Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 19 Dasar ceroboh


__ADS_3

Dari kejadian dua hari yang lalu, Amira dan Alam tidak saling bertemu. Tepatnya karena Alam sudah dua hari ini tidak ada di kantor.


Entah karena menghindar atau apa Amira tidak tahu.


Rasa kesal masih ada di hati Amira mengingat perkataan Alam yang menyakitkan itu.


Namun, jika tak melihat Alam membuat Amira malah menjadi khawatir. Apalagi Amira tahu, waktu pertengkaran itu Alam terlihat seperti orang yang sedang sakit.


Ingin bertanya namun Amira gengsi, karena rasa kesal itu lebih mendominasi.


Amira memang orang yang tak bisa lama-lama marah kecuali jika memang Amira benar-benar sudah kecewa banget.


"Woy, kenapa melamun!"


Amira mendengus kesal ketika Vina malah mengagetkannya.


"Kenapa muka di tekuk begitu, biasanya juga senyum-senyum sendiri!"


Sindir Vina merasa aneh dengan temannya itu. Sudah dua hari Amira terlihat bete bahkan jarang ngomong.


"Kamu lagi patah hati ya, ayo ngaku!"


"Apaan sih, siapa yang patah hati!"


Kesal Amira karena Vina terus saja menggodanya. Andri yang mendengar itu hanya bisa tersenyum kecut. Kenapa lagi-lagi dia harus patah hati sebelum melangkah.


Bahkan Dulu Andri pernah menembak Vina untuk menjadi ke kasihnya namun Vina juga sama menolak dengan alasan tak mau berkomitmen dan Vina ingin fokus akan kesembuhan sang ibu.


Walau begitu tapi Vina tetap menganggap Andri adalah temannya sama seperti dulu dan sekarang tak ada yang berubah. Walau Vina tahu Andri yang sedikit berubah padanya mungkin karena rasa sakit hati akan penolakannya.


"Itu mukanya terlihat kaya orang yang patah hati!"


"Nama ada, dalam kamusku tak ada yang namanya patah hati!"


Sombong Amira dengan lantangnya, padahal dalam hati Amira menjerit. Sendari dulu hatinya sudah patah akan penolakan Alam. Mungkin, Amira sudah merasa kuat jika hari demi hari hanya ada penolakan di kamus hidupnya.


"Cih, sombong amat!"


"Wajar lah Vin, wong Amira kan sudah punya pacar!"


Seloroh Andri tersenyum kaku membuat Vina langsung melotot begitupun Amira. Tak terima jika dia dikatakan sudah punya pacar.


"Beneran Ndri, kamu tahu dari mana?"


"Bohong, aku gak punya pacar!"


Sangkal Amira karena memang dia sudah selesai dengan Moreo.


"Jangan bohong Ra, aku lihat dengan mataku sendiri kamu berpelukan di parkiran dengan cowok!"


Uhuk ...


Amira tersedak minumannya ketika mendengar ucapan Andri. Jadi Andri melihat ketika bertemu Moreo.


"Wah ... wah ... Punya pacar gak diakui. Jahat banget sih,"


Canda Vina membuat Amira bingung harus berkata apa. Karena sepertinya Amira terpojok di serang oleh kedua temannya.


"Siapa sih, kenalin dong!"


Tak ...

__ADS_1


Semangat Vina yang malah dapat toyor dari Andri.


"Kau ini sembarangan, mana ada kenalan sama pacar orang!"


Ketus Andri menatap tajam Vina, Vina hanya mengerucutkan bibirnya saja karena sakit akibat toyor an dari Andri.


"Sakit tahu!"


"Makannya bicara di jaga!"


"Kalian cocok, udah pacaran saja!"


"Tidak!!"


Amira terkekeh melihat kedua temannya yang kompak menjawab. Seolah menjadi hiburan tersendiri buat Amira. Setidaknya Amira sedikit bisa melupakan masalahnya.


Sedang Andri dan Vina saling tatap tajam satu sama lain. Seolah mereka musuh bukan teman yang cocok menjadi pacar.


"Sudah, jangan berantem. Mending baikan!"


"Amira!!"


Pekik keduanya karena kesal dengan apa yang Amira bicarakan. Amira malah terkekeh kembali melihat tingkah kedua nya yang terlihat seolah sedang menyembunyikan sesuatu.


Apalagi Amira pernah belajar psikologi di London. Jadi Amira sedikit tahu tentang bahasa tubuh yang Andri perlihatkan.


"Sudah, jangan ngambek. Aku kan bercanda!"


Kekeh Amira kembali sungguh sangat terhibur menggoda kedua temannya ini.


Vina hanya mengerucutkan bibirnya saja. Bukankah dia yang menggoda Amira kenapa sekarang malah sebaliknya kesal Vina.


"Aku juga kali, ini kan memang sudah waktu pulang!"


Ketus Vina masih merasa jengkel dengan Amira. Ternyata Amira bisa bercanda juga, Vina pikir Amira tak suka bercanda apalagi Amira selalu terlihat serius dalam hal apapun.


"Aku antar ya?"


Tawar Andri berharap Amira ingin pulang dengannya.


"Bareng aja Ra, apa susahnya. Irit ongkos apalagi sekarang tanggal tua!"


Bisik Vina membuat Amira tersenyum tipis. Entah apa jadinya jika mereka tahu siapa Amira sesungguhnya.


Entahlah, Amira tak terlalu memikirkan itu, yang Amira pikirkan kemana Alam pergi. Gak mungkin kan kalau menanyakan pada Fandi dan Dinda mereka pasti akan bertanya lebih.


"Ya sudah mau!"


Yes!


Girang Andri dalam hati. Pada akhirnya Andri bisa pulang bareng Amira.


Mereka bertiga berjalan kearah parkir di mana Andri menyimpan motor beat nya.


Vina sudah lebih dulu pulang karena ojek online nya sudah datang.


"Nih, pakai helm nya!"


Ucap Andri namun Amira dengan kaku menerimanya. Pasalnya seumur-umur Amira belum pernah memakai helm. Karena memang sendari kecil kemana-mana Amira selalu pakai mobil. Bahkan di London pun sama.


"Kenapa, motornya jelek ya!"

__ADS_1


Ucap Andri terlihat sendu membuat Amira menghela nafas berat bingung cara ngomongnya.


"B-bukan itu. Ta-tapi ak-aku gak tahu cara pakai helm!"


Ucap Amira cepat tak mau Andri jadi salah faham. Andri melongo dengan apa yang Amira katakan. Andri menatap Amira intens seolah sedang mencari kebohongan tapi nyatanya Amira terlihat serius dengan ucapannya.


"Ndri ini gimana, kok malah bengong!"


Kesal Amira karena bingung membuka tali helm nya. Dan Andri malah bengong bukannya membantu.


"Eh maaf, sini aku bantu!"


Gagap Andri karena masih belum menyangka berteman dengan orang yang gak bisa pakai helm.


"Maaf ya, aku bantu pakai!"


Izin Andri membuat Amira mengangguk saja karena memang dia gak bisa.


Andri memakai kan helm pada Amira dengan sangat hati-hati seolah takut Amira gak nyaman.


"Terimakasih!"


"Sama-sama!"


"Ayo naik!"


Dengan ragu Amira naik motor Andri. Amira merasa kaku karena baru kali ini dia naik motor.


Amira bisa melakukan apa saja namun jika naik Motor rasanya ini adalah hal yang tersulit. Apalagi Amira gak bisa menyandar.


Amira mencengkram jaket belakang Andri kua karena takut jatuh. Bahkan kaki Amira sudah bergetar ingin menangis. Karena ini pengalaman pertama baginya. Apalagi Andri membawa motor nya cepat seolah tak bisa santai. Padahal Andri membawa motor itu sudah sangat santai gak terlalu cepat.


Lama ke laman Andri merasa sakit di punggungnya karena cengkraman Amira semakin kencang. Bahkan tubuh Amira sudah bergetar karena takut jatuh.


Andri melihat Amira dari kaca spion, seketika Andri terkejut melihat Amira yang ketakutan hingga Andri langsung menghentikan motornya.


Dengan cepat Amira turun dengan linglung bahkan kedua kakinya sampai gemetar.


"Ra kamu kenapa?"


Panik Andri ketakutan melihat Amira berkaca-kaca dengan tangan dan kaki yang gemetar.


Amira berkali-kali menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Entah sudah berapa kali Amira melakukannya.


"Sebe--"


Amira tak bisa melanjutkan ucapannya ketika tiba-tiba ada beberapa orang ber jas hitam menghadang Andri.


"Siapa kalian!"


Tanya Andri gemetar karena tiba-tiba ia di serang oleh orang-orang berpakaian rapi.


Amira yang melihat itu berusaha bangun, namun tiba-tiba Amira merasa tubuhnya terbang.


"Dasar ceroboh!"


Deg ...


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2