Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 58 Pertengkaran


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan hari ini Alam dan Amira kembali ke Jakarta. Rencana nya Alam akan membawa Amira langsung pulang kerumahnya dan bicara di sana.


Sepanjang jalan Amira terus saja menggenggam tangan Alam seolah takut Alam akan pergi.


Butuh perjalanan empat sampai lima jam mereka sampai di Jakarta. Namun, sebelum menuju rumah Jek dan Melati Alam mampir ke apartemen nya dulu guna istirahat sejenak.


Di sana sudah ada Dom yang menunggu dengan tatapan berbeda.


Karena merasa lelah Amira tidak terlalu memerhatikan nya. Apalagi Alam langsung menyuruh Amira untuk istirahat di kamarnya.


"Ada apa?"


Tanya Alam pada Dom yang menatapnya sengit.


"Besok jadwal pertemuan kau dengan Dokter Raftha. Aku harap kamu tak menolaknya lagi!"


"Aku siap menemui dia!"


Seketika Dom tersenyum cerah mendengar jawaban memuaskan dari Alam. Ini baru sahabatnya, tak akan membebankan dia lagi. Karena Dom sudah pusing sendari kemaren dia terus yang menghandle semuanya.


"Siapkan saja keperluannya,"


"Baiklah, kalau begitu aku harus segera pergi!"


"Dom,"


Dom menghentikan kembali langkahnya ketika Alam memanggil.


"Nanti sore antar aku dan Amira ke rumahnya. Aku tak kuat jika harus menyetir terus,"


Ucap Alam karena memang sangat melelahkan. Alam butuh duduk manis saja tanpa harus menyetir kembali.


Dom hanya menghela nafas saja, padahal ia sudah ada janji. Tapi, itulah Dom yang tak bisa menolak apapun perintah Alam.


"Baiklah!"


Putus Dom, seperti nya Dom harus membatalkan janjinya pada seseorang.


Alam tersenyum mendengar jawaban memuaskan dari Dom.


Setelah Dom pergi Alam membaringkan tubuhnya di atas shopa guna beristirahat sejenak. Agar ketika nanti sore bertemu kedua orang tua Amira, Alam mempunyai kekuatan.


Jika Alam dan Amira sedang tidur siang dengan damai. Seolah tak ada yang terjadi apa-apa.


Padahal di luar sana Jek dan Fandi masih terus mencari keberadaan anak-anak mereka.


Sungguh Jek dan Fandi di buat kewalahan akan kelakuan anak-anak. Entah kemana mereka perginya kenapa bisa tak menemukan mereka. Padahal ini sudah hari ke empat mereka pergi, namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda di mana keberadaan mereka.


Bagaimana Jek dan Fandi mengetahui keberadaan Alam dan Amira jika setiap cctv yang Alam lalu makan akan secara otomatis meretas semuanya. Dan, tentu Dom yang ada di belakang layar.


Mereka terlalu pintar untuk meninggalkan jejak.


Jek terus marah-marah kepada anak buahnya karena sampai saat ini anak buahnya belum menemukan dimana keberadaan Amira. Bahkan satu petunjuk pun tidak mereka dapatkan.


Jek pulang ke rumah dengan perasaan tak menentu. Marah, kesal, sedih bercampur jadi satu. Apalagi Jek tak tega jika harus melihat istrinya terus menangis bahkan sudah empat hari ini Melati terus mengurung dirinya di kamar.


"Sayang, sendari tadi pagi kamu belum makan. Ini juga udah kelewat makan siang, sayang makan ya!"


Bujuk Jek dengan penuh kelembutan berharap istrinya mau makan saja barang satu atau dua suap.


"Apa Amira sudah di temukan?"


Tanya Melati membuat Jek terdiam. Jek bingung harus bicara apa, karena memang dia belum menemukan dimana keberadaan putrinya.


Tok ..


Tok ...


Ketukan pintu membuat Jek menghela nafas berat.


"Sebentar sayang!"


Ucap Jek lalu beranjak menuju pintu, Jek langsung membukanya.


"Ada apa?"


"Lapor tuan, di depan ada non Amira dan tuan muda Alam!"


Deg ...

__ADS_1


Melati langsung berbalik ketika mendengar ucapan dari anak buah suaminya. Benarkah putrinya kembali. Melati langsung beranjak dari duduknya.


"Putriku .. putriku pulang!"


Pekik Melati bahagia mendengar putrinya kembali.


"Sayang katakan, putri kita sudah kembali?"


Jek mengangguk membuat Melati tanpa kata lagi langsung berlari keluar rumah. Jek langsung menyusul sang istri keluar.


Melati seketika menghentikan langkahnya begitupun dengan Jek. Ketika melihat putrinya sedang berdiri di samping Alam.


Yang membuat Melati dan Jek terpaku, melihat tangan Amira menggenggam tangan Alam erat begitupun sebaliknya.


"Mama, ayah!"


Panggil Amira membuat Melati menitikkan air mata lega melihat putrinya baik-baik saja.


"Ayah, Mama. Rara sayang kalian, tapi Rara tak mau di jodohkan dengan Moreo. Rara mencintai om Alam!"


Duarr ...


Melati langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar pengakuan Amira. Sungguh, Melati dan Jek tak menyangka jika Amira seberani ini.


"Nak, apa kau tak salah bicara!"


"Hentikan kekonyolan ini, ayah tak akan merestui hubungan kalian!"


"Ayah!"


Alam langsung mencegah Amira untuk bicara lagi. Jangan sampai Amira tersulut emosi, seperti nya Amira belum cukup kuat mengendalikan perasaannya.


"Kak, kami minta maaf. Alam datang membawa Amira kembali. Kami hanya ingin meminta restu kalian. Kami saling mencintai, tolong restui kami!"


Ucap Alam tegas berharap Jek mau merestui mereka.


"Sampai kapanpun saya tak akan merestui kalian. Cinta apa cinta! cinta yang kalian miliki salah, kalian itu saudara, ingat saudara!"


Bentak Jek membuat Amira mengepalkan kedua tangannya kuat.


Bugh ...


Tanpa di duga, salah satu bodyguard Jek meninju Alam membuat Alam tersungkur bahkan sampai genggamannya ikut terlepas.


Pekik Amira terkejut dengan apa yang terjadi. Sungguh sang ayah bisa sekejam ini.


Grep ...


Dua bodyguard mencengkram tangan Amira supaya tak mendekat.


"Bawa Amira ke dalam!"


Perintah Jek pada bodyguard nya membuat Amira membulatkan kedua matanya.


"Tidak, tidak mau. Ayah lepaskan hiks ..,"


Berontak Amira membuat Alam langsung bangun namun di hadang oleh beberapa bodyguard.


"Dear, tolong aku hiks .., lepas!"


"Ayah jahat, ayah jahat!"


Teriak Amira terus memberontak di seret paksa oleh dua bodyguard. Melati hanya diam saja melihat putrinya yang terus memberontak seperti itu.


"Kak lepaskan Amira, kak!!!"


Teriak Alam mencoba memberontak dari cengkraman para bodyguard Jek. Bahkan terpaksa Alam terlibat baku hantam. Sungguh, Alam tak ingin di posisi seperti ini. Namun, tanpa di duga Jek malah menyerangnya. Padahal, Alam ingin bicara baik-baik.


Bugh ...


"Ayah, jangan sakiti om Alam. Hentikan, ayah menyakitinya hiks ..,"


Teriak Amira tak berdaya karena dia terus di seret paksa menuju kamarnya.


Dom yang melihat Alam tak berdaya turun ikut membantu. Sungguh, kenapa kejadian ini malah semakin begini. Dom pikir Jek tak akan melakukan kekerasan.


Bugh ...


"Itu karena kau sudah berani membawa lari putriku!"

__ADS_1


Bentak Jek penuh amarah meninju Alam hingga tersungkur. Belum selesai di situ, Jek mencengkram kerah kemeja Alam.


"Istri ku selalu memperingati mu, jangan melewati batas. Kalian saudara akan tetap jadi saudara,"


Bugh ....


"Om hentikan!!!"


Teriak Dom sungguh jantungnya merasa copot melihat Alam kembali tersungkur dengan darah segar yang mulai keluar dari hidungnya. Tidak, Alam tak boleh pingsan.


Kepala Alam mulai merasa sakit, bahkan tatapannya mulai buram. Namun, sekuat tenaga Alam berusaha bangun.


"Lepas sialan, temanku sedang sekarat!"


Bentak Dom berusaha melawan beberapa bodyguard yang menghalangi jalannya.


"Apa salahnya kak, aku mencintai putrimu. Ka-kami saling mencintai!"


"Cukup Alam!"


"To-tolong restui ka-kami uhuk ..,"


Sungguh Alam rasanya sudah merasa sekarat bahkan sampai berbatuk darah. Namun, Jek yang melihat itu tak peduli seolah matanya sudah gelap oleh amarah.


Bahkan Alam sampai bersujud di kaki Jek untuk mendapat restu Jek.


"Ka-kak, aku mencintai Amira, sungguh ak-aku mencintai Am-Amir--"


"Berhenti mengatakan cinta dan cinta, kalian tidak bisa merubah kenyataan itu. Kalian saudara maka selamanya akan tetap jadi saudara!"


Bentak Jek sambil berusaha melepaskan tangan Alam dari kakinya. Tanpa sengaja Jek terlalu keras mendorong Alam hingga Alam terjatuh dan kepalanya membentur meja.


"Alam!!!"


Teriak Dom sungguh jantung Dom rasanya benar-benar berhenti berdetak. Melihat kepala Alam membentur meja.


Dom langsung berlari kearah Alam yang benar-benar sudah sekarat. Bahkan mata Alam sudah sangat berat untuk tidak menutup.


"Tidak tidak .., buka mata kamu. Alam aku mohon bertahanlah!"


Bentak Dom sambil menepuk-nepuk pipi Alam. Jek dan Melati shok melihat apa yang terjadi pada Alam mengapa Alam terlihat kesakitan seperti itu. Bahkan Dom juga terlihat panik bahkan seperti orang kesetanan.


Dengan susah payah, Dom berusaha memapah Alam dimana darah segar terus keluar dari hidung Alam dan kepalanya.


"Kakak macam apa hah, sungguh kalian tak punya hati!"


Bentak Dom menatap tajam pada Jek yang masih terlihat shok dengan keadaan Alam.


Alam sungguh tak bisa lagi menahan kewarasannya.


Aku mencintaimu, Amira.


Bruk ...


"Alam!!!!"


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...


.


Pengumuman!!!


Ada kabar gembira!!!


Hallo para reader siapa nih yang gak sabar nunggu cerita Fatih dan Shofi?


Ceritanya sudah Author Upload ya!


Buruan serbu, jangan sampai ketinggalan alurnya.


Jangan lupa kasih Like, Hadiah, Kopi, Bunga, komen dan Vote Terimakasih...


.



.

__ADS_1


Selamat membaca!!!!


Semoga kalian suka ya!!


__ADS_2