
Fandi memeluk erat sang istri, Fandi tak menyangka. Sang istri masih membenci dirinya sendiri dan keadaan ini.
Fandi pikir selama ini sang istri masih mencintai mantan suaminya sekaligus kakak ipar Fandi sendiri.
Namun, semua dugaan Fandi salah. Sendari dulu istrinya mencintai dirinya. Dia adalah cinta pertama dan terakhir istrinya. Namun, suatu kejadian di masa lalu membuat Dinda berubah.
Fandi menyesal telah meragukan itu, tapi Fandi juga merasa bersalah karena Fandi menuduh sang istri. Namun, yang paling Fandi sesalkan dia belum mampu mengobati rasa sakit sang istri di masa lalu.
Fandi pikir istrinya sudah baik-baik saja dan menerima semuanya. Namun, Fandi salah, dia merasa belum cukup baik mengenal sang istri. Walau mereka sudah bersama selama dua puluh delapan tahun.
"Maafkan aku sayang, maaf!"
"Jangan minta maaf Dad, Daddy gak salah. Aku hanya belum bisa melupakan kebencian itu!"
"Andai saja Amira terlahir bukan dari keturunan Prayoga aku tak akan menentangnya. Cukup kami terikat oleh Queen dan Jek yang mengalir darah yang sama. Aku hanya tak mau terikat kembali dalam keluarga yang sama!"
Jelas Dinda, karena itu alasan sebenarnya kenapa ia menentang pilihan putranya. Dinda merasa sakit namun Dinda juga jauh lebih sakit ketika dia harus menampar putra kesayangannya.
"Apa Alam akan membenci ku, Dad?"
"Tidak! putra kita tak akan membenci kita!"
Tegas Fandi semakin mengeratkan pelukannya. Dinda melakukan ini semua bukan tanpa alasan.
Ada alasan lain dari alasan yang Dinda katakan.
.
Sedang, Alam memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Alam tidak kembali ke kantor melainkan menuju apartemen nya. Yang Alam butuhkan saat ini hanya ketenangan. Ya, Alam butuh ketenangan untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Alam marah, kesal, sedih bercampur jadi satu. Alam tak berdaya, melihat tatapan kekecewaan dari sang mama membuat hati Alam sakit.
Bahkan tamparan sang mama di pipinya tak terasa apa-apa di banding rasa bersalah Alam karena harus menentang sang mama.
Namun, Alam juga tak punya pilihan lain. Apa salahnya ia ingin hidup lebih lama lagi bersama orang yang di cintainya.
Brak ...
Alam membanting pintu kamar apartemen nya. Dia menyandarkan punggungnya di daun pintu. Lalu Alam menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
Alam menangis sejadi-jadinya, dia merasa sedih karena sudah menyakiti hati sang mama. Namun, Alam juga tak berdaya, Alam tak bisa melepas kan Amira. Amira cintanya, detak jantungnya, kekuatan di setiap hembusan nafasnya.
Karena Amira lah membuat Alam bisa bertahan sejauh ini.
Dia sudah melangkah jauh, maka Alam gak mungkin untuk mundur kembali walau harus menentang kedua orang tua dan kakaknya.
Terkadang Alam juga bingung, hubungan semacam apa keluarganya itu.
"Om!"
Deg ...
__ADS_1
Alam terkejut ketika ada Amira di depannya. Sejak kapan? kenapa Alam tak menyadarinya. Bagaimana mungkin Alam se ceroboh ini. Bukankah memang mereka sudah ada perjanjian setiap makan siang maka mereka akan bertemu di Apartemen.
Bodoh bodoh kenapa Alam tak sadar, bahkan Alam yakin, Amira pasti shok juga melihat keadaan dirinya.
"Sayang!"
Buru-buru Alam menghapus air matanya namun kedua tangannya di cengkal oleh Amira. Tanpa berkata-kata Amira menarik Alam kedalam pelukannya. Karena Amira yakin, Alam sedang butuh sandaran yang nyaman agar bisa menenangkan hatinya yang gundah.
Bahkan Amira sebenarnya benar-benar terkejut melihat keadaan Alam yang terlihat hancur.
Amira bungkam saja, dan terus mempererat pelukannya sambil menepuk-nepuk punggung lebar Alam.
Alam hanya bisa menangis saja di pelukan Amira. Bahkan tangisan itu semakin menjadi.
Tak pernah Alam selemah ini bahkan sampai menangis di hadapan Amira. Namun, memang ini yang Alam butuhkan. Sandaran ternyaman dari apapun.
.
Lama Amira memberi pelukan, kini tangisan Alam mulai reda. Amira menghapus sisa air mata yang masih menggenang.
Cup ...
Amira memberikan sebuah kecupan di kening Alam begitu lama lalu melepaskannya kembali.
"Rara sudah siapkan makanan, kita makan ya!"
Bujuk Amira terlihat santai, membuat Alam terdiam. Kenapa Amira tak bertanya akan apa yang terjadi pada dirinya.
"Ayo!"
"Kata orang, makan sepiring berdua itu lebih nikmat!"
Ucap Amira langsung menyuapi Alam. Alam hanya pasrah saja menerima suapan demi suapan dari tangan Amira langsung. Begitupun Amira sesekali menyuapi dirinya sendiri.
Hingga menu makan siang mereka habis, Amira masih diam saja membereskan semuanya. Bahkan mencuci piring kembali.
Amira melirik sekilas ke arah Alam yang duduk menatap dirinya.
Amira menghela nafas kasar, bahkan dadanya terasa sesak.
Grep ...
Alam memeluk Amira dari belakang membuat Amira memejamkan kedua matanya.
"Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan?"
Ucap Alam pelan, Alam tahu sendari tadi Amira menahan keingintahuannya. Karena Alam faham, Amira bukan tipikal orang yang mau ikut campur urusan orang. Dan, tak suka memaksa orang untuk cerita masalahnya.
"Apa yang membuat om sehancur tadi?"
Tebakan Alam benar, Amira pasti mempertanyakan alasannya.
__ADS_1
"Kenapa diam, bukankah om sudah mengizinkan Rara bertanya. Ayo katakan?!"
"Om mencintai kamu, sangat! namun om tak mau menyakiti hati mereka!"
Deg ...
Amira refleks membalikan badannya hingga kini saling berhadapan.
"Apa om akan menyerah!"
"Tidak! namun om tak kuat jika harus melihat mama kecewa!"
"Ja-jadi nenek dan kakek sudah tahu hubungan kita!"
Alam mengangguk saja, pada akhirnya Alam lemah juga. Dia harus menceritakan semuanya. Namun, Alam masih menahan jika bukan hanya Fandi dan Dinda yang menentang Jek dan Melati juga sama.
"Rara tak mau berpisah dengan om, kenapa nenek dan kakek tak merestui kita!"
Lilir Amira memeluk Alam begitu pun Alam membalas pelukan Amira.
Mereka saling berpelukan erat seolah takut ada yang memisahkan.
"Apa kita harus menemui nenek dan meminta restu secara langsung!"
"Tidak sayang, hati nenek sedang tak baik-baik saja!"
"Om menangis tadi karena habis berantem dengan nenek!"
Alam hanya mengangguk saja, karena kenyataannya memang benar. Walau ada Jek dan Melati juga.
Mereka kembali saling berpelukan, entah apa yang harus mereka lakukan.
Kini saling berpelukan menjadikan tenang bagi mereka sendiri. Mereka berharap masalahnya cepat selesai.
Amira pun ikut menangis, apa beban ini yang sudah lama Alam pikul. Apa ini alasan Alam dulu begitu kejam dan cuek padanya karena Fandi dan Dinda tak merestui.
Kini Amira tahu, kenapa Alam melakukan semuanya. Karena Fandi dan Dinda menentang hubungan Mereka.
Kenapa Alam tak cerita dari dulu, kenapa memendamnya sendiri. Kenapa tak membaginya. Apa se cinta itu kah Alam hingga tak mau membuat dirinya ikut kepikiran.
Alam menjaga hatinya, kenapa Alam harus menanggungnya sendirian. Amira semakin mempererat pelukannya. Amira yakin, pasti hidup omnya empat tahun terakhir ini sama-sama sulit.
"Rara sayang om, Rara mencintai om!"
Isak Amira seolah tak mau Alam menyerah karena dirinya. Amira ingin Alam terus memperjuangkannya.
"Kamu nafas, om!"
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1
.