


Deg ...


Amira seketika menghentikan tangisannya. Lalu bangkit dari tidurnya. Amira mengusap air matanya dengan kasar seolah ingin memastikan apa yang ia dengar bukan sebuah mimpi.


Amira melihat Alam ada di hadapannya dengan senyum yang mengembang. Berkali-kali Amira mengedipkan kedua matanya berharap apa yang ia lihat bukan mimpi atau hanya sekedar halusinasi.


"Dear!"


Ucap Amira gemetar dengan mata kembali berkaca-kaca.


"Aku di sini!"


Ucap Alam memegang tangan Amira yang sudah berada di wajahnya.


Amira langsung berhambur memeluk Alam bahkan sampai Alam hampir saja terjatuh. Amira kembali menangis lagi di pelukan Alam. Rasanya ini seperti mimpi indah berharap waktu sejenak berputar. Agar Amira bisa meyakinkan kalau ini benar-benar nyata bukan sekedar mimpi.


"Jahat hiks ..., kenapa lama sekali hiks ...,"


Ucap Amira gak jelas karena terpotong-potong oleh tangisan.


"Maafkan aku!"


Alam hanya mampu minta maaf saja karena melihat kondisi Amira yang tak memungkinkan. Kenapa Amira bisa menangis seperti ini. Alam hanya bisa minta maaf saja berharap kekasihnya akan tenang.


Sungguh entah apa yang terjadi, kenapa Amira bisa seperti ini. Tak biasanya Amira menangis pilu. Alam yakin pasti ada sesuatu yang terjadi bukan hanya sekedar kangen padanya.


.


Lama Amira terus memeluk Alam erat, hingga tangisannya mulai reda.


Alam yang merasa Amira sudah tenang, perlahan mengendurkan pelukannya. Alam menangkup wajah Amira dan menghapus sisa air mata yang masih menggenang. Bahkan mata Amira sampai bengkak dengan hidung memerah.


Cup ...


Alam mengecup kening Amira dengan lembut sangat lembut membuat Amira refleks memejamkan kedua matanya.


Kecupan Alam pindah ke mata Amira yang terpejam.


"Apa sudah lebih baik?"


Tanya Alam membuat Amira perlahan kembali membuka matanya.


Mata mereka bertemu saling tatap satu sama lain. Tatapan itu memancarkan kerinduan yang membuncah. Rindu yang tak akan ada habisnya sampai kapanpun. Rindu yang selalu membelenggu keduanya.


Dan, entah siapa yang memulai mereka mendekat dengan ciuman kerinduan yang memabukkan. Seolah tak akan ada habisnya Alam menyesap rasa manis di bibir Amira. Begitu pun sebaliknya, saling memberi rasa yang tak bisa mereka jabarkan.


Rasa yang selalu menggebu-gebu tiada henti di setiap nafas mereka. Sebuah Rasa yang begitu dahsyat membelenggu keduanya. Hingga mereka lupa akan apa yang mereka perbuat, jangan sampai mereka melewati batasan-batasan yang tak seharusnya mereka lakukan.

__ADS_1


Apalagi posisi mereka berada di tempat yang berpihak pada mereka.


Namun, Alam tidak segila itu untuk merusak kekasihnya sendiri walau Alam tahu, ada sebuah hasrat lebih dari sekedar ciuman.


Begitu pun dengan Amira sendiri, seolah ada rasa aneh yang menyelinap masuk. Membuat Amira menginginkan lebih dari ini. Berharap ia akan menjadi milik Alam seutuhnya. Apalagi perkataan Moreo tadi siang membuat Amira takut jika Moreo tak akan menyerah.


Plupp ...


Alam melepaskan tautan mereka dengan cepat ketika merasa ada yang aneh dengan Amira.


"Dear!"


Lilir Amira menatap sayu Alam yang posisi mereka sudah berubah. Di mana Alam berada di atas tubuh Amira yang tadi sempat berbaring tanpa mereka sadari.


Alam menatap Amira yang terlihat berbeda, ada sesuatu yang tak bisa Alam jelaskan.


"Dear!"


Amira menarik wajah Alam agar mereka berciuman kembali namun Alam menahannya. Membuat Amira sedikit kecewa.


Amira menginginkan lebih, bahkan rasanya rindu itu seolah belum bisa Amira tuntaskan.


Alam menatap intens wajah cantik Amira yang berada di bawahnya. Alam bisa melihat dari mata Amira bahwa ada sesuatu ketakutan di dalamnya. Hingga membuat Amira bertingkah lebih agresif.


"Dear, apa kamu baik-baik saja?"


Amira hanya diam tak menjawab ucapan Alam. Entah kenapa ucapan Moreo tadi siang membuat Amira ketakutan. Ada rasa takut yang menyelinap masuk tanpa Amira tahu apa ketakutan itu.


Amira hanya merasa bahwa dia akan di jauhkan dari Alam.


"Jadikan aku milikmu seutuhnya!"


Deg ...


Namun, detik berikutnya Alam tersenyum sambil mengelus wajah Amira yang berada di bawahnya.


"Hati kamu sudah menjadi milikku seutuhnya. Namun, belum saatnya jika aku mengambil milik mu yang lain. Kamu terlalu berharga,"


Ucap Alam lembut membuat mata Amira kembali berkaca-kaca. Entah kenapa Amira hanya merasa akan ada sesuatu yang terjadi.


"Sudah jangan menangis,"


Pinta Alam karena dia juga merasa tak tahan melihat Amira terus menangis. Rasanya hati Alam juga ikut tergores.


Alam kembali mencium Amira, kini ciuman itu sangat lembut namun tak menuntut. Hanya sebuah ciuman agar Amira bisa tenang.


Merasa Amira sudah tenang Alam kembali melepaskannya. Alam menarik Amira untuk duduk, lalu membenarkan baju Amira yang sempat berantakan. Begitu pun dengan rambutnya seolah Alam sedang merapihkan penampilan adiknya sendiri.


Alam beranjak guna mengambil air minum dan memberikan pada Amira supaya Amira tenang.


"Terimakasih!"


Alam hanya tersenyum saja lalu menyimpan kembali gelas bekas Amira minum.


Alam duduk di samping Amira yang terlihat nampak tenang.


"Kamu tahu, aku berencana membuat kejutan untuk kamu. Namun, nyatanya aku yang terkejut!"


"Aku pikir aku sudah gila melihat kamu ada di sini, nyatanya memang kamu di sini!"

__ADS_1


"Ada apa, kenapa bisa berada di sini dalam keadaan kacau?"


"Kangen!"


Satu kata yang meluncur di bibir Amira membuat Alam tersenyum.


"Lalu!"


"Kangen!"


Alam tersenyum lagi membuat Amira nampak aneh. Amira mendekat lalu menangkup wajah tampan Alam.


"Badan om kok kurusan. Apa om di sana tak menjaga pola makan. Apa pekerjaan di sana nampak sulit!"


"Kangen!"


Amira mengerucutkan bibirnya kesal karena Alam malah bercanda. Dia bertanya apa di jawab apa.


Alam terkekeh saja melihat tingkah Amira yang menggemaskan jika bibirnya seperti itu.


"Sedikit bergadang di sana, kan ingin cepat-cepat pulang dan bertemu kamu. Kangen!"


Jujur Alam membuat Amira jadi tersenyum malu-malu.


"Sudah, sekarang kamu ganti baju, kita tidur!"


"Tapi kan Rara gak bawa baju ganti om!"


"Pakai kaus oblong om saja, ada yang kecil!"


Ucap Alam sambil berjalan ke arah lemarinya. Alam mencari kaus dirinya yang sudah kekecilan.


"Nih!"


Ucap Alam memberikannya pada Amira, Amira langsung mengambilnya lalu berjalan menuju ke kamar mandi.


Butuh waktu setengah jam Amira keluar kamar mandi karena Amira mandi dulu. Tak enak jika tak mandi, bahkan Amira juga terpaksa mandi pakai sabun Alam.


Alam tersenyum geli melihat Amira keluar kamar mandi menggunakan baju nya yang menurut Alam kekecilan namun di badan Amira itu kebesaran. Bahkan, baju itu menenggelamkan badan Amira.


"Katanya kecil, ini badan aku tertelan!"


Kesal Amira seperti orang-orang sawah saja.


"Sudah, yang penting ganti baju. Sini, kita harus segera tidur!"


Ucap Alam sambil menepuk tempat tidur di sebelahnya. Amira tertegun mendengar kata tidur apalagi Alam menepuk sebelah tempat tidurnya. Apa mereka akan tidur satu ranjang malam ini.


Dengan ragu Amira naik keatas ranjang.


"Jangan takut, aku tak akan berbuat lebih selain begini!"


Ucap Alam sambil menarik Amira ke dalam pelukannya.


"Selamat malam, Dear!"


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


.



__ADS_2