Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 98 Mentari Alesha Mangku Alam


__ADS_3

Hari itu begitu sulit mereka terima, kehilangan adalah satu hal yang sangat menyakitkan.


Semenjak kepergian Alam dan selang satu bulan Amira juga menyusul keadaan semua orang nampak berbeda. Seolah mereka masih terbelenggu dengan rasa sakit itu.


Tak ada keceriaan di rumah mereka, seolah rumah mereka bak kuburan.


Tak ada suara manja yang menggema di pagi hari. Merajuk dan bercanda, semuanya telah hilang. Keceriaan itu telah hilang tertelan bumi.


Tak ada yang bisa mengubah takdir mereka itu sudah di tentukan.


Rasanya baru kemaren Dinda dan Melati menggendong Alam dan Amira. Namun, kini mereka berdua sudah pergi meninggalkan para orang tua.


Rasanya baru kemaren mereka merasakan kebahagiaan. Kini kebahagiaan itu telah lenyap sudah.


Tak ada yang tersisa hanya sebuah bait diksi-diksi yang Alam dan Amira tulis.


Sebuah kata yang begitu dalam Amira tulis menggambarkan begitu besarnya cinta Amira dan Alam.


Dear Mama Ayah ...


Maaf jika Rara terlalu egois untuk memilih pergi.


Maaf jika Rara terlalu egois meninggalkan luka di hati kalian.


Apalah daya, Rara juga tak sanggup. Rasanya kematian Alam begitu menjadi pukulan keras bagi Rara. Hingga Rasanya Rara merasa tak sanggup jika sendirian.


Bagaimana bisa Rara hidup damai sedang belahan jiwa Rara sudah pergi.


Maaf Rara yang egois memilih pergi guna menyusul Alam.


Rasanya takdir ini sudah tak bisa Rara tolak, ini sebuah doa yang menjadi nyata.


Rara sayang mama sama ayah. Maaf jika selama ini Rara banyak salah pada kalian. Cinta Rara tak akan pernah pudar pada kalian.


Mungkin ini sudah takdir yang harus Rara terima. Ada dan tak adanya baby, takdir Rara sudah di tentukan.


Ikhlaskan ya mah, ayah!


Rara sayang kalian!


Dan Rara tak tahu, apa baby terlahir atau tidak! jika ia terlahir ke dunia. Rara hanya meminta satu permintaan.


Berikan nama Mentari jika baby perempuan dan berikan nama Galaksi ketika baby laki-laki.


Rara loves mom and dad ...


Melati tak bisa membendung tangis ketika membaca sebuah bait kalimat yang Amira tulis.


Sungguh ini sangat menyakitkan, seolah memang Amira sudah merencanakan semua ini.

__ADS_1


Kenapa Amira sekejam ini pada dirinya, tak tahukah Amira jika Melati masih membutuhkan Amira.


Melati dan Jek menatap baby mungil yang harus berada di dalam inkubator.


Bagaimana bisa Amira meninggalkan baby yang begitu membutuhkan dirinya. Sungguh Melati tak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya menangis.


Begitu malangnya masih baby itu, terlahir dengan keadaan yatim piatu bahkan kedua orang tuanya tak bisa menatap dia. Entah bagaimana perasaan baby nanti jika sudah besar.


Dan, ketika sudah bisa bicara.


Di mana ibu dan papa?


Rasanya Melati tak bisa menjawab itu semua. Dan jika itu di pertanyakan apa yang harus Melati jawab.


kisah mereka benar-benar sampai di sini tak ada kisah lain. Hanya sebuah kenangan yang terus berputar di telinga orang-orang.


Bukankah kepergian akan selalu membawa luka. Namun, hebatnya Amira seolah meninggalkan kenangan terindah dan begitu berharga seolah dia suatu hari nanti akan menggantikan sebuah peran besar yang akan terjadi.


Kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi pada masa depan.


Baby yang harus nya belum waktu keluar kini harus di paksa keluar dengan keadaan yang begitu menegangkan. Bahkan baby mungil itu sempat tak bernafas akibat air ketuban pecah.


Namun, tim dokter sekeras mungkin berusaha agar baby mungil itu tetap hidup dan sekarang baby itu harus berada di dalam inkubator karena terlahir prematur dan juga mengalami sesak nafas akibat air ketuban yang masuk membuat tubuh baby itu lemah.


Perjuangan membuat baby itu tetap hidup sangat sangat butuh perjuangan extra bahkan sampai membuat tim medis panik.


Tak ada yang sia-sia dari perjuangan seorang ibu. Walau pada akhirnya Amira dan Alam tak bisa melihat anaknya sendiri.


Tersenyum indah memancarkan kebahagiaan melihat bagaimana baby itu tumbuh dengan perjuangan.


Dengarkanlah nak, ibu tak akan pernah meninggalkan kamu sedetikpun. Ibu dan papa akan selalu ada di setiap hembusan nafas kamu. Di dalam dada kamu ada kami yang akan siap menjaga kamu.


Tumbuhlah menjadi anak yang baik, terus tersenyum tunjukan pada dunia kalau kamu hebat.


Baby mungil yang begitu lucu tersenyum cerah dengan kedipan mata beningnya. Menatap lurus kedepan seolah ada sesuatu yang ia lihat.


Tim dokter bernafas dengan lega melihat baby yang satu bulan lalu mereka perjuangkan kini sudah terlihat normal. Bahkan baby itu tersenyum memperlihatkan gusi merahnya dengan tatapan bening.


Tim medis saling pandang satu sama lain lalu tersenyum lega seolah beban yang selama ini mereka emban telah hilang karena baby itu hari ini sudah bisa di bawa pulang.


Baby itu terus tersenyum seolah sedang ada yang mengajaknya bicara. Dengan tangan gemetar Melati orang pertama yang menggendong cucunya dengan mata yang memerah menahan genangan air mata yang siap tumpah kapan saja membasahi pipinya.


"Cucu Oma ..,"


Lilir Melati dengan bibir gemetar menatap baby yang begitu imut. Baby itu tersenyum seolah senang dia di gendong oleh Omanya.


"Apa kabar sayang, ini eyang putri,"


Ucap Dinda berkaca-kaca mengecup kening baby.

__ADS_1


Semua orang berkumpul guna menjemput kepulangan cucu mereka. Mereka semua yang akan merawat dan membesarkan baby itu.


Ada kebahagiaan menyelinap masuk di hati mereka ketika baby itu terus tersenyum. Seolah sangat bahagia melihat keluarga nya berkumpul.


"Siapa nama baby lucu ini?"


Sebuah pertanyaan meluncur di bibir Aksara membuat semua para orang tua saling pandang satu sama lain.


Melati tersenyum sambil berjalan menuju jendela yang terbuka. Melati menatap luas ke luar sana dengan senyum yang mengembang teringat jelas permintaan sang putri yang memberikan nama itu.


"Mentari Alesha Mangku Alam, cahaya keberuntungan, keutuhan keluarga kita!"


Ucap Melati mantap sambil tersenyum pada baby mungil itu yang tersenyum cerah seolah suka dengan nama itu. Sebuah nama yang di inginkan Amira dan Alam. Nama yang akan mengubah baby Mentari di suatu hari nanti.


Semua keluarga saling pandang lalu tersenyum menatap baby Mentari yang terus tersenyum seolah sedang bahagia dengan nama yang di berikan Oma nya.


"Sayang, teruslah bahagia seperti yang di inginkan ibu dan papa. Mereka sangat menyayangi kamu. Akan Oma dan eyang putri ceritakan bagaimana kisah mereka di sisa hidup kamu. Sampai kamu faham bahwa mereka tak pernah meninggalkan kamu!"


Ucap Melati sambil mengecup kening baby Mentari yang mengedip lucu.


"Kita pulang ya, lihatlah dunia ini yang luas. Seluas nama kamu nak,"


Melati melangkah keluar di ikuti sang suami dan Dinda di sebelah Melati. Farhan dan Queen berjalan mengikuti mereka dari belakang.


"Bunda boleh Aksa melihat baby Mentari!"


Queen langsung menggendong Aksara mendekat pada baby Mentari yang sudah masuk kedalam mobil.


"Hallo baby Mentari, karena Aksa tak punya adik, sudah besar nanti Aksa akan melindungi kamu. Seperti kak Fatih melindungi kak Aurora!"


Celetuk Aksara membuat semua orang tersenyum geli. Sedang Dinda menatap Queen seolah apa yang Aksara ucapkan adalah kode.


"Queen sudah tua mah,"


"Siapa yang tua Bunda?"


"Bunda,"


"No, bunda gak tua. Bunda cantik sama seperti baby Mentari!"


Semua orang tersenyum geli mendengar celotehan Aksara bahkan sampai pipi Queen merona. Gombalannya sama persis seperti Farhan saja.


Karena sudah selesai, Farhan langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


14 Maret 2016 ...


Tamat ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1



__ADS_2