
Suasana nampak tegang di depan ruang ICU. Tak henti-henti Dinda menangis di pelukan Queen.
Hati ibu mana yang tak sakit melihat putranya terkapar tak berdaya. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi Dinda tak tahu apa-apa tentang putranya itu.
Dinda pikir putranya baik-baik saja. Namun, nyatanya putranya selama ini sudah menahan kesakitan yang begitu besar.
Dinda masih shok dengan apa yang ia lihat beberapa menit lalu.
Dinda dan Fandi baru saja sampai ke rumah Jek dan Melati karena permintaan dari Alam sendiri yang menyuruh kedua orang tuanya datang karena berniat akan bicara baik-baik tentang hubungan mereka.
Begitupun Farhan dan Queen datang juga, namun Dinda, Fandi, Farhan dan Queen di buat terkejut ketika melihat keadaan Alam yang mengenaskan bahkan langsung pingsan di tempat.
Dan, sekarang Alam sedang berjuang maut di dalam dan semuanya belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alam.
Sedang Dom sendari tadi bungkam tak mau bicara apapun.
Fandi menatap Dom yang sendari tadi hanya bungkam. Fandi yakin, Dom tahu sesuatu tentang Alam.
Fandi menghampiri Dom dan menepuk pundak Dom hingga membuat Dom terkejut.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?"
Tanya Fandi penuh penekanan, Dom bingung harus bicara apa. Dom melihat satu persatu orang yang menatapnya.
Percuma di sembunyikan juga, toh keadaannya sudah tak kondusif lagi.
"Dokter memvonis Alam, meningitis!"
Dam ...
Lantunan suara Dom yang begitu santai namun bak petir yang menyambar di kepala semua orang.
Dinda yang mendengarnya langsung memegang dadanya kuat. Sangat shok dengan baru saja ia ketahui. Hingga Dinda tak bisa lagi menahan kesadarannya.
Fandi langsung membawa sang istri untuk di periksa. Sungguh, kabar yang sangat menyakitkan.
Penyakit meningitis adalah penyakit yang terjadi akibat ada peradangan atau inflamasi pada selaput otak, penyakit yang secara umum di sebabkan oleh infeksi bakteri dan virus.
Queen menangis di pelukan Farhan, Queen tak menyangka selama ini adiknya begitu menderita. Menahan sakit sendirian tanpa mau berbagi.
Kakak macam apa yang tak tahu keadaan adiknya sendiri. Sungguh, Queen telah gagal menjadi sosok kakak bagi Alam.
Cklek ...
Suara pintu terbuka nampak lah dokter yang keluar.
Queen dan Farhan langsung berdiri begitupun Dom ikut berdiri.
"Pasien sudah di jadwalkan melakukan operasi besok. Namun, karena keadaannya yang semakin memburuk. Kami butuh persetujuan pihak keluarga untuk menandatangani surat melakukan operasi hari ini!"
Jelas dokter Raftha yang memang dokter yang selama ini menangani Alam.
__ADS_1
Queen membekam mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar bahkan Queen juga jatuh pingsan.
Dokter Raftha yang melihat keadaan ini jadi bingung harus bagaimana, sedang pasien harus segera di bawa keruang operasi.
"Lakukan yang terbaik, dok!"
Putus Farhan, Farhan yang akan bertanggung jawab atas semuanya. Farhan tak ingin kejadian yang menimpa sang mama dulu menimpa adik iparnya sendiri.
"Baiklah kalau begitu!"
Dokter Raftha kembali masuk kedalam.
Farhan langsung menggendong istrinya menuju ruang rawat. Kini tinggal Dom yang masih tersisa. Dia setia menunggu bagaimana hasilnya. Dom hanya berharap, Alam akan baik-baik saja.
Baru saja Dom merasa lega karena Alam terlihat mempunyai harapan sembuh karena ingin hidup lebih lama lagi dengan Amira. Namun, nyatanya takdir berkata lain.
Seolah takdir sedang menguji kisah Amira dan Alam.
Di saat Alam berjuang antara hidup dan mati di ruang operasi.
Berbeda dengan Amira yang terus menggedor-gedor pintu meminta di buka.
Amira terus menangis di dalam kamar seolah tak lelah menggedor-gedor pintu berharap sang ayah atau sang mama mau membuka pintu.
Amira belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, hati Amira merasakan sesak yang tak bisa Amira jabarkan.
Sungguh, Amira tak akan menyangka kejadiannya bisa seperti ini. Masih teringat jelas dia dan Alam memohon namun sang ayah begitu tega memisahkan mereka. Bahkan Amira merasa marah dan sakit ketika Alam di pukuli. Setega itu sang ayah terhadap dirinya.
Sungguh, kejadian yang baru saja Amira alami akan sangat membekas di ingatannya.
Bagaimana kalau Amira tahu tentang Alam, sungguh, kebencian rasanya tak akan bisa Amira hindari lagi terhadap kedua orang tuanya.
Dor ...
Dor ...
Dor ...
"Ayah, mama buka pintunya. Buka hiks ... buka!!!"
Jek dan Melati seolah menulikan telinganya mendengar jeritan Amira sendari tadi.
Suami istri itu terdiam dengan pikirannya sendiri.
Mereka masih shok dengan apa yang terjadi pada Alam. Jek tak menyangka, jika Alam akan pingsan akibat pukulannya. Namun, yang masih Jek dan Melati shok kan adalah, darah yang tak henti-hentinya keluar dari hidung Alam.
Jek yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi. Tak mungkin Alam pingsan jika tak terjadi apa-apa.
Jek dan Melati ingin menyusul, guna ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alam. Namun, mereka mengurungkan niatnya karena keadaan belum stabil.
Hati semua orang sedang panas dan kemunculan mereka di takutkan akan menjadi pertikaian baru.
__ADS_1
Jek tak tahu, jika keadaan rumah sakit saat ini sangat buruk. Dimana Dinda dan Queen pingsan. Bahkan sampai saat ini keduanya belum sadar.
Hanya Dom yang terus setia duduk menunggu di kursi tunggu ruang operasi. Padahal ini sudah satu jam lebih, namun belum ada tanda-tanda operasi selesai.
"Istri anda cuma shok hingga tekanan darahnya naik. Sebisa mungkin jangan biarkan dia banyak pikiran yang akan memicu tekanan darahnya lagi!"
Jelas dokter Yeri masih terngiang jelas di ingatan Fandi.
Fandi memegang tangan sang istri yang masih belum sadar. Pasti berat bagi Dinda mengetahui kenyataan pahit ini.
Begitupun dengan Fandi sendiri, namun Fandi bisa menyembunyikan kesedihan itu.
Fandi memang marah dengan apa yang di lakukan Jek. Namun, apa boleh buat. Mungkin, jika Fandi ada di posisi Jek, Fandi akan melakukan hal yang sama.
Marah karena telah membawa kabur putrinya. Tapi, bukankah bisa bicara baik-baik tanpa harus ada kekerasan. Bahkan sampai Alam masuk rumah sakit akibat cidera di kepalanya. Dan, putranya sekarang sedang berjuang sendirian di dalam sana.
Andai saja bisa bertukar posisi, maka Fandi akan menggantikannya. Biarlah ia yang kesakitan tapi jangan putranya. Putranya masih muda dan masih panjang perjalanan hidupnya.
Namun, semuanya hanya fatamorgana. Bahkan di keadaan putranya yang membutuhkan dirinya. Ia tak bisa membantu, ia tak berdaya, ia rapuh.
"Putraku .. putraku ...,"
Fandi dengan cepat menghapus air matanya ketika mendengar suara lemah sang istri memanggil-manggil Alam.
"Sayang,"
Lilir Fandi menggenggam erat tangan sang istri. Perlahan Dinda membuka kedua matanya.
"Dad, dimana putraku hiks ..,"
"Sabar sayang, dia baik-baik saja. Putra kita kuat!"
Fandi memeluk sang istri erat berharap bisa sedikit saja mengurangi rasa cemasnya. Dinda kembali menangis di pelukan Fandi berharap rasa sesak di dadanya menghilang.
Berharap ini hanya mimpi buruk, putranya baik-baik saja. Dia gak sakit, putranya selalu ceria.
Dinda yakin, putranya tak akan pernah meninggalkannya. Dia hanya butuh istirahat karena terlalu lelah.
Iya, putranya kelelahan bekerja, bukan karena sakit.
Dinda terus saja meyakinkan dirinya sendiri kalau Alam baik-baik saja. Dia tak kenapa-kenapa. Dia sedang istirahat ya sedang istirahat.
"Putra ku baik-baik saja, Dad. Di-dia tidak kenapa-kenapa kan?"
"Tidak sayang, tidak!"
Fandi menggigit bibir bawahnya berusaha kuat agar ia tak ikut menangis.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih .....
__ADS_1