
Alam mengajak Amira jalan-jalan hari ini mengunjungi beberapa pantai yang ada di kota Pelabuhanratu (Sukabumi).
Dari mulai Karang Hau, pantai Ci bangban, pantai Ci kembang sampai istirahat di puncak Habibie.
Sebuah puncak yang terletak di jalan penghubung Nasional provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten.
Sebelum bernama Puncak Habibie, masyarakat sekitar mengenal tempat itu dengan nama Puncak Kembang.
Perubahan nama itu terjadi pada tahun 1990, ketika Industri Pesawat Terbang Nusantara atau IPTN membangun fasilitas radar udara di sana. Radar udara tersebut dibangun oleh ** Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi.
"Sejak ada bangunan radar, namanya jadi Puncak Habibie dan sampai sekarang kami menyebutnya seperti itu," kata Aep Kusmayadi, warga Desa Pasir Baru yang juga penjaga kebunan di Puncak Habibie pada Rabu 11 September 2019.
Amira dan Alam merasa bahagia bisa menikmati suasana ini. Melihat langsung kisah sejarah yang di bangun persiden ketiga Indonesia.
.
.
...(Poto asli)...
"Dear, ini sangat indah?"
Ucap Amira merasa senang Alam mengajak ia ketempat-tempat yang membuat Amira benar-benar tenang.
Bahkan dari ketinggian di sana Amira bisa melihat begitu indahnya laut di bawah sana. Sungguh, baru kali ini Amira berlibur ke pantai dan juga pegunungan.
Suasana pengunungan yang nampak sejuk membuat Amira benar-benar tenang. Dengan mata yang di manjakan oleh keindahan laut di bawah sana.
Sungguh, tempat ini mungkin adalah tempat terindah yang pernah Amira lalui bersama Alam.
Walau Amira akui, jalannya begitu penuh tanjakan dan tanjakan. Namun, sangat puas jika sudah sampai di tujuan. Apa lagi jalan yang mereka lalui jalannya bagus dan tak menghambat perjalanan mereka.
"Apa kamu benar-benar senang?"
"Rara senang, ini sungguh indah. Terimakasih, Dear!"
"Apapun untuk kamu, asal kamu bahagia!"
Lagi-lagi Amira tak habis-habisnya di buat berdebar oleh Alam. Rasanya jantung Amira mau copot saja jika Alam terus berkata manis seperti itu.
Walau di sini tempatnya masih belum se modern tempat-tempat wisata lain. Namun, Amira menyukainya. Apalagi penduduk asli setempat begitu ramah-tamah dan sopan.
Rasanya, jika Amira ingin meminta. Amira ingin tinggal di sana. Membangun sebuah rumah di puncak dan menghabiskan masa tua dengan Alam dan menyatu dengan alam yang begitu indah.
Teruslah tersenyum seperti itu sayang, aku akan ajarkan cara kamu bahagia hingga kamu akan lupa bagaimana caranya bersedih walau kamu berada di titik terapuh sekalipun.
Batin Alam ikut tersenyum melihat begitu lepasnya Amira tersenyum dan tertawa. Begitu bebasnya suasana hatinya lepas.
Amira membalikan badannya menatap Alam yang sedang duduk di salah satu kursi. Amira berjalan mendekat dengan senyuman yang terus mengembang. Lalu Amira duduk di samping Alam.
"Dear, aku sudah putuskan?"
Ucap Amira serius, semalaman Amira terus berpikir tentang kapan ia kembali. Dan, sekarang Amira sudah menentukannya.
"Apa?"
"Aku sudah siap, besok kita kembali!"
Seketika Alam tersenyum cerah mendengar jawaban Amira yang sangat memuaskan. Sendari kemaren Alam menunggu jawaban itu, namun di hari ke empat mereka berlibur, Amira baru memutuskan.
"Baiklah, kita kembali besok. Tapi, apakah sekarang sudah puas?"
__ADS_1
"Ya!"
"Ok, sekarang tinggal kita cari makan!"
Ucap Alam, Alam teringat ada salah satu restoran yang sering di kunjungi para pejabat dan artis.
Sebuah restoran yang terletak di bibir pantai Ci Tepus yang menyediakan berbagai menu seafood. Dan rencananya setelah makan Alam akan mengajak Amira naik kuda.
Walaupun hari ini cuaca sangat panas namun, kenikmatan makanan khas di sana membuat Amira dan Alam puas.
"Kalau makan jangan belepotan, kau ini sama kaya Aurora saja!"
Cetus Alam mengelap bibir Amira membuat Amira tersipu.
Bersama Alam, Amira akan menjadi apa adanya. Menjadi diri dia sendiri tanpa harus malu.
"Terimakasih,"
Ucap Amira membuat Alam hanya mengangguk saja. Sesudah selesai makan mereka duduk malas dulu sambil menurunkan makanan yang masuk kedalam mulutnya. Sesekali mengobrol ringan masalah pekerjaan.
Karena cuacanya semakin panas Alam mengajak Amira membeli es krim sambil duduk di kursi malas yang tersedia di bibir pantai.
"Dear, itu punya aku!"
"Jangan pelit,"
"Kan kamu juga beli,"
"Tapi mau nya yang ini!"
Kekeh Alam memakan es krim punya Amira. Padahal Alam juga sedang memegang es krim.
Amira hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah Alam. Selalu saja suka memakan es krim nya dan membiarkan es krim dia sendiri. Yang ujung-ujungnya Amira harus memakan es krim punya Alam yang masih utuh.
Alam terdiam mendengar ucapan Amira, entah harus menjawab apa. Alam tidak mau terlalu banyak berjanji yang akan membuat Amira sakit.
"Kok diam, gak mau ya!"
"Bukan begitu dear, kita lihat saja nanti. Apapun untuk kamu, cinta!"
Amira tersenyum gembira mendengar jawaban Alam.
Amira mengelus rahang tegas Alam membuat Alam langsung menoleh.
"Kenapa?"
"Rara perhatikan badan om kurusan, nanti kalau Rara sudah jadi istri om. Rara akan membuat om gendut!"
"Jangan lah, masa aku harus gendut,"
"Maksudnya bukan gendut buncit, tapi badan om harus kekar kembali!"
"Baiklah ibu ratu!"
Ah, sungguh Alam paling bisa membuat Amira tersipu. Bahkan pipinya sampai memerah bak kepiting rebus yang mereka tadi makan.
"Maukah ibu ratu berkuda dengan ku?"
Ucap Alam sambil mengulurkan tangannya.
"Mau, tapi Rara gak bisa!"
"Tenang, ada aku!"
__ADS_1
Amira langsung tersenyum dan menyambut uluran tangan Alam. Alam memegang kokoh tangan Amira.
Alam menyewa satu kuda saja, karena memang rencananya Alam naik berdua.
"Jangan takut!"
Ucap Alam membantu Amira naik, sesudah Amira naik, kini giliran Alam yang naik.
Amira mencengkram tangan kokoh Alam yang memegang tali. Tangan satu Alam merengkuh perut Amira supaya tenang.
"Jangan tegang,"
Ucap Alam meyakinkan, bahwa ada dia yang akan menjaga Amira.
Hia ..
Alam mulai mengendalikan kudanya dengan santai berjalan menyelusuri bibir pantai. Amira yang awalnya takut perlahan tenang ketika Alam memeluk perutnya erat sambil membisikan sesuatu.
"Aku mencintaimu!"
Refleks Amira menoleh ke belakang hingga tepat bibir mereka bertemu. Dan, sontak saja Alam langsung menghentikan kendali kuda. Untung saja posisi mereka berada di ujung pantai hingga tak ada orang lain yang melihat.
Mata mereka saling bertemu satu sama lain, Amira yang merasa malu langsung membalikan wajahnya lagi ke depan. Namun, Alam menahannya dengan lembut.
"Sayang kamu belum menjawab ucapanku?"
Bisik Alam tepat di depan bibir Amira dengan mata terus mengunci tatapan Amira.
Lama mereka dalam posisi itu dan kuda nya juga mengerti hanya diam saja tak bergerak sedikitpun. Seolah tak ingin menggangu kemesraan penunggangnya.
Amira tersenyum tipis dengan mata masih menatap Alam.
"I love you, forever!"
Cup ...
Alam tanpa kata lagi menyambar bibir Amira, memainkannya dengan lembut namun penuh penekanan. Seolah Alam sedang menyesap rasa manis di sana.
Amira yang awalnya diam karena terkejut akan ciuman Alam yang sedikit menuntut lama kelamaan Amira juga mengikuti alurnya.
Sungguh, siapa saja yang melihatnya akan merasa malu sama pasangan itu. Bahkan author saja jadi malu sendiri. Terlalu indah untuk di bayangkan.
Plup ...
Ciuman mereka terlepas ketika Amira sudah merasakan sulit bernafas. Amira langsung membalikan wajahnya lurus ke depan karena merasa malu dengan apa yang mereka lakukan.
Ciuman yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Bahkan rasanya Amira masih merasakan bibir Alam masih menempel di bibirnya.
"Kita kembali, sayang!"
"Ah, iy-iya!"
Jawab Amira jadi gugup sendiri. Alam hanya tersenyum saja lalu mengendalikan kembali kudanya menuju tempat semula.
Namun, siapa sangka Alam dan Amira terdiam ketika melihat sepasang mata menatapnya tajam.
"Sudah selesai liburannya!"
"Waktunya kembali!"
Deg ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1