Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 27 Rencana Melati


__ADS_3

Sudah tujuh hari pasca Amira di perkenalkan pada publik. Di situ juga Amira masih belum mau bicara dengan sang ayah. Karena gara-gara sang ayah Amira harus di kejar-kejar para wartawan yang ingin tahu kemana selama ini ia pergi dan apa yang ia lakukan.


Bagi Amira hal pribadi ngapain harus di umbar dan kenapa juga para wartawan ingin tahu kehidupan orang.


Ah ..., rasanya Amira benar-benar kesal. Ini hal yang sendari dulu Amira tak suka, hingga Amira memutuskan tak pulang-pulang selama empat tahun di London.


Walau ada bodyguard yang menjaga tetap saja Amira tak suka. Bahkan akhir-akhir ini keceriaan Amira mulai luntur.


Amira adalah gadis ceria yang selalu santai dalam menghadapi masalah apapun. Dan cuek akan urusan orang.


Tapi, semua nya berubah ketika semua orang tahu siapa dirinya.


Bahkan kali ini pun Amira menghindar dari sang ayah.


"Mah, Rara berangkat kerja dulu ya muachh ...,"


Ucap Amira sambil mencium pipi sang mama. Dengan cepat Amira menuruni anak tangga menuju garasi bawah. Amira tak perduli akan sang ayah. Bagi Amira sang ayah terlalu egois sampai membuat Amira merasa tak nyaman kemanapun ia pergi.


Jek hanya menatap sendu putrinya yang sudah satu Minggu ini gak mau bicara dengannya.


Bahkan Amira kerap kali meninggalkan sarapannya. Bahkan ketika pulang kerja juga, Amira akan memilih masuk kedalam kamarnya.


Melati yang melihat hubungan putri dan suaminya begitu sedih. Melati tak menyangka, Amira akan semarah ini akan kejadian itu. Bahkan tak ada keceriaan seperti dulu lagi.


"Sudah, mungkin Rara butuh waktu!"


Ucap Melati mengelus punggung suaminya.


"Tapi ini sudah satu Minggu sayang, bahkan aku tak pernah lagi melihat senyumannya!"


Melati terdiam, karena memang apa yang di katakan suaminya memang benar. Keceriaan Amira seolah luntur semenjak Jek mengenalkan Amira pada publik.


"Tak apa, mungkin putri kita belum biasa berada di situasi seperti ini. Bukankah suatu saat nanti juga dia akan mengalami hal ini!"


Hibur Melati karena tak mau suaminya terus merasa bersalah.


"Aku gak bisa membayangkan, jika kita harus mempercepat perjodohan itu. Apa putri kita akan benar-benar marah!"


Keluh Jek sambil duduk di kursi meja makan. Rasanya kepala Jek ingin pecah memikirkan semua ini. Jek tak menyangka reaksi Amira akan seperti ini.


"Seperti nya kita harus menundanya dulu, hingga Amira bisa menerima posisinya saat ini!"


"Tap--"


"Kita harus mengembalikan keceriaan Amira dulu, baru kita bahas masalah perjodohan. Aku gak mau Amira semakin jauh. Setidaknya kita sudah memberi jarak antara Amira dan Alam!"


"Walau bagaimanapun, hubungan mereka salah. Mereka saudara!"


Ujar Jek sampai kapanpun tak akan pernah memberi restu akan hubungan putrinya. Apa kata orang nanti dan rekan-rekan bisnisnya.


Seorang om menikahi keponakannya sendiri.


Sungguh, Jek tak bisa membayangkan bagaimana kedepannya nanti.

__ADS_1


"Seperti nya aku harus bicara pada Alam!"


Putus Melati yang sendari tadi diam mendengarkan ucapan sang suami.


"Jika putri kita keras kepala, jalan satu-satunya aku harus bicara pada Alam kembali. Aku yakin, Alam pasti akan menuruti apa yang aku katakan seperti dulu dia menepati janjinya!"


Ujar Melati, karena Melati tak mau terlalu menekan Amira. Melati tahu bagaimana watak putrinya itu.


Setidaknya Alam akan selalu menurut dan Melati yakin. Alam tak mungkin menyakiti kedua orang tuanya sendiri. Dan mempermalukan keluarga mereka akan rasa cinta terlarang itu.


"Baiklah, semoga Alam mau mendengarkan kita!"


Akhir Jek menyerahkan urusan Alam pada istrinya. Sedang Jek harus bisa mengambil hati Amira kembali.


Entahlah, entah apa lagi yang akan di rencanakan Jek.


Yang pasti sampai kapanpun Jek tak akan pernah merestui hubungan mereka.


Jek pamit pada istrinya berangkat ke kantor. Kini tinggal Melati di rumah.


Melati terdiam dengan pikirannya sendiri. Apa Melati harus memberi tahu Fandi dan Dinda akan hubungan anak-anak. Entahlah, Melati juga bingung harus bagaimana menyikapinya.


Bagaimana reaksi mereka, apa Fandi dan Dinda akan percaya atau tidak. Seperti nya Melati juga harus membicarakan ini pada Dinda setidaknya Dinda yang paling faham akan Alam.


Melati yakin, jika Alam tak mau mendengarkan dia lagi. Maka ada Dinda yang akan menentang hubungan mereka.


Lebih baik sekarang Melati bersiap untuk menemui Dinda terlebih dahulu sebelum Melati bicara sama Alam.


.


Tepatnya Fatih sedang menjelaskan apa-apa saja yang nanti harus Amira lakukan.


Selama satu Minggu ini memang Amira belajar dulu dari Fatih sebelum Fatih benar-benar berangkat ke Jerman.


"Apa kakak faham?"


Tanya Fatih pada Amira. Ya, semenjak Fatih mengalami amnesia Fatih memanggil Amira dengan sebutan kakak. Apalagi karena memang Amira adalah kakak sepupu nya.


"Lebih banyak sulitnya dari pada faham!"


"Tenang, kakak juga akan mengerti kok. Nanti Rijal yang akan membantu kakak. Jika kakak gak mengerti tanyakan saja pada dia!"


Semangat Fatih menyemangati Amira. Amira hanya tersenyum saja. Sambil melihat perubahan Fatih yang terlihat hangat padanya tidak seperti dulu.


Walau sikap dingin Fatih akan berubah jika pada orang lain.


Fatih dan Amira kembali keruangan Fatih, sejenak istirahat.


Amira memerhatikan Fatih yang terlihat serius memegang ponsel. Karismanya semakin terlihat dan Fatih tumbuh dengan gagah.


"Fatih!"


"Iya kak,"

__ADS_1


Fatih langsung menyimpan ponselnya di atas meja ketika Amira memanggilnya. Fatih menatap Amira yang malah diam.


Sedang Amira sendiri sedikit ragu untuk bertanya.


"Kenapa?"


"Emmz, apa selama ini kamu tak merasa ada sesuatu yang hilang?"


Tanya Amira hati-hati, karena Amira tak tahu apa yang di lakukan Fatih selama empat tahun belakangan ini. Apa Fatih benar-benar tak ingat apa-apa satupun tentang masa lalunya, terutama.


Fatih terdiam mendengar pertanyaan kakak sepupu nya. Karena memang sejujurnya Fatih sendiri merasa ada sesuatu yang hilang namun Fatih sendiri tak tahu itu apa.


"Sesuatu yang hilang!"


Ulang Fatih sambil berdiri berjalan menuju kaca besar yang memperlihatkan keindahan jalan di bawah sana.


"Di sini, aku merasakan ada sesuatu. Tapi aku tak tahu itu apa!"


Jujur Fatih sambil menepuk-nepuk dadanya. Karena memang Fatih terkadang merasa rindu tapi pada siapa.


"Apa kamu tak ingat apa-apa waktu zaman SMA dulu!"


"Tidak, aku berusaha mengingatnya tapi kepalaku akan terasa sakit!"


"Dan, bunda pun tak pernah menceritakan bagaimana sekolahku dulu!"


Jelas Fatih membuat Amira bingung harus mengatakan apa. Apa Amira harus menceritakannya atau tidak.


Tapi, buat apa juga Amira menceritakannya toh, Shofi juga selama ini tak pernah memberi kabar padanya. Bahkan datang ke Indonesia sekali pun Shofi tak lakukan.


Mungkin, Shofi juga telah melupakan semuanya. Terutama tentang Fatih.


"Anehnya, tak ada satupun album tentang aku sekolah. Siapa teman-teman ku, bagaimana aku menjalani sekolah. Kecuali Rijal, yang katanya teman dekat aku!"


Amira kini malah mengerutkan keningnya bingung. Apa benar, om Farhan dan Tante Queen tak menceritakan juga tentang Raja, Rangga dan Moreo.


Ini aneh jika Fatih juga tak mengenal ketiga sahabatnya itu.


Sedang Moreo sudah ada di Indonesia, apa Moreo belum menemui Fatih, pikir Amira bingung.


"Kenapa, apa kakak tahu tentang aku?"


Deg ...


Amira terdiam bingung harus bercerita atau tidak.


Tapi, Amira harus menyelidiki dulu, kenapa bisa Fatih benar-benar tak ingat sama sekali. Apa memang Farhan dan Queen sengaja menghapus kenangan masa lalu Fatih. Bukankah orang Amnesia akan ingat kembali jika di kenalkan dengan orang-orang yang berkaitan dengan Fatih.


"Tidak!"


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah,, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1



__ADS_2