
"Sayang apa Amira sudah pulang?"
Tanya Jek pada sang istri yang sedang memasak untuk makan malam.
"Sudah dari tadi!"
Jawab Melati tanpa menoleh pada suaminya karena sedang memasak.
Jek langsung ke lantai atas menuju kamar sang putri.
Tok .. tok ...
Amira yang sedang teleponan dengan Alam langsung meminta izin menyudahi percakapannya karena ada sang ayah.
Amira buru-buru turun dari ranjang guna membuka pintu.
Cklek ...
Amira tersenyum melihat sang ayah, walau Amira deg-degan karena tak biasanya sang ayah langsung ke kamarnya.
Biasanya jika ada sesuatu yang akan di omongkan juga pasti sang ayah akan bicara di ruang tamu atau ruang kerjanya.
Namun sebisa mungkin Amira tetap tenang karena tak mau membuat sang ayah curiga.
"Masuk Yah,"
Ucap Amira sambil merangkul lengan sang ayah.
"Ada apa nih, tumben ayah ke atas. Apa mama gak cemburu!"
Bisik Amira bercanda karena memang sang mama selalu melarang sang suami ke kamar anaknya. Bahkan jika bicara pun sang mama pasti akan ikut.
"Gak,"
"Ada yang mau Ayah omongin!"
Ucap Jek langsung membuat Amira menghela nafas. Ternyata benar, ada yang mau di omongin sang ayah.
"Apa, jangan buat Rara takut!"
"Emang muka ayah terlihat menakutkan!"
"Iya!"
"Kau ini!"
Jek yang ingin bicara serius jadi terkekeh karena putrinya selalu saja bisa membuat dia tenang.
"Gini, ayah mau bertanya. Apa Rara sudah membuat keputusan tentang masuk ke perusahaan F.B grup?"
"Sudah!"
Jawab Amira cepat sambil tersenyum membuat Jek lega.
"Rara bersedia menggantikan Fatih!"
Jek merasa lega dengan jawaban sang putri. Namun, Jek sedikit curiga kenapa sang putri bisa menyetujuinya. Bahkan tanpa berdebat berbeda dengan permintaan dirinya yang harus berdebat dulu.
"Kenapa! apa ayah gak setuju dengan keputusan Rara?"
__ADS_1
"Gak, ayah senang. Namun, ayah cemburu. Putri ayah lebih memilih om Farhan dari pada ayah!"
Ujar Jek cemberut karena putrinya malah memilih perusahaan F.B grup dari pada perusahaan ayah ya sendiri.
Amira merangkul sang ayah sambil tersenyum Amira tahu sang ayah hanya bercanda.
"Ayah kan tahu, Rara pengen cari pengalaman dulu. Toh, ujung-ujungnya Rara pasti akan tetap menjadi satu-satunya ahli waris ayah kan!"
"Ya .. ya .. kamu memang putri ayah!"
"Nah gitu dong, sabar ya!"
Jek merangkul putrinya, Jek tak mau terburu-buru memutuskan sesuatu. Yang penting Amira sudah mau bekerja di perusahaan induk. Setidaknya Amira akan sangat jarang bertemu Alam.
"Tapi, ayah punya satu permintaan. Ayah harap Rara gak menolaknya!"
"Apa!"
"Ikut ayah ke acara launching produk baru perusahaan Q.B Grup?"
Deg ...
Amira terdiam mendengar permintaan sang ayah yang satu ini. Ini terlalu sulit Amira putuskan. Karena Amira yakin, penyamarannya akan ketahuan jika dia ikut dengan sang ayah.
Bagaimana reaksi Vina dan Andri mengetahui siapa dirinya. Dan tentu semua karyawan Q.B akan membicarakannya.
"Kenapa diam, apa itu sulit!"
Jek merasa kecewa melihat reaksi putrinya yang malah diam berbeda dengan tadi di mana Amira langsung menjawab.
"Yah, bukankah ayah sudah sepakat. Akan tetap menyembunyikan identitas Rara. Jika Rara ikut semuanya akan ketahuan. Teman-teman Rara pasti menjauh!"
Jelas Amira memberi pengertian agar sang ayah gak salah paham.
Jek terdiam mendengar jawaban sang putri. Apa ia harus memaksa atau menunggu keputusan Amira saja. Berharap Amira akan merubah keputusannya.
"Ya sudah, kalau itu keputusan Rara. Kalau berubah pikiran kasih tahu ayah!"
Ucap Jek sedikit kecewa akan keputusan Amira. Amira hanya menghela nafas berat melihat wajah kecewa sang ayah.
Amira menutup rapat pintu kamarnya ketika sang ayah sudah keluar dari kamarnya.
Amira terdiam harus memutuskannya bagaimana. Bukan masalah ketahuan atau tidak nya tentang identitas dirinya. Namun, Amira tidak mau berjauhan kembali dengan Alam. Mereka baru menjalin hubungan dan baru saling mengungkap perasaan.
Jika Amira ikut dengan sang ayah pasti identitas nya terbongkar dan cepat kemungkinan Amira harus pindah kantor. Ini terlalu singkat bagi mereka yang baru merajut kasih.
Amira jadi bingung, namun Amira juga merasa tak enak melihat wajah kecewa sang ayah.
Seperti nya Amira harus membicarakan masalah ini dengan Alam. Bagaimana bagusnya dan bagaimana Amira memutuskan semuanya.
Benar kata Alam, seperti nya hubungan mereka harus di sembunyikan. Melihat antusiasnya sang mama selalu membahas Moreo di setiap ada kesempatan. Seolah sang mama sengaja melakukannya.
Amira benar-benar harus bicara dengan Alam ya harus bicara.
Belum sempat Amira menelepon Alam ponselnya terlebih dahulu berdering. Terlihat Bunga yang melakukan Vidio call.
"Mama, Sekar kangen!"
Suara cempreng dengan wajah cantik Sekar muncul di layar ponsel. Amira tersenyum melihat Sekar yang sudah lancar bicara. Padahal bocah itu baru menginjak usia dua tahun lebih tiga bulan.
__ADS_1
"Mama kenapa pergi gak bilang, Sekar pengen peluk mama!"
"Maafin mama ya, mama waktu itu buru-buru!"
Jawab Amira merasa bersalah karena sudah pergi tak pamit pada bocah imut itu.
"Hiks ... mama jangan lama-lama ya di sana. Nanti Sekar jemput mama kalau lama-lama perginya!"
"Iya, nanti kalau mama ada waktu jenguk Sekar. Kita jalan-jalan beli es krim, Mau!"
"Papa, om!!!"
Pekik Sekar kegirangan membuat Amira menautkan kedua alisnya ketika Sekar tiba-tiba berlari.
Tak lama Bunga muncul di layar ponsel.
"Kemana Sekar!"
"Ada Moreo dan Rangga tuh!"
Ucap Bunga sambil mengarahkan kameranya ke ruang tamu. Lalu Bunga memutarnya kembali kearah dirinya.
"Bocah itu kenapa nempel sekali dengan Rangga!"
"Ya, bahkan Raja selalu di buat cemburu dan ujung-ujungnya marah pada aku!"
Keluh Bunga karena entah kenapa putri kecilnya selalu saja menempel jika ada Rangga berkunjung kerumahnya.
Bahkan Raja dan Rangga selalu berantem berebut Sekar, dan sialnya bocah kecil itu pasti akan memilih Rangga.
"Ra!"
"Hm,"
"Jawab jujur, kamu sama Moreo?"
"Kami sudah tak ada hubungan apa-apa lagi, aku dan Moreo sudah selesai"
Jawab tegas Amira, membuat Bunga menghela nafas di sebrang sana. Bunga tak tahu harus bicara apa, Bunga berharap sahabatnya itu memutuskan perkara yang tepat buat dirinya sendiri.
"Aku hanya bisa mendukung apapun keputusan kamu. Aku berharap setelah ini kamu bisa bahagia!"
"Ya, aku hanya tak ingin Moreo semakin tersakiti!"
"Aku tahu itu!"
Amira dan Bunga sama-sama diam hingga terdengar panggilan dari mama Melati membuat Amira izin menyudahi teleponnya.
Amira menghela nafas berat, Amira tahu dia sudah menyakiti Moreo. Namun, Amir gak mau berpura-pura menerima sedang hatinya untuk orang lain.
Jahat jika Amira terus berpura-pura sedang pikiran dan hatinya untuk orang lain. Amira tak mau semakin menjadi jahat hanya karena saling egois.
Amira yakin, Moreo akan baik-baik saja walau Amira yakin berat bagi Moreo melepaskannya.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih .....
__ADS_1
.
Bagi siapa saja boleh ikutan. Yuk gabung jangan sampai ketinggalan.