Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 86 Di bawah


__ADS_3

Alam tersenyum melihat Amira yang tertidur pulas. Mungkin Amira cukup kelelahan dengan pekerjaan mereka tadi siang. Bahkan sampai sore ini Amira belum juga bangun.


Bagaimana Amira tidak kelelahan jika Alam terus memberikan kebahagiaan yang tak bisa Amira jabarkan sendiri.


Terlalu indah untuk sekedar di katakan, terlalu manis untuk sekedar di bayangkan.


"Terimakasih sayang!"


Ucap Alam tulus, Alam beranjak dari atas ranjang menuju jendela. Perlahan gorden lapisan hitam Alam buka dan membiarkan goreng lapisan putih tetap menutup.


Seketika pancaran cahaya senja menyeruak masuk kedalam bilik. Menyinari Alam, Alam berbalik guna membersihkan badannya.


Alam tersenyum ketika cahaya sunset menyinari Amira. Terlihat indah untuk terlalu lama di pandang. Alam takut ia akan kembali mengulang pekerjaan indah mereka.


Alam memutuskan untuk segera membersihkan diri sebelum Amira benar-benar terbangun.


Tak perlu butuh waktu lama untuk Alam membersihkan badannya. Ia keluar dengan menggunakan handuk melilit di pinggangnya. Dengan cepat Alam memakai baju, lalu menyisir rambutnya yang sudah Alam keringkan memakai handuk.


Alam melihat Amira yang masih tertidur pulas, seperti nya Alam sebentar lagi harus membangunkan Amira. Alam keluar sebentar guna menelepon sang bodyguard.


Entah apa yang Alam bicarakan, nampaknya terlihat bahagia. Sesudah bicara dengan sang bodyguard Alam kembali masuk.


Alam tersenyum ketika melihat Amira mulai menggeliat pertanda bahwa Amira akan segera bangun.


"Selamat bangun sayang,"


Ucap Alam sambil duduk di bibir ranjang mengelus pipi Amira yang masih mengerjap-enjap kan kedua matanya.


"Dear,"


Lilir Amira merasa badannya begitu remuk, bahkan rasanya terlalu berat untuk Amira bangun.


"Bangun, ini sudah sore!"


"Benarkah!"


"Iya, lihatlah keluar,"


Sontak Amira langsung menatap kearah jendela yang memang sudah Alam buka.


"Gendong!"


Rengek Amira merentangkan kedua tangannya meminta di gendong oleh Alam.


"Dengan senang hati!"


Ucap Alam langsung menggendong Amira dengan selimutnya.


Awwss ...


Amira meringis merasakan sesuatu yang sakit di bawah sana. Bahkan mata Amira sampai berkaca-kaca.


"Sayang, kamu kenapa?"


Panik Alam terkejut mendengar istrinya meringis bahkan sampai matanya berkaca-kaca.


"Di-di bawah sakit!"


"Apa yang sakit, di bawah. Kaki kamu gak kenapa-kenapa kok,"


"Hiks .., bukan kaki,"

__ADS_1


"Terus apa?"


"Di bawah,"


"Maksudnya Bagaimana, bawah, di lantai gak ada apa-apa!"


Hiks ...


Amira semakin terisak karena kesal Alam tak mengerti sama sekali. Bahkan rasanya bertambah sakit ketika Alam banyak bergerak membuat gesekan yang membuat ngilu.


"Aduh, sayang maafkan aku. Jangan nangis ya, ayo katakan dimana yang sakit!"


"Ini!"


Deg .....


Sontak Alam terdiam dengan mata melotot ketika Amira mengarahkan tangannya tepat di miliknya sendiri. Walau malu Amira melakukannya karena Alam tak mengerti sama sekali membuat Amira jadi kesal sendiri.


Alam yang tadinya terdiam, seketika tersenyum baru mengerti apa yang membuat sang istri merasa sakit.


Melihat senyuman Alam membuat Amira semakin kesal. Bukannya memeriksa malah menertawakannya, dasar suami tak punya hati.


"Sayang, apa kamu lupa yang kita lakukan tadi siang?"


Ucap Alam duduk di bibir ranjang sambil tetap menggendong Amira.


Kini Amira menautkan kedua alisnya bingung.


Siang!


Emang apa yang mereka lakukan tadi siang, Amira mengerutkan keningnya seolah sedang mengingat-ingat apa ada kejadian tadi siang.


Dam ...


Cup ...


Alam mencium pipi Amira gemas, bagaimana mungkin istrinya bisa melupakan pekerjaan indah tadi.


"Sudah ingat?"


Amira hanya mengangguk kaku saja dengan wajah memerah padam.


"Terimakasih sayang, sudah menyerahkan seluruh hidup kamu untuk ku,"


Ucap Alam tulus memandang Amira penuh cinta. Lagi-lagi Amira hanya mengangguk saja karena rasanya sulit bicara.


"Maaf jika aku menyakiti kamu!"


Kini Amira menggeleng cepat, Alam tak menyakitinya, suaminya tak menyakitinya. Bukankah hal wajar jika pertama akan merasakan sakit mungkin siapapun akan merasakannya.


Walau terasa sakit, namun ada kebanggan tersendiri bagi Amira karena sudah menyerahkan seluruh hidup nya untuk Alam. Amira tak menyesal dan tak akan pernah. Bagi Amira bersama Alam itu sudah cukup.


"Sekarang mandi ya,"


Amira mengangguk kembali, Alam hanya mengulum senyum geli melihat istrinya yang terlihat kaku namun selalu menurut apa yang Alam katakan.


Seperti sekarang, walau tubuh Amira kaku tapi Amira membiarkan Alam mengurus dirinya. Bahkan Alam membantu ia menggosok badannya. Memberikan pijatan pada kepalanya yang terasa berat sambil berendam.


Pijatan yang Alam berikan terasa sangat nyaman di tambah air bathtub yang hangat membuat badan Amira terasa ringan. Rasa sakit itu perlahan menghilang walau Amira masih sedikit terasa tak nyaman seperti ada sesuatu yang mengganjal.


Sudah selesai dengan ritual mandinya, Alam kembali menggendong Amira keluar, dan di dudukannya di kursi meja rias.

__ADS_1


Dengan cekatan Alam membantu Amira mengeringkan rambutnya.


Amira hanya diam saja menerima setiap perlakukan manis Alam. Bahkan Amira rasanya seolah sedang terbang tinggi. Perlakukan Alam membuat Amira benar-benar terasa tersanjung.


Bagaimana Amira tidak memberikan hidupnya pada Alam, jika perlakuan Alam seperti ini.


Selalu tahu caranya membuat ia bahagia, dengan hal-hal kecil yang Alam lakukan.


"Sudah selesai,"


Ucap Alam ketika rambut Amira benar-benar sudah kering. Alam menarik tangan Amira hingga membuat Amira berdiri.


Deg ...


Amira terpaku ketika Alam bergeser tempat. Amira melihat sudah ada banyak makanan di atas meja. Dari mulai makanan pembuka dan penutup. Entah sejak kapan Alam mempersiapkan semuanya. Bukankah tadi Alam selalu bersamanya. Bagaimana bisa makanan ini sudah ada di sini.


"Pekerjaan kita cukup keras hari ini, maka kita butuh makan supaya kuat kembali!"


Plak ...


Amira memukul dada Alam yang sendari tadi terus menggodanya. Walau Amira suka akan godaan itu.


Alam menuntun Amira dudu di shopa mereka mulai makan. Tepatnya Alam menyuapi Amira dengan telaten. Seperti nya malam ini Alam tak bisa membawa Amira jalan-jalan mengingat Amira belum bisa berjalan normal


"Dear, kenapa kamu begitu mencintai ku?"


Tanya Amira karena sejak awal perlakukan Alam selalu berusaha keras membuat ia bahagia dan tersenyum.


"Aku hanya ingin membahagiakan kamu, melihat kamu tersenyum hingga lupa caranya bersedih!"


"Itukah yang kamu inginkan!"


"Iya,"


"Maka akan ku lakukan, bersama mu aku bahagia. Bahkan mungkin sekarang aku sudah lupa bagaimana caranya bersedih!"


Alam tersenyum berharap apa yang Amira katakan benar apa adanya. Jadi, jika suatu hari nanti Alam pergi Alam akan tenang di sana.


"Maukah kamu berjanji!"


Ucap Alam serius menatap kedalam bola mata Amira.


"Katakan,"


"Berjanjilah kamu akan selalu tersenyum walau suatu hari nanti aku melupakanmu, bahkan meninggalkan kamu!"


Amira mengepalkan kedua tangannya erat menatap Alam intens. Amira sedikit lupa kalau Alam sewaktu-waktu penyakitnya bisa kambuh kembali bahkan perlahan melupakannya.


Namun, Amira tersenyum berusaha kuat supaya Alam tidak banyak pikiran.


"Aku berjanji! apapun yang terjadi aku akan akan lupa kesedihan itu ada. Namun, apalah daya hidup ini. Jika suatu saat kamu pergi maka aku pun sama. Akan pergi bersamamu!"


Alam menarik Amira kedalam pelukannya, bertubi-tubi Alam mengecup puncak kepala Amira. Meluapkan segala emosionalnya berharap tak akan ada sesuatu yang terjadi.


"Sudahkan kamu menulis cerita kita?"


Tanya Amira menahan Isak tangis dalam pelukan Alam.


"Sudah, semua tertulis di buku yang kamu beri. Setiap saat aku membacanya agar aku tak lupa siapa kamu!"


"Terimakasih dear, terimakasih sudah mau bertahan sejauh ini!"

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah,, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2