
Di hari di mana Alam menginginkan Amira bersikap seperti ke ponakan. Amira menyanggupinya.
Mungkin, ini lebih baik dulu dari pada Amira terus memaksa. Amira yakin, seiring berjalan waktu semuanya pasti berubah kembali.
Bahkan Amira benar-benar memainkan perannya sangat bagus sekali.
Hal nya seperti sekarang ini.
"Pagi om, kerjanya yang rajin ya!"
Semangat Amira, sambil meletakan secangkir teh.
"Kenapa lihatin, apa om butuh sesuatu?"
Tanya Amira mendekat, namun Alam masih saja diam.
"Mendekat lah!"
Amira semakin mendekat bahkan tepat di hadapan Alam.
Alam memegang tangan Amira membuat Amira menautkan kedua alisnya bingung.
"Menikahlah dengan Moreo!"
Deg ...
Refleks Amira langsung melepaskan tangannya dari genggaman Alam. Amira begitu terkejut dengan apa yang Alam ucapkan. Kenapa tiba-tiba Alam membahas masalah perjodohan itu.
Walau Amira tahu, kakek Moreo waktu itu hanya bercanda. Bahkan sang ayah juga tak terlalu merespon. Tapi, kenapa sekarang Alam bicara seperti itu.
"Jangan bercanda om!"
"Om tak bercanda!"
Ucap Alam tah kalah serius, bahkan Alam sangat serius.
Alam masih ingat percakapan tadi malam. Sang Daddy membicarakan tentang pak Broto. Kalau pak Broto memang berniat menjodohkan cucunya dengan Amira. Namun, pak Broto menunda lamaran itu karena Moreo masih di London belum kembali.
"Kenapa om ingin Rara menikah dengan Moreo?"
"Itu yang terbaik, Ra. Ingat rasa kamu salah, kita saudara!"
Grep ...
Amira menangkup wajah Alam bahkan sampai Alam terkejut.
"Katakan kalau om tak mencintai Rara!"
Alam terdiam membeku ketika Amira membungkam bibirnya. Bahkan kedua mata Alam melotot dengan apa yang Amira lakukan.
Entah setan dari mana Amira berani mengecup bibir omnya sendiri. Hanya sekedar mengecup tak bergerak sama sekali.
__ADS_1
Amira hanya kesal karena Alam masih saja diam ketika dia bertanya. Hanya itu yang bisa membuktikan apa Alam mencintainya atau tidak.
Amira menyunggingkan bibirnya ketika tak ada perlawanan dari omnya. Berarti benar, Alam mempunyai rasa yang sama dengan dirinya.
"Katakan kalau om tak mencintai Rara?"
Tanya Amira untuk kedua kalinya ketika bibirnya terlepas. Alam masih saja diam karena shok akan apa yang Amira lakukan. Bagaimana mungkin Amira seberani itu mengecup bibirnya. Dan, sialnya Alam tak bisa melawan malah menikmati semuanya. Apalagi itu adalah ciuman pertama mereka.
"Om tak bisa menjawab, berarti Rara anggap kalau om mencin--"
Amira tak bisa melanjutkan ucapannya ketika bibirnya di bungkam oleh Alam. Bahkan rasanya jantung Amira ingin meledak dengan apa yang barusan terjadi.
Ini ciuman pertama nya, dan Amira melakukan dengan omnya sendiri. Ini gila sangat gila. Kenapa Alam bisa berbuat seperti itu.
Bukankah Alam ingin Amira menikah dengan Moreo. Tapi, kenapa sekarang malah mencium Amira. Seolah Alam lupa dengan apa yang ia katakan tadi.
Alam melepaskan tautan ya ketika merasa Amira ke habisan nafas. Alam menyatukan kening nya dengan kening Amira. Nafas mereka memburu dengan wajah memerah.
Ini gila benar-benar gila, kenapa bisa begitu ada apa sebenarnya dengan Alam kenapa bisa terbawa suasana yang Amira ciptakan.
"Om, ta-tadi!"
Rasanya Amira tidak bisa bicara dengan benar, apalagi jantungnya berdetak sangat kencang. Sungguh Amira tidak menyangka kalau Omnya akan mencium dirinya. Amira pikir Alam akan marah dengan apa yang dia lakukan.
Alam menurunkan Amira di atas pangkuannya. Lalu Alam beranjak dari duduknya menuju kaca di mana Alam bisa melihat keindahan kota di bawah sana.
Amira merasa heran dengan apa yang Alam lakukan. Kenapa sekarang jadi menghindar.
Amira menghampiri Alam lalu memeluknya dari belakang.
"Ra, bisa tinggalkan om sendiri. Please!"
Mohon Alam membuat Amira kecewa. Bukan itu yang Amira inginkan, tapi melihat wajah Alam yang memelas membuat Amira mengangguk pasrah.
Amira benar-benar kecewa dengan apa yang Alam lakukan. Setelah apa yang dia lakukan, Alam malah mengusirnya.
Karena tak mau suasana menjadi buruk Amira keluar membiarkan Alam berpikir keras.
Tentang apa yang barusan mereka lakukan. Bukankah hilap, rasanya tidak. Karena Alam tahu ia sadar betul dengan apa yang dia lakukan terhadap Amira. Dia mencium keponakannya sendiri bahkan Alam seolah sudah mengklaim bahwa Amira miliknya.
Tapi, kenapa sekarang Alam malah mengusir Amira bukan meluruskan kejadian tadi.
"Apa keputusanmu!"
"Jaga bicara mu Dom!"
Cetus Dom yang baru masuk setelah Amira pergi.
"Aku datang sebagai sahabat mu bukan asisten!"
"Apa keputusanmu!"
__ADS_1
"Amira akan tetap menikah dengan Moreo!"
"Setelah kau menciumnya, brengsek!"
Kesal Dom tersulut emosi menatap tajam Alam yang malah berkata bodoh.
"Aku khilaf!"
"Cih, kau itu begitu bodoh. Amira akan sangat membenci mu dengan apa yang kau lakukan sekarang!"
"Tapi aku harus bagaimana, aku tak mungkin menghancurkan dua keluarga, bahkan tiga!"
"Bersikaplah sedikit egois, jangan kau menyiksa diri kamu sendiri. Sebelum Amira benar-benar tahu semuanya!"
Bentak Dom karena benar-benar kesal dengan sikap Alam yang seperti ini. Selalu mementingkan orang lain menjadi alasan dia kehilangan orang yang di cintai ya.
Alam hanya diam saja, karena memang Amira belum menyadari kalau rencana perjodohan itu nyata bukan sekedar candaan.
Jek memang sengaja belum memberi tahu Amira dengan keseriusan itu karena Jek melihat kalau putrinya sudah menolak terlebih dahulu sebelum Jek benar-benar menceritakannya.
Jek tidak mau putrinya akan kabur jika terlalu terburu-buru. Apalagi Moreo juga belum kembali dari London.
"Kamu punya waktu tiga hari lagi, sebelum Moreo benar-benar kembali dan menceritakannya pada Amira!"
Alam masih saja tetap diam, bingung untuk mengambil keputusan. Semuanya terasa cepat bagi dia.
Antara cinta atau keutuhan keluarga!
"Dom, aku tak bisa. Aku tak mau menyakiti hati mama!"
"Cih, yang kau takutkan Tante Dinda atau Tante Melati!"
Dom rasanya sudah habis kesabarannya melihat sahabatnya yang selalu terkurung oleh peringatan-peringatan dari Tante Melati. Entah apa yang Tante Melati bicarakan dengan Alam empat tahun lalu.
Semuanya berubah karena itu, dan Alam seakan tak bisa berbuat apa-apa selain merelakan Amira pergi.
"Kak Melati benar Dom, tak seharunya aku mempunyai perasaan lebih pada keponakanku sendiri!"
"Stop untuk menjaga perasaan kakak mu itu, Lam. Sekarang, sekali saja kamu berjuang untuk kebahagiaan kamu sendiri sebelum semuanya benar-benar terlambat!"
"Empat tahun, cukup bagi kamu menyiksa diri kamu sendiri. Bahkan kau selalu diam-diam pergi ke London. Pentingkan diri kamu sendiri bahkan kau sampai tak menjaga kesehatanmu sendiri!"
"Stop Dom, jangan racuni otakku. Keluar!!"
Bentak Alam tak mau mendengar lagi ocehan Dom. Walau Alam tahu, apa yang Dom ucapkan adalah benar.
"Dom, keluar. Jangan sampai aku menghajar mu!"
Dom menghela nafas berat dengan tangan mengepal erat.
"Jangan lupa besok kamu harus check up!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...