
Hari ini Amira seolah menemukan pelajaran hidup yang berharga. Tentunya tanpa sadar Vina yang mengajarkan itu semua.
Mengajarkan tentang kesederhanaan, kasih sayang dan cinta.
Bahkan rasanya Amira yang harus bersyukur bertemu dengan Vina. Ternyata Vina gadis yang tak luput haus atas kasih sayang. Namun, Vina berusaha di paksa dewasa dengan keadaan.
Amira beranjak dari ranjang ketika Vina sudah tidur. Entah karena kantuk atau karena efek obat yang Vina minum.
Amira lupa, dari tadi dia belum menghidupkan ponsel pribadi nya. Amira duduk di ruang tengah sambil menghidupkan ponselnya.
Beberapa panggilan masuk dari Alam, dan ada juga pesan. Amira tersenyum membacanya.
Dret ...
Amira terkejut ketika sebuah telepon masuk. Baru saja Amira akan menelepon Alam namun nyatanya Alam lebih cepat dari dia. Seolah dari tadi Alam sedang melihat apa Amira sudah online atau belum.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan. Tak ada sesuatu yang terjadi?"
"Sayang jangan diam saja, apa kamu benar-benar sakit. Sejak kapan, kenapa gak ngasih tahu aku!"
Amira hanya diam saja mendengar rentetan pertanyaan dengan nada panik dan cemas. Amira bisa merasakannya. Entah Amira harus senang atau sedih di cemaskan sebegitu hebatnya oleh Alam.
"Hallo sayang, kok diam. Kamu benar-benar sakit?"
"Dear!"
Panggil Amira lembut membuat Alam terdiam di sebrang sana. Rasanya hati Alam lega mendengar suara sang ke kasih.
"Aku baik-baik saja, aku juga gak sakit. Tapi kangen!!!"
Alam tersenyum di sebrang sana mendengar rengekan Amira di akhir kalimatnya.
"Kapan pulang, kenapa lama?"
"Kan ini baru dua hari sayang, aku kan sudah bilang di sini satu Minggu!"
"Kenapa gak di percepat sih, bahkan kemaren gak ada kabar!"
"Maaf ya, kemaren benar-benar sibuk. Tapi sayang benar-benar gak kenapa-kenapa kan?"
Ucap Alam memastikan jika memang Amira baik-baik saja.
"Aku sehat!"
"Terus kenapa gak masuk kantor?"
Amira terdiam sambil melirik pintu kamar Vina.
"Kemaren ibu Vina meninggal, dia sangat terpukul. Aku cuma menemani dia namun, pada malah hari Vina demam tinggi bahkan sampai kejang-kejang. Aku hanya merasa kasihan sampai gak bisa tidur semalaman menjaga dia. Dan, paginya aku ngantuk hingga bangun siang pas kamu nelepon!"
Alam merasa lega sekarang mendengar penjelasan Amira. Alam pikir Amira sakit sampai gak masuk kerja. Padahal Alam sudah mau pulang jika Amira benar-benar kenapa-kenapa.
Kini rasa cemas yang sendari Alam tahan berangsur membaik. Karena Amira sudah menjelaskannya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, terus Vina masih di rumah?"
"Tidak, Vina memaksa pulang ke rumahnya. Jadi sekarang aku menginap di rumahnya!"
Amira terkejut ketika Alam mengalihkan panggilannya ke panggilan Vidio call.
"Dear, kamu beneran menginap?"
Ucap Alam memastikan sampai Alam memanggil Vidio call. Alam percaya ketika Amira mengarahkan kameranya ke arah lain.
"Kenapa harus sampai menginap?"
"Dear, aku gak sampai hati jika harus meninggalkannya sendiri. Aku takut terjadi apa-apa pada Vina, dia temanku!"
"Ya ... ya .. aku tahu, kamu memang tak bisa jika melihat orang bersedih!"
Amira tersenyum tipis karena memang diri dia seperti itu.
Mereka sejenak saling diam, saling tatap satu sama lain. Seolah tak ada jarak antara mereka.
"Dear, kenapa kamu selalu menggemaskan,"
Gemas Alam menatap wajah Amira yang merona. Hati Alam akan menghangat dan bahagia bila bersama Amira.
Amira semakin merona ketika Alam menggodanya. Amira membaringkan tubuhnya di atas shopa. Walau kecil namun cukup untuk Amira berbaring.
Ah, rasanya ingin sekali Alam pulang dan memeluk ke kasih ya.
"Dear, kamu mengantuk!"
Lilir Amira kenapa dia begitu mencintai Alam. Sungguh ini hal gila yang pernah Amira rasakan.
"Saya lebih dari itu, kamu adalah nafas ku!"
"Cepat pulang,"
Alam tersenyum ketika mendengar suara Amira yang mulai melemah. Bahkan matanya sudah sayu siap untuk tidur. Alam diam saja tak bersua menikmati pemandangan indah di depannya.
Bahkan Alam sengaja tak bersuara agar Amira segera tidur. Seperti nya kekasihnya itu sudah melalui hari berat.
Hingga Amira benar-benar tertidur di atas shopa usang dengan panggilan Vidio call yang masih terhubung.
Alam mengelus layar ponselnya seolah ia sedang mengelus wajah damai Amira. Ingin sekali Alam datang dan mengecup Amira.
Seperti Alam harus cepat menyelesaikan urusannya agar dapat pulang dengan cepat. Alam tak bisa lama-lama, rasanya Alam akan sekarat.
Dear ...
Entah sampai kapan aku bisa menatap puas wajahmu seperti ini. Kamu alasan aku masih bernafas. Kamu alasan aku kuat menahan kesakitan ini.
Dear ...
Aku begitu mencintaimu, kamu adalah nafas terakhirku. Aku ingin melihatmu selalu tersenyum dan bahagia. Percayalah aku mencintaimu walau raga ini rapuh.
__ADS_1
Dear ...
Aku ingin selalu kamu bahagia, kamu harus berjanji akan selalu bahagia. Jangan bersedih karena mata ku akan jauh lebih sakit merasakannya.
Aku mencintaimu dengan sederhana ...
Alam mengungkapkan isi hatinya membatin sambil matanya fokus menatap Amira yang benar-benar tertidur.
Dengan gemetar Alam mencium layar ponselnya seolah yang Alam cium Amira.
Deg ...
Alam terkejut ketika di layar ponselnya ada setetes darah. Alam langsung meraba hidungnya.
Alam hanya bisa tersenyum kecut melihat darah di tangannya. Ternyata hidungnya mengeluarkan darah lagi.
Dengan cepat Alam menghapusnya karena tak mau Amira terbangun dan melihatnya.
Alam membaringkan tubuhnya menyamping sambil memposisikan layar ponselnya ke hadapan dia. Seolah mereka sedang tidur menyamping dan saling tatap satu sama lain.
Alam terus saja menatap Amira sampai seberapa kuat matanya mengedip.
Hingga lama kelamaan Alam juga merasa kantuk. Hingga Alam pun tertidur tanpa mematikan Vidio call nya.
Cinta yang begitu besar dari keduanya namun, apakah bisa mereka bertahan dengan semuanya.
Entahlah, Alam dan Amira tidak tahu, mereka hanya menjalani apa yang menurut mereka baik. Biarlah ini berjalan seperti ini hingga mereka akan menemukan hasilnya sendiri.
Ikatan mereka terlalu kuat untuk di abaikan. Cinta mereka terlalu besar untuk di pisahkan. Sayang mereka terlalu sempit untuk berbagi.
Hanya mereka berdua tak ada yang lain, mereka berdua tak ada orang ke tiga. Biarlah mereka bahagia dengan cara mereka sendiri. Jangan di halangi, jika tak mau ada sebuah penyesalan yang begitu besar.
Namun, keegoisan akan mengalahkan semuanya. Cinta yang besar akan hancur oleh sebuah keegoisan. Hingga pada akhirnya hanya sebuah penyesalan yang mereka rasakan.
Sungguh indah cinta mereka bahkan keheningan malam menjadi saksi bisu mereka. Seolah rembulan merestui dan menjaga mereka.
Seolah malam menginginkan mereka untuk istirahat sejenak. Pejamkan mata dan kalian akan berada di sebuah tempat yang sangatlah indah.
Hanya mereka berdua yang tahu dan di sana hanya mereka berdua penghuninya.
Seolah cinta mereka juga akan abadi di sana, walau mimpi itu tak seindah kenyataannya.
Vina, yang terbangun menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Suara itu, Vina hapal siapa pemiliknya. Bagaimana mungkin mereka saling mencintai. Bukankah mereka saudara. Vina sungguh tak menyangka dengan kebenaran yang ia tahu.
Jadi, Amira dan bosnya itu mempunyai hubungan lebih dari kata saudara.
Antara percaya dan tak percaya namun Vina mendengar dengan telinganya sendiri.
Entah harus pandangan seperti apa yang harus Vina lakukan. Ini terlalu mengejutkan.
Namun, mendengar percakapan mereka. Sudah bisa Vina tebak jika cinta mereka begitu besar. Bahkan sulit untuk di katakan. Hanya dengan memahami Vina faham sebesar apa cinta mereka.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...