
Amira begitu semangat masuk kerja, karena hari ini hari pertama Amira masuk kerja.
Amira sudah rapih dengan stail bajunya.
Amira kembali ceria di pagi ini seolah malam tadi tak terjadi apa-apa. Bahkan Amira terlihat ceria seolah memang ia benar-benar menyambut hari barunya tanpa rasa beban sedikitpun.
"Mah, yah, Rara pergi dulu takut telat!"
"Sayang gak bawa mobil!"
"Ingat! perjanjiannya Yah!"
Teriak Amira berlari keluar rumah di mana babang ojek online sudah menunggunya.
Jek menggelengkan kepala, sambil tersenyum melihat putrinya yang kembali ceria. Walau Jek sedikit tak setuju jika putrinya selama bekerja tak akan membawa mobil.
Selain bekerja di perusahaan Alam, Amira juga meminta jangan sampai ada satu orang pun yang tahu identitas dirinya. Dan, Amira akan berpenampilan sederhana seolah dia memang karyawan bisa dan juga bukan putri pengusaha besar.
"Anak itu kenapa malah bikin susah sendiri!"
"Ingat! Amira sama seperti kamu sayang!"
Melati hanya mengerucut kan bibirnya saja jika sudah mendengar ucapan itu.
Putri nya memang ada-ada saja, kenapa juga harus bekerja dari bawah.
Apa susahnya langsung saja bekerja di perusahaan sendiri tanpa cape-cape bekerja di perusahaan lain walau itu perusahaan saudara sendiri.
.
Pagi ini perusahaan Q.B grup terlihat orang-orang nya hilir mudik mengerjakan setiap pekerjaannya masing-masing.
Alam seperti biasa ia akan di sibukkan dengan berbagai berkas. Alam harus mempelajari beberapa berkas sebelum ia memimpin rapat.
Alam melirik keatas mejanya, kenapa di atas mejanya belum ada secangkir teh.
Sudah menjadi kebiasaan, secangkir teh sudah harus sedia di meja Alam sebelum Alam masuk tanpa di suruh lagi. Dan, jika waktu menjelang siang dan Sore maka secangkir kopi harus segera di antarkan ke ruangannya.
Itulah yang aturan Alam terapkan bagi siapa saja yang bertugas membuatkan secangkir teh dan kopi buatnya.
Tok .. tok ...
Ketukan pintu membuat Alam sejenak menghentikan kegiatannya.
"Masuk!"
Jawab Alam tanpa menoleh sedikitpun. Seolah Alam tak peduli siapa orang yang masuk keruangan ya. Karena Alam tahu, biasanya sekertaris nya yang selalu mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangannya.
Berbeda dengan Dom, sang asisten yang akan nyelonong begitu saja masuk ke ruangan Alam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ada apa?"
__ADS_1
Tanya Alam masih tanpa menoleh pada seseorang yang masuk ke ruangannya. Alam masih saja fokus pada pekerjaannya seolah benar-benar tak peduli pada orang di depannya.
"Teh!"
"Taruh di situ!"
Ucap Alam menunjuk ujung pinggir meja yang di mana ada khusus sebuah tempat untuk menyimpan cangkir.
"Lain kali jangan sampai telat, jika tak ingin di pecat!"
Ketus Alam, tak suka akan siapa saja para pekerja yang tak tepat waktu dan telat dalam bekerja.
Karena Alam sedang sibuk dan memberi toleransi pada office girl nya yang baru karena Alam sudah di beri tahu bahwa akan ada office girl baru yang menggantikan office girl yang tiga hari lalu di pecat oleh Alam.
"Baik pak!"
Tak ...
Pen yang Alam pegang seketika jatuh, Alam terkejut mendengar suara yang begitu Alam kenali siapa pemiliknya.
Dengan ragu Alam mengangkat kepalanya guna memastikan jika apa yang ia dengar salah.
Deg ..
Alam membulatkan kedua matanya melihat siapa yang berdiri di hadapan mejanya. Yang di tatap tajam malah tersenyum manis seolah tidak takut akan ancaman Alam.
"Ka-kau, ken--"
Ujar Amira tersenyum penuh kemenangan sudah membuat Alam terkejut. Bahkan ekspresinya sangat menggemaskan di mata Amira.
Amira buru-buru keluar sebelum Alam marah.
Entah bagaimana Amira bisa bekerja jadi office girl, bukan kepala deviasi marketing.
Tentu, Amira melakukan segala cara agar dirinya mendapat posisi itu. Entah apa yang di lakukan Amira pada bagian HDR hingga membuat ia tak jadi di posisi menjadi kepala deviasi marketing dan malah menjadi office girl.
Amira tersenyum-senyum sendiri keluar dari ruangan Alam.
"Kenapa dengan gadis itu!"
Gumam Tifani merasa merinding melihat Amira tersenyum sendiri sambil mengigit nampan.
Karena tak mau ambil pusing Tifani melanjutkan jalannya menuju ruang Alam.
"Ini baru permulaan om, dan Rara yakin om akan berhasil Rara taklukan!"
Monolog Amira tersenyum seringai. Entah kegilaan apa yang akan Amira lakukan. Kenapa Amira sebodoh itu mengejar-ngejar orang yang tak akan pernah peduli padanya.
Dan, malah melepas orang yang benar-benar tulus mencintai nya.
Cinta memang unik sangat sangat unik, selalu menghadirkan berbagai macam rasa yang terkadang tak bisa kita kuasai. Bahkan yang lebih parah, jika memilih masuk kedalam jurang kesakitan sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana di marahin gak sama bos?"
Tanya Vina teman baru Amira yang bekerja sebagai Office Girl sama seperti dirinya.
Vina sudah satu tahun bekerja di perusahaan Q.B Grup.
"Gak!"
Jawab singkat Amira membuat Vina melotot tak percaya. Pasalnya mereka tahu, bos mereka selalu sensitif jika ada pekerja yang lalai atau melakukan kesalahan sekecil apapun.
Bahkan banyak karyawan yang di pecat akibat kesalahan yang tak disiplin dalam masuk atau bekerja.
"Masa sih, aku gak percaya. Katanya bos itu galak banget. Bahkan teman aku saja tiga hari lalu di pecat gara-gara sudah tiga kali dia salah membuat kopi!"
"Jadi, sampai sekarang aku gak mau mengantarkan kopi atau teh punya bos, aku masih sayang pekerjaan!"
Jelas Vina masih bergidik ngeri, walau Vina belum pernah melihat wajah bosnya tapi dari rumor beredar bahwa bosnya itu galak dan kejam membuat Vina tak mau bertemu dengan bosnya itu.
Bagaimana kalau bosnya mukanya buruk rupa, dan punya gigi tajam, di tambah galak apa Vina akan di makan hidup-hidup.
"Kau ini penakut, Cemen!"
"Bukan begitu Ra, aku suka gemetar jika berhadapan sama orang galak. Bagaimana jika aku bawa gelas terus gelasnya jatuh ahhh ... aku gak mau di pecat!!!"
Jerit Vina ketakutan dengan bayangan konyolnya sendiri.
"Ada apa, kenapa berteriak!"
Panik Andri teman Vina yang bekerja sebagai Office boy.
"Tidak ada apa-apa!"
Jawab santai Amira membuat Andri tersenyum kaku. Pasalnya Amira sudah menarik perhatiannya dari awal mulai Amira masuk.
"Sudah ah, aku harus mengantar minuman ini pada manajer pemasaran!"
Ucap Amira karena tak mau terus di tatap aneh oleh Andri. Pasalnya mereka baru berkenalan tapi Andri bersikap seperti itu.
Plak ...
"Woy, ngapain lihatin Amira segitu nya!"
Kesal Vina sambil memukul lengan Andri yang malah bengong.
"Cantik! apa Amira sudah punya pacar!"
"Mimpi jangan ketinggian, mana mau Amira sama kamu!"
Ketus Vina pergi karena dia juga harus mengantarkan minuman.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...