
Semua orang masih kelabakan mencari Alam dan Amira.
Bahkan sudah tiga hari ini mereka semua belum bisa menemukan kemana Alam membawa Amira pergi.
Sedang yang di cari terlihat santai duduk sambil menikmati sunset.
Deburan ombak begitu nyaring, dengan semilir angin yang menerpa wajah mereka.
Alam dan Amira saling pegang tangan, dengan kepala Amira menyandar di bahu kokoh Alam.
Mereka duduk di kursi malas bibir pantai, yang dimana Alam dan Amira sedang berlibur di Pantai Pelabuhanratu tepatnya mereka menginap di hotel Samudra.
Sebuah hotel yang berada tepat di kawasan bibir pantai. Pemandangan yang sangat indah seolah alam pun sedang berpihak padanya.
Pantas saja semua orang sulit menemukan Alam dan Amir. Nyatanya mereka berlibur bukan ke luar negri. Namun, ke tempat yang belum banyak orang yang tahu.
Entah dari mana Alam tahu tempat itu.
Tempat yang tak kalah indah dari tempat-tempat yang lain.
"Dear, mau sampai kapan berlibur?"
"Sampai kamu tenang dan siap menghadapi semua orang!"
Jawab Alam penuh pengertian, bukan tanpa alasan Alam membawa Amira berlibur. Alam hanya ingin Amira tenang jangan sampai pikirannya yang kacau membuat Amira salah dalam bertindak.
Amira terdiam, sungguh Alam selalu mengerti apa yang ia butuhkan.
Bagaimana Amira tidak jatuh cinta, karena satu-satunya orang yang mengerti dirinya hanya Alam.
Alam selalu mengerti apa yang Amira butuhkan tanpa Amira memberi tahu.
"Bagaimana kalau aku belum bisa tenang?"
"Maka kita akan tetap di sini!"
Jawab Alam enteng membuat Amira mengerucutkan bibirnya.
Benar kata Alam, Amira harus tenang dulu sebelum menghadapi kedua orang tuanya dan yang lain.
Namun, di satu sisi Amira juga mengkhawatirkan kedua orang tuanya. Mereka pasti sedang mencari dirinya. Karena baru kali ini Amira memberontak sampai kabur.
"Aku ingin terus seperti ini, menghabiskan waktu bersama kamu, dear!"
Ucap Amira mengeratkan genggamannya.
"Iya, teruslah tersenyum dalam keadaan apapun. Aku tak akan meninggalkan kamu!"
"Janji!"
Ucap Amira sambil mengangkat jari kelingking.
Alam tersenyum sambil mengikat jari kelingking Amira dengan jari kelingkingnya.
"Teruslah seperti ini, aku ingin selalu melihat kamu tersenyum. Karena senyumanmu bagai candu bagiku!"
Bluss ...
__ADS_1
Pipi Amira memerah bak kepiting rebus. Sungguh Alam bisa saja membuat hatinya berbunga-bunga.
Bahkan di keadaan genting, Alam terlihat tenang seperti air. Seolah di hidupnya itu tak ada beban. Bahkan Alam tak merasa takut sama sekali jika harus menghadap kedua orang tuanya.
"Dear!"
Panggil Amira membuat Alam menoleh, wajah mereka begitu dekat sekali, bahkan hidung mereka saling bertabrakan.
Amira menatap kedalam bola mata Alam, sangat dalam seolah Amira sedang menyelam kedalam bola mata itu. Mencoba memahami apa yang Alam pikirkan.
"Kenapa kamu bisa setenang ini. Padahal kita sedang berada di situasi tak baik-baik saja?"
Alam membalas tatapan Amira dengan inten, seolah menyalurkan kekuatan pada Amira.
"Dear, hidup itu tentang berpikir. Maka pikiran ku selalu berbicara untuk mencari ketenangan. Sesulit apapun masalah yang kita hadapi, ingat ada mereka yang jauh lebih sulit permasalahannya. Ini tentang bersyukur, bagaimana kita menjalani hidup ini. Jika kita selalu bersyukur atas apa yang kita miliki maka ketenangan itu akan ada!"
"Marah boleh, tidak apa-apa. Tapi ingat, jangan sampai marah kita membuat orang lain terluka!"
Dam ...
Amira terdiam mendengar ucapan Alam yang begitu penuh makna. Sungguh, Amira tak salah melabuhkan hatinya untuk Alam.
Bahkan Amira tak pernah menyesal mencintai Alam. Bagi Amira, mencintai Alam adalah hal terindah yang Amira lakukan.
Dan, ia tak akan pernah menyesal.
Bahkan, jika Alam meminta, Amira akan terus mencintai Alam sepanjang hidupnya. Tak akan ada laki-laki yang bisa menggantikan Alam di hatinya.
Sungguh, Amira berharap kedua orang tuanya mau menyetujui hubungan mereka.
"Aku mencintaimu, Dear!"
"Aku lebih dari itu sayang!"
Ucap Alam merengkuh tubuh Amira ke dalam pelukannya. Sesekali Alam mengecup kepala Amira.
Sungguh, pemandangan yang sangat indah membuat siapa saja iri melihatnya.
Di tambah suasana langit jingga di Ufuk barat. Terkesan romantis dan manis bagi pasangan itu. Bahkan siapapun yang melihatnya akan meras iri.
Apalagi Alam memperlakukan Amira begitu penuh kasih sayang. Seolah takut Amira merasa tak nyaman di dalam pelukannya.
"Aku akan selalu siap menghadapi apapun, jika kamu sudah siap kasih tahu aku. Maka kita akan segera kembali!"
Ucap Alam menatap lurus ke depan sana. Di mana ombak begitu tenang menari-nari seolah tak lelah melakukannya.
Amira terdiam sejenak memikirkan ucapan Alam. Apakah ia sudah siap atau belum, seperti nya Amira memang harus menyiapkan diri untuk bertemu kedua orang tuanya.
Tak mungkin bagi Amira terus menghindar seperti ini.
Masalah tidak akan selesai jika Amira tak menyelesaikannya dengan cepat. Seperti nya Amira harus memberikan keputusannya dengan cepat jangan sampai masalahnya akan semakin runyam.
Amira tidak mau juga Alam yang akan menjadi sasaran amukan kedua orang tuanya atas perginya dirinya. Karena besar kemungkinan Alam yang lebih besar di dipersalahkan oleh kedua orang tuanya terutama, Jek.
"Nanti, jika aku sudah siap maka aku akan bilang!"
__ADS_1
"Itu bagus, ingat selalu kata yang pernah aku katakan!"
"Aku gak janji!"
"Dan, aku gak akan memaksa, aku tahu, kekasihku tak akan berbuat hal ceroboh!"
"Terimakasih dear, kau selalu mengerti aku!"
"Aku hanya sedang mencoba memahami apa yang kekasihku butuhkan!"
Ah, sungguh romantis nya mereka. Bicara begitu tenang sambil saling tatap satu sama lain. Kobaran cinta terlihat jelas di mata mereka. Bahkan rasanya tak ada habisnya rasa cinta itu. Bahkan setiap harinya malah semakin tumbuh dan tumbuh hingga tak ada ruang lagi di hati Amira untuk orang lain.
"Kita masuk, bukankah kita mau makan malam!"
"Iya,"
Mereka masuk kedalam hotel sambil bergandengan tangan. Hingga terlepas tepat ketika mereka sudah berada di depan kamar mereka sendiri.
"Jangan lama-lama!"
Pesan Alam, Amira hanya mengangguk saja sambil tersenyum.
Sesudah Amira masuk kedalam kamarnya, Alam juga masuk ke dalam kamarnya.
Alam mempersiapkan semuanya sendiri, bagi Alam menciptakan hal romantis dengan caranya sendiri itu lebih berkesan dari pada membawa Amira ke lestoran mahal.
Alam yang memasak sendiri dan ia juga yang menata sendiri seindah mungkin.
Sesudah selesai menyiapkan makanan Alam bergegas mandi. Karena mungkin Amira sebentar lagi datang.
Sungguh, hal sederhana yang mereka ciptakan namun mampu membuat mereka terus merasa jatuh cinta di setiap detiknya. Dan, Alam mampu membuat hal itu terjadi. Walaupun gak makan malam di luar namun makan malam yang Alam ciptakan terlihat romantis walau sederhana.
Ini nilai plus Amira begitu mencintai Alam. Alam selalu tahu caranya membuat dia nyaman tanpa harus takut.
Ketenangan yang selalu Alam ciptakan membuat Amira mampu tenang dalam menghadapinya.
Amira sudah selesai bersiap, lalu bergegas menuju kamar Alam. Amira takut Alam terlalu menunggu lebih lama.
Cklek ...
Amira membuka pintu kamar Alam perlahan, setelah mendapat balasan pesan kalau Alam menyuruhnya masuk saja.
Amira tersenyum melihat suasana kamar Alam yang Alam hias seindah mungkin. Terdapat kelopak bunga yang berhamburan di lantai. Seolah menjadi petunjuk kemana Amira harus berjalan. Ternyata kelopak itu menuju balkon.
"Dear,"
Alam berbalik ketika mendengar suara lembut Amira mengalun indah di telinganya.
Alam tersenyum dan mengulurkan tangan, dengan senang hati Amira menyambutnya.
Suasana benar-benar romantis, apalagi di atas sana Alam dan Amira bisa melihat dengan jelas hamparan laut membentang ke ujung sana.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...