Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 21 Pagi cinta


__ADS_3

Alam dan Amira sepakat, bahwa mereka akan menyembunyikan hubungan mereka dulu.


Walau Alam tahu, kedua orang tua mereka sudah tahu mereka saling mencintai. Namun, Alam menyembunyikan hal itu dari Amira. Alam tak mau, kalau Amira kepikiran akan hal itu.


Biarlah Alam sendiri yang tahu akan hal itu. Ini sudah menjadi keputusan Alam ketika dia memilih mengakui perasaannya.


Alam hanya meminta, sejenak waktu untuk dia habiskan bersama Amira.


Benar kata Dom, Alam akan menyesal jika tak mengakui perasaannya. Dan, kini sudah alam putuskan. Dia memulai hubungan baru bersama Amira dengan diam-diam dan hanya Dom yang tahu.


Entah alasan apa tiba-tiba Alam memutuskan mengungkapkan perasannya. Padahal sebelumnya Alam sangat menyangkal keras akan rasa itu.


"Terimakasih Dom!"


Ucap Alam tulus, mungkin jika tak ada Dom Alam akan menjadi manusia paling bodoh sedunia.


"Aku senang jika kamu bahagia. Walau aku tahu bahagia mu hanya hitungan waktu!"


Getir Dom tersenyum tipis pada sahabatnya sekaligus bosnya.


"Cepatlah keluar, Amira pasti sebentar lagi mengantar teh!"


Usir Alam mengalihkan pembicaraan. Alam hanya takut Amira mendengar percakapan mereka.


"Cih, sekarang kau mengusir ku!"


Kesal Dom pura-pura marah dia langsung keluar dari ruangan Alam.


Dan benar saja, Dom berpapasan dengan Amira yang sedang membawa teh.


Amira menautkan kedua alisnya melihat wajah Dom yang tak bersahabat. Bahkan tatapan Dom seolah tak suka padanya.


"Pagi om!"


"Pagi cinta!"


Bluss ...


Pipi Amira memanas mendengar ucapan gombal Alam. Sungguh Amira belum pernah merasakan sebahagia ini.


Bahkan kini Amira tak perlu lagi menempelkan nota di bibir gelas karena nota nya langsung keluar dari bibirnya.


"Semangat kerjanya!"


"Mau kemana!"


Cegah Alam ketika Amira akan kembali.


"Kau melupakan sesuatu!"


Goda Alam membuat Amira semakin memerah. Dengan ragu Amira mendekat dan memberikan sebuah kecupan semangat di pipi Alam.


"Sudah, Rara harus segera keluar!"


Alam hanya mengangguk saja karena sudah mendapatkan vitamin paginya. Jika begini semangat Alam akan selalu meningkat di setiap harinya.


Alam seperti nya menemukan dunia baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa yang lama namun baru merasakannya.


Sungguh, Alam tak akan pernah menyesal dengan keputusannya saat ini. Walau Alam akan menentang sang Daddy dan sang mama.


Dua hari kemaren Alam tak masuk karena Alam sempat pingsan ketika mendapat amukan dari sang Daddy.


Flash back ...


Dua hari lalu ...

__ADS_1


Alam memaksakan ikut pertemuan walau dirinya kurang sehat.


Dia menjelaskan semuanya tentang produk yang sebentar lagi akan launching dengan sangat profesional. Bahkan tak terlihat gelagat bahwa Alam sedang sakit.


Sesudah selesai, Alam mengajak sang Daddy dan sang mama berkeliling kantor mengenang waktu mereka dulu.


Keadaan terlihat biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan Alam pun nampak biasa saja terhadap kedua orang tuanya.


Hingga tiba-tiba Fandi mengajak Alam menuju atap gedung. Dimana dulu Fandi dan Dinda menghabiskan waktu berdua di sana. Ketika otak mereka sedang mumet oleh pekerjaan.


"Tempat ini masih sama seperti dulu!"


"Alam yang merawatnya mah, karena Alam tahu ini tempat favorit mama sama Daddy!"


Ucap Alam bangga menceritakan bagaimana setiap hari dia membersihkan tempat favorit kedua orang tuanya.


Namun, seketika senyuman Alam luntur ketika melihat kedua orang tuanya terdiam seolah tak menyukai cerita dia.


"Ma, Dad kalian kenapa. Kok lihatin Alam kaya gitu?"


Tanya Alam bingung, tak biasanya kedua orang tuanya memberikan tatapan seperti itu.


Fandi mendekat seolah sedang menahan amarahnya dari tadi.


Bugh ...


Bugh ...


Fandi meninju putranya dengan keras bahkan sampai Alam tersungkur.


Alam terkejut dengan apa yang sang Daddy lakukan. Kenapa tiba-tiba dia memukulnya. Apa salah dia, kenapa sang Daddy terlihat marah padanya.


Bahkan sang mama juga hanya diam menatap dia dengan penuh kekecewaan membuat Alam benar-benar bingung.


"Dad, kenapa? apa salah Alam?"


Bukannya menjawab Fandi kembali memberikan tinju pada putranya. Hingga Alam kembali tersungkur, bahkan kini bibir dan hidungnya kembali berdarah.


Buru-buru Alam menghapus darah di hidungnya.


"Tunggu dad, tolong jelaskan apa yang terjadi. Kenapa memukul Alam!"


Di sisa tenaganya Alam berusaha menuntut penjelasan dengan apa yang sang Daddy lakukan.


Perasaan Alam tak pernah melakukan kesalahan. Tapi, kenapa sang Daddy bisa semarah itu.


Fandi sedikit terkejut ketika melihat putranya menghapus darah di hidungnya. Namun, karena rasa marah dan kecewa membuat Fandi gelap mata.


"Mah, kenapa?"


Mohon Alam memelas meminta kejelasan karena sang Daddy tak mau memberi tahunya.


"Mama kecewa hiks ...,"


Deg ...


Alam terkejut melihat rekaman kejadian tadi pagi. Dimana dia bertengkar dengan Amira. Bagaimana bisa kedua orang tuanya tahu akan hal itu!


"Ma, dad ini tak seperti yang kalian pikirkan!"


"Pikirkan bagaimana, bahkan kau mencium Amira!"


Duarrr ...


Alam terdiam karena tak bisa membela dirinya sendiri. Kedua orang tuanya sudah mengetahui.

__ADS_1


"Sejak kapan?"


"Bagaimana mungkin putraku mencintai cucuku sendiri!"


Hancur Dinda menangis karena tak bisa menahan lagi rasa kecewanya pada putra yang ia banggakan.


"Ma!"


"Jangan mendekat!"


Cegah Dinda tak mau di sentuh Alam membuat Alam benar-benar hancur.


"Ma, Alam bisa jelaskan!"


"Jangan panggil mama sebelum kamu menghilangkan rasa itu!"


Bentak Dinda tak tahan lagi. Sungguh Dinda sangat kecewa mengetahui kebenaran putranya.


Hancur sudah hati Alam ketika melihat tatapan kecewa dari sang mama. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan kedua orang tuanya sudah tahu.


"Jangan temui kami sebelum kau sadar di mana letak kesalahan mu!"


Tegas Fandi langsung membawa istrinya pergi. Apalagi Dinda sepertinya sudah tak kuat lagi menahan kekecewaan itu.


Alam ingin mengejar kedua orang tuanya namun kepalanya semakin terasa sakit membuat Alam malah terjatuh.


"Ma, dad Alam bisa jelaskan!"


Teriak Alam namun tak di pedulikan Fandi dan Dinda yang sudah terlanjur kecewa. Bahkan yang membuat Dinda semakin kecewa ketika putranya malah meminta Amira melupakannya dan menganggap Amira seperti wanita murahan.


Hati ibu mana yang tak hancur melihat putranya menjadi pria se brengsek itu.


Alam tak bisa lagi mengejar kedua orang tuanya ketika kepalanya semakin pusing dan darah kembali keluar dari hidungnya.


Bruk ...


"Alam!"


Teriak Dom menghampiri Alam yang pingsan. Sejak tadi memang Dom bersembunyi di sana. Karena Dom takut terjadi sesuatu pada sahabat nya. Ternyata dugaan Dom benar.


Dalam keadaan seperti ini Dom yang di buat bingung. Tidak mungkin Dom membawa Alam kerumah sakit dalam keadaan seperti ini.


Dom memutuskan memanggil dokter yang biasa menangani Alam untuk datang ke kantor.


"Bertahanlah!"


Gumam Dom mengangkat Alam ke dalam sebuah ruangan yang ada di sana.


Dom berusaha membersihkan darah yang terus keluar di hidung Alam. Dan berusaha membuat Alam tetap sadar.


Dom terus mengupat karena sang dokter belum datang juga.


"Cepat periksa, kenapa lama sialan!"


Bentak Dom pada sang dokter yang baru sampai dengan nafas ngos-ngosan karena harus menghindar bertemu dengan Fandi dan Dinda.


"Ini tak bisa di biarkan, penyakit tuan muda semakin parah. Tuan muda harus segera di operasi, setidaknya melakukan kemoterapi dulu!"


Dom terdiam mendengar penjelasan dokter, apa penyakit Alam sudah separah itu.


Dom tidak bisa memutuskan sendiri, Dom harus bicara serius dengan Alam ketika Alam sudah sadar.


Flash back on ...


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...



__ADS_2