
Sebuah acara pernikahan yang begitu sederhana. Hanya keluarga Al-biru dan Prayoga saja yang menghadiri.
Acara pernikahan yang memang sudah di rencanakan.
Ketika sebuah perjuangan yang cukup rumit membuahkan hasil yang manis. Pada akhirnya Alam dan Amira menikah. Mereka sudah sah menjadi suami istri beberapa jam yang lalu.
Tak ada kemewahan di sana, namun sebuah kebahagiaan yang begitu besar terdapat di sana. Bahkan acara pernikahan nya pun di gelar di rumah Alam sendiri. Karena itu permintaan Dinda.
Aurora dan Fatih turut hadir menyaksikan kebahagiaan om dan kakak sepupu nya.
Begitupun Moreo dan Amelia ada di sana menyaksikan kebahagiaan Amira. Walau ada rasa sakit di hati Moreo menyaksikan. Namun, Moreo juga ingin menjadi salah satu alasan kebahagiaan Amira. Moreo tak mau mengecewakan Amira dengan ketidak hadiran ya.
Walau tak bisa bersama Amira setidaknya Moreo masih bisa menjadi sahabat baik untuk Amira.
Patah hati siapa yang tahu, bahkan rasanya sangat menyakitkan. Namun, Moreo faham dengan kata-kata om Farhan.
Benar!
Amira akan menderita jika bersamanya, lebih baik mengikhlaskan Amira dengan cintanya.
Karena tak cukup kuat, Moreo memilih keluar dan diam di taman.
Bagaimana Moreo bisa kuat jika melihat Amira dan Alam tersenyum bahagia atas bersatunya mereka.
"Selamat sayang, kamu sudah jadi istri. Jadilah istri yang baik dan patuh akan suami. Mama berharap kamu akan selalu bahagia sayang!"
Ucap Melati memeluk erat putri satu-satunya, kini dia sudah menjadi milik orang lain.
Amira membalas pelukan sang mama dengan Isak tangis yang tak bisa mereka bendung lagi.
Isak tangis kebahagiaan bukan kesedihan lagi.
"Terimakasih mah, doakan Rara selalu. Maafkan jika Rara menyakiti mama!"
Jek memeluk istri dan putrinya, sungguh Jek belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Putri kebanggaannya yang hampir saja dia hancurkan hidupnya. Nyatanya hanya meminta satu kebahagiaan saja. Yaitu menikah dengan Alam, Jek berharap putrinya akan selalu bahagia.
Dinda dan Fandi pun terharu, mereka meneteskan air mata. Dinda berharap, keadaan putranya jauh lebih baik lagi setelah menikah. Berharap sang putra mempunyai harapan panjang untuk selalu sehat.
"Mama, ayah udah dong pelukannya. Sekarang Amira milikku!"
Ucap Alam merajuk bak anak kecil pada Melati dan Jek. Semua orang tertawa mendengar rengekan Alam yang sangat menggelikan.
Sungguh Mereka tak menyangka Alam bisa bertingkah seperti itu juga. Seperti bukan karakter Alam yang biasa.
Alam menarik Amira kedalam pelukannya posesif. Membuat Melati dan Jek terkekeh saja. Jek dan Melati merasa bahagia jika melihat tawa sang putri yang begitu lepas tanpa beban. Tawa kebahagiaan yang baru mereka lihat. Seolah tawa itu sesuatu yang mempesona. Tawa langka yang Amira tunjukan.
Aurora sibuk mengabadikan semua momen di layar ponselnya. Sedang Fatih hanya diam saja. Sesekali wajahnya berubah tegang, biasa dan datar. Entah apa yang terjadi pada Fatih.
Lalu Fatih pergi begitu saja dari kebahagiaan tersebut menyembunyikan diri.
"Sayang, apa kamu lelah?"
__ADS_1
Tanya Alam yang melihat Amira memijit betisnya.
"Sedikit,"
Ucap Amira sendu, kebahagiaan nya terasa ada yang kurang.
Dua sahabatnya tak ada satupun yang menyaksikan momen sepesial ini. Harusnya Bunga dan Shofi ada, berkumpul bersama mereka.
Bunga tak bisa datang karena Sekar sedang sakit. Tak memungkinkan Bunga membawa Sekar pergi terlalu jauh. Sedang Shofi, entah di mana keberadaan. Andai saja Fatih tak hilang ingatan mungkin sudah lama Fatih mencari Shofi.
Namun sayang, sampai saat ini Fatih belum bisa mengingat kembali siapa dirinya.
"Kita istirahat saja ya,"
Bujuk Alam membuat Amira mengangguk saja.
"Mah, Dad, dan semuanya Alam bawa Amira istirahat dulu. Seperti nya dia kelelahan,"
"Iya sayang, kalian harus istirahat!"
Ucap Dinda pengertian, karena tak mau kondisi Alam dan Amira malah drop jika terus memaksa gabung.
Alam menggendong Amira menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Semua orang tersenyum melihat pengantin baru itu.
Walau pernikahan sederhana namun mereka bahagia. Tak memungkinkan bagi mereka mengadakan resepsi di saat keadaan Alam belum stabil. Toh, pernikahan mereka tak ada yang tahu hanya keluarga saja dan teman terdekat dan tak akan sampai bocor ke publik.
Mungkin jika keadaan Alam benar-benar sudah pulih betul dan Amira sudah siap maka mereka akan mengadakan resepsi pernikahan yang besar, kalau perlu mengundang semua wartawan dan stasiun TV. Agar acara tersebut tayang dan dapat di lihat oleh banyak orang.
Alam membaringkan Amira di atas ranjang dengan hati-hati.
Ucap Amira tulus karena Alam sudah menggendongnya.
Amira melempar pandangannya ke setiap penjuru kamar Alam. Kamar yang baru pertama kali Amira masuki.
Kamar yang cukup luas dan rapih, bahkan Alam begitu pintar menata semua.
"Sayang, kalau mau tidur buka dulu bajunya,"
Ucap Alam mengingatkan, namun Amira tak mengiyakan. Karena rasa kantuk yang begitu tiba-tiba menyerang.
Alam tersenyum saja ketika Amira malah tertidur tanpa membuka bajunya dulu. Sedang Alam sudah berganti pakaian.
Karena tak mau menggangu tidur sang istri Alam membiarkan saja. Justru Alam malah ikut berbaring di samping Amira.
Siang itu mereka habiskan untuk istirahat saja, apalagi Alam mulai merasakan pusing lagi.
Jika pengantin baru mereka malah tertidur. Berbeda dengan semua keluarga yang masih terlibat obrolan.
"Ngomong-ngomong dimana Fatih, sendari tadi tidak kelihatan?"
Tanya Queen pada semua orang yang baru sadar kalau Fatih memang tidak ada.
__ADS_1
"Kakak tadi izin keluar Bun!"
Jawab Amira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Apa bilang mau kemana?"
"Tidak!"
"Dan Moreo juga dimana?"
Tanya Queen lagi pada semua orang karena baru sadar Moreo tidak ada. Hanya ada Amelia, pak Anwar saja yang ikut bergabung.
Amelia langsung melebarkan pandangannya baru tahu kalau ada Moreo juga ikut hadir.
Sedangkan orang yang semua orang cari sedang berada di taman saling berhadapan.
Ya, Fatih niatnya ingin mencari udara segar terhenti ketika melihat Moreo duduk di atas kursi roda.
Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Moreo ingin sekali berjalan dan memeluk sahabatnya. Namun, apalah daya, Moreo tak seberani itu apalagi Fatih belum mengingatnya.
Sedang Fatih hanya diam saja menatap wajah Moreo. Wajah yang tak asing namun Fatih tak tahu siapa itu.
"Tunggu!"
Ucap Moreo memberanikan diri bicara ketika Fatih akan pergi meninggalkannya.
Fatih menghentikan langkahnya ketika Moreo mencegah dia. Sekelebat bayangan tiba-tiba datang membuat Fatih memejamkan kedua matanya kuat. Namun, sayang bayangan itu blur, belum jelas siapa saja orang-orang yang terlintas di sana.
"Apa kamu benar tak mengingatku?"
Tanya Moreo mencoba memberanikan diri. Fatih yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung berbalik dan Moreo sudah berada tepat di hadapannya.
"Ka-kau, kau yang hampir mencelakai adikku!"
Moreo tersenyum getir, ternyata apa yang di katakan om Farhan benar. Fatih ingat hanya keburukannya saja bukan masa dimana mereka menjalin persahabatan.
"Terus kenapa kamu tak menghajar ku!"
"Mau, namun papa melarang!"
"Apa kamu benar tak ingat sama sekali, tentang dimana aku berubah. Kebersamaan kita di masa SMA!"
Kini Fatih yang terdiam, apa benar dia satu sekolah dulu dengan Moreo. Tapi kenapa sang papa dan Sang Bunda tak memberitahu.
"Jangan membual!"
Ketus Fatih meninggalkan Moreo begitu saja.
"Apa kau tak ingat juga tentang Shofi!"
Deg ...
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah,komen dan Vote Terimakasih ...