Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)

Heterogen (Seperti Air Dan Pasir)
Bab 32 Mencari Shofi


__ADS_3

Hari ini Alam sedikit kesal karena tak bisa makan siang bersama Amira. Walau Alam faham Amira sedang ada pertemuan di luar, tetap saja Alam kesal.


Namun, rasa kesal Alam tak membuat Alam gagal fokus. Alam tetap profesional dalam mengerjakan apapun.


Toh masih ada hari esok, tinggal Alam saja yang harus mengosongkan jadwal jam siangnya.


Seperti biasa Alam akan di sibukkan dengan beberapa berkas di depannya. Dan tentu di temani oleh Dom. Karena hari ini jadwal laporan bulanan.


Dom merasa senang melihat sahabat terlihat bahagia tak se suram seperti dulu. Dom hanya berharap Alam akan selalu bahagia. Sudah cukup Dom membahagiakan orang lain kini giliran dia mencari kebahagiaan nya sendiri.


Ting ...


Sebuah pesan masuk membuat Alam sejenak menghentikan pekerjaan nya. Alam melihat siapa yang mengirimnya pesan.


Alam tersenyum ketika membacanya. Entah pesan dari siapa membuat Alam nampak bahagia.


Bertepatan dengan itu telepon Alam juga berdering. Dengan sigap Dom mengangkatnya.


Dom terdiam ketika mendengar ucapan dari si penelepon. Lalu Dom menutupnya kembali. Dom melihat Alam yang sedang mengetik sesuatu.


"Kenapa?"


Tanya Alam ketika melihat Dom hanya diam saja.


"Tante Melati ada di sini!"


Deg ...


Alam terkejut mendengarnya, sudah bisa Alam tebak. Apa tujuan Melati datang ke kantor nya.


"Di mana dia sekarang?"


"Tadi aku menyuruh Tifani membawanya ke sini!"


"Oh sittt!"


Umpat Alam kenapa Dom bisa ceroboh. Harusnya biar Alam sendiri yang mendatangi kakak nya bukan di suruh ke ruangannya.


"Dom, kenapa kau tak tanya dulu!"


"Emang kena--"


Tok .. tok ...


Dom menghentikan ucapannya ketika pintu ruangan Alam di ketuk. Sudah bisa di pastikan pasti Melati sudah ada di depan pintu.


Dom bergegas membuka pintu, dan benar saja.


"Silahkan masuk!"


Ucap Dom mempersilahkan Melati masuk. Dom langsung keluar saja tak mau menggangu privasi mereka. Bahkan Dom juga membawa Tifani agar menjauh. Karena Dom hafal betul bagaimana Tifani. Yang selalu kepo akan urusan orang lain terutama urusan Alam.


"Silahkan duduk kak,"


Ucap Alam berusaha bersikap biasa saja, walau Alam sudah bisa menebak akan kemana pembicaraan mereka.


"Kakak sudah memperingati kamu Alam dan kamu juga sudah berjanji akan menjauhi Amira!"


Ujar Melati tak suka ber basa basi, ia akan bicara to the point saja.


"Kak, apa salahnya aku mencintai Rara. Toh kami bisa menikah. Kenapa kalian itu malah berusaha memisahkan kami!"

__ADS_1


"Ingat Alam, kalian itu saudara. Kenapa kamu jadi keras kepala seperti ini!"


"Kak, Amira bukan Fatih, kakak tahu itu!"


"Tetap saja kalian itu saudara, kakak sudah memperingati kamu empat tahun lalu. Jadi stop jangan usik lagi Amira. Lepaskan dia!"


"Sampai kapan pun aku tak akan melepaskannya. Sudah cukup aku mengalah, empat tahun kami berpisah. Aku mohon jangan pisahkan kami!"


"Apa kamu lupa akan janjimu, bahkan kamu sudah berjanji di hadapan papa!"


Deg ..


Alam mengepalkan kedua tangannya erat dengan rahang mengeras. Alam tak lupa akan janji itu. Tapi, bisakah Alam mengingkarinya untuk ini.


"Kenapa diam, apa kamu lupa. Baiklah maka kakak akan ingatkan kamu sekali lagi. Kamu sudah berjanji akan menjauhi Amira dan membuang rasa itu di hatimu. Bahkan kamu juga sudah tahu pesan terakhir papa apa!"


"Stop kak!"


Bentak Alam tak mau mendengar lagi apapun yang di ucapkan Melati. Alam akan tetap mempertahankan Amira sampai kapanpun.


Biarlah Alam melanggar janjinya untuk hal ini saja. Dan, sialnya kenapa Alam dulu mau berjanji. Bahkan Alam harus merasakan rasa sakit akibat permintaan Angga terakhir kalinya.


"Kakak ingatkan sekali lagi, lepaskan Amira!"


"Jangan buat Amira menentang kedua orang tuanya!"


"Sebelum terlambat, pikirkan baik-baik!"


Ucap Melati berharap Alam akan sadar dan mendengarkan ucapannya.


Itulah kelemahan Alam, jika sudah membahas kearah sana. Dan, Melati bisa memanfaatkan kelemahan itu untuk terus menekan Alam agar Alam selalu merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan.


Seseorang yang sendari tadi mendengarkan di balik pintu buru-buru bersembunyi ketika menyadari Melati akan keluar.


Ujar Melati sebelum benar-benar pergi meninggalkan Alam dalam kebingungan, keputusasaan dan kegelisahan.


Apa Alam akan goyah kembali atau tetap pada pendirian nya. Kenapa sulit sekali bagi Alam untuk bahagia. Kenapa semuanya tak adil padanya.


Kenapa?


Kenapa hidupnya seperti ini, tak bisakah orang-orang membiarkan Alam bahagia walau sejenak.


Alam mengusap wajahnya kasar karena benar-benar sangat pusing. Di satu sisi Alam memang tak mau kedua keluarga mereka pecah. Di sisi lain Alam terikat janji, dan di satu sisi lagi Alam sangat mencintai Amira.


Entahlah, apa yang harus Alam lakukan sekarang. Baru saja mereka merasa bahagia, kenapa sekarang Alam harus berada di posisi seperti dulu lagi yang selalu ada di titik kebingungan.


"Om sayang!"


Alam terkejut mendengar suara Amira. Buru-buru Alam mengatur nafasnya agar terlihat biasa saja. Alam tak mau Amira curiga dan Alam berharap Amira tak mendengarkan percakapannya.


"Maaf, tadi tak bisa makan siang bareng!"


Sesal Amira berhambur ke pelukan Alam. Alam hanya diam saja memeluk Amira sambil mencium kening Amira dengan sayang.


"Kenapa lama?"


"Biasa di jalan sedikit macet!"


Jawab asal Amira membuat Alam menghela nafas lega. Setidaknya Alam tak perlu takut Amira mendengarkan percakapannya tadi.


Melihat Amira terlihat biasa saja membuat Alam benar-benar lega. Jangan sampai Amira tahu kalau Melati ke sini. Alam hanya tak mau Amira malah jadi membenci kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Rara kangen!"


Alam terkekeh melihat Amira yang begitu manja. Begitu Alam, sangat rindu pada Amira. Rasanya Alam benar-benar tak bisa melepaskan Amira.


Mereka berpelukan sangat erat, seolah mereka sudah lama tak bertemu. Sungguh orang yang sedang di mabuk cinta memang seperti itu. Seakan dunia itu milik mereka saja.


Alam melepaskan pelukannya, lalu menggendong Amira dan duduk di atas shopa. Amira duduk di pangkuan Alam dengan kepala menyandar di dada bidang Alam.


"Tadi siang makan kan?"


"Makan sama Dom!"


"Om tuh harus banyak makan, Amira perhatikan badan om tuh semakin kecil!"


Ucap Amira sambil mengelus rahang tegas Alam. Lalu menelusuri wajah Alam bahkan sampai membulak-balik nya ke Kana ke kiri.


"Baiklah, nanti om minum vitamin gendut!"


"Ya jangan lah, nanti Rara susah peluk karena terhalang perut buncit!"


Kekeh Amira membayangkannya saja terasa lucu.


Alam ikut terkekeh, sambil mencubit hidung mancung Amira.


Alam benar-benar yakin, Amira tak mengetahuinya sama sekali. Apalagi sikap Amira yang seperti ini membuat Alam tenang.


"Katakan, katanya tadi ada sesuatu yang ingin di omongkan?"


Tanya Alam teringat akan pesan Amira bahwa ia akan ke kantornya karena ingin bicara.


Cup ...


"Bentar Rara masih kangen!"


Ucap Amira manja sambil mencium dagu Alam. Alam pasrah saja dengan apa yang Amira lakukan.


"Sudah sayang!"


Cegah Alam ketika Amira terus mencium dagunya lagi dan lagi.


Amira menghentikan aksinya lalu membenarkan duduknya walau tak mau beranjak dari pangkuan Alam. Amira melingkarkan tangannya di leher kokoh Alam.


"Tolong cari tahu dimana keberadaan Shofi!"


Alam mengerutkan kedua alisnya seperti tak asing dengan nama yang Amira sebutkan.


"Shofi!"


Ulang Alam seolah sedang mengingat-ingat siapa dia.


"Shofi teman SMA Rara dulu masa om lupa!"


"Namanya gak lupa, tapi wajahnya yang sedikit lupa!"


"Sama saja!"


Ketus Amira membuat Alam terkekeh kembali, setidaknya Alam merasa sedikit bisa menghilangkan bebannya dengan tingkah Maira yang manja.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


.



__ADS_2