Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 79 Moreo pasti kuat


__ADS_3

Tak henti-henti Amira menangis melihat Moreo yang kesakitan. Walau bagaimanapun Moreo adalah sahabat Amira. Apalagi Moreo sudah menyelamatkan nyawa Alam.


Kejadian yang begitu tiba-tiba tanpa mereka sadari dan Alam yang menjadi incarannya. Apa Alam punya musuh atau tidak, bagaimana mungkin ada seseorang yang mau membunuhnya.


Tembakan itu begitu cepat, bahkan suaranya juga nyaris tak terdengar. Seperti nya senjata yang mereka gunakan bukan senjata sembarangan.


Pasti yang melakukannya adalah seorang sniper handal.


Rumah sakit menjadi ricuh akibat kejadian tersebut bahkan mereka menjadi ketakutan. Apalagi ada sebagian orang yang melihat kejadian tersebut.


Mendengar ada penyerangan pada Alam membuat Fandi dan Dinda langsung berangkat ke rumah sakit. Begitupun Jek Daan Melati.


Sungguh, mereka begitu terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin Alam menjadi target pembangunan.


Sedang Farhan langsung mengusut kasus itu, di bantu oleh Rijal yang sudah Farhan latih dengan kemampuan khusus.


Siapa yang sudah berani mengusik keluarga mereka maka Farhan tak akan melepaskannya.


Mereka tidak tahu siapa Farhan, bahkan dalam kurun waktu 24 jam Farhan akan mendapatkan orangnya.


Jangan pernah di ragukan lagi insting seorang mafia yang tertanam di diri Farhan. Walaupun sudah tua namun, kemampuan itu tak pernah hilang bahkan melekat di dirinya.


Namun, Farhan akan buat semua memudahkan polisi tanpa harus terlihat ikut campur.


Biarlah polisi yang mengeksekusi nya, jika Farhan yang turun tangan jangan salahkan orang itu tinggal nama.


.


Moreo dengan cepat di tangani oleh dokter, pelurunya cukup dalam menembus punggung Moreo dan hampir mengenai bagian vitalnya.


Amira sendari tadi begitu gelisah bagaimana keadaan Moreo di dalam.


Alam faham kekhawatiran Amira, Alam hanya bisa diam saja tanpa berani protes.


"Cinta!"


Amira menghentikan langkahnya yang sendari tadi bulak balik bak setrikaan hidup.


"Sini,"


Amira menurut saja duduk di samping Alam. Kemudian Alam menarik kepala Amira supaya bersandar di bahunya. Lalu Alam menggenggam tangan Amira lembut, bahkan Sesekali mengecupnya.


Belulang kali Alam melakukan hal seperti itu berharap Amira akan tenang.


"Apa sudah lebih baik?"


"Terimakasih, Dear!"


"Moreo pasti kuat,"


"Iya!"


Mereka kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Di sini yang paling aneh adalah Alam, karena Alam merasa ia tak punya satupun musuh. Bagaimana bisa nyawanya di incar oleh orang lain. Bahkan melakukannya di rumah sakit, tempat terbuka.


Alam terus berpikir keras mengingat-ingat apa ia punya musuh atau tidak. Seingat Alam dia merasa tak punya.


Siapa yang ingin membunuhnya, kenapa?


Alam terus berpikir keras berharap menemukan satu titik jawaban. Namun, Alam tidak menemukannya sama sekali. Dan, sekarang kunci saksi hanya Moreo seorang tak ada yang lain.


Tunggu!


Bagaimana bisa Moreo tahu dia akan di serang. Dan, sejak kapan Moreo tahu ia berada di rumah sakit.


Pertanyaan itu meluncur begitu saja di kepala Alam.

__ADS_1


Alam langsung melirik Amira yang juga terdiam.


"Cinta,"


"Hm!"


"Apa kamu yang memberi tahu jika kita berada di sini?"


Tanya Alam menatap intens wajah calon istrinya.


Amira menghela nafas kasar ketika mendapati pertanyaan seperti itu.


"Iya, kemaren aku memberi tahunya. Maaf!"


Ucap Amira merasa bersalah karena tak memberi tahu Alam terlebih dahulu. Karena Amira pikir Alam pun tak jadi masalah.


"Tidak apa, Aku cuma sedang mencoba menebak!"


"Apa!"


"Aku tak tahu, siapa yang mau nyawaku melayang. Selama ini aku tak punya musuh. Namun, bukankah ini bukan suatu kebetulan Moreo menyelamatkan aku!"


"Maksudnya apa, Dear. Aku gak ngerti!"


"Moreo tahu sesuatu tentang penembakan ini!"


Deg ...


Amira membulatkan kedua matanya karena baru faham apa yang Alam maksud.


"Ma-maksud dear, Moreo tahu siapa orang yang melakukan penembakan ini!"


"Hanya sebatas filing, kita tunggu saja Moreo siuman!"


Amira memeluk Alam karena merasa takut. Bagaimana bisa ada orang se keji itu. Mau membunuh Alam.


Andai saja Alam yang tertembak Amira tak akan memaafkan siapapun orangnya. Karena besar kemungkinan Alam akan langsung meninggal melihat kondisi Alam yang seperti itu.


Dan, Moreo tiba-tiba datang mendorong Alam, besar kemungkinan itu membuat sang penembak gagal fokus hingga salah sasaran.


"Nak kamu tidak apa?"


Tanya Dinda tiba-tiba membuat Alam dan Amira terkejut.


Dinda memeluk putranya karena merasa takut. Siapa yang mau membunuh putranya. Sungguh keji orang tersebut.


" Sayang, kamu gak apa, ada yang terluka. Katakan dimana?"


Dinda met bulak balik tubuh Alam takut putranya lecet sedikitpun. Karena Alam baru sadar dari koma masa harus koma lagi.


"Mah tenang, Alam gak apa-apa kok,"


"Mama hanya takut sayang,"


Isak Dinda memeluk tubuh jangkung Alam lagi. Alam membalas pelukan sang mama berharap sang mama akan tenang.


"Moreo menyelamatkan aku,"


"Moreo!"


Beo Dinda dan Fandi menatap Alam seksama.


"Alam gak apa, Amira yang shok atas kejadian ini. Apalagi Moreo yang mendapat tembakan!"


Jelas Alam membuat Dinda langsung menatap Amira. Saking cemasnya sampai Dinda melupakan keberadaan Amira.


"Sayang,"

__ADS_1


Ucap Dinda menarik Amira kedalam pelukannya.


"Maaf nenek, nak. Apa kamu baik-baik saja?"


"Rara baik Nek,"


Jawab Amira tulus, Amira tak mau membuat Dinda semakin khawatir. Walau memang sejujurnya Amira sendari tadi masih shok. Namun, rasa shok itu telah hilang karena Alam sendari tadi sudah menenangkannya.


"Maaf menggangu, boleh meminta waktu anda sebentar!"


Ucap seorang polisi tiba-tiba menghampiri Alam.


Alam menatap semuanya lalu tersenyum pada polisi.


Polisi mengarahkan Alam agar ikut dengan mereka.


"Mah, Dad. Titip Amira!"


Ucap Alam lalu mengikuti langkah polisi entah membawanya kemana.


Amira hanya diam saja merasa heran kenapa dirinya tak di mintai keterangan juga. Harusnya Amira juga ikut kenapa hanya Alam doang.


Karena tak mau ambil pusing, Amira kembali fokus pada Moreo saja yang sendari tadi dokter belum juga keluar.


Cklek ...


Pintu ruangan di buka bertepatan dengan Jek dan Melati datang.


"Bagaimana kondisi ya, Dok?"


"Pasien baik-baik saja, dia sudah melewati masa kritis nya. Kami akan memindahkan dia keruang rawat!"


Jelas dokter membuat semua orang merasa lega.


Beberapa perawat mendorong brankar Moreo untuk di pindahkan ke ruang rawat.


Amira terpaku melihat keadaan Moreo, sungguh Amira berhutang nyawa pada Moreo karena sudah menyelamatkan nyawa Alam.


Semua orang mengikuti kemana Moreo di pindahkan.


Alam yang sedang mengobrol dengan polisi melihat Moreo di dorong masuk ke salah satu ruangan.


"Tolong beri tahu kami jika pak Moreo sudah siuman. Kami butuh ketenangan dari beliau!"


"Baik pak, saya akan sampaikan!"


"Terimakasih atas kerja samanya!"


"Sama-sama, jika butuh sesuatu hubungi saya!"


"Baik, kalau begitu kami pamit!"


Ucap Polisi, Alam mengangguk saja mempersilahkan polisi pergi.


Sesudah polisi benar-benar pergi, Alam menyusul keluarganya yang masuk kedalam ruang rawat Moreo.


Alam terpaku melihat Amira memegang tangan Moreo sambil menangis. Alam diam saja membiarkan itu terjadi. Bukan Alam tak cemburu namun, di saat situasi seperti ini Moreo memang yang lebih membutuhkan perhatian Amira di banding dirinya. Apalagi Moreo tak ada yang menjaga.


Pasalnya pak Broto belum kembali dari luar kota. Dia masih dalam perjalanan menuju ke sini.


Puk ..


Alam menepuk pundak Amira membuat Amira langsung menoleh.


"Dear,"


"Gak apa, kita rawat Moreo sama-sama!"

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2