Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 9 Pengecut


__ADS_3

Brak ...


Alam menggebrak meja menatap tajam pada asisten nya.


Alam benar-benar sangat marah kenapa Dom tak memberi tahunya.


Dom hanya diam saja karena dia tahu, dia salah tak memberi tahu bosnya akan Amira. Dom merutuki kebodohannya yang lupa akan hal itu. Dom belum sempat bicara karena kemaren Alam memberikan pekerjaan padanya yang begitu berat.


Apalagi malamnya Dom juga harus menggantikan Alam menghadiri acara ulang tahun pak Broto jadi Dom benar-benar lupa akan hal itu.


"Bagaimana bisa kau kecolongan!"


"Bukankah kau bila Amira bekerja di bagian marketing, kenapa malah menjadi office girl!"


Bentak Alam benar-benar sangat marah akan kecerobohan asisten nya.


"Saya gak mau tahu, pecat dia atau pindahkan kebagian yang seharusnya!"


Bentak Alam menggebu, sungguh Alam masih shok akan kehadiran Amira tadi ke ruangannya. Bahkan sampai membuat Alam tak fokus memimpin rapat. Semua ini gara-gara asisten nya gak becus mengurus semuanya.


"Itu tidak mungkin di lakukan, anda tahu peraturannya!"


"Ganti sepuluh kali lipat uang pesangonnya!"


Dom terdiam menatap tajam pada sahabatnya sekaligus bosnya itu. Apa Alam sudah gila, mengganti sepuluh kali lipat gajih seorang office girl yang Dom yakin Amira tak membutuhkan uang itu sama sekali. Bahkan kekayaan keluarga nya saja sama seperti Alam.


"Kenapa kau diam hah, cepat pecat dia!"


"Kenapa anda begitu bodoh tuan!"


"Kau!"


Alam semakin marah akan ucapan asisten nya yang berani mengatainya bodoh. Bahkan membuat Alam mencengkram kerah baju Dom.


"Mau pukul silahkan, ayo!"


Ahhh ...


Alam mengusap wajahnya kasar, Alam sangat frustasi kenapa semuanya jadi seperti ini. Kenapa Amira kembali di saat Alam mencoba merubah semuanya.


Kenapa?


"Anda tahu, Amira tak membutuhkan gajih itu atau pekerjaan yang sedang ia kerjakan. Amira ke sini hanya menginginkan anda bukan pekerjaan nya sebagai Office Girl, walau pekerjaan itu membuat ia melangkah sejauh ini!"


Kini Alam terdiam, Alam membenarkan semua yang di ucapkan Dom. Alam tak menampik itu, karena sendari awal Alam sudah tahu itu.

__ADS_1


Tapi bagaimana bisa Amira sebodoh itu mengejar dirinya malah bekerja sebagai Office Girl kenapa tak langsung sekertaris saja yang jabatannya lebih enak.


Tapi, bukan itu yang Amira inginkan. Ada banyak pertimbangan yang Amira putuskan hingga dia memilih sebagai Office Girl.


Bahkan Jek pun yakin tak tahu apa yang sedang di lakukan putri tercintanya itu yang sedang di butakan oleh cinta.


"Jika anda mencintai nya juga kenapa anda serumit ini!"


"Jaga bicaramu Dom!"


Kesal Alam karena sahabatnya itu terus memanasi dirinya.


"Oh, ayolah kawan. Aku tahu bagaimana perasaan mu. Bahkan aku tahu apa yang kau lakukan empat tahun terakhir ini, apa namanya kalau bukan cinta!"


"Dia keponakanku, jadi wajar saya melindunginya!"


Ha .. ha ...


Dominic tertawa terbahak-bahak sangat merasa lucu akan ucapan Alam. Bahkan orang bodoh pun tak akan percaya dengan apa yang Alam katakan. Kenapa Dom bisa mempunyai sahabat cerdas tapi selalu bodoh dalam asmara.


"Lagi-lagi anda mengelak, padahal aku yakin penjagaan pak Jek tak diragukan lagi!"


Deg ...


Alam benar-benar terdiam, Alam melupakan satu hal itu.


"Ingat bro, jangan jadi seorang pengecut. Jika cinta katakanlah, jangan sampai loe menyesal. Kamu masih punya kesempatan bisa melihatnya, jangan sampai loe mengalami apa yang aku rasakan!"


Puk .. Puk ...


Ucap Dom bijak sambil menepuk-nepuk pundak Alam yang hanya diam.


Dom hanya tidak mau sahabatnya itu melakukan kesalahan besar seperti dirinya dulu. Di mana kisah percintaannya sama, namun waktu itu Dom belum punya apa-apa dan memilih melepaskan hingga pada akhirnya orang terkasihnya pergi.


Pergi bukan dengan orang lain melainkan pergi untuk selama-lamanya akibat kekasihnya dulu mengejar dirinya hingga tak menyadari kalau ada mobil yang melaju kencang di arah berlawanan.


Mengingat itu membuat Dom memejamkan kedua matanya. Karena rasa sakit dan cinta itu masih ada.


Bagaimana tidak sakit, jika kita melihat langsung dengan mata kepala kita sendiri orang yang kita cintai pergi tepat di hadapan kita.


Memilih pergi demi kehidupan lain. Ya, sampai saat ini Dom masih hidup karena yang pergi harusnya dirinya tapi sang kekasih malah mendorongnya higa ia yang tertabrak.


Dom memilih pergi dari ruangan Alam, Dom yakin Alam hanya butuh sendiri untuk sadar akan semuanya.


Mungkin jika Alam sama-sama memperjuangkan pasti alurnya akan berbeda. Dan, Amira tak perlu melakukan hal sejauh ini.

__ADS_1


Namun, entah apa yang membuat Alam tak bisa melakukan semuanya. Alam seperti takut akan sesuatu.


Entah apa yang Alam sembunyikan hingga membuat dirinya tak mampu melangkah lebih jauh lagi.


Alam hanya bisa mengurung rasanya di ruang kedap suara. Berdiam diri dengan rasanya sendiri tanpa mau beranjak sedikitpun.


Ego terlalu tinggi untuk melangkah, ketakutan terlalu besar membuat Alam rapuh.


Jika Alam melangkah apa semuanya akan berubah seperti ekpektasi nya atau malah justru sebaliknya.


Andai saja ia tak lahir di keluarga Mangku Alam atau Amira tidak terlahir di keluarga Prayoga. Mungkin, cerita dan akhirnya akan berbeda.


Alam membuka laci mengeluarkan selembar Poto yang terlihat sedikit usang. Di elusnya lembut Poto itu. Dimana Poto dirinya dan Amira ketika waktu kecil. Sebuah Poto dimana waktu itu Amira berkunjung ke rumah dirinya karena merengek minta di ambilkan buah dari pohonnya langsung.


Poto yang selama ini selalu menemani Alam di waktu suntuk.


Tok .. tok ...


Sebuah ketukan pintu membuat Alam terkejut. Buru-buru Alam menyimpan kembali Poto tersebut.


"Masuk!"


Seperti biasa Alam akan kembali memasang wajah dingin dan menyibukkan dirinya dengan beberapa berkas di hadapannya. Karena Alam tahu, pasti Amira yang masuk karena ini jadwal Amira mengantar kopi untuknya.


Amira meletakan secangkir kopi di tempat biasa. Sekilas Amira melihat wajah Alam yang serius memeriksa berkas-berkas tanpa mau menatap dirinya.


Amira menghela nafas lalu pamit keluar tanpa berkata apa-apa.


Amira tak mau menggangu pekerjaan Alam, Amira hanya ingin bermain perlahan tanpa terburu-buru. Bagi Amira melihat wajah Alam sudah cukup baginya mengobati rasa rindu itu.


Alam mengangkat wajahnya ketika Amira sudah benar-benar keluar.


Alam melirik secangkir kopi yang di bawakan Amira.


Jangan lelah bekerja 🥰


Alam membaca pesan Amira di sebuah nota yang sengaja Amira tempel di pinggir gelasnya.


Alam mencabutnya lalu meremas nota tersebut dengan amarah yang menggebu. Bahkan dengan teganya Alam membuang nota itu ke tempat sampah.


Alam harus seperti ini, dia harus berusaha tak peduli akan perasaan Amira. Berharap Amira akan menyerah padanya.


Biarkan Alam di katakan pengecut karena memang julukan itu pantas untuknya. Namun, Alam tak mau menyakiti banyak hati jika egois mempertahankan perasaannya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2