
"Ada apalagi, kenapa Amira terlihat marah?"
Tanya Dom pada sahabatnya yang duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa berkas yang Dom bawa tadi.
"Tidak ada!"
Jawab singkat Alam kembali fokus pada berkas yang ia pegang.
"Jika tidak apa-apa kenapa tangan dan pelipis mu terluka!"
"Kau ini saya gajih untuk bekerja bukan kepo masalah orang lain!"
Kesal Alam menatap tajam pada Dom yang terus bicara tanpa henti.
Dom hanya menghela nafas saja sambil menggelengkan kepala.
"Kapan keberangkatan Fatih?"
"Mungkin sekitar dua bulan lagi!"
Jawab Dom, membuat Alam menghentikan pergerakan tangannya. Alam terdiam seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Dom, bagaimana cara kau harus buat Amira keluar dari perusahaan ini. Kalau bisa kau kirim Amira ke perusahaan induk menggantikan Fatih sementara!"
"Saya tidak yakin tuan!"
Alam menatap tajam sahabatnya itu, kenapa jika masalah Amira Dom selalu saja tak becus mengatasinya.
"Apa kau merencanakan sesuatu!"
Selidik Alam sambil memicingkan kedua matanya. Dom, dengan santai duduk di hadapan Alam.
"Padahal anda omnya tuan, saya rasa anda lebih tahu bagaimana karakter keponakan anda yang satu itu!"
Sindir Dom membuat Alam menggeram kesal, kenap Dom malah membalikan ucapannya.
Alam terdiam, berpikir keras bagaimana supaya Amira berhenti terus mengejarnya.
Dua bulan lagi Fatih berangkat ke Jerman dimana Fatih harus belajar di sana sebagai calon ahli waris kerajaan Al-biru.
Sama seperti yang Farhan lakukan dulu, sebelum pengalihan jabatan maka Fatih harus melakukan studi dulu di universitas keluarganya.
Karena itu seakan sudah jadi turun temurun bagi keluarga Al-biru. Belajar di sana selama satu tahun dan kembali dengan penobatan itu.
Entah bagaimana kisah Fatih sekarang, sepertinya terlihat baik-baik saja.
Tok ... tok ...
Ketukan pintu membuat Alam buyar dari lamunannya.
"Masuk!"
Tifani, sang sekertaris masuk ketika sudah mendapatkan izin.
"Ini berkas yang bapak minta, mungkin sekitar dua Minggu lagi kita akan launching produk baru!"
Jelas Tifani membuat Alam mengangguk.
"Dom, jangan lupa periksa semuanya, jangan sampai ketika launching ada kesalahan!"
"Dan, siapa saja yang akan datang ke acara launching produk kita?"
"Tentu, perusahaan induk dan beberapa partner kerja kita dengan produk yang akan kita launching kan!"
"Baik, terimakasih atas informasinya!"
Tifani mengangguk, lalu keluar dari ruang Alam.
__ADS_1
"Kenapa dia selalu saja serius, Bahakan tak pernah melirik ku sama sekali!"
Kesal Tifani, padahal dia sudah dandan dan memakai pakaian yang menarik perhatian Alam. Tapi, Alam selalu saja cuek dan dingin.
"Dom, terapkan aturan baru. Semua karyawan wanita harus memakai pakaian sopan, jangan ada yang kurang bahan. Jika mereka tak punya uang, kau belikan!"
Dom mengulum senyum mendengar perintah dari Alam. Sepertinya Alam kembali serius dengan pekerjaannya.
"Ngapain masih di sini!"
Ketus Alam menatap tajam sahabatnya yang masih saja duduk enak.
"Sepertinya anda tak perlu menunggu dua bulan lagi!"
"Apa maksud mu, Dom!"
"Produk kita akan launching dua Minggu lagi, aku rasa pak Jek tak mungkin menghadiri jika tak di dampingi!"
Alam langsung menatap Dom serius, apa sebenarnya yang Dom rencanakan.
"Aku rasa, pak Jek akan membawa putrinya ke acara tersebut. Dan tentu itu akan membuat Amira tak bisa bekerja lagi di sini karena semua orang akan tahu, jika Amira bukan gadis biasa. Tapi, putri seorang pengusaha besar!"
Seketika Alam tersenyum dengan apa yang Dom ucapkan. Kenapa Alam tak berpikir kesana. Dan, Alam tinggal meminta kakak nya itu membawa Amira bagaimana pun caranya.
Alam yakin, Amira tidak akan pernah menolak permintaan ayahnya.
Jika seperti itu maka Alam akan terbebas dari bayang-bayang Amira. Dan, Amira tak bisa terus mendekatinya. Ini lebih baik dari pada Alam akan terus menyakiti Amira.
"Baiklah Dom, kau tahu apa yang harus kamu lakukan!"
"Siap!"
Dom undur pamit setelah membahas pembahasan penting dengan Alam.
Dom tersenyum seringai, menatap pintu ruang Alam yang sudah tertutup. Entah apa yang akan Dom rencanakan selanjutnya. Apakah memang merencanakan sesuatu dengan yang di katakan atau Dom mempunyai rencana lain yang akan semakin menjerat Alam.
Gumam Alam ketika Dom benar-benar sudah pergi.
Alam lebih baik menyibukkan terus dirinya sendiri agar sedikit teralihkan dari Amira.
Alam tidak boleh sampai goyah, Alam tak mau jika kedua orang tuanya kecewa jika tahu di memiliki rasa lebih terhadap Amira.
Alam tak mau membuat kedua keluarga menjadi berpecah belah gara-gara dirinya dan Amira. Itu tak boleh terjadi, tidak.
Tanpa sadar, hari sudah semakin siang, namun Alam masih sibuk dengan berkas-berkas nya. Bahkan Alam sampai lupa dengan makan siangnya.
Amira melirik jam, sudah waktunya dia mengantarkan kopi pada Alam.
Sebisa mungkin Amira berusaha bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa tadi pagi.
"Ini sudah lewat loh, makan siang dulu Alam!"
"Jangan ganggu aku, simpan saja disana!"
"Ayolah Alam, kita ini teman. Jangan se kaku itu!"
"Jaga batasanmu Tifani, aku tak mau di ganggu. Keluar!"
Kesal Alam karena Tifani menggangu pekerjaannya.
Tifani mengerucutkan bibirnya karena kesal. Kenapa Alam dari dulu sulit sekali di dekati. Tifani memang teman Alam dulu waktu kuliah. Tifani dari dulu selalu saja mengejar-ngejar Alam. Namun, Alam tak pernah memberikan respon sedikitpun bahkan memberikan celah pun tidak.
"Tapi, jangan lupa di makan ya. Nanti kamu sakit!"
Ucap Tifani lembut namun, Alam cuek saja tak menanggapi ucapan Tifani.
Tifani menghentak-hentakan sepatunya karena benar-benar kesal dengan apa yang Alam lakukan. Alam selalu saja seperti itu.
__ADS_1
"Aku bilang keluar Tifani, aku gak mau di ganggu. Ngerti gak sih!"
Deg ...
Alam terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya. Alam pikir itu Tifani tapi nyatanya salah.
Amira terpaku melihat kekesalan Omnya, seperti nya Amira mempunyai saingan. Tapi, melihat respon Alam membuat Amira bahagia tadi mendengarnya. Berarti Alam benar-benar tak menyukai siapapun.
"Taroh saja di situ!"
Ketus Alam kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Amira menaruh kopi nya di tempat biasa.
Tapi, bukannya langsung keluar, Amira malah duduk di shopa.
"Sepertinya makanan ini enak, kalau om gak mau biar Rara saja ya makan!"
Cetus Amira sambil membuka makanan yang tadi Tifani bawa.
Alam tak peduli dengan apa yang Amira lakukan. Karena pekerjaan nya lebih penting dari pada Amira.
"Ini enak loe om, kenapa gak di makan!"
"Emmz, rasanya lezat!"
Amira terus saja memanas-manasi Alam, dengan memakan makanan yang di bawa Tifani. Bahkan, Amira terdengar benar-benar menikmati makanan itu.
Alam yang cuek lama-lama menjadi kesal karena kelakuan Amira. Bahkan sialnya kenapa perutnya menjadi lapar ketika melirik Amira begitu menikmati makanan tersebut.
Sial!
Umpat Alam dalam hati ketika perutnya berbunyi tapi Amira pura-pura tak mendengarnya.
"Om mau?"
Tawar Amira berdiri mendekati Alam.
Aaa ...
"Tidak!"
"Beneran, padahal ini enak loh!"
Aaaa ...
Tak kehabisan akal Amira terus saja membujuk Alam makan. Hingga perut Alam berbunyi membuat Amira terkekeh.
"Om selalu saja gengsi, jangan sok jual mahal jika lapar. Nih, makannya!"
Ucap Amira meletakan makanan di atas pangkuan Alam.
Cup ...
"Selamat makan, om ku sayang!"
Jahil Amira kabur setelah memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Alam.
Alam melotot dengan apa yang Amira lakukan. Ingin marah, tapi pada siapa, karena Amira sudah kabur.
Huh ..
Alam menghela nafas kasar, lalu matanya terpaku pada meja. Dimana ada kotak makan yang terbuka. Lalu Alam melihat kotak makan di pangkuannya.
Seketika Alam tersenyum tipis, ternyata Amira benar-benar menghabiskan makanan pemberian Tifani. Dan, memberikan makan dari dirinya sendiri.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....