
Amira tersenyum getir melihat Alam yang tertidur.
Tiga jam lalu Amira sadar dari pingsannya dan ia langsung menanyakan kondisi Alam. Hingga kini Amira berada di ruang Alam.
Amira mengelus pipi Alam yang terlihat pucat bahkan tak terlihat lagi tanda-tanda kehidupan di sana.
Kini waktu itu telah tiba di mana Amira terlupakan. Apa Amira kuat akan hal itu.
Jangan ditanya!
Tak ada satupun seorang istri yang kuat menghadapi ujian ini. Harus terlupakan oleh sang suami salah keadaan yang tak seharusnya.
Inikah yang Amira mau!
Bukankah seperti itu! lantas ketika Tuhan mendengar doanya apa Amira menyesal.
Tentu!
Pada dasarnya manusia hanya bisa mengucap dengan kesombongan bukan dengan keikhlasan.
Ini sebuah ujian yang harus Amira terima, sebuah kesakitan yang tiada henti namun dia juga sekarat.
Sekarat atas mempertahankan makhluk yang belum bernyawa.
Tangan Amira gemetar, membawa tangan Alam pada perutnya.
Di sana ternyata sudah ada kehidupan yang sudah Tuhan titipkan. Malaikat kecil yang Amira dan Alam nantikan.
Malaikat kecil yang Amira harapkan sebagai pengganti Alam. Jika suatu saat Alam pergi.
Ini kah yang Amira mau, maka Amira mendapatkannya.
"Dear,"
Lilir Amira gemetar, tak kuasa untuk sekedar berkeluh kesah. Jika tempat berkeluh kesah ya sedang berbaring lemah.
"Dia di sini, dia sudah ada. Dia datang di waktu entah tepat atau tidak. Bisakah kamu merasakannya. Bisakah kamu bertahan walau untuk sekedar melihatnya ke dunia!"
Amira menangis dalam diam, Entah harus bahagia atau tidak. Amira tak tahu, ini begitu cepat terjadi.
"Apa kamu juga akan melupakan dia, buah cinta kita hiks ..,"
Amira terus menangis sambil sesekali mencium telapak tangan Alam. Bahkan air mata Amira membasahi tangan Alam.
"Dear, aku tak masalah terlupakan dalam ingatanmu. Tapi, jangan dia yang kamu lupakan. Bukankah kita sudah menunggu kehadirannya. Aku berjanji akan memberi nama seperti apa yang kamu inginkan!"
Ucap Amira lagi dengan kesakitan dan kesesakan yang tiada henti. Berharap badai ini cepat berlalu.
Grep ...
__ADS_1
Jek dengan cepat menahan tubuh Amira yang akan jatuh.
"Sayang, kamu harus istirahat juga. Ingat kata dokter, kandungan kamu masih rentan. Jangan terlalu stres,"
Amira hanya mengangguk saja, mengerti dengan apa yang sang ayah katakan.
Amira berjanji akan menjaga buah cintanya apapun yang terjadi. Sampai dia bisa melihat dunia.
Amira di bawa oleh Jek ke ruangannya sendiri. Di mana Amira juga harus istirahat. Ruangan di samping ruangan Alam, karena Amira tak mau jauh dari Alam.
"Ayah percaya, putri ayah yang paling kuat dari siapapun. Sudah, istirahat ya,"
Amira menurut saja, demi dia yang belum terlahir. Amira memiringkan badannya membelakangi Jek. Amira mengelus perut ratanya.
Ini seakan mimpi bagi Amira. Dia hadir tanpa Amira sadari. Namun, suaminya melupakan dia, bahwa Amira adalah istri nya.
Karena terlalu lelah Amira tertidur, apalagi Amira memang butuh istirahat cukup. Jangan stres karena akan mempengaruhi janin yang ada di dalam perut nya.
Amira berharap ketika ia membuka mata, semua nya baik-baik saja kembali seperti semula.
Terlalu lama memejamkan mata, perlahan Alam membuka kedua matanya. Alam memegang dadanya kuat, merasakan perasaan yang entah apa. Debaran itu terasa jelas Alam rasakan.
Alam memegang kepalanya kuat karena rasa sakit yang menghantuinya. Alam melirik kesemua ruangan. Nyatanya kedua orang tuanya sedang tertidur karena Alam terbangun tepat jam dua dini hari dimana Fandi dan Dinda tertidur pulas karena lelah menjaga.
Alam menatap kedua orang tuanya, namun Alam merasa ada yang kurang, ada yang hilang namun apa.
Gadis yang kemaren Alam usir, jika memang dia istrinya dan Alam sudah menikah kenapa Alam tak mengingatnya.
Lalu Alam melihat sebuah buku ketika Alam akan menyimpan Poto itu.
Perlahan Alam membuka buku itu, Alam membaca lembar demi lembar buku diary itu. Alam ingat ini tulisannya tapi kenapa Alam tak ingat setiap kejadian yang tertulis di buku itu.
Ekspresi wajah Alam berubah-ubah setiap kali Alam membaca lembar demi lembar buku diary. Alam memegang dadanya yang terasa berdebar. Betulkah Alam begitu mencintai Amira, tapi kenapa ia tak ingat.
Alam mencoba mengingat-ingat namun hanya kesakitan yang Alam rasakan. Alam kembali memilih membaca buku diary ke dua.
Di sana tertulis perjuangan Alam memendam rindu selama empat tahun pada Amira. Ungkapan cinta selalu Alam lontarkan di setiap akhir kalimat yang Alam tulis.
Alam terus membacanya berharap ada setitik ingatan kalau Amira memang istrinya.
Kenapa bisa ia melupakan istrinya sendiri jika yang tertulis di buku itu menggambarkan begitu hebatnya Alam mencinta Amira, begitu hebatnya Alam memperlakukan Amira. Dan, begitu hebatnya Alam melindungi Amira.
Walau Alam tak mengingat dengan jelas kenangan itu tapi hati Alam merasakan debaran itu. Seolah Alam memang benar-benar mencintai Amira.
Mungkin, ingatan Alam tentang Amira Ter delete kan tapi, debaran itu masih bisa Alam rasakan.
Benarkah memang Alam mencintai Amira dan Amira adalah istrinya. Jika memang Amira istrinya kenapa dia tak ada di ruangannya, tak menjaga dan merawat dia.
Walau ingatan Alam hilang terpotong-potong dimana Alam melupakan sebagian orang saja. Dan, sebagian lagi ingat. Itu masih sebuah gejala yang suatu hari nanti akan merusak daya ingat Alam semuanya termasuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Amira memang istri kamu, tak ingatkah perjuangan kalian bersatu bahkan sampai menentang kami!"
Ucap Fandi berdiri di hadapan Alam, Alam sedikit terkejut mendengar suara Fandi. Yang membuat Alam terkejut lagi ternyata ini sudah pagi. Entah berapa jam Alam membaca buku diary nya sendiri sambil mengingat-ingat sampai tak sadar mentari sudah menanti.
"Benarkah seperti itu dad, jika memang dia istri Alam kenapa tak merawat Alam?"
"Karena istri kamu juga sedang di rawat!"
Alam menautkan kedua alisnya bingung, di rawat. Pantas saja tak ada menjaga dan merawatnya ternyata Amira di rawat juga.
"Apa dia sakit!"
"Tidak, istri kamu sedang hamil!"
Deg ...
Alam memegang dadanya yang berdebar kencang. Seolah debaran ini tak asing bagi Alam.
Hamil!
"Sayang,"
"Ya,"
"Jika kita punya anak, kamu mau anak laki-laki atau perempuan?"
"Sayang,"
"Laki-laki atau perempuan tak masalah bagiku. Yang terpenting kita sama-sama membesarkan dan mendidiknya!"
"Jika anak kita laki-laki aku ingin memberi nama Galaksi. Kalau perempuan aku ingin memberi nama Mentari,"
Alam memegang kepalanya kuat ketika sekelebat bayangan muncul di ingatannya.
Rasanya Alam tak asing dengan kata hamil itu, bukankah ini yang Alam inginkan.
"Nak, jangan terlalu di paksa mengingat. Daddy cuma minta, terimalah Amira, kalau Amira adalah istri kamu. Walau ingatan kamu belum kembali sekalipun!"
"Di mana dia, Dad. Aku ingin melihatnya!"
"Sebentar, kamu harus di periksa dulu. Baru menemui istri kamu,"
Alam hanya mengangguk saja dengan perasaan tak menentu. Bagaimana bisa Alam melupakan istri dan calon anaknya. Seperti nya Alam harus berusaha mengingat mereka jika memang mereka benar bagian dari kebahagiaan nya.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah,, komen, dan Vote Terimakasih .....
__ADS_1