
Fandi dan Dinda cukup lega ketika keadaan Alam tak kejang-kejang lagi. Rasanya jantung Dinda terlepas dari tempatnya melihat keadaan Alam yang sangat menakutkan.
"Ada cukup emosi yang menggangu batinnya. Hingga merespon terlalu berlebih. Terus ajak bicara hal-hal yang berhubungan dengan perasaan nya. Seperti nya pasien mulai cukup merespon dari alam bawah sadarnya,"
Jelas dokter Raftha yang menangani Alam, dokter Raftha sedikit melihat sebuah harapan besar dari Alam untuk berusaha bangkit dari alam bawahnya.
"Terimakasih dok,"
"Sama-sama!"
Dokter Raftha kembali ke ruangannya setelah memeriksa Alam.
Kini di ruangan itu ada Dinda dan Fandi yang saling berpelukan menatap Alam yang mulai tenang. Bahkan Alam terlihat tak pernah terjadi apa-apa. Saking tenangnya Alam berbaring.
Kondisi Alam sedikit-sedikit ada perubahan dan kondisinya mulai stabil tak perlu memerlukan banyak kabel lagi yang menempel di tubuhnya.
Alam masih dalam keadaan koma saja, dan seperti sulit untuk keluar dari alam bawahnya. Harus dirangsang dengan memperdengarkan siapa saja yang berkaitan dengannya.
Dinda bernafas lega melihat putranya keadaannya ada perubahan setelah kejang-kejang tadi.
Dinda melirik sang suami, seolah penasaran apa yang sang suami katakan. Kenapa bisa Alam seperti ini. Dinda yakin, sang suami membisikan sesuatu hingga Alam seperti tadi. Karena pengertian dokter Raftha menuju kesana.
"Dad!"
Panggil Dinda ketika mereka bisa tenang duduk di shopa.
"Kenapa?"
"Apa yang Daddy katakan, pasti ada sesuatu yang Daddy katakan hingga membuat Alam seperti tadi,"
"Daddy tak mengatakan apa-apa!"
"Katakan, Dad!"
Tegas Dinda menatap penuh permohonan agar Fandi mau mengatakannya.
"Seperti nya hanya Amira yang bisa memancing Alam keluar dari alam bawah sadarnya!"
"Kenapa seperti itu, apa yang sebenarnya Daddy katakan?"
"Amira akan menikah tiga hari lagi!"
Deg ...
Dinda membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang suaminya katakan. Bagaimana bisa sang suami mempunyai pikiran seperti itu. Sungguh Dinda benar-benar terkejut.
"Ja-jadi Daddy berusaha memanasi Alam supaya Alam bangun, dan itu di respon oleh Alam!"
"Iya, tidak ada cara lain untuk merangsang Alam. Amira satu-satunya cara terakhir yang harus kita pergunakan dan itu berhasil!"
"Walau Daddy membuat putra kita kejang-kejang!"
"Maaf!"
Fandi tak bermaksud seperti itu, Fandi tadi hanya mengikuti insting saja. Nyatanya berhasil dan kini Fandi tahu siapa yang bisa membuat Alam berjuang keras untuk kembali, yaitu Amira.
Dinda menghela nafas, Dinda tak marah akan hal itu.
Dinda cuma masih shok saja akan keadaan Alam tadi. Dinda pikir putranya akan pergi.
"Kita kerumah Amira, Dad!"
__ADS_1
"Ngapain sayang?"
"Bawa paksa Amira, jika Jek menghalangi maka aku tak segan menantangnya!"
"Tapi janji, jangan ada keributan. Kasihan Amira nantinya!"
"Janji!"
Fandi tersenyum ketika istrinya benar-benar sudah bisa mengontrol emosinya. Demi Alam apapun akan Dinda dan Fandi lakukan. Walau mereka harus menentang hatinya sendiri.
Sebelum berangkat, mereka tak lupa memberi kabar pada Queen untuk menjaga dulu Alam karena mereka akan pergi.
Sepanjang jalan Dinda hanya diam dengan tatapan lulus ke depan. Tatapan sayu seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dinda akan mengesampingkan urusan hati demi Alam.
Dinda masih punya harapan, dan harapan itu tak mau Dinda sia-sia kan. Dinda tak mau akan jauh semakin menyesal jika ia tak melakukannya sekarang.
Di keluarga Prayoga atau Al-biru Dinda dan Fandi orang tertua. Mereka bagaimana orang tua bagi semuanya. Dan, Dinda akan memulai memperbaiki semuanya dari awal. Hubungan antara ibu dan anak, anak dan ibu, cucu dan nenek.
Ya, Dinda yang harus memulai dan meluruskan semuanya.
"Sayang, sudah sampai!"
Dinda terkejut ketika suaminya menepuk pundaknya. Saking asiknya dengan pikirannya sendiri sampai Dinda tak sadar bahwa mereka sudah sampai di rumah Amira.
Melati dan Jek saling pandang ketika mendengar suara mobil di depan rumahnya.
Jek dan Melati beranjak guna melihat siapa yang bertamu.
"Om, Tante!"
Gumam Jek tak menyangka jika Dinda dan Fandi mau kerumahnya. Jek pikir Dinda masih marah atas apa yang terjadi pada Alam.
Tok ... tok ....
Dengan ragu Melati membuka pintu berusaha bersikap tenang.
Melati dan Jek mempersilahkan Fandi dan Dinda masuk. Mereka membawanya ke ruang tamu.
Melati pergi ke dapur guna mengambil air minum untuk tamunya.
"Silahkan di minum?"
"Terimakasih,"
Jawab singkat Fandi mewakili istrinya yang diam. Jek dan Melati mengangguk kaku, mereka penasaran apa yang membawa Fandi dan Dinda berkunjung kerumahnya.
"Kamu kesini sebagai orang tua kalian, bukan orang tua seorang putra yang menginginkan putri kalian!"
Deg ...
Jek dan Melati faham betul apa yang di maksud dari ucapan Fandi. Namun, mereka tetap diam menunggu apa yang akan di katakan lagi.
"Dimana cucuku?"
Tanya Dinda karena tak sabar ingin bertemu Amira.
Jek dan Melati saling pandang, mereka bingung apa yang harus mereka katakan. Jek dan Melati tahu, Dinda begitu sangat menyayangi Amira. Jika tahu Amira sakit maka habislah riwayat mereka.
Fandi dan Dinda mungkin tak merestui hubungan Alam dan Amira namun, Amira tetap cucu Dinda yang tak bisa di sangkal. Kini Dinda datang sebagai nenek dan ibu yang akan memberikan pengertian.
"Katakan Jek!"
__ADS_1
Tegas Fandi menatap tajam Jek, Fandi adalah orang yang paling tenang. Namun, jika sudah marah, Fandi tak akan melihat siapa orangnya.
"Di kamar, kami mengunci Amira di kamar!"
Deg ...
Fandi dan Dinda terkejut dengan apa yang Jek katakan. Bagaimana mungkin Jek berbuat sejauh ini mengurung Amira. Apa otak mereka sudah tak waras. Mereka orang tuanya, mereka tahu Amira akan mencoba menyakiti dirinya sendiri jika terlalu di tekan.
"Berikan kuncinya!"
Sentak Dinda menatap tajam pada Jek dan Melati. Walau bagaimanapun Dinda seorang nenek yang sangat menyayangi Amira.
Dengan ragu Jek memberikan kunci kamar Amira.
Dinda langsung naik ke lantai atas di mana kamar Amira berada. Jantung Dinda berdetak kencang ketika membuka pintu.
Senyap!
Satu hal yang pertama Dinda rasakan, bahkan kamar Amira begitu gelap tak ada setitik cahaya pun yang menerangi.
Cetrek ...
Dinda menyalakan lampu guna melihat jelas bagaimana keadaan Amira.
"Mah, sudah Rara bilang. Rara gak mau makan, tolong jangan berdebat lagi!"
Ucap Amira Lilir bahkan nyaris tak terdengar. Jika Dinda tak jalan mendekat.
Dinda tak percaya melihat keadaan Amira yang sangat memperihatinkan. Bukankah mereka para orang tua sungguh egois hingga membuat anak-anak menjadi seperti ini.
"Nak,"
Deg ...
Amira membuka kedua matanya lemah dengan jantung berdetak kencang mendengar suara orang yang sangat Amira kenal siapa pemiliknya.
"Nenek!"
Pekik Amira tertahan melihat Dinda sudah ada di depannya. Amira berusaha bangkit di sisa tenaganya. Dengan sigap Dinda membantu.
Di peluknya tubuh lemah tak berdaya ini, dengan air mata yang mengalir di pipi Dinda. Sungguh Dinda merasa jadi seorang ibu dan nenek yang jahat pada putra dan cucunya.
"Maafkan nenek sayang, maafkan nenek yang sudah membuat kamu menderita!"
"Sungguh nenek sudah jahat, padahal nenek sudah berjanji akan menghukum siapa saja yang menyakiti kamu. Tapi, nyatanya nenek sendiri yang sudah membuat kamu seperti ini!"
Amira menangis begitupun Dinda. Amira memeluk lemah tubuh Dinda karena Amira merasa tak mampu untuk memeluknya.
"Apa kamu kesakitan, hingga menghukum nenek dengan cara seperti ini!"
"Rara ingin om Alam, Rara ingin dia,"
Gumam Amira lemah, sungguh sangat lemah untuk sekedar mengucap nama orang yang Amira sayang.
"Maafkan nenek sayang, maaf!"
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....
.
__ADS_1