
Dari kejadian semalam membuat Amira banyak diam. Bahkan ditanya sama siapapun Amira tetap bungkam.
Matanya hanya tertuju pada Alam yang masih terbujur kaku tak berdaya.
Melihat keadaan Amira yang seperti itu membuat Melati merasa takut.
Namun, Fandi menyuruh mereka semua keluar membiarkan Amira bersama Alam.
Fandi yakin, Amira butuh waktu berdua untuk sekedar berinteraksi dengan Alam. Fandi yakin, Ada sebuah kata yang ingin Amira sampaikan pada Alam. Fandi berharap setelah ini Amira akan kembali pada Amira yang dulu. Selalu ceria dalam keadaan apapun.
Dengan berat hati Melati dan yang lainnya keluar. Sedangkan Jek berada di kantor untuk mengurus sesuatu.
Tatapan Amira begitu kosong, bahkan sorot mata itu tak lagi memancarkan kesedihan. Tatapan itu begitu aneh untuk di jelaskan.
Bukan lagi saatnya Amira bersedih, ia harus kuat. Bagaimana dia bisa membuat Alam kembali jika ia terus lemah seperti ini.
Amira bisa bangkit, guna membangunkan Alam dari tidur panjangnya.
Amira berjalan mendekat lalu duduk di salah satu kursi di samping brankar Alam.
Amira perlahan mengelap tangan Alam dengan kain yang sudah di basahi. Muka bahkan sampai tubuh Alam, Amira lap semuanya. Amira takut Alam merasa lengket dan gerah. Sesudah mengelap badan Alam, Amira meletakan kembali lap tersebut di atas naskah.
Srek ...
Amira membuka gorden jendela hingga nampak semburat cahaya mata hari langsung masuk menyinari Alam.
Amira kembali duduk lagi di samping Alam. Perlahan tangan Amira terulur mengelus rambut Alam dengan kelembutan.
"Dear, apa kamu mendengar ku!"
Gumam Amira menatap intens wajah tampan Alam yang nampak pucat.
"Selamat pagi, hari ini begitu cerah. Apa kamu melihat mentari yang sedang tersenyum. Lihatlah, nampaknya matahari menyapa kamu!"
Ucap Amira sambil terus mengelus rambut Alam. Sudah cukup bagi Amira terus bersedih, Amira kuat dia pasti bisa melewati ini semua.
"Bangunlah, mau sampai kapan terus tertidur. Kamu bukan putri tidur,"
"Apa kamu ingin tahu sesuatu!"
Amira terus saja berbicara seolah Amira sedang bercakap dengan Alam. Walau tak ada balasan dari Alam, Amira tak akan bosan untuk mengajak Alam berbicara.
Amira akan terus melakukan hal seperti itu sampai Alam bisa mendengar dan menjawab ucapannya.
"Aku mencintaimu, sangat!"
"Bangunlah, aku akan selalu menunggumu. Jangan pernah ragu akan kesetiaan ku,"
"Aku akan menunggu sampai kamu membalas genggaman ini, ucapan ini dan semua nya!"
Tak ada kata lelah bagi Amira untuk terus mengajak Alam mengobrol. Amira beranjak lalu mencondongkan wajahnya tepat di hadapan wajah Alam.
Amira semakin mendekatkan, wajahnya hingga tinggal beberapa inchi.
"Bangun, Dear!"
__ADS_1
"Sayang, bangun!"
"Tolong aku, hanya kamu yang bisa menolong ku."
Bisik Amira di telinga Alam dengan sensual. Setiap kalimat yang Amira ucapkan begitu lembut dan mendalam.
Cup ...
Amira mengecup lembut telinga Alam dengan lembut namun penuh penekanan.
Lalu Amira kembali duduk benar sambil menggenggam tangan Alam. Amira memijit-mijit lembut jari-jari Alam. Sesekali mengecupnya penuh cinta.
Bahkan ketika ada dokter Raftha datang guna memeriksa keadaan Alam. Tak se inchi pun Amira bergeser. Tetap duduk di posisi semula dengan tenang seolah Amira tak terganggu dengan kehadiran dokter Raftha.
Bahkan Dokter Raftha pun tidak masalah, justru kehadiran Amira membuat keadaan Alam semakin membaik walaupun masih belum sadar. Setidaknya, saraf-saraf pendengarannya mulai terhubung tanpa Amira sadari.
Bahkan keadaan Alam jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Teruslah berinteraksi dengan pasien, seperti nya anda memang orang yang berpengaruh besar atas kesembuhan pasien. Bahkan pijatan yang Anda lakukan itu mampu membuat saraf otot lengan pasien bekerja dengan baik!"
Jelas dokter Raftha membuat Amira diam saja tak bereaksi apapun. Bahkan tak ada senyuman yang keluar dari bibirnya. Hanya tatapan datar yang Amira pancarkan.
"Kalau begitu saya permisi dulu, nanti siang saya akan check lagi!"
Kali ini Amira hanya mengangguk saja, menanggapi ucapan dokter Raftha. Dokter Raftha tersenyum tipis melihat sikap Amira yang cuek bebek. Namun, mendengarkan dengan baik apa yang ia katakan.
"Terimakasih!"
Dokter Raftha menghentikan langkahnya, dengan bibir tertarik kesamping mendengar ucapan terimakasih dari Amira. Lalu dokter Raftha kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Alam.
"Dear, aku senang kamu baik-baik saja. Tapi, mau sampai kapan terus tidur, aku kesepian."
Monolog Amira mengelus rahang Alam. Lalu elusan Amira maju sedikit keatas hingga tepat di bibir pucat Alam.
Bibir yang selalu memberikan rasa manis padanya. Dan, bibir ini pula yang mengajarkan Amira sebuah rasa yang tak bisa Amira ungkapkan.
"Kangen!"
Lilir Amira terus mengusap-usap lembut bibir Alam. Kenangan indah waktu berlibur ke Pelabuhanratu kembali berputar di memori Amira. Terasa manis hingga sulit untuk di lupakan. Terutama, ketika mereka berkuda bareng. Mengingat itu semua hanya membuat Amira malu sendiri.
Pasalnya kenangan itu terlalu romantis untuk di lihat dan siapapun yang melihat itu semua pasti akan merasa iri.
"Kamu hal terindah yang mampu membuat aku jatuh cinta. Teruslah buat aku jatuh cinta di setiap hembusan nafas ini. Hingga aku lupa akan namanya sakit!"
"Ajarkan aku terus tersenyum hingga sampai aku lupa caranya bersedih!"
"Bukankah itu yang kamu mau, maka cepatlah bangun. Aku merindukan itu semua!"
Cup ...
Monolog Amira sambil mencium pipi Alam dengan lembut.
Entah sudah berapa lama Amira terus berinteraksi dengan Alam. Bahkan sampai Amira mulai merasa kantuk.
Amira kembali berbaring di samping Alam sambil memeluknya lembut. Amira menyimpan dagunya di ujung pundak Alam. Di lihatlah wajah Alam dari dekat.
__ADS_1
"Dear, aku merasa kantuk. Gak apa kan, aku tidur!"
"Tenang saja Aku sudah makan dan minum obat!"
Ucap Amira seolah melapor dulu pada Alam sebelum tidur. Seolah Alam mempertanyakan itu semua.
"Rara tidur, enjoy napping!"
Gumam Amira mulai melemah dengan kedua matanya yang mulai terpejam. Amira mengeratkan pelukannya singgah bibirnya menempel di rahang tegas Alam.
Melihat Amira sudah tidur siang, Dinda dan Melati masuk kedalam.
Dinda tersenyum melihat putra nya di cintai sebegitu besar oleh Amira. Entah harus bersyukur atau sedih.
Dinda perlahan mendekat, lalu menarik selimut guna menutupi tubuh mereka berdua.
Cup ..
Cup ...
Dinda mengecup pipi Amira dan kening Alam secara bergantian. Lalu mengelus lembut rambut mereka berdua.
"Cepat bangun nak, apa kamu gak kasihan dengan Amira. Lihatlah, dia begitu mengharapkan kamu bangun!"
Gumam Dinda menatap sendu sang putra. Dinda berharap Alam cepat sembuh dan mereka mulai hidup baru lagi.
"Mama percaya putra mama gak selemah ini, bangun nak bangun!"
Bisik Dinda di telinga Alam berharap Alam akan mendengarkan ucapannya. Berharap Alam akan merespon ucapannya.
Tak ...
Dinda diam mematung ketika sebuah tangan merespon genggamannya. Refleks Dinda langsung menoleh pada tangannya yang menggenggam tangan Alam.
Bibir Dinda gemetar dengan mata berkaca-kaca melihat tangan putranya bergerak.
"Me-melati, panggil dokter, panggil dokter!"
Ucap Dinda gagap karena masih belum percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ada apa Tan, kena--"
Melati tak bisa meneruskan ucapannya ketika melihat tangan Alam bergerak. Bahkan Melati sampai menutup mulutnya tak percaya.
"Tan,"
"Panggil dokter, cepat Mel!"
Ucap Dinda lantang dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Sungguh, Dinda percaya ternyata keajaiban Tuhan memang ada.
Putranya sadar, dia sadar!
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1
.