
Alam memandang Amira yang masih tertidur karena semalaman Amira tak bisa tidur dengan nyenyak. Hingga sekarang Amira masih tidur karena baru jam tiga dini hari Amira bisa tidur.
Alam memegang tangan Amira, terlihat sebuah cincin yang melingkar indah di jari manis Amira.
Alam mengusap cincin itu dengan lembut sambil menatapnya seksama.
Cup ...
Alam mengecup cincin itu sangat lama sampai memejamkan kedua matanya.
Alam semakin mendekat menatap wajah damai Amira. Tangan Alam terulur membelai wajah cantik Amira yang sedikit pucat.
Usapan demi usapan Alam lakukan membuat Amira merasa terusik dalam tidurnya.
Perlahan kedua mata Amira mengerjap pertanda Amira sudah bangun. Alam tahu itu tapi Alam tak berniat menyingkirkan tangannya di wajah Amira. Alam malah terus mengusap-usap wajah Amira walau Amira sudah membuka kedua matanya sayu.
"Dear,"
Lilir Amira menatap wajah sang suami yang ada di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.
Alam tersenyum tipis sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Amira. Mengisyaratkan Amira tetap diam. Bibir Amira bergetar melihat suaminya ada di hadapan dia.
"Mau bangun?"
Amira hanya mengangguk saja, perlahan Alam membantu Amira bangun sampai Amira bisa duduk.
Grep ...
Amira memeluk Alam tiba-tiba membuat Alam langsung duduk di samping Amira. Alam membiarkan saja Amira memeluknya sambil terisak bahkan Alam bisa merasakan air mata Amira menembus baju pasien yang ia pakai.
"Maafkan aku yang sempat melupakan kamu!"
Amira semakin terisak mendengar ucapan Alam. Sungguh, hari kemaren adalah hari yang menyakiti bagi Amira dimana ketika bangun Alam tak mengenalinya. Namun, kali ini Amira bersyukur ketika ia bangun ingatan Alam sudah kembali.
Entah sampai berapa lama Alam akan kuat menahan rasa sakit itu. Ingatannya terus terpotong-potong sama seperti sekarang Alam mengingat Amira. Hanya sebagian saja yang Alam ingat. Walau begitu debaran rasa ini sama persis seperti yang Alam tulis di buku diary nya.
"Bagaimana keadaan baby!"
Deg ...
Seketika Amira terdiam mendengar pertanyaan yang meluncur di bibir Alam. Bagaimana Alam tahu ia hamil apa sang ayah atau sang mama yang memberitahunya. Harusnya kejutan ini Amira sendiri yang memberi tahunya.
Amira memegang tangan besar Alam yang mengusap perut datarnya.
"Sayang, maafkan papa ya yang sempat melupakan kamu. Tapi, kamu jangan takut, walau ingatan papa lemah tapi cinta papa tak akan pernah lemah. Papa sayang kamu sama ibu!"
Tes ...
__ADS_1
Amira kembali mengeluarkan air mata mendengar setiap kalimat yang Alam ucapkan. Papa, Ibu sungguh sebuah panggilan yang sangat Amira sukai. Amira memang sempat bicara dengan Alam jika ia punya anak ingin sekali di panggil ibu bukan Mama, Mami, Mommy, Bunda atau Umi.
Kini Amira percaya jika ingatan Alam sudah kembali.
"Sayang, maafkan aku ya!"
Ucap Alam lagi sambil menghapus air mata sang istri. Amira hanya mengangguk saja, yang terpenting bagi Amira Alamnya sudah kembali.
Suami istri itu saling peluk merengkuh satu sama lain. Menghadirkan sebuah cinta yang sempat terlupakan. Alam akan terus menulis setiap diksi di lembar demi lembar diary nya. Sampai diary itu penuh dengan diksi-diksi cinta Alam pada Amira dan buah hatinya.
Alam akan terus menulis sampai tangan ia tak mampu lagi memegang pena. Sampai nafas ini hilang di kegelapan.
Namun, Alam berharap di kehidupan selanjutnya dia bisa bertemu dengan istri dan Anaknya.
Entah perempuan atau laki-laki Alam tak tahu, namun, siapapun anaknya yang lahir Alam akan mencintai mereka walau kehidupan mereka sudah berbeda.
Bahkan Alam akan selalu menulis sebuah surat supaya kelak anaknya bisa membaca bahwa ketika Alam masih hidup ia tak berniat meninggalkan nya.
Alam akan selalu ada di setiap aliran darah yang mengalir di tubuh anaknya.
Mata Alam akan memandang setiap pertumbuhan anaknya. Akan memberi kehidupan setiap hembusan nafasnya.
Diksi-diksi cinta yang tak pernah pudar di makan waktu. Berharap mereka bertemu di penghujung pertemuan.
Alam menyuapi sang istri makan ketika dokter baru selesai memeriksanya.
Tak ada satu detik pun Alam lewatkan bersama sang istri dan calon anaknya. Di setiap kesempatan Alam akan mengajak bicara calon anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Alam dan Amira memutuskan pulang ke apartemen mereka. Walau awalnya di tentang semua keluarga mengingat kondisi Alam seperti itu takut membuat Amira kerepotan. Namun, Alam dan Amira kekeh ingin tinggal di apartemen menghabiskan sisa hidup mereka di sana.
Menjalani hari-hari dengan kenangan dia sana. Karena di sana tempat pertemuan mereka.
Pada akhirnya para orang tua hanya bisa mengizinkan dan mereka setiap hari akan melihat kesana karena takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan.
Sesudah mengantar Alam dan Amira ke apartemen, semua keluarga balik membiarkan suami istri itu berdua.
Mungkin mereka butuh ruang dan waktu berdua tanpa harus di pantau kedua orang tua mereka.
Amira memeluk tubuh Alam yang terlihat kurus. Ingin sekali Amira menjerit, namun Amira tak lakukan itu. Karena ia juga tak bisa berbuat apa-apa selain terus mendampingi Alam.
"Sayang,"
Panggil Alam membuat Amira menengadah.
Alam menangkup wajah sang istri dengan lembut lalu mengecup sekilas bibir sang istri.
"Jika suatu saat nanti aku pergi, katakan pada anak kita ya. Bahwa aku sangat mencintai mereka!"
__ADS_1
Deg ...
Amira terdiam kaku mendengar permintaan sang suami. Bagaimana bisa Amira menyampaikan pesan itu sedang dia sendiri tak tahu apa bisa melihat anaknya atau tidak.
Amira tersenyum getir sambil mengelus rahang sang suami.
"Aku akan sampaikan dengan caraku sendiri. Aku yakin, mereka akan mengerti!"
"Terimakasih sayang, maaf jika aku tak bisa menemani kamu lebih lama lagi,"
Suttt ...
Amira menyimpan jari telunjuknya di bibir Alam. Rasanya Amira ingin menangis setiap kali Alam berkata seperti itu.
"Tidak dear, jangan katakan itu. Jikapun kamu pergi, berjanjilah tunggu aku di sana jangan pernah berpaling dari aku walau kamu mendapatkan bidadari!"
"Tak ada bidadari di hatiku selain kamu. Maaf, jika perjuanganku harus berhenti terlebih dahulu!"
"Tak apa, bukankah aku harus kuat. Ini jalanku, maka aku harus menerimanya!"
Alam menarik Amira kedalam pelukannya, mereka berdua sama-sama menangis.
Mungkin mereka bisa berkata seperti itu untuk sekedar pelipur lara. Namun, nyatanya hati mereka sama-sama sakit, sama-sama terluka. Tapi, mereka bisa apa, hanya sebuah keajaiban yang merubah mereka.
Tapi, masihkah ada keajaiban itu, atau inilah takdir yang harus mereka jalani.
"Usia kandungannya berapa?"
"Baru empat Minggu,"
"Semoga aku masih bisa merasakan tendangan dia!"
Amira menggigit bibir bawahnya sangat sakit sekali setiap kali sang suami bicara seperti itu.
"Baik-baik ya anak papa, jaga ibu. Jangan rewel karena papa tak bisa membantu. Jaga ibu untuk papa!"
Cup ...
Alam mengecup perut rata sang istri, sungguh kenapa ini sangat menyakitkan sekali.
Namun, apalah daya ini semua sudah terjadi. Bagaimana nasib anaknya nanti jika menanyakan keberadaan papa nya. Apa Amira akan sanggup menghadapi semua itu.
Atau Amira harus membebankan pada orang lain. Jika suatu saat nanti dia juga tak bisa melihat anaknya tumbuh besar.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1