Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 62 Terbelenggu dalam kerinduan


__ADS_3

Dinda duduk di samping Alam yang terbujur kaku. Tak ada tanda-tanda Alam akan bangun.


Tes ...


Setetes air mata keluar membasahi pipi Dinda. Dengan gemetar Dinda meraih tangan Alam yang kaku dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya.


Cup ..


Di kecupnya lembut punggung tangan Alam dengan air mata yang semakin deras keluar.


"Sayang maafkan mama!"


Lilir Dinda gemetar bahkan sampai mengigit bibir bawahnya. Sungguh Dinda sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan pada putranya.


"Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu itu?"


"Tidak! apa yang salah mah, Alam mencintai Amira!"


"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan, maka mama bersumpah sampai kapanpun mama tak akan merestui hubungan kalian!"


"Alam tak peduli, Alam akan tetap mempertahankan Amira!"


Dinda semakin terisak mengingat betapa tegasnya keputusan yang Alam ambil. Sungguh, Dinda tak menyangka bahwa putranya sebegitu besar mencintai Amira.


Kini Alam berada di ujung maut dan Dinda tak bisa melakukan apa-apa untuk Alam.


Merestui!


Walau sekarang Dinda merestui semuanya percuma karena Alam tak bisa apa-apa.


Andai saja dari pertama Dinda merestui, mungkin semuanya tak akan se mengerikan ini. Semuanya telah terjadi dan tak bisa di ulang kembali.


"Maafkan mama!"


Dinda terus terisak dengan kata maaf yang terus keluar dari bibirnya. Entah sudah berapa ratus kali Dinda mengucapkan kata maaf.


"Bangunlah nak, mama janji mama akan merestui hubungan kalian!"


"Mama akan melakukan cara apapun untuk menikahkan kalian. Mama mohon bangun, nak!"


Hiks ... hiks ...


Sungguh Dinda tak kuat melihat semuanya.


Putranya baik-baik saja selama ini bahkan tak pernah sekalipun Alam mengeluh sakit. Dan kini putranya terbujur kaku dengan kabel menancap di mana-mana.


Kenapa Dinda tak sadar, jika akhir-akhir ini badan Alam kurusan. Dan, bahkan memilih pergi. Apa ini salah satu alasannya karena Alam tak mau dia tahu bahwa Alam sakit.


Sungguh, kenapa Dinda tak peka. Karena rasa marah dan kecewa membuat Dinda gelap mata dan sekarang putranya kesakitan sendiri.


"Bangun nak, bangun. Amira sedang menunggu!"


"Ya, Amira sedang menunggu kamu. Bangun nak mama mohon hiks ..,"


Fandi yang sendari tadi diam tak kuasa melihat sang istri. Fandi langsung mendekap sang istri yang sudah mulai tak terkendali lagi.


Sungguh, Fandi sangat sakit melihat keadaan sang istri seperti ini. Seolah hilang arah.

__ADS_1


"Sayang, cukup cukup!"


Ucap Fandi memeluk erat Dinda yang memukul-mukul dadanya kuat. Fandi tak akan membiarkan istrinya menyakiti dirinya sendiri.


"Bangunkan putraku hiks ... bangunkan dia. Bangunkan dia dad, bangunkan putraku!"


Jerit Dinda semakin tak terkendali membuat Fandi sungguh dak kuat melihat kondisi sang istri seperti ini.


Tak pernah Dinda se terpuruk ini, bahkan sampai stres.


Bagaimana cara Fandi menenangkan sang istri. Sungguh Fandi takut, jika yang di katakan dokter membuat sang istri akan semakin berbahaya.


Karena faktor stres memicu darah naik dan itu bisa membuat Dinda terkena serangan jantung.


Fandi tak mau itu terjadi, bagaimana Fandi bisa kaut jika kekuatannya telah layu.


Fandi terus mengeratkan pelukannya berharap sang istri bisa tenang.


.


Fandi membaringkan sang istri di atas shopa karena terlalu lelah menangis membuat Dinda tertidur.


Fandi menatap wajah sang istri yang terlihat kurusan. Pipi chaby nya mulai menghilang.


Di tatapnya Dinda dan Alam secara bergantian.


Dua orang yang begitu berharga di hidup Fandi. Kehadiran Alam bagai anugrah terindah bagi Fandi. Karena saat itu kecil sekali untuk Dinda bisa hamil kembali di usianya yang waktu itu sudah menginjak tiga puluh delapan.


Namun, keajaiban nyatanya ada, Dinda hamil dan hadirlah Alam di antar mereka. Buah cinta mereka yang membuat cinta mereka semakin kuat.


Fandi berjalan menuju brankar Alam.


Kini tak ada lagi yang membuatnya selalu cemburu. Tak ada lagi yang membuatnya kesal. Tak ada lagi yang membuat Fandi berebutan hanya ingin tidur di pangkuan Dinda.


Kini, saingannya tak berdaya, bahkan bergerak pun tak bisa.


Putranya selalu memberi warna di setiap harinya. Namun, kini warna itu berubah gelap tanpa menyisakan celah untuk warna lain.


"Nak, bangunlah. Tak kasihan kah kamu melihat mama seperti ini!"


Gumam Fandi sambil mengelus rambut Alam dengan penuh kasih sayang.


"Kamu jagoan Daddy, bukankah jagoan Daddy kuat!"


"Jagoan Daddy tak pernah sekalipun menyakiti mama. Jagoan Daddy selalu membuat mama tersenyum. Bangunlah nak, katakan pada mama kalau kamu baik-baik saja!"


Alam hanya diam saja tak sedikitpun merespon. Seolah memang Alam tak mendengar apapun.


Tetap terbaring kaku tak berdaya, hanya suara monitor saja yang sendari tadi menjawab setiap kata yang Fandi ucapkan.


Bunyinya yang nyaring membuat ruangan nampak terasa dingin.


"Cepat bangun nak, jangan hukum kami seperti ini!"


Gumam Fandi membisikkan suaranya tepat di dekat telinga Alam. Entah apa lagi yang Fandi bisikkan pada Alam karena suaranya terdengar pelan.


Namun, suara monitor yang semakin nyaring pertanda bahwa Alam mulai merespon suara Fandi. Suara monitor semakin nyaring terdengar bersamaan dengan tubuh Alam yang mengalami kejang-kejang.

__ADS_1


Dinda yang tertidur pun langsung bangun karena terkejut mendengar suara monitor yang begitu nyaring.


"Dad, ada apa. Apa yang terjadi dengan putraku!"


Ucap Dinda panik, namun bukannya menjawab Fandi malah melengos keluar ruangan.


"Sayang kamu kenapa nak, jangan buat mama takut. Daddy!!"


Ucap Dinda gemetar sambil memanggil nama suaminya yang malah keluar.


.


Prang ...


Amira yang lemas badannya tak sengaja menyenggol nampan yang ada di atas naskah, terjatuh.


Dada Amira terasa sesak dan sakit, pikirannya melayang pada Alam.


Hanya satu nama saja yang Amira pikirkan, perasaannya cemas tak beratur.


Apa yang terjadi dengan Alam, apa ia baik-baik saja. Sungguh, Amira ingin mendekap tubuh hangat Alam. Kerinduan yang membuncah membuat Amira hilang akal.


Rasa rindu itu kian menggerogoti kewarasannya. Bahkan Amira sampai tak mau makan dan minum. Badannya lemas tak bertulang. Bagi Amira kesakitan ini tak ada apa-apa di banding rasa rindu yang membelenggu.


Amira terkapar tak berdaya dengan pecahan gelas dan piring yang berada di atas nampan.


Rasanya Amira sulit bernafas, bahkan matanya mulai menutup. Bayangan senyuman Alam yang selalu menghiasi pandangan matanya membuat Amira tersenyum di sisa kesadarannya.


Brak ...


"Amira!!!"


Teriak Moreo dan Melati membulatkan kedua matanya melihat Amira terkapar di lantai dengan pecahan gelas dan piring di mana-mana, bahkan nasi yang ada di atasnya berceceran.


Baru saja Moreo mengantarkan makanan untuk Amira.


Tak lama setelah itu, Moreo terkejut mendengar suara terjatuh. Tanpa menunggu, Moreo kembali keatas di ikuti Melati yang memang mendengar suara barang pecah.


Moreo mengangkat Amira dan membaringkannya di atas ranjang. Sedang Melati membereskan pecahan gelas tersebut dengan air mata yang terjatuh. Sungguh, Melati tak sanggup jika harus melihat putrinya menyiksa dirinya terus.


"Tan, saya menelepon dokter dulu!"


Izin Moreo keluar guna memanggil dokter agar kerumah Amira.


Sungguh, dua manusia yang saling mencintai dan dua-duanya sedang berada di ujung tanduk. Berbaring lemah dengan keadaan yang begitu menyakitkan.


Seolah hati mereka saling mengikat, saling merasakan rasa sakit yang tiada henti.


Mereka tak mengharapkan apa-apa, yang mereka harapkan hanya di izinkan bersama walau hanya sebentar.


Di bawah alam sadar Alam dan Amira, mereka bertemu saling melempar senyum dan berlari masuk kedalam dekapan hangat Alam.


Kangen!


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1



__ADS_2